
Setelah menampar dan mengatakan itu, Devan langsung keluar juga dari tempat itu.
Sedangkan pelaku yang bernama Riski itu, sama seperti halnya Prasetyo, Riski juga saat ini sudah sangat tidak berdaya dan sangat lemah karena mendapat tamparan kembali dari Devan, setelah sebelumnya juga di hajar habis - habisan oleh Sinta.
" Kau... Tetap kurung mereka berdua di tempat ini, jangan pernah memberi mereka makan dan minum, dan biarkan mereka berdua dalam kondisi terikat seperti itu. Biarkan saja mereka berdua mati kelaparan di dalam sini, setelah itu baru kalian urus seperti biasanya, kau mengerti kan... " kata Devan pada ketua anak buahnya dan Brian itu, sebelum keluar dari ruangan tempat pelaku di sekap.
" Mengerti tuan... " sahut orang itu.
Setelah itu Devan dan Reyhan langsung keluar dari tempat itu menyusul Atmaja yang lebih dulu keluar dan menunggu mereka berdua di dalam mobil.
Reyhan sudah tidak heran lagi melihat Devan dan Atmaja seperti itu, karena sudah biasa mereka lakukan kepada penghianat yang sudah berani mengganggu apalagi mencelakakan keluarga Atmaja.
" Ayo kita pulang sekarang Rey " kata Devan yang sudah berada di depan mobilnya.
" Baik tuan... " sahut Reyhan yang langsung membukakan pintu mobil dan Devan pun langsung masuk.
Setelah itu Reyhan juga langsung masuk dan langsung menjalankan mobilnya.
Tidak ada percakapan di antara mereka bertiga, karena Atmaja dan Devan masih merasa marah dan kesal, jadi mereka hanya diam saja.
Sesampainya di rumah Devan, mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam kamar, Devan langsung tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur pulas, seakan rasa amarah nya tadi langsung meluap begitu saja setelah melihat wajah teduh Sinta yang sedang tidur.
Sedangkan Alden juga sudah tidur di kamarnya sendiri.
Setelah puas memandang wajah istrinya, Devan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai membersihkan diri ia juga langsung berbaring di tempat tidur sebelah Sinta.
" Selamat malam istriku, semoga mimpi indah, muach..." kata Devan pelan sambil mencium kening Sinta.
Setelah itu Devan langsung memejamkan matanya dan langsung menyusul istrinya ke alam mimpi.
Begitu juga dengan Atmaja dan Reyhan, setelah membersihkan diri mereka juga langsung istirahat dan langsung meluncur ke alam mimpi, melewati waktu malam.
Tidak terasa seminggu sudah berlalu setelah kejadian penculikan Devan dan Sinta.
Saat ini mereka semua sedang sibuk bersiap - siap untuk berangkat mengantarkan Brian melamar kekasihnya.
" Sudah siap bang...?" tanya Bram
" Sudah pah... " jawab Brian yang sudah sangat siap.
" Yang lain, sudah siap semuanya... ?" tanya Laras dan langsung di anggukan oleh semuanya.
__ADS_1
" Ya sudah, mari kita berangkat sekarang. " kata Bram dan langsung di anggukan mereka semua.
Hari ini keluarga besar, yang terdiri dari Bram dan istri, Atmaja dan istri, Devan beserta istri dan anaknya, juga Reyhan dan Helen yang sudah jadian dua hari yang lalu, serta Roni dan Risti. Mereka semua ikut mengantar Brian untuk melamar pujaan hatinya.
Mereka semua berangkat dengan mobil masing-masing, dan bersama pasangan masing-masing kecuali Brian yang mengendarai mobil sendiri.
Mereka menuju tempat lamaran yang di adakan di rumah Naina kekasih Brian, mereka sudah menjalin hubungan lima tahun lamanya, dan sekarang baru bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih.
Sesampainya di rumah Naina, mereka semua langsung di sambut keluarga Naina, meskipun Naina dari keluarga yang sederhana, tapi tidak menjadi masalah untuk keluarga Brian, karena keluarga Brian tidak memandang status sosial, yang penting berasal dari keluarga baik-baik dan Naina nya juga baik, jadi mereka semua tidak masalah.
" Assalamualaikum... " salam Brian dan keluarganya setelah sampai ke rumah Naina.
" Walaikum salam... Selamat datang semua, mari silahkan masuk... " sambut ayah Naina selaku tuan rumah, menyambut mereka semua yang baru saja tiba.
" Terimakasih banyak pak Kardi dan keluarga, sudah menerima kedatangan kami semua " sahut Bram yang juga di anggukan yang lainnya.
" Sama - sama, mari silahkan masuk Pak dan semuanya. " kata pak Kardi dan langsung di anggukan mereka semua.
Mereka semua langsung masuk ke rumah pak Kardi yang sederhana itu, tapi cukup untuk menampung mereka semua yang datang ke tempat itu.
Sebelum masuk langkah Sinta dan teman - temannya terhenti saat melihat seseorang lewat di depan rumah keluarga Naina...
__ADS_1