Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 18


__ADS_3

Sementara Sinta, ia langsung kembali keruangannya.


" Huh... Apa itu tadi, ia tersenyum padaku... Ini kenapa juga jantungku huh... Tenang Sinta tenang. " gumam Sinta sangat pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.


Sesampainya di ruangan Sinta langsung di serbu pertanyaan oleh teman kerjanya.


" Kamu sudah kembali, gimana Sinta rasanya bertatapan langsung dengan CEO ganteng itu... " tanya Risti yang sangat begitu penasaran


" Kamu ga beku kan di sana, karena beliau terkenal dingin...?" tanya Helen juga yang ikut menimpali.


" Hebat kamu Sinta, iri aku. Kamu orang pertama yang masuk ruang CEO kita setelah pak Reyhan..." kata Roni juga.


" Huh... Kamu benar Helen, aku sampai hampir mati membeku karena dingin nya beliau, tapi... " jawab Sinta sambil menghentikan ucapannya sejenak.


" Tapi apa...?" tanya mereka bertiga yang begitu sangat penasaran di buatnya.


" Tapi setelah beliau memintaku membuat kopi dan aku membuatnya, beliau berterima kasih dan tersenyum hangat padaku, kalian tahu... huh... jantungku hampir copot di buatnya. " Jawab Sinta


" APA... " kata mereka begitu terkejut mendengarnya.


" Sejak kapan pak CEO minum kopi... " kata Risti


" Sejak kapan pak CEO tersenyum... " kata Helen


" Sejak kapan pak CEO berterima kasih pada karyawannya..." kata Roni

__ADS_1


Mereka sungguh tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari Sinta barusan, karena mereka tahu tentang CEO mereka itu.


" Ya sejak tadi lah... Makanya jantung ku hampiri copot saking terkejutnya dengan perubahan sikap beliau... " kata Sinta yang kembali mengerjakan pekerjaan nya.


" Sulit di percaya..." kata Risti yang langsung di anggukan oleh Helen.


" Hebat kamu Sinta, bisa mencairkan gunung es... Salut aku... " kata Roni juga yang masih terkejut mendengarnya.


Melihat Sinta yang kembali bekerja, mereka pun berhenti ngerumpi dan melanjutkan pekerjaannya.


**


Tidak terasa seminggu pun berlalu, dan selama itu semua berjalan dengan lancar, dan hari ini adalah hari pernikahan Devan dan Sinta.


Karena hanya melakukan ijab Kabul saja, jadi acaranya hanya di hadiri oleh sanak keluarga saja dan tertutup, bahkan publik pun tidak ada yang tahu.


Nanti sekiranya keadaan sudah aman, baru mereka akan mengadakan resepsi pernikahan dan sekaligus mengumumkan pada publik tentang pernikahan keduanya.


Saking tertutup nya pernikahan Devan dan Sinta, Semua karyawan dan teman - teman mereka pun tidak ada yang tahu, kecuali Reyhan satu - satunya orang luar yang mengetahui pernikahan itu, karena sudah mereka anggap keluarga, selain itu hanya pihak kedua keluarga dan penghulu saja yang tahu dan menghadiri pernikahan keduanya.


Awalnya Sinta sangat menolak pernikahan ini, tapi dengan pengertian dari keluarga terutama Abang kesayangan nya, akhirnya Sinta pun menerima perjodohan dan pernikahannya.


Setelah kata SAH, dari penghulu dan semua yang hadir di situ, Devan dan Sinta resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


" Selamat sayang, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah sampai maut memisahkan kalian..." kata Sarah yang terlebih dahulu mengucapkan selamat pada putra dan menantunya.

__ADS_1


" Selamat nak, Sekarang kau sudah menjadi seorang suami, jagalah istrimu dengan segenap jiwa dan raga mu. " kata Atmaja juga pada putra satu-satunya itu.


" Terimakasih mah, pah... Iya Devan janji. " sahut Devan.


" Terimakasih banyak pah, mah..." sahut Sinta juga


Mereka pun langsung berpelukan bersama.


Setelah itu bergantian dengan keluarga Sinta yang memberi mereka berdua selamat.


" Selamat sayang doa mamah selalu yang terbaik untuk kalian, semoga kalian selalu bahagia... " kata Laras tersenyum bahagia kepada keduanya


" Selamat nak, Devan papah titip putri satu-satunya kami ini, sayangi dan cintai ia seperti kami menyayangi dan mencintainya. " kata Bram juga pada anak dan menantunya.


" Terimakasih pah, mah... Hiks hiks hiks." sahut Sinta sambil menangis memeluk kedua orang tuanya.


" Terimakasih banyak pah, mah. Iya Devan janji..." sahut Devan juga yang langsung mendapat pelukan dari kedua mertuanya itu.


Sinta sempat tidak mengerti apa yang di maksud Devan, tapi ia tidak memperdulikannya.


" Selamat Devan, dek. Semoga kalian selalu bahagia dan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.


Devan titip adik kesayanganku ini, jangan pernah kau menyakitinya, kalau sampai itu terjadi,kau langsung berhadapan dengan ku..." kata Brian yang sengaja mengatakan itu, agar sang adik bisa ikhlas menerima semuanya.


" Tentu bang, kau bisa pegang janjiku... terimakasih." sahut Devan pada sahabat yang sudah menjadi Kaka ipar nya ini.

__ADS_1


" Abang... hiks hiks hiks... Terimakasih " kata Sinta langsung memeluk sang Kaka dan Brian pun langsung membalas pelukan sang adik.


Melihat itu, Devan sudah tidak terkejut lagi dengan sifat Kaka dan adik itu, karena ia memang sudah mengetahuinya tanpa sepengetahuan Sinta dan kedua orang tua mereka.


__ADS_2