
Melihat itu ibu panti itu pun merasa sangat tidak enak, dan berusaha membujuk Alden agar melepaskan Sinta.
" Alden, ayo sama ibu dulu nak, kasihan tantenya " kata Bu Ningrum yang dengan paksa mengambil Alden dari Sinta.
" Ga mau jangan pisahkan Al dengan mamah Bu hiks hiks hiks... " kata Alden sambil menangis.
Sinta pun akhirnya tidak tega, lalu kembali menenangkannya.
" Ya sudah iya - iya Alden sama mama, tapi janji ya jangan nakal " kata Sinta yang entah kenapa jadi kasihan dan menyebutkan dirinya sebagai mama.
Alden kecil pun mengangguk dan berhenti menangis lalu kembali ke pelukan Sinta.
Semua orang yang melihat itu pun ada yang bangga dengan kebaikan Sinta, ada juga yang berpikiran buruk terhadapnya.
" Alden, Al sama ibu panti dulu ya Mama ada urusan sebentar nanti kalau urusan mamah selesai mamah akan jemput Alden " kata Sinta membujuk anak itu.
" Janji ya mah " kata Alden meyakinkan lagi
" Janji " sahut Sinta sambil mengangkat jari kelingkingnya dan langsung di sambut Alden sambil tersenyum antusias.
" Terimakasih nak sudah menenangkan Alden, maaf sudah merepotkan kami kembali dulu permisi " pamit bu Ningrum.
" Sama - sama Bu, silahkan " sahut Sinta sambil tersenyum ke arah Alden kecil yang kelihatan enggan berpisah dengan Sinta.
__ADS_1
Setelah kepergian Bu Ningrum dan Alden Sinta pun bernafas lega.
" Huh... ya ampun ada - ada saja " kata Sinta yang sedikit lega setelah terlepas dari Alden.
" Wah hebat kamu Sinta, kelihatannya sudah cocok untuk jadi ibu " kata Roni
" Benar sin, bilang tu sama pacarnya cepat di halallin, sudah pantas banget jadi ibu hehehe... " kata Risti juga menambahkan.
" Mm... benar cocok banget sudah " kata Helen juga.
" Kalian apaan sih, terus ini bagaimana...?" tanya Sinta yang kembali pusing teringat dengan suaminya sekarang.
" Udah buruan sana jelasin, sebelum dalam salah paham nya " jawab Risti
" Pakai rayuan maut sin, biar tidak marah hahaha... " kata Roni yang memberi saran tapi meledek.
" Huh... Iya aku kesana sekarang. " kata Sinta yang menerima saran dari teman - temannya.
Setelah itu mereka semua pun kembali bekerja lagi, begitu juga dengan Risti, Helen, dan Roni mereka kembali ke ruangannya.
Sedangkan Sinta langsung menuju ruangan CEO, untuk memberi penjelasan pada atasan sekaligus suaminya itu.
Sesampainya di depan ruangan CEO, Sinta langsung mengetuk pintu dan ingin segera menjelaskan, agar tidak panjang salah pahamnya.
__ADS_1
Tok tok tok...
" Masuk " sahutan dari dalam.
Cekklek...
Sinta pun membuka ruangan itu.
" Permisi pak, boleh saya masuk " kata Sinta yang masih berdiri di depan pintu.
" Hmm... " kata Devan tanpa melihat kearah Sinta dan sambil mengerjakan pekerjaannya.
Sinta pun langsung masuk dan menutup pintu, setelah itu ia langsung duduk di hadapan Devan bersiap untuk menjelaskan.
" Mm... begini pak, sebenarnya tadi itu... " kata Sinta terpotong saat Devan mengangkat tangannya tanda berhenti.
Sinta pun terpaksa menghentikan ucapannya, sedangkan Devan langsung berdiri mengitari mejanya dan langsung menuju ke arah Sinta dan langsung menaruh tangannya di kedua sisi kursi yang Sinta duduki.
Bahkan wajah Devan pun sudah berada tepat di hadapan wajah Sinta, sambil menatap dalam mata Sinta.
Glek...
Dalam keadaan seperti itu, membuat Sinta hampir tidak bisa menelan ludahnya sendiri, menatap dalamnya mata Devan seakan membuat Sinta sangat tidak berdaya.
__ADS_1
Melihat suaminya seperti itu membuat Sinta jadi bingung, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Devan.
" Ya Tuhan pak Devan kenapa, begitu sangat marah kah ia saat ini, sampai seperti ini. " kata Sinta dalam hati sambil diam terpaku membalas tatapan Devan yang sangat dalam itu.