Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 22


__ADS_3

Ke esokan paginya, Devan bangun lebih dulu dari Sinta.


" Selamat pagi istriku, muach..." kata Devan sambil mencium kening Sinta yang ada di pelukannya dengan pelan agar tidak membangunkan Sinta.


Devan terus menatap dan memeluk istrinya itu, sampai Sinta mulai bangun dan pelan - pelan membuka matanya.


Setelah Sinta bangun dan membuka matanya, Devan langsung memejamkan matanya kembali, hanya untuk melihat reaksi Sinta ketika bangun berada dalam pelukannya.


" Mmmhhh... " Gumam Sinta sambil meraba-raba di sekitarnya,


Setelah membuka matanya, bertapa terkejutnya Sinta wajah pria tampan tepat di depan matanya.


Seketika Sinta langsung menutup mulutnya, agar tidak mengeluarkan suara, sebenarnya Sinta ingin sekali berteriak karena saking terkejutnya, tapi melihat Devan yang masih tertidur, ia pun menahan rasa terkejutnya agar tidak membangunkan suaminya itu.


Perlahan Sinta melepaskan diri dari pelukan Devan.


" Maaf ya pak, saya tidak sengaja. Huh... Untung pak Devan belum bangun, kalau tidak bisa dapat ceramah aku pagi ini, pak Devan kan sangat anti banget sama orang lain. " gumam Sinta pelan dan perlahan turun dari tempat tidur.


Sinta langsung menuju ke pintu kamar, berusaha untuk membukanya.


Dor dor dor... " Pah, mah, bang Brian buka pintunya..." teriak Sinta.


Mendengar itu Sinta memanggil keluarga untuk keluar, Devan pun membuka matanya.

__ADS_1


" Ehhheemm... Ada apa Sinta, pagi - pagi sudah berisik. " kata Devan yang berpura-pura bangun tidur.


" Eh bapak sudah bangun, Maaf mengganggu pak, habisnya saya tidak bisa keluar pintunya di kunci dari luar " sahut Sinta.


" Kamu ini ada - ada saja..." kata Devan lagi, yang mengerti dan langsung menambil ponselnya.


" Bang buka pintunya, kami mau keluar..." kata Devan menghubungi Brian yang ada di luar.


Melihat itu Sinta seketika melongo.


" Wah pak Devan hebat, kenapa tidak terpikirkan oleh ku." kata Sinta dalam hati.


Tidak lama setelah Devan menghubungi Brian, pintu kamar pun terbuka.


" Abang... Kalian tega sekali sih, tidak menyisakan pakai untukku. " kata Sinta yang sangat kesal saat ini.


" Hehehehe...Maaf..." jawab Brian nyengir kuda kemudian melihat penampilan Sinta saat ini.


Sinta yang di tatap abangnya pun langsung sadar dengan penampilannya.


" Astaga... Hehehehe... Maaf pak Devan, saya pinjam pakaiannya. " kata Sinta melihat ke arah Devan yang masih di atas tempat tidur.


" Tidak masalah..." sahut Devan sambil tersenyum pada Sinta.

__ADS_1


Brian melongo melihat senyum hangat Devan pada Sinta.


" Wah, sejak kapan Devan bisa tersenyum hangat seperti itu... ck ck ck ... ternyata benar kata Reyhan, Devan memang sudah berubah. " gumam Brian yang masih berdiri di depan pintu kamar Sinta.


" Sejak kami bertemu bang, kenapa kaget ya... sama " kata Sinta pelan setelah mendengar gumaman Brian yang ada di hadapannya.


Setelah menyahut gumaman Brian, Sinta pun langsung keluar kamar, untuk mencari mamahnya.


Sedangkan Brian, melihat adiknya sudah pergi dan tidak terlihat lagi, ia pun langsung masuk kedalam kamar menghampiri Devan yang bersandar di ranjangnya.


" Sejak kapan kamu bisa tersenyum dev...?" tanya Brian yang berdiri di hadapan Devan. Brian masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Sejak bertemu dengan istriku... " jawab Devan santai.


" Wah, ternyata adik ku bisa melelehkan gunung es... " kata Brian.


" Yang jelas ia sudah mencuri hatiku, dan mengalihkan duniaku..." kata Devan lagi sambil tersenyum dan langsung turun dari tempat tidur lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Luar biasa... sulit di percaya..." kata Brian melongo melihat Devan tersenyum, seketika Brian langsung keluar dari kamar Sinta.


Sedangkan Sinta, Ia masih belum menemukan sang Mama, untuk menanyakan dimana mamahnya menyembuhkan pakaiannya.


Dan ketika Sinta hendak menuju ke kamar orang tuanya tiba - tiba...

__ADS_1


__ADS_2