Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 72


__ADS_3

Bertapa terkejutnya Devan dan Sinta saat melihat orang yang baru masuk itu.


" Alden nak, kenapa kamu bisa ada di tempat ini...?" tanya Devan.


" Darimana kamu tahu kami di sini sayang... ?" tanya Sinta juga.


" Nanti Al jelaskan, ayo sekarang kita keluar dulu dari tempat ini. " kata Alden


Meskipun Devan dan Sinta bingung mereka tetap mengangguk, seketika Alden langsung melepaskan ikatan tali yang mengikat Devan dan Sinta.


Setelah melepaskan keduanya, mereka bertiga langsung keluar dari ruangan itu.


Sedangkan di luar, Brian dan anak buahnya masih melawan Prasetyo dan Riski, karena anak buah Prasetyo sudah mulai berkurang jadi mereka turun tangan.


Pada saat Brian lengah, Riski langsung menyerangnya sehingga membuat Brian terpelanting. Melihat abangnya terkena serangan, tanpa menunggu lama lagi Sinta langsung menyerang mereka begitu juga dengan Devan, meskipun tidak terlalu mahir, tapi masih bisa membantu.


Perkelahian mereka begitu sangat menegangkan, tapi tidak perlu waktu lama semuanya sudah tumbang terkena pukulan dari Sinta, sampai - sampai tidak ada kesempatan bagi Prasetyo dan Riski untuk melawan.


Buk buk buk... Sinta terus memukuli mereka semua, dengan gerakan kaki dan tangannya yang sangat mahir dalam lincah, semua pelaku langsung tumbang semua.


Sedangkan Devan dan Brian, serta anak buah Brian sampai melongo terkagum-kagum melihat Sinta yang mengalahkan mereka semua seorang diri tanpa memberi kesempatan mereka untuk membantunya.


Setelah melihat Prasetyo, Riski dan anak buahnya sudah tidak berdaya, babak belur bahkan sebagian sudah tidak kuat untuk bangun lagi Sinta pun tersenyum.


" Tali... " pinta Sinta pada anak buah abangnya itu.

__ADS_1


" Ini Nyonya... " kata salah satu anak buah Brian dan langsung memberikan sebuah tali pada Sinta.


Dengan gerakan cepat Sinta mengikat Prasetyo beserta anak buahnya.


" Bang urus mereka, ayo nak kita pergi dari sini... " kata Sinta yang langsung berlalu keluar begitu saja.


" Iya mah... Wah mamah hebat sekali... keren mah... " kata Alden yang begitu sangat mengagumi mamanya itu.


Sinta hanya tersenyum lalu membawa putranya itu keluar dari tempat itu.


Melihat Sinta dan Alden keluar, Devan dan Brian masih melongo dan saling pandang.


" Luar biasa... " kata Devan dan Brian bersamaan.


Devan pun mendekati Prasetyo dan Riski yang sudah babak belur dan terikat dengan tali itu.


" Kalian urus mereka semua. " perintah Brian pada anak buahnya.


" Siap tuan... " sahut anak buahnya.


Setelah mengatakan itu, Brian pun langsung keluar menyusul adik dan adik iparnya.


Sedangkan Prasetyo dan Riski sudah tidak berdaya lagi jangankan untuk bersuara, membuka mata saja mereka berdua hampir tidak mampu, karena saking kerasnya pukul demi pukulan yang mereka dapat dari seorang perempuan, siapa lagi kalau bukan Sinta.


Dan sekarang Sinta, Alden, Devan dan Brian sudah ada di dalam mobil dalam perjalanan menuju pulang.

__ADS_1


" Bagaimana kalian bisa menemukan kami bang...?" tanya Sinta yang juga di anggukan Devan.


" Berkat petunjuk dari putra kalian. " Jawab Brian sambil mengemudi mobilnya.


" Nak darimana kamu tahu kalau kami berdua di culik dan di sekap di tempat itu... ?" tanya Devan yang juga di anggukan Sinta.


" Dari JPS yang Al pasang di jam tangan papah dan mamah. " jawab Alden santai duduk di depan samping Brian, sedangkan Sinta dan Devan duduk di kursi belakang.


Seketika Devan dan Sinta langsung melihat jam tangan yang mereka gunakan.


" Benarkah nak, kau melakukan itu " kata Sinta


" kau memasang JPS di jam tangan kami..." kata Devan.


" Ia pah, mah. Maaf Alden tidak bilang terlebih dahulu pada kalian, itu semua Alden lakukan karena Alden tidak mau kehilangan orang tua untuk yang kedua kalinya. Makanya Alden lebih berhati-hati lagi sekarang, karena papah dan mamah bukan orang biasa, apalagi papah, seorang pembisnis pasti memiliki banyak saingan. " sahut Alden.


Mendengar perkataan Alden, Sinta, Devan dan Brian langsung terdiam, mereka begitu terharu dan bangga memiliki anak yang begitu sangat menyayangi mereka.


" Terimakasih nak, papah bangga padamu. " kata Alden yang mengusap kepala Alden dengan penuh kasih sayang.


" Mamah juga, anak mamah sangat hebat, terimakasih sayang... " kata Sinta juga mengelus kepala putranya itu.


" Keponakan om memang hebat. " kata Brian juga yang bergantian mengusap kepala Alden.


" Hehehe..." Alden hanya tersenyum, dalam hati begitu sangat bahagia mendapat pujian dari orang - orang yang sangat ia sayangi dan juga menyayanginya.

__ADS_1


Begitulah percakapan mereka dalam perjalanan pulang, sehingga tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Devan, dan di sana sudah ada beberapa orang yang menunggu, termasuk kedua orang tua mereka.


__ADS_2