
Ketika mereka berdua hendak keluar, tiba - tiba.
" Berhenti sebentar Sinta, saya mau bicara sebentar..." kata Devan sebelum mereka keluar.
" Mau bicara apa pak...?" tanya Sinta setelah menghentikan langkahnya.
" Bisa tidak kamu mengubah panggilan mu, kita ini tidak sedang di kantor, dan sekarang kita sudah menjadi suami istri. Jadi jangan panggil saya pak. " kata Devan yang sejak kemarin ingin mengatakannya, dan baru sekarang terucap.
" Hehehe... Sudah terbiasa sih soalnya, terus saya harus panggil apa... ? " tanya Sinta lagi.
" Terserah kamu mau manggil saya apa, yang penting jangan panggil saya bapak sekarang, karena kamu adalah istri saya. " jawab Devan.
" Hehehe... jadi bingung mau manggil apa. Mm... kalau mas saja gimana..." kata Sinta seperti lebih nyaman dengan panggilan itu.
" Mm... Boleh, seenaknya kamu saja. Ya sudah yu keluar. " kata Devan yang setuju dengan panggilan terhadapnya sekarang.
" Tapi hanya di luar saja ya, kalau di kantor saya tetap memanggil pak, eh mas dengan sebutan bapak. Karena masih tidak ada yang tahu tentang pernikahan kita. " kata Sinta lagi
" Ia terserah kamu saja, tapi ingat ya, sekarang kamu adalah istri saya, jadi tidak boleh macam - macam tanpa seizin dari saya, mengerti..." kata Devan lagi yang entah kenapa mulai timbul posesif nya.
__ADS_1
" Iya pak, eh mas saya mengerti, dan itu juga berlaku pada mas sekarang. " kata Sinta lagi yang tidak mau kalah.
" Iya, siap istriku... Yu keluar. " kata Devan sambil tersenyum hangat pada Sinta dan yang sudah merasa cukup dengan pembahasan mereka.
" Iya... " sahut Sinta yang entah kenapa wajahnya memerah mendengar yang baru saja Devan ucapkan.
Sinta dan Devan pun keluar kamar mereka dan langsung menuju dapur untuk sarapan bersama keluarganya.
" Selamat pagi semua... " kata Devan dan Sinta bersamaan.
" Selamat pagi sayang..." jawab kedua orang tua Sinta dan Devan bersamaan.
" Abang... Jangan mulai deh, Sinta sudah lapar nih. " kata Sinta yang duduk bersebelahan dengan Devan.
" Rencananya kalian mau bulan madu kemana nih..." tanya Laras yang juga di anggukan oleh Sarah.
" Benar, kalian bisa pergi berbulan madu. Masalah perusahaan biar papah yang menanganinya sementara kalian pergi. " kata Atmaja juga yang setuju dengan ide itu.
Sedangkan Bram dan Brian hanya diam saja mendengarkan sambil melanjutkan makannya.
__ADS_1
" Mm... Devan masih belum merencanakan, kalau kamu mau pergi kemana Sinta..." tanya Devan pada istrinya itu.
Uhuk uhuk...
Sinta langsung tersedak setelah di tanya seperti itu.
" Pelan - pelan dek makannya... " kata Brian yang langsung memberikan minum untuk adiknya itu.
" Hehehe... Makasih bang. " kata Sinta pada abangnya, sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat Sinta yang begitu terkejut dengan pertanyaan Devan.
" Mm... Saya tidak memikirkan sampai ke sana mas, hehehe... Sinta sih terserah saja mau kemana. " jawab Sinta pada Devan.
" Bagaimana kalau kalian pergi ke luar negeri, atau ke Bali kan seru tu..." kata Sarah yang memberi saran pada anak dan menantunya itu.
" Iya saran mamah oke juga, tapi tidak sekarang, mungkin sekitar dua Minggu lagi, soalnya pekerjaan Devan masih padat, harus di selesaikan dulu biar tenang nanti kalau kami pergi berlibur. " kata Devan pada semuanya.
" Ya sudah kalian atur saja bagaimana baiknya, kami sebagai orang tua hanya mendukung saja..." kata Bram dan langsung di anggukan oleh mereka semua.
Setelah itu mereka pun melanjutkan sarapan mereka sampai selesai, dengan penuh kehangatan kedua keluarga yang sudah bersatu oleh pernikahan Devan dan Sinta.
__ADS_1
Tinggal bang Brian saja yang belum punya pasangan di keluarga itu, cepat nyusul bang hehehe...