
Sebelum masuk, langkah Sinta dan teman - temannya terhenti saat melihat seseorang yang lewat di depan rumah keluarga Naina.
" Ada apa Sinta... Ayo masuk. " kata Devan.
" Iya... ayo. " kata Sinta yang terkejut saat suaminya memanggil.
" Helen ayo masuk... " ajak Reyhan yang memegang pundak kekasihnya itu.
" Ah iya... " kata Helen yang sama terkejutnya dengan Sinta.
Setelah itu mereka berempat langsung masuk ke dalam rumah dan hanya melihat orang itu sekilas saja.
Sedangkan Roni dan Risti masih berada di luar melihat orang itu.
" Itu bukannya Gio ya ay... ?" tanya Risti
" Iya, tidak salah lagi. Ya sudah biarkan saja, ayo kita masuk sekarang... " jawab Roni dan langsung menggandeng Risti masuk ke dalam rumah. Sedangkan Risti hanya mengangguk saja, sambil tetap melihat ke arah Gio yang lewat seorang diri.
Gio pun melihat mereka semua, dengan tatapan menyesal.
" Andai dulu aku tidak melakukan kesalahan, mungkin sekarang aku masih bersama dengan mereka semua. Maafkan aku teman- teman... " gumam Gio sambil lewat di depan rumah keluarga Naina.
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah Naina, semua keluarga sudah berkumpul, dan Bram selaku orang tua dari Brian memulai pembicaraan membahas tujuan kedatangan mereka semua.
Acara lamaran berjalan dengan lancar, dan sangat di terima baik oleh keluarga Naina, dan pernikahan Brian dan Naina pun sudah di tentukan.
Sebulan lagi dari sekarang, Brian dan Naina akan melangsungkan pernikahan, berbarengan dengan acara resepsi pernikahan Devan dan Sinta yang langsung di adakan bersamaan.
Setelah membahas semua mereka pamit pulang.
" Kami pamit pulang dulu pak Kardi, karena kami akan mulai mempersiapkan segalanya... " kata Bram yang juga di anggukan oleh semua.
" Iya Pak, kami juga akan segera mempersiapkan segalanya... " sahut pak Kardi yang juga di anggukan keluarganya.
" Permisi pak Bu, nak dan semuanya assalamualaikum... " pamit Bram beserta istri dan keluarganya.
Setelah berpamitan keluarga Bram, langsung pulang mengendarai mobil mereka masing-masing.
Sesampainya di rumah, Devan, Sinta langsung beristirahat di kamar. Sedangkan para orang tua termasuk Brian mulai mempersiapkan segalanya.
Begitu juga dengan teman - teman Sinta, mereka di minta kedua ibu negara, siapa lagi kalau bukan Sarah dan Laras untuk membantu persiapan pernikahan Brian dan acara resepsi pernikahan Devan dan Sinta.
Reyhan, Helen, Roni dan Risti dengan senang hati membantu mempersiapkan segalanya, apalagi Atmaja menjanjikan akan memberikan bonus bulanan kepada mereka berempat, maka makin semangat lah mereka membantu.
__ADS_1
Keesokan paginya, saat ini Devan Sinta dan Alden sedang berada di meja makan untuk sarapan.
" Alden... Al hari ini bersama kakek dan nenek ya, papah sama mamah berangkat bekerja, nanti pulangnya kami jemput. " kata Sinta di sela sarapannya.
" Benar, Alden boleh ko bantu - bantu di sana, tapi ingat ya tidak boleh nakal... " kata Devan juga.
" Iya pah, mah. Alden siap membantu semuanya, Al juga janji tidak akan nakal. Papah dan mamah jangan terlalu sibuk bekerja, jaga kesehatan sampai hari H " kata Alden
" Iya sayang, terimakasih ya sudah perhatian sama mamah dan papah...muach. " kata Sinta yang langsung mencium kening putranya itu.
" Iya sayang... " kata Devan juga sambil tersenyum dan mengusap kepala Alden dengan penuh kasih sayang.
Mereka bertiga melanjutkan sarapan mereka hingga selesai, setelah selesai mereka bertiga bersiap untuk melakukan aktivitas masing-masing.
" Sudah siap... " tanya Devan pada Sinta dan Alden.
" Sudah pah... " sahut Sinta dan Alden bersamaan, dan Devan pun langsung tersenyum melihat kekompakan istri dan anaknya itu.
" Ya sudah yu berangkat... " ajak Devan
" yu..." sahut Sinta dan Alden bersamaan lagi.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung keluar dan langsung masuk kedalam mobil bersama, Sinta dan Devan mengantarkan Alden ketempat orang tua mereka lebih dulu, baru mereka pergi ke kantor bersama.
Tapi sebelum Devan menjalankan mobilnya tiba - tiba...