
Saat mereka semua menatap Alden dengan tatapan selidik, Alden yang di tatap hanya bersikap biasa.
" Ada apa... ?" tanya Alden dengan polosnya saat mereka semua menatapnya.
" Jadi benar Alden yang sudah menyelamatkan papah Devan dan mamah Sinta... " bukannya menjawab Atmaja malah bertanya pada cucu angkatnya itu.
" Iya. " jawab Alden dengan polosnya.
" Apa akun misterius yang sudah membantu papah Devan mengembalikan data perusahaan, itu adalah Alden juga... ?" tanya Bram.
Mereka semua sangat terkejut Bram mengatakan itu, tapi yang lebih membuat mereka sangat penasaran adalah menunggu jawaban dari seorang bocah kecil yang baru saja mereka kenal itu.
" Iya hehehe... " jawab Alden, meskipun ia sangat jenius dan berpikir seperti orang dewasa, tapi Alden tetaplah anak kecil yang baru berusia empat tahun yang selalu jujur dalam hal apapun kalau di tanya.
" Benarkan..." kata Devan, Brian, Sinta dan Atmaja.
" Cucu nenek memang hebat, terimakasih sayang... " kata Sarah dan juga di anggukan oleh Laras.
Seketika Devan dan Sinta langsung memeluk Alden dengan penuh kasih sayang.
" Terimakasih ya tuhan, engkau memberikan kami anugerah terindah... " kata Devan yang sangat bersyukur dengan keputusannya mengadopsi Alden dan mengangkatnya sebagai anak.
" Terimakasih sayang, Mama sayang Alden... " kata Sinta juga yang sangat bersyukur Tuhan memberikannya seorang anak yang sangat luar biasa.
__ADS_1
" Sama - sama pah, mah. Alden juga sangat menyayangi kalian. " sahut Alden yang masih dalam pelukannya Sinta dan Devan.
Atmaja, Sarah, Bram, Laras, dan Brian sangat bahagia melihat keluarga kecil Devan dan Sinta. Mereka sangat bahagia keputusan mereka menjodohkan keduanya adalah keputusan yang sangat tepat.
" Ya sudah sekarang kalian bersih - bersih, habis itu kita makan malam bersama ya. " kata Sarah.
" Benar habis itu kita bisa istirahat, karena hari ini sudah berbagai macam kita lalui. " kata Laras juga.
Mereka semua pun mengangguk, dan menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri mereka langsung berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.
" Bagaimana Bang, pelaku penculikannya sudah di urus... " tanya Bram.
" Terimakasih nak, nanti setelah makan ini Om dan Devan akan segera mengurus, agar cepat selesai semuanya " kata Atmaja.
" Terimakasih bang, saya dan papah akan mengurus mereka malam ini. " kata Devan juga.
" Sama - sama Om, Dev. " sahut Brian.
" Berarti semuanya sudah selesai dong...?" tanya Sarah yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.
" Kondisi nya juga sudah aman sekarang... " tanya Laras juga yang ikut bersuara.
__ADS_1
" Memangnya kenapa... ?" bukannya dapat jawaban, malah Sinta yang balik bertanya pada kedua ibu negara.
" Iya ibu - ibu semuanya sudah selesai dan sangat aman sekarang, karena pelaku yang mengincar Devan dan keluarga sudah kami tangkap dan mendapatkan ganjaran yang setimpal. " jawab Brian yang mengerti pemikiran kedua ibu negara itu.
" Benar mah, semuanya sudah beres. " kata Atmaja.
" Iya mah, semuanya sudah aman. " kata Bram juga.
" Terus... " kata Devan yang sama dengan Sinta belum mengerti dengan maksud pertanyaan kedua ibu negara itu.
" Karena acara lamaran bang Brian seminggu lagi, bagaimana kalau acara pernikahannya nanti kita adakan bersamaan dengan resepsi pernikahan Devan dan Sinta, setuju ga jeng... " kata Laras
" Setuju banget jeng, jadi sekalian kita umumkan pada semua tentang pernikahan Devan dan Sinta. " sahut Sarah.
Sementara Bram, dan Atmaja hanya geleng-geleng kepala melihat bertapa senang dan antusiasnya istri mereka berdua.
Sedangkan Brian, Devan dan Sinta hanya melongo melihat kedua ibu negara itu yang seenaknya saja menentukan rencananya.
" Ibu - ibu... Kalian sepertinya sangat antusias sekali, apa kami perlu memberi pendapat... ?" tanya Brian yang juga di anggukan oleh Devan dan Sinta, mereka bertiga heran melihat ke antusiasan mamah dan tantenya itu.
" Tidak perlu, kalian terima bersih saja... " jawab Sarah dan Laras bersamaan.
Bertambah melongo lah ketiganya mendapat jawaban seperti itu.
__ADS_1