
Di tempat lain saat ini, seorang gadis masih setia memeluk bantal dan berada dalam selimut, apalagi di tambah hangat sinar mentari yang masuk lewat jendelanya membuat ia masih betah memejamkan matanya.
Tapi kenyamanan itu terganggu karena suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Tok tok tok...
" Sinta... Bangun sayang, sudah siang nih. " suara panggilan dari luar kamar Sinta
Tok tok tok...
" Sinta... Bangun nak Sinta..." panggil sang mama sambil terus mengetuk pintu karena masih belum ada jawaban.
Mendengar itu tidur Sinta pun terganggu, ya akibat semalam tidak bisa tidur, dan baru dua jam ia tertidur, membuat Sinta kesiangan dan sangat susah sekali untuk bangun.
Dan baru bisa bangun setelah suara ketukan pintu dari sang Mama.
" Mm... Iya mah sebentar lagi..." sahut Sinta yang masih mengumpulkan semua nyawanya.
" Cepat bangun sayang, entar telat Lo..." kata Laras lagi yang masih memanggil dari luar kamar Sinta
" Iya..." sahut Sinta yang sudah hampir terkumpul semua nyawanya, hehehehe...
Mendengar sahutan sang anak dari dalam, akhirnya Laras berhenti mengetuk, dan meninggalkan kamar Sinta lalu ke meja makan berkumpul bersama suami dan putranya yang sudah menunggu untuk sarapan.
__ADS_1
Di dalam kamar, setelah kesadarannya sudah penuh, Sinta pun langsung menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat bekerja.
Setelah selesai dan siap, Sinta pun langsung keluar kamar, dan bergabung bersama keluarganya untuk sarapan.
" Pagi pah,mah, bang... Much..." sapa Sinta yang langsung mencium kening keluarganya satu persatu sebelum duduk untuk sarapan.
" Pagi sayang / dek..." sahut kedua orang tuanya dan juga abangnya.
Mereka pun Makan sambil berbincang - bincang ringan, sebagai penyemangat di pagi hari untuk memulai aktivitas.
" Tumben dek kesiangan..." kata Brian di sela - sela makannya.
" Hehehe...Ga bisa tidur bang semalam, dan baru subuh tadi baru bisa tidur itu pun cuma dua jam saja..." jawab Sinta yang juga sambil memakan sarapannya.
" Apa yang mamah katakan tadi malam benar terjadi sayang..." tanya Laras yang juga ikut menimpali.
" Kamu ini ada - ada aja sayang..." kata Bram sambil tersenyum kepada semuanya.
" Benarkah dek... Wah kalau begitu, Abang minta doanya ya mah, pah, biar urusan Brian hari ini berjalan dengan lancar..." kata Brian percaya dengan perkataan sang adik.
" Benar... Sinta juga ya pah, mah... " kata Sinta juga yang tidak melewatkan kesempatan.
" Hehehe... Kalian bisa saja, apapun itu, mamah sama papah selalu berdoa yang terbaik untuk kedua anak - anak mamah, ya kan pah..." kata Laras yang mendoakan kebaikan untuk kedua buah hatinya.
__ADS_1
" Benar, semoga kita semua selalu mendapat kebaikan dari yang maha kuasa Aamiin..." kata Bram yang menambah ucapan istrinya.
" Aamiin..." sahut mereka semua.
Mereka pun menyelesaikan sarapan mereka, setelah selesai Sinta dan Brian pun berpamitan kepada kedua orang tuanya, untuk pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.
" Pergi dulu pah, mah... Assalamualaikum..." pamit Brian pada kedua orang tuanya.
" Sinta juga pah, mah... Assalamualaikum..." pamit Sinta juga pada kedua orang tuanya.
" Walaikum salam, hati - hati di jalan sayang..." kata Bram dan Laras bersama dan langsung di anggukan Sinta dan Brian.
Setelah berpamitan tidak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya, Sinta dan Brian langsung pergi ke luar.
" Mau bareng Abang, dek..." ajak Brian
" Nggak Bang, Sinta berangkat sendiri saja..." kata Sinta
" Ya sudah, hati - hati di jalan ya..." kata Brian sebelum masuk kedalam mobilnya.
" Iya, Abang juga hati - hati di jalan..." balas Sinta juga sebelum masuk kedalam mobilnya sendiri.
Brian pun mengangguk, dan menjalankan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu di susul Sinta di belakang dengan mengunakan mobil sendiri.
__ADS_1
Mereka pun berangkat menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, dengan arah yang berbeda.
Sedangkan kedua orang tua Sinta, mereka langsung di sibukkan dengan berbagai persiapan pernikahan bersama dengan sahabat sekaligus calon besan mereka itu.