Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 42


__ADS_3

Tidak lama Brian pun berjalan kearah mereka.


" Sinta Abang boleh tanya ?" kata Brian yang duduk di hadapan Sinta.


Risti dan Helen pun berpindah dan duduk di sebelah Roni.


" Boleh, Abang mau bertanya apa?" tanya Sinta balik.


" Begini Sinta, sebenarnya apa yang sudah terjadi sampai kamu mengalami kecelakaan ?" tanya Brian.


Orang tua serta Devan pun sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Sinta, hingga ia sampai seperti itu.


" Begini bang, sebenarnya waktu itu..." Sinta pun mulai menceritakan semuanya.


( Plash back on )


Saat itu Sinta pulang kerja dan dalam perjalanan ia terus menggerutu dan terlihat sangat kesal dengan kejadian sebelum ia masuk mobil tadi.


" Kurang ajar banget sih tu perempuan, ga bisa apa mas Gio mencari perempuan yang lebih baik dari itu, huh menyebalkan... Siapa juga yang mendekati suaminya, suamiku sendiri sudah lebih segala-galanya darinya. " kata saat dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


Karena saking kesalnya Sinta, ia sampai tidak pokus melihat kearah depan, setelah mengusap pipinya yang perih bekas tamparan tadi tiba-tiba...


BRAAKH...


Mobil Sinta pun menabrak sebuah truk besar yang ada di depannya, dengan keadaan yang masih sadar, walaupun kepalanya mengeluarkan banyak darah akibat terkena setir mobil Sinta menghubungi Abangnya, karena nomor ponsel Brian yang berbeda paling atas di kontaknya.


" Halo bang... bang to... tolong Sinta " Tut Tut Tut.. ponselnya Sinta pun langsung mati karena terpencet dan kondisi Sinta sudah sangat lemah saat itu, tapi ia masih sadar.


supir truk itu pun langsung melihat keadaan Sinta, tapi karena keadaan yang sepi, supir itu langsung membawa dan membuang Sinta ke sungai dalam hutan, agar tidak ada yang mengetahuinya.


Tapi karena kondisi Sinta yang masih sadar, sebelum supir truk itu membawanya, Sinta lebih dulu memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya dengan tenaganya yang masih tersisa tanpa sepengetahuan orang itu.


Sedangkan Sinta, yang masih dalam keadaan sadar, meskipun sangat lemah berusaha menjangkau sesuatu saat terbawa arus sungai, hingga kepalanya terbentur batu karang yang lumayan besar dan langsung tak sadarkan diri, lalu Larut begitu saja mengiring arus sungai.


Hingga tidak lama Brian pun menemukannya yang dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri di pinggir sungai.


( Plash back of )


" Begitulah seingat Sinta bang " kata Sinta lagi, yang hanya menceritakan dimana ia masih sadar saja, setelah itu ia sudah tidak tahu lagi.

__ADS_1


" Ya Allah dek, pantas saja polisi tidak menemukan apapun hingga sekarang, rupanya begitu kejadiannya.


Tapi kamu tidak perlu khawatir, cepat atau lambat, supir dan teman itu akan tertangkap dan mempertanggungjawabkan semuanya. " kata Brian yang langsung memeluk adiknya itu.


" Ya Tuhan nak, kasihan sekali kamu, untung tuhan masih melindungi mu, terimakasih ya Allah. " kata Laras dan langsung memeluk Sinta juga.


" Papah sudah yakin, kamu pasti kuat sayang, terimakasih sudah bertahan untuk kami" kata Bram yang juga memeluk Sinta dan istrinya itu.


" Iya pah mah, terimakasih bang Brian sudah menolong Sinta " kata Sinta yang berterima kasih pada abangnya itu.


" Sama - sama dek, kamu sudah sadar saat ini saja itu sudah cukup buat Abang, lain kali hati-hati ya " kata Brian yang langsung di anggukan oleh Sinta.


Mereka semua yang ada di situ pun sangat bersyukur setelah mendengar cerita Sinta sebelum ia koma.


" Terimakasih ya tuhan, engkau mengijinkan kami berkumpul kembali bersama, Alhamdulillah. " kata Devan dalam hati sambil tersenyum kearah Sinta, begitu juga dengan kedua orang tua Devan.


Melihat Devan tersenyum manis ke arah Sinta, membuat tiga orang yang berada di situ langsung melongo, dan bertambah penasaran. Siapa lagi kalau bukan Risti, Helen, dan Roni rekan kerja sekaligus sahabat Sinta itu.


Setelah keluarga Sinta, bergantian dengan Devan dan orang tuanya mendekat dan langsung memeluk Sinta.

__ADS_1


Bertambah melongo dan penasaran lah ketiga teman Sinta itu...


__ADS_2