Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 13


__ADS_3

Melihat kehangatan keluarganya itu Bram pun merasa sangat bersyukur.


" Sudah mah, kasihan Sinta kalau terus di goda yu kita istirahat saja. " ajak Bram pada istrinya itu


" Iya pah, yu kita istirahat. " sahut Laras


" Oh ya sayang, tersenyum dong jangan masam begitu mukanya. Entar tidak bisa tidur lagi kalau mukanya di tekuk gitu, jadi tersenyum dan terima saja biar nyenyak tidurnya hehehe..." kata Laras lagi yang masih sempat menggoda Sinta sebelum masuk kamar bersama suaminya.


" MAMAH..." kata Sinta yang berteriak saking kesalnya digoda oleh sang mamah.


Sementara Laras langsung masuk kedalam kamar nya, karena takut di kejar oleh putrinya itu saking kesalnya.


" Bang, Mama tu..." adu Sinta pada sang Abang yang masih dalam pelukannya.

__ADS_1


" Sudah - sudah, sekarang kamu istirahat ya mungkin ini yang terbaik untuk kamu. Sana masuk kamar, besok kan masih harus bekerja lagi. " kata Brian pada adiknya itu.


Sinta pun mengangguk, dan Brian pun menghantar sang adik ke kamarnya.


" Ya sudah selamat tidur adik Abang yang cantik... Muach..." kata Brian sambil mencium kening sang adik yang sangat ia sayangi ini.


Setelah memastikan Sinta beristirahat di tempat tidurnya, Brian pun langsung keluar kamar Sinta dan langsung ke kamarnya.


Sedangkan di kamar orang tua Sinta, saat ini Laras sedang menangis di pelukan suaminya.


" Sudah sayang, jangan menangis lagi, memang sudah seharusnya kita sebagai orang tua untuk mengikhlaskan, biar bagaimanapun putri kita sudah dewasa, dan sudah waktunya untuk berkeluarga, jadi jangan sedih lagi ya. Lagian kita masih bisa mengunjungi Sinta setelah ia menikah nanti, jadi kita tidak merasa kehilangan..." kata Bram yang menenangkan istrinya itu, meskipun di dalam hatinya juga masih belum siap untuk melepaskan putri satu-satunya.


Laras pun mengangguk dalam pelukannya sang suami, meskipun rasanya sungguh berat baginya sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan putrinya itu, tapi mau bagaimana lagi.

__ADS_1


Yah meskipun Laras suka sekali menggoda Sinta sampai terkadang mereka sampai bertengkar, tapi itu hanya di mulut saja, karena saking sayangnya ia pada putrinya itu.


Dan sekarang Sinta sudah di pinang, dan sebentar lagi akan menikah lalu ikut bersama suaminya, di sini hati Laras lah yang paling sedih, karena ia begitu sangat dekat dengan sangat putri, walaupun sangat sering menggoda Sinta sampai kesal, tapi itu ia lakukan hanya untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada anak - anaknya saja termasuk Brian putranya.


Setelah puas menangis di dalam kamar nya, Bram pun mengajak sang istri untuk beristirahat dan Laras pun mengangguk.


Lalu mereka beristirahat melewati malam dengan penuh rasa kesedihan di dalam hati kedua orang tua itu.


Sedangkan di kamar Sinta.


Benar saja apa yang di katakan oleh sang Mama, karena wajah Sinta masih masam, dan masih di tekuk serta masih kesal terhadap orang tuanya. Alhasil Sinta pun tidak dapat tidur dan beristirahat dengan tenang.


" Mamah dan papah tega banget sih, main jodoh - jodohin mana langsung memutuskan secara sepihak tanpa mendengar pendapatku. Seharusnya aku berhak untuk memutuskan. Huh... mana seminggu langsung di nikahkan lagi, mana bisa begitu, aku saja belum kenal betul sama pak Devan, kenapa juga tadi pak Devan hanya diam saja, tidak bantu protes huh... tambah kesal saja... " kata Sinta yang menggerutu sambil berbaring di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Sinta pun masih tidak dapat memejamkan matanya, ia terus bolak balik karena terus memikirkan semuanya, dan benar saja apa yang di katakan oleh sang Mama, Sinta pun tidak bisa beristirahat dengan tenang semalam sampai menjelang subuh baru Sinta bisa tertidur.


__ADS_2