
Di ruangan Devan, saat ini suasananya begitu mencekam, karena Devan begitu sangat marah pada sekretarisnya itu.
" Kenapa kamu yang mengantarkan kopi ini HAH... Bukankah tadi saya menyuruh Sinta kenapa jadi kamu yang membawanya JAWAB... " kata Devan dengan nada dinginnya yang begitu menakutkan.
Bu lili langsung panas dingin, mendengar Devan bicara seperti itu.
" Ma... Maaf kan saya pak... " hanya itu yang dapat keluar dari mulut Bu lili karena saking takutnya melihat Devan yang terlihat begitu garang.
" SAYA TIDAK BUTUH MAAF MU, CEPAT KELUAR DARI RUANGAN SAYA SEKARANG. Dan bawa kembali kopi yang sudah kamu bawa ini... " kata Devan yang sangat tidak suka terlalu lama berhadapan dengan orang lain selain keluarga, istri dan asisten pribadinya saja.
" Ba... Baik pak per... permisi " kata Bu lili yang sudah sangat ketakutan menghadapi kemarahan dan atasannya itu dan langsung keluar meninggalkan ruangan CEO.
" Hah... Ya Tuhan pak Devan, serem banget kalau marah seperti itu, rasanya aku hampir tidak bisa bernafas saking takutnya, menyesal aku mengantarkan kopi untuknya, kalau tahu begini biarkan saja tadi Sinta yang membawanya huh... " kata Bu lili dalam hati sambil kembali ke ruangannya.
Sedangkan Devan, ia masih begitu sangat kesal sampai - sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
" HAH... berani sekali ia melarang istriku mengantarkan kopi untuk ku, jika saja semua sudah aman aku akan langsung mengumumkan kalau Sinta adalah istriku, agar tidak ada yang seenaknya pada Sinta. " kata Devan berhenti melakukan pekerjaannya dan duduk santai menatap langit ruangannya.
Tidak lama ponselnya berdering, menandakan ada pesan masuk. Devan langsung mengambil ponsel dandan membukanya.
" Dev, berhati-hati lah musuh sudah mulai bergerak sekarang, dan ingat jangan pernah jauh dari Sinta, karena saat ini hanya Sinta yang bisa menjagamu. " tulisan dari pesan itu.
HAH... Devan hanya bisa mengeluarkan nafas beratnya, setelah membaca pesan itu.
" HAH... Aku harus segera bertindak, kalau tidak kehidupan ku tidak akan pernah tenang. " kata Devan
Sebenarnya kehidupan Devan selama ini tidak tenang, karena ada orang yang sangat ingin melenyapkannya, dan hidupnya sekarang masih aman itu karena penjagaan ketat dari pengawal suruh Atmaja dan Brian sahabatnya.
**
Hari pun sudah menjelang sore dan seperti yang dikatakan oleh Sinta dan teman - temannya tadi, saat ini mereka sedang bersiap untuk pulang, atau lebih tepatnya mereka bersiap untuk menuju ke panti asuhan KASIH BUNDA , tempat Alden berada.
__ADS_1
Saat teman - temannya tengah bersiap, Sinta menyempatkan diri untuk meminta ijin pada suaminya melalui pesan singkat di ponselnya.
" Mas sudah waktunya pulang, saya minta ijin untuk keluar sebentar bersama teman - teman. Kami mau ke panti asuhan untuk melihat Alden, anak kecil tadi siang. " isi pesan yang Sinta kirim pada Devan.
Tidak ada balasan pesan dari Devan, dan itu membuat Sinta sedikit galau untuk pergi atau tidak.
" Duh... ko pak Devan ga ada balas pesan ku sih, apa pak Devan masih sibuk kerja ya, jadi ga sempet membalasnya. Gimana ini... di ijinin apa nggak ya... " kata Sinta dalam hati sambil terbengong.
" Hey Sin... Bengong aja yu pulang kita langsung meluncur ke panti saja " kata Risti yang mengagetkan dan sekaligus mengajak Sinta pergi.
" HAH... I...iya. " kata Sinta yang masih galau karena sang suami tak kunjung membalas pesannya.
" Kamu kenapa sih Sin, ayo buruan entar ke sorean lagi. " ajak Helen yang melihat Sinta hanya bengong saja.
" Udah buruan, mikir apa lagi sih... " kata Roni juga yang sudah berdiri dari tadi.
__ADS_1
" Iya, Iya yu... " sahut Sinta, walaupun di hatinya masih sangat galau, tapi karena ajakan teman - temannya terpaksa Sinta mengiyakan saja.
Mereka berempat langsung keluar ruangan dan langsung menuju ke mobil mereka masing-masing, dan ketika mereka sudah sampai di parkiran, bertapa terkejutnya mereka terutama Sinta melihat seseorang yang santai menunggu di depan mobilnya.