
Melihat beberapa orang itu sudah babak belur tidak berdaya di buatnya, Sinta pun mendekati salah satu dari beberapa orang itu.
" Katakan siapa yang sudah menyuruh kalian hah... " tanya Sinta
Orang itu hanya diam saja, tidak ada satupun di antara mereka yang menjawab pertanyaan Sinta, melihat itu membuat Sinta kesal dan mengambil tali yang ada di dalam mobilnya, lalu mengikat mereka semua jadi satu.
Setelah itu ia langsung menghubungi polisi untuk mengurus semuanya.
Sementara menunggu polisi datang, Sinta langsung menolong Devan dan membawanya ke mobilnya.
" Ayo mas kita ke mobil, biar saya obati lukanya " kata Sinta dan langsung di anggukan oleh Devan.
Sinta langsung memapah Devan membawanya ke dalam mobil, dan langsung mengobati wajah serta beberapa bagian tubuh yang memar akibat terkena pukulan tadi.
Dengan sangat telaten Sinta mengoleskan salep ke semua memar yang ada pada Devan, sedangkan Devan hanya diam saja sambil menatap Sinta yang serius mengobatinya.
Seakan rasa sakit akibat pukulan beberapa orang tadi tidak terasa sama sekali, karena saking terpesonanya Devan melihat wajah Sinta yang begitu dekat dengan wajahnya itu.
__ADS_1
Begitu juga dengan Sinta, ia juga sebenarnya sangat terpesona karena sangat dekat dengan wajah suaminya itu, tapi Sinta tetap pokus untuk mengobati suaminya, sehingga tidak terlalu terlihat kalau saat ini Sinta juga sangat mengagumi suaminya itu.
Tidak lama polisi pun datang bersama Brian dan langsung menghampiri mereka berdua terlebih dahulu.
" Devan, dek kalian tidak apa-apa... Maaf Abang datang terlambat. " kata Brian
" Kami tidak apa-apa bang... " jawab Sinta yang juga di anggukan Devan.
" Syukurlah... langsung bawa mereka semua pak, nanti biar saya yang mengurus semuanya. " kata Brian kepada beberapa anggota kepolisian itu.
" Baiklah, mari ikuti kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. " kata polisi itu dan langsung di anggukan oleh Brian.
Sedangkan Brian juga langsung ikut menyusul ke kantor polisi.
" Devan, dek Abang pergi dulu, kalian berdua hati - hati. Dan ingat kalian berdua hutang penjelasan padaku tentang semua ini, Abang tunggu penjelasannya mengerti... " kata Brian dan langsung di anggukan oleh Sinta dan Devan.
Sebenarnya Brian hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat, kalau beberapa orang jahat itu sudah babak belur dan sudah terikat tali saat ia dan para polisi datang.
__ADS_1
" Masa iya Devan yang menghadapi mereka semua, bukankah dari dulu ia tidak bisa bela diri, tapi kalau bukan Devan lalu siapa... " gumam Brian saat di perjalanan ke kantor polisi.
Sedangkan Sinta dan Devan melanjutkan perjalanan mereka ke kantor, tapi kali ini Devan ikut bersama dengan Sinta karena mobilnya di bawa oleh Brian ke kantor polisi.
" Sejak kapan kamu bisa bela diri Sinta...?" tanya Devan saat di perjalanan.
Karena sama halnya dengan Brian, Devan juga masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi, bahkan ia sungguh tidak tahu kalau Sinta ternyata bisa bela diri.
" Sejak kecil, Dulu waktu sekolah dasar saya sering di bully oleh teman - teman yang tidak suka dengan saya, sejak saat itulah saya belajar ilmu bela diri untuk jaga - jaga dan melindungi diri saya sendiri. " jawab Sinta sambil menyetir mobilnya dan menatap lurus ke depan.
" Sungguh luar biasa... Apa keluarga mu mengetahuinya, maksud saya mereka tahu kalau kamu bisa bela diri... " tanya Devan lagi yang duduk di sebelah Sinta.
Sinta pun menggelengkan kepalanya.
" Tidak, kedua orang tua dan juga bang Brian tidak tahu, kalau saya bisa bela diri, karena saya tidak pernah menceritakannya. " jawab Sinta lagi.
" Pantas saja, Brian tidak pernah menceritakan hal ini, ternyata ia juga tidak tahu. " kata Devan dalam hati, sambil mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Sinta.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua, karena mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing saat dalam perjalanan.