
Sinta pun kembali ingin melayangkan protesnya.
" Tapi mah, Tan..." kata Sinta yang kembali terpotong
" Sudah kamu tidak usah protes lagi, karena kami anggap kamu sudah menyetujuinya. " kata Bram yang kali ini memotong saat Sinta hendak protes.
" Benar, bagaimana kalau pernikahan mereka berdua kita adakan seminggu lagi, lebih cepat lebih baik kan..." kata Atmaja juga yang melanjutkan apa yang Bram katakan.
" Benar, aku sangat setuju sekali, lebih cepat lebih baik. " sahut Bram yang langsung di anggukan oleh Laras dan Sarah.
" Apa... Kenapa bisa..." kata Sinta lagi yang kembali terpotong.
" Ya bisa lah, ingat tidak ada penolakan dan bantahan mengerti..." kata Laras yang terlihat tegas pada putrinya itu, padahal di dalam hatinya hanya ingin menggoda putrinya saja.
Mendengar mamahnya berkata seperti itu.
" HUH..." Sinta pun mengeluarkan napas beratnya sambil memanyunkan bibirnya kepada mereka semua.
__ADS_1
Mereka yang melihat Sinta yang sudah tidak bisa berkutik pun hanya tersenyum saja.
Meskipun Sinta sudah dewasa, tapi sikapnya kepada keluarga masih kekanak-kanakan, ai masih begitu manja pada orang tuanya, karena bagi Sinta ia adalah anak bungsu yang wajib di sayangi, makanya masih bersikap manja pada orangtuanya.
Setelah makan malam dan pembahasan selesai, mereka pun langsung pulang ke rumah masing-masing, tanpa ada percakapan dan pembicaraan Sinta dan Devan hanya kedua orang tua mereka saja yang bicara.
Sesampainya di rumah, Sinta dan kedua orang tuanya pun langsung masuk.
" Assalamualaikum..." salam Sinta dan orang tuanya.
" Walaikum salam...Eh sudah pada pulang." Jawab Brian.
Sedangkan Sinta hanya diam saja dengan wajah yang di tekuk, karena masih kesal pada kedua orang tuanya itu.
" Iya mah, cuman makan malam saja makanya tidak lama. " jawab Brian
" kamu kenapa dek, ko mukanya di tekuk gitu...?" tanya Brian pada Sinta.
__ADS_1
" Tau nih, seharusnya kamu bahagia sayang, karena sudah bertemu calon imam. Bukan di tekuk gitu mukanya..." bukan Sinta yang menjawab tapi malah Laras yang menambahkan, sambil menggoda putrinya itu.
Sedangkan Bram hanya tersenyum saja melihat istrinya yang begitu sangat senang menggoda sang putri, sampai terkadang membuat Sinta begitu kesal.
" Mamah sama papah nih bang, main jodoh - jodohkan saja tanpa persetujuan ku terlebih dahulu..." jawab Sinta yang mengadu pada Abang kesayangan nya itu.
" Ciieeee ngadu... Bukannya berterima kasih malam kesal, seharusnya kamu bersyukur sayang, karena tidak perlu repot-repot mencari pasangan, bahkan seminggu lagi sudah halal..." kata Laras lagi dan membuat Bram semakin tersenyum lebar melihat kehangatan keluarganya itu.
Sedangkan Sinta bertambah masam mukanya mendengar yang di katakan mamahnya itu
" Tu dengar kan bang, masa aku duluan yang menikah, seharusnya Abang dong yang menikah duluan, aku mah nanti - nanti aja. " kata Sinta yang mengadu pada abangnya.
Brian pun langsung memeluk sang adik untuk menenangkannya.
" Sudah - sudah..." kata Brian sambil memeluk adiknya itu.
Sebenarnya ia sudah tahu dari orang tua, kalau mereka menjodohkan Sinta dengan Devan.
__ADS_1
Dan Brian pun sangat setuju, karena ia memang tahu dan berteman baik dengan Devan, Devan adalah rekan bisnis sekaligus teman terdekat Brian, hanya saja tidak di ketahui oleh orang tua dan adiknya ini.
Maka dari itu, Brian berpura-pura tidak tahu, agar Sinta tidak marah padanya, dan mencoba memberi pengertian pada Sinta, karena ia tahu adik satu-satunya ini memang sangat manja meskipun Sinta sudah dewasa.