
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di depan kantor, dan di sana sudah ada Reyhan yang menunggu Devan datang.
" Mas keluar lebih dahulu, saya nunggu karyawan agak sepi di luar, baru turun. " kata Sinta.
" Ya sudah saya masuk dulu, muach... " kata Devan sambil mencium kening serta mengusap kepala Sinta, lalu turun dari mobil itu.
Sedangkan Sinta kembali terkejut sampai terbengong karena kembali mendapatkan serangan dadakan dari suaminya itu.
" Selamat pagi tuan... " sapa Reyhan menyambut Devan
" Hmm... pagi " Sahut Devan singkat seperti biasanya.
" Apa yang sudah terjadi tuan... ?" tanya Reyhan saat melihat beberapa memar di wajah Devan.
" Nanti saya ceritakan, ayo masuk sekarang. " kata Devan.
" Baiklah tuan, mari... " kata Reyhan yang langsung di anggukan oleh Devan.
Mereka pun langsung masuk ke dalam dan langsung di sambut oleh semua karyawan yang berada di dalam.
Sedangkan Sinta langsung keluar dari mobil, setelah melihat semua karyawan tidak ada lagi yang berbeda di luar.
Devan dan Reyhan menuju ruangan CEO, sedangkan Sinta langsung menuju ruangannya dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
" Selamat pagi semua..." sapa Sinta pada semua rekan kerjanya yang sudah memulai pekerjaannya.
" Selamat pagi... " sahut mereka.
" Telat neng... kenapa ?" tanya Risti
" Iya nih, macet tadi di jalan... " jawab Sinta yang memulai pekerjaannya.
" Kemana aja neng ko baru nongol... ?" tanya Roni di sela kegiatannya.
" Liburan bang..." jawab Sinta sekenanya.
" Wih asik dong, curang nih ga ajak - ajak..." kata Helen menimpali.
" Dadakan sih soalnya " kata Sinta yang menyahut perkataan Helen.
" Hehehe... lupa " kata Sinta sambil nyengir kuda
" Wah keterlaluan... " kata Roni lagi yang langsung di anggukan oleh Helen dan Risti.
Hahahaha... mereka tertawa bersama di sela - sela pekerjaan mereka yang begitu sangat padat itu.
Yah begitulah mereka, yang bekerja dengan semangat dan bahagia, meskipun pekerjaan mereka sangat banyak, tapi mereka bawa hepi dan menikmatinya, sehingga seberat apapun pekerjaan mereka, masih bisa mereka selesaikan.
__ADS_1
Di ruangan CEO, saat ini Devan sudah duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Reyhan asisten pribadi nya duduk di hadapan Devan dengan rasa penasarannya.
" Cepat katakan Dev, apa yang sudah terjadi..." tanya Reyhan yang begitu khawatir dengan kondisi sahabatnya saat ini.
" Begini..." Devan pun menceritakan semua yang sudah terjadi pada Reyhan.
Sama halnya dengan Brian tadi, Reyhan pun tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengan dari Devan.
" Benarkan Dev, sejak kapan Sinta bisa sehebat itu...?" tanya Reyhan lagi yang sungguh sangat terkejut mengetahuinya.
" Sejak... " Devan pun kembali menceritakan apa yang sudah di ceritakan Sinta saat di perjalanan tadi.
" Wah sungguh luar biasa, kau sangat beruntung Dev, bukan hanya mendapat seorang istri, tapi juga sekalian bodyguard yang sangat hebat. " kata Reyhan lagi.
" Si**lan kau... Tapi memang tidak bisa di pungkiri, kalau saya memang sangat beruntung mendapatkan nya. " kata Devan lagi yang sangat bahagia bisa menikahi Sinta.
Tidak lama seseorang pun masuk dengan seenaknya tanpa mengetuk pintu dulu.
" Dev kau jelaskan apa yang sudah terjadi...?" tanya Brian yang tiba-tiba datang dan langsung masuk begitu saja ke ruangan Devan.
" Apa sih Bri, bisa tidak kalau mau masuk ruangan orang itu ketuk pintu dulu..." Bukan Devan yang bersuara tapi Reyhan yang juga bersahabat dengannya.
" Sudah biasa Rey, kau saja yang tidak tahu... " kata Brian pada Reyhan dan hanya di balas Reyhan dengan hembusan nafas beratnya.
__ADS_1
" Huh... dasar. " kata Reyhan lagi dan tidak di perdulikan oleh Brian.
Sedangkan Devan hanya diam saja melihat Brian yang datang tiba-tiba, karena sudah biasa dengan kelakuan sahabatnya itu, di tambah lagi Brian sekarang adalah Kaka iparnya, mana berani Devan mengomeli Brian.