
Sinta yang melihat tatapan ketiga temannya pun langsung tersadar, dan langsung cengengesan serta salah tingkah, Devan yang melihat Sinta seperti itu pun langsung bertindak.
" Kalian bertiga juga ikut pulang ke rumah saya, karena saya yang akan menjelaskan semuanya, mengerti... " kata Devan
" Iya pak..." sahut Risti, Roni, dan Helen bersamaan.
Tidak lama kemudian Alden kecil langsung keluar membawa semua barang-barang nya dan langsung menghampiri orang tua angkatnya itu.
" Reyhan, bawa barangnya ke dalam mobil... " perintah Devan dan langsung di anggukan oleh Reyhan.
Tanpa waktu lama lagi mereka langsung berpamitan pada Bu Ningrum pemilik panti, serta pada anak - anak yatim-piatu yang ada di situ.
Alden juga berpamitan pada teman-teman nya, setelah itu ia langsung masuk kedalam mobil bersama Sinta dan Devan, dan langsung di susul Reyhan yang mengemudikan mobil itu.
Begitu juga dengan Risti, Roni, dan Helen mereka juga berpamitan pada Bu Ningrum dan anak - anak yang lainnya, setelah berpamitan mereka juga langsung pulang mengikuti mobil Devan
Di dalam mobil Alden masih melambaikan tangannya, pada Bu Ningrum dan teman - temannya sampai mereka semua tidak terlihat lagi karena mobil yang di jalankan Reyhan sudah jauh.
__ADS_1
Mereka semua langsung menuju ke rumah Devan, karena tadi Devan meminta mereka semua untuk ke rumahnya.
Dan tanpa mereka tahu, ada sebuah mobil yang juga mengikuti mereka dari belakang dengan jarak yang lumayan agak jauh, tapi tetap mengikuti sampai ke depan rumah Devan.
Sesampainya di rumah Devan, mereka semua langsung masuk kedalam, sedangkan orang itu berhenti tepat di depan rumah Sinta.
" Hmm... Aku menemukan kediaman kalian " kata orang itu dan langsung pergi dari sana.
Dan tanpa orang itu sadari, ternyata anak buah bayangan yang di perintahkan oleh Brian untuk mengawal Devan dan Sinta melihat orang itu dan langsung melaporkannya pada Brian.
" Bos, orang itu mengetahui kediaman tuan Devan " pesan yang ia kirimkan pada Brian.
**
Di dalam rumah Devan saat ini mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga, dan Alden pun berada di pangkuan Sinta yang duduk di sebelah Devan.
" Kalian pasti sudah bisa menebak, setelah melihat kami seperti ini. " kata Devan yang memulai percakapan terlebih dahulu
__ADS_1
" Apa bapak dan Sinta sudah menjadi suami istri... ?" tanya Roni yang memberanikan diri untuk bertanya, sedangkan Risti dan Helen masih menyimak dan menunggu penjelasan saja.
" Benar, kamu benar sekali, saya dan Sinta sudah menikah dan sudah menjadi suami istri yang sah Dimata hukum dan agama. Itu sebabnya saya mengadopsi anak ini untuk menjadi anak kami, jadi... " perkataan Devan berhenti sejenak untuk melihat reaksi ketiganya.
Mereka bertiga hanya saling tatap, sambil mendengarkan apa yang akan Devan sampaikan selanjutnya.
" Jadi, setelah kalian bertiga sudah mengetahui semuanya, saya harap kalian tutup mulut, dan jangan ada yang mengetahuinya, karena belum saatnya mereka semua mengetahui pernikahan kami. " kata Devan lagi dengan sangat dinginnya, dan ketiganya hanya mengangguk mengiyakan, karena sudah panas dingin berhadapan langsung dengan CEO mereka ini.
Sinta yang melihat ketegangan di wajah ketiga temannya itu pun hanya tersenyum.
" Hahahaha... kaget kan kalian, aku juga sama... " kata Sinta dalam hati melihat suaminya yang menjelaskan kepada ketiga temannya itu.
" Ya sudah, kalian silahkan ngobrol saja, saya akan membersihkan diri dulu " kata Devan dan langsung di anggukan mereka semua.
Setelah itu Devan langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Sinta masih memangku Alden dan duduk bersama teman - temannya.
Setelah Devan masuk ke kamarnya, Helen, Risti dan Roni menatap tajam dan tatapan intimidasi mereka tertuju pada Sinta, dan juga di balas Sinta dengan tatapan yang sama.
__ADS_1
" JELASKAN..." kata mereka bersamaan...