
Dalam posisi seperti itu, membuat Sinta sudah panas dingin di buatnya, dan sudah bermacam-macam pikirkan yang ada di Kepala Sinta, tanpa terduga Devan langsung mengecup bibir ranum merah muda milik Sinta, lalu tersenyum dan mengusap kepala istrinya itu.
Sinta yang dapat serangan tidak terduga itu pun sangat terkejut, dan masih terdiam dibuatnya.
Setelah itu Devan kembali ke tempat duduknya.
" Sudah tidak perlu di jelaskan, saya sudah tahu semuanya. Lebih baik sekarang kamu buatkan saya kopi karena masih banyak sekali pekerjaan yang harus saya kerjakan. " kata Devan dengan lembutnya sambil tersenyum pada Sinta.
Mendengar itu Sinta pun bernafas lega, dan menjadi salah tingkah berhadapan dengan Devan sekarang.
" Mas beneran tidak marah... ?" tanya Sinta memastikan lagi.
" Iya, cepat buatkan saya kopi, saya mau cepat menyelesaikan pekerjaan ini. " kata Devan lagi.
__ADS_1
" Iya mas... " kata Sinta yang langsung keluar menuju part untuk membuatkan Devan kopi.
Melihat Sinta yang sudah keluar dari ruangannya, membuat Devan tersenyum sendiri karena sudah berhasil mencuri kecupan yang pertama kali ia dapatkan dari Sinta dalam keadaan sadar, karena biasanya Devan hanya berani mencium Sinta saat Sinta sedang tertidur saja.
Sedangkan Sinta jantung nya masih berdegup kencang karena masih mengingat kejadian tidak terduga tadi, sampai - sampai ia masih tersenyum sendiri saat membuatkan kopi untuk suaminya itu.
" Hah, beneran jatuh cinta nih sama pak Devan, siapa coba tidak klepek - klepek di perlakukan seperti itu oleh suami sendiri, aaaaaa.... " teriak Sinta dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
BRAAKH...
Sinta pun sangat terkejut, untung saja kopi buatannya tidak tumpah saat Bu lili menggebrak meja.
" Ibu apaan sih bikin kaget saja " kata Sinta dengan sangat kesalnya.
__ADS_1
" Kamu itu yang apa - apaan, ingat ya Sinta pak Devan itu sudah menikah jadi menjauh lah, karena saya sangat tidak suka dengan pelakor seperti kamu. " kata Bu lili yang mendorong bahu Sinta dengan sangat kasar.
Sinta pun memutar matanya malas, ingin sekali Sinta mengatakan yang sebenarnya, tapi ia masih berpikir jernih sekarang ini.
" Mm... Bagus juga sifat Bu lili seperti ini, sangat menguntungkan sekali untuk ku, aku tidak perlu repot-repot menjaga suamiku dari para pelakor, hehehe... bagus Bu pertahankan. Bagaimana jadinya ya kalau Bu lili tahu akulah istri pak Devan hehehe... ga bisa kebayang kagetnya. " kata Sinta dalam hati sambil tersenyum sendiri.
" Apa kamu senyum - senyum begitu, cepat katakan itu kopi untuk siapa, pak Devan. " kata Bu lili dengan sinisnya tapi di balas senyuman oleh Sinta.
" Hehehe... Iya Bu, saya di suruh pak Devan untuk membuatkannya kopi. " sahut Sinta sambil cengengesan.
" Dasar kamu ya, sini biar saya yang antara, sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu dan kerjakan kembali pekerjaan mu. Dasar pelakor... " kata Bu lili yang mengambil kopi buatan Sinta lalu pergi dari sana.
Sinta pun hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat sekertaris Devan yang seperti bodyguard nya Devan saja yang begitu menjaga tuannya.
__ADS_1
Setelah itu Sinta pun kembali ke ruangannya, sambil tersenyum - senyum sendiri.
Sesampainya di ruang kerjanya Sinta pun masih saja tersenyum, membuat ketiga temannya kembali heran dan saling tatap satu sama lain melihat Sinta yang baru datang itu.