
Saat Devan hendak menjalankan mobilnya, tiba - tiba...
Ponsel Devan berdering, Devan pun mematikan mobilnya kembali karena hendak mengangkat ponselnya terlebih dahulu.
" Iya hallo... Ada apa. " sahut Devan saat menerima ponselnya.
" Hmmm, bagus sekali, urus mereka seperti biasa, ya sudah saya tutup. " kata Devan lagi yang langsung mematikan ponselnya.
Entah dari siapa dan apa yang di katakan orang itu di telpon, sehingga saat ini wajah Devan seperti sangat lega dan kelihatan sangat bahagia.
" Siapa yang telpon mas...?" tanya Sinta yang penasaran karena melihat perubahan ekspresi wajah suaminya.
" Iya, siapa yang telpon, sepertinya papah lega sekali kelihatannya... ?" tanya Alden juga yang heran melihat perubahan ekspresi wajah Devan.
" Itu tadi, anak buah papah yang telpon, katanya kedua pelaku sudah meninggal, jadi papah suruh saja mereka mengurus semuanya. HAH... Papah sangat lega sekali, sekarang papah bisa hidup tenang, karena sudah tidak ada lagi yang mengancam hidup papah, dan menginginkan nyawa papah. Papah sekarang bisa hidup tenang dan bahagia bersama kalian, mulai sekarang kita bisa bahagia seperti Keluarga pada umumnya. " jawab Devan dengan sangat bahagianya.
" Alhamdulillah, kita benar - benar sudah aman sekarang... " kata Sinta.
__ADS_1
" Ia pah, mah. Kita sudah bisa seperti keluarga lainnya, dan mamah sama papah bisa melakukan resepsi pernikahan dengan tenang dan bahagia. " kata Alden juga yang ikut bahagia mendengarnya.
" Tapi... " kata Sinta terhenti karena tidak enak untuk mengatakannya.
" Tapi kenapa sayang... " tanya Devan.
Alden yang mendengar Devan mengatakan sayang pada Sinta hanya tersenyum saja, melihat keharmonisan kedua orang tuanya itu.
Wajah Sinta langsung memerah seperti kepiting rebus dan langsung menunduk setelah mendengar kata sayang yang keluar dari mulut suaminya.
" Mmm... Itu, bagaimana dengan mantan mas yang tiba - tiba datang kemarin, saya takut... " perkataan Sinta langsung di potong oleh Devan.
Sedangkan Alden hanya mendengarkan saja, yang penting baginya kedua orang tua angkatnya sudah bahagia sekarang.
" Syukurlah kalau begitu, saya sudah tidak khawatir lagi sekarang. " kata Sinta yang benar-benar sudah lega sekarang, karena sudah tidak ada lagi penghalang untuk rumah tangganya.
Mendengar itu Devan pun langsung tersenyum, dan langsung menjalankan mobilnya menuju ke tempat kedua orang tuanya berada untuk mengantarkan Alden, setelah itu baru mereka menuju ke kantor.
__ADS_1
Setelah sampai di tempat kedua orang tua mereka berada, Alden langsung ikut bersama Bram dan Atmaja.
" Dah sayang... Baik - baik ya sama kakek dan nenek... " kata kata Sinta.
" Tinggal dulu ya nak... " kata Devan juga.
" Iya pah, mah. Hati - hati di jalan dadahh... " sahut Brian sambil melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya.
Sinta dan Devan pun membalas dengan melambaikan tangan sambil tersenyum, setelah itu mereka berdua langsung menuju ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, sebelum menggambil cuti, sekaligus untuk mengumumkan dan mengundang semua karyawan yang bekerja di perusahaan AJ grup, untuk hadir dan memberikan restu dalam resepsi pernikahan mereka nanti.
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah sampai di depan kantor, dan langsung di sambut oleh Reyhan.
" Selamat datang tuan, Nyonya. " sapa Reyhan
" Terimakasih Rey... " sahut Devan dan Sinta bersamaan.
Setelah itu mereka bertiga langsung masuk kedalam kantor bersamaan, semua karyawan sangat terkejut melihat Sinta berjalan beriringan dengan CEO mereka.
__ADS_1
Banyak yang berbisik, dan hampir semua karyawan begitu penasaran melihat pemandangan tidak biasa itu, kecuali kepala HRD dan ketiga teman Sinta yang memang sudah mengetahuinya.
Tapi ada satu orang yang memandang sinis dan menatap sangat tidak suka pada Sinta, apalagi saat ini Sinta berjalan berdampingan dengan CEO, bertambah marah lah orang itu kepada Sinta.