
Setelah drama pagi yang begitu membuat semua orang terkejut termasuk Sinta sendiri, setelah sarapan Sinta dan suaminya berangkat ke kantor bersama.
" Mm... Mas, apa saya berangkat sendiri saja ya, nanti apa kata semua karyawan kalau kita berangkat bersama. " kata Sinta setelah mereka berada di depan rumah.
" Ya sudah, kita berangkat dengan mobil yang berbeda, tapi tetap bareng. " kata Devan lembut, dan itu kembali membuka hati Sinta klepek - klepek.
Sinta pun hanya mengangguk dan tersenyum pada Devan, dan di balas senyuman oleh Devan.
Mereka pun berangkat ke kantor dengan mobil masing-masing, mobil yang Sinta bawa, memang mobil yang memang di berikan Devan untuk istri itu.
Sebenarnya Devan sangat keberatan kalau Sinta pakai mobil sendiri, dan hanya boleh bersamanya. Tapi mau bagaimana lagi demi menutupi sementara pernikahan mereka, terpaksa Devan mengiyakan saja.
Mereka pun berangkat beriringan, mobil Devan di depan, sedangkan mobil Sinta ada di belakang.
Saat di perjalanan tiba-tiba mobil Devan berhenti mendadak karena di hadang oleh mobil hitam di depannya.
Sedangkan mobil Sinta juga terpaksa berhenti, karena mobil Devan berhenti.
" Ada apa, kenapa pak Devan berhenti mendadak. " gumam Sinta sambil melihat - lihat ke depan.
Sedangkan di dalam mobil Devan.
__ADS_1
" Si**l, mereka lagi bagaimana ini, aku harus menghubungi para pengawal. " kata Devan.
Tapi sebelum Devan menghubungi para pengawalnya, beberapa orang keluar dari mobil hitam itu dan langsung menghampiri mobil Devan.
Karena mobil Sinta berhenti tepat di belakang Devan, ia pun sangat jelas melihat, dan sangat khawatir dengan keadaan suaminya.
" Hey cepat keluar... dor dor dor..." kata salah satu orang itu sambil menggedor-gedor pintu mobil Devan.
Devan pun keluar, mau tidak mau ia harus menghadapi semua orang itu lagi.
" Mau apa kalian... " kata Devan yang sudah keluar dari mobilnya.
" Wah ternyata kau masih hidup rupanya, hajar dia... " teriak orang itu, pada para temannya yang berjumlah lima orang.
Sinta yang melihat itu pun sangat cemas dan juga khawatir terhadap suaminya itu.
Buk buk buk..
Perkelahian pun terjadi, dan Devan melawan dengan semampu yang ia bisa, karena keterbatasan bela diri Devan ia pun terkena pukul di perut dari lawannya.
Dan beberapa serangan pukulan membuat Devan jatuh tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Melihat itu, Sinta sudah tidak tahan lagi untuk berdiam diri, ia langsung keluar untuk menolong suaminya yang sedang di keroyok oleh beberapa orang itu.
" Berhenti, apa - apaan ini kenapa kalian main keroyokan. " kata Sinta yang membantu Devan untuk bangun.
" Kamu kenapa kesini Sinta, sangat berbahaya cepat masuk ke dalam mobil. " kata Devan yang malah menyuruh Sinta kembali ke mobil..
" Wah ternyata ada wanita yang berani menolongnya, cepat hajar mereka berdua... " kata salah satu dari beberapa orang itu.
Melihat itu Devan berusaha untuk bangkit dan melawan, tapi langsung di cegah oleh Sinta.
" Mas tunggu di sini saja. " kata Sinta
" Apa maksudmu Sinta, mereka sangat berbahaya. " kata Devan
Melihat beberapa orang itu mendekat ke arah mereka berdua, seketika Sinta langsung bangun dan menghajar mereka semua.
Buk buk buk... Dengan beberapa kali serangan dan dalam waktu beberapa menit saja semua orang yang berjumlah lima orang itu langsung tersungkur di bawah kaki Sinta.
Sebenarnya Sinta sudah mahir dalam ilmu bela diri untuk jaga - jaga, dan hanya dalam keadaan darurat saja ia tunjukkan keahlian itu, bahkan orang tua serta abangnya pun tidak tahu akan hal ini.
Jadi kalau hanya menghadapi beberapa orang ini saja, sangat mudah untuk Sinta, bahkan hanya hitungan menit saja semua langsung tersungkur di bawah kaki nya.
__ADS_1
Sedangkan Devan sungguh sangat terkejut dengan apa yang barusan ia lihat, bahkan Devan masih terbengong melihat lincah dan santainya Sinta melawan mereka semua.
Untung Sinta tidak pakai sepatu tinggi, ia pakai sepatu yang datar saja, jadi sangat mudah untuknya melompat dan mengayunkan kakinya menghajar Beberapa orang itu.