Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
10. Es Krim Viral


__ADS_3

" Yee kok aku gak dibeliin sih, aku kan juga mau" sungut Alina saat mendapati Tasya dan Gladys menyantap es krim yang sedang viral.


"Sorry Al, tadinya udah pesan tiga tapi sama orang tokonya cuma dijatah satu pcs perorang" Tasya memasang ekspresi menyesal.


Gila ya, es krim aja bisa indent begitu saking banyaknya permintaan, gak bisa disalahin juga sih, karena iklan yang disuguhkan sangat menggiurkan, siapapun yang menonton pasti tergugah seleranya untuk mencoba.


" Kira kira kapan tu es krim ada lagi?" tanya Alina penuh harap. Sesekali dia ikut mendeguk ludah menatap dua gadis yang asyik menjilati es krim mereka dengan nikmat.


"Hmmpt, kurang tau Al palingan seminggu lagi, tapi kamu kan tau sendiri yang ngantri bejibun,"


Alina mendesah kecewa, dengan gontai dia kembali duduk di mejanya. Lama lama dekat mereka bisa membuat Alina senewen dan meneteskan air liur alias ngiler.


" Udah jangan merajuk, nih cobain dikit" Gladys menawarkan es krim miliknya, melihat mulut Gladys yang berlepotan, Alina bergidik.


" Nggak deh Dis, makasih,"


Tasya dan Gladys terkekeh melihat raut memelas Alina, mereka tau pasti Alina gak bakalan mau makan bekas mereka sekalipun makanan yang dia suka.


Alina kembali melanjutkan pekerjaannya, dia mulai menggambar beberapa draft untuk Project baru, ditengah fokusnya terpaku pada kertas tanpa gadis itu sadari , Max memperhatikan gerak geriknya dari dalam ruangan.


Meskipun tidak mendengar langsung apa yang sedang dibicarakan para gadis diluar sana, Max bisa menangkap kalau Alina sangat menginginkan es krim yang sedang dimakan rekan rekannya.


Max mencari sebuah nomor dan mulai menelpon seseorang,


" Bisa kah kau membawakan aku beberapa es krim Venetia ,"


Entah apa yang dikatakan orang diseberang sana hingga Max mengulas senyum tipis,


" Bukan urusanmu, bawakan saja atau kau akan tau akibatnya" ucapnya memerintah setelah itu dia mematikan sambungan dan meletakkan ponsel diatas meja.


Max kembali menatap pada Alina, sejak bertemu pertama kali, dia sadar kalau gadis itu telah memikatnya, satu rasa yang sudah lama dia kubur mulai menguar mengisi relung hatinya, tapi dia tidak ingin terburu-buru, dia sangat menyukai Alina hanya saja dia ingin mengulur waktu hingga dia yakin bahwa Alina adalah sosok yang tepat menggantikan seseorang yang telah lama dia lupakan. Apalagi Alina juga belum move on sepenuhnya dari sang tunangan.


Dia tidak ingin kecewa seperti dulu, sejauh ini Alina masih memandangnya sebagai atasan, jadi akan lebih baik dia memendam asanya sendiri. Bersembunyi dibalik keangkuhan dan sikap dingin yang dia tunjukkan. Terdengar seperti seorang pengecut memang, tapi itulah keputusan terbaik saat ini.


Drrt..Drrt


Max bergegas mengangkat ponselnya yang berdering,


" Okay aku akan menemuimu dilobi,"


Max keluar dari ruangan dan mengabaikan tatapan yang mengarah padanya, termasuk Alina.


Tasya memberi isyarat pertanyaan pada Alina, tapi yang ditanya hanya mengangkat bahu pertanda dia juga tidak tau kemana Boss mereka pergi.


" Hei, sejak kapan kau menjadi manis begini"


Max tidak menggubris ucapan orang tersebut dan mengambil alih barang yang dibawa pria itu lalu memeriksa isinya.


" Hanya satu?"


Sosok yang tak lain adalah sahabatnya, Adrian memutar bola mata malas " Aku harus berjuang melawan ibu ibu untuk mendapatkannya"

__ADS_1


" Aku memintamu untuk menemui Richard kau malah beli di luar"


" Akan memakan waktu lama jika aku kesana, yang aku dengar di pabrik itu juga kosong, mereka kehabisan bahan baku , baru produksi lagi minggu depan"


" Baiklah, terima kasih sudah mengantarnya dengan cepat" ucap Max sarkas


Adrian mencebik,


" Daripada gaji bulananku menjadi taruhan, kebetulan aku sedang berada didekat sini,"


Setelah Adrian berlalu, Max kembali ke ruangannya sambil menenteng sebuah kotak. Didalam lift dia terus memikirkan apa alasan yang akan dia sampaikan, sangat aneh rasanya kalau tiba tiba dia memberikan es krim yang cuma sebiji ini pada Alina dihadapan semua orang. Tadinya Max berharap Adrian akan membawa banyak dan dia bisa membagikan pada seluruh anggota tim. Hingga lift berhenti dilantai yang dituju, dia tak kunjung menemukan kata kata yang pas, pada akhirnya Max memilih menggunakan powernya saja.


" Alina keruangan saya sekarang" titahnya sambil terus berjalan, nada suaranya yang tegas bagaikan magnet, membuat siapapun tak berani menolak perintah.


Alina pun segera beranjak dari duduk dan masuk keruangan Max, pria tampan itu sudah duduk kembali di kursi kebesarannya.


" Duduklah, "


Alina mengangguk dan menempati kursi yang ada didepan meja.


" Bukalah kotak itu" ucap Max lagi, Alina mengerutkan kening, tapi melihat wajah Max yang datar seperti biasa , diapun tidak ingin membuat masalah dan melakukan apa yang Max katakan.


Alina baru menyadari bahwa kotak yang dimaksud adalah sebuah kotak pendingin dan keheranannya terjawab begitu melihat benda yang ada dalam kotak tersebut.


" Es krim Venetia" seru Alina tertahan, dia tidak mengira sama sekali sesuatu yang tadi dia inginkan sekarang ada didepan mata.


" Tunggu apalagi, kalau tidak segera dimakan akan mencair"


Max tidak menjawab, dia mengedarkan pandangannya keluar yang diikuti oleh Alina, Gadis itu lupa kalau dari dalam sini semua terlihat dengan jelas. Apapun yang terjadi diluar Max dengan sangat mudah mengetahuinya.


" Tapi cuma ada satu, untuk bapak aja"


" Buat kamu saja, saya tidak terlalu suka es krim, "


Max memang tidak terlalu menyukai sesuatu yang terbuat dari susu ataupun coklat, dengan kata lain, Max kurang suka makanan manis.


Alina langsung sumringah, dia mengambil kembali box warna hitam tersebut,dengan perlahan dia mengeluarkan es krim dari sana dan merobek kemasan, potongan es krim coklat tebal itu benar benar menggoda.


Diam diam Max tersenyum simpul melihat tingkah Alina seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan kesukaannya, mata gadis itu berbinar cerah.


Tidak ingin mengganggu kesenangan Alina, Max berpura pura memainkan ponsel begitu Alina mulai menjilati es krim ditangannya.


" Mmmh, enak banget" ucap Alina senang


" Benarkah?"


Alina mengangguk angguk dengan mulut penuh, sesekali dia menyeka mulut begitu lelehan krim keluar dari sela bibir mungilnya.


Pemandangan itu sontak membuat Max semakin gemas, ingin rasanya dia membantu Alina untuk membersihkan sudut bibir yang berlepotan itu , tapi dia tidak ingin membuat suasana menjadi aneh, diapun membiarkan begitu saja.


" Bapak mau,?" tawar Alina

__ADS_1


" Sudah saya bilang kalau saya tidak suka,"


" Mmmh coba dulu pak, ini rasanya beda, manisnya pas" ujar Alina sambil menyodorkan es krim yang tinggal separuh.


" Kamu mau berbagi es krim itu dengan saya?" tanya Max memastikan.


Alina mengangguk


" Bukankah kamu tadi tidak mau makan saat Gladys menawarkan Es krimnya"


Alina tercekat, dia memang tidak terbiasa makan dari bekas mulut orang lain kecuali orang terdekatnya seperti Bryan atau ibunya, tapi sekarang dia malah menawarkan bekas mulutnya pada Max.


" Maaf saya tidak bermaksud tidak sopan pak, tidak seharusnya saya menawarkan sisa makanan saya pada bapak" Alina merasa bersalah, dia menarik kembali tangannya, tapi Max menahan.


Alina terperangah ketika Max tanpa ragu menggigit es krim yang dia sodorkan.


" Kamu benar rasanya pas, mungkin lain kali saya harus mencoba lagi"


Alina tersipu dengan tingkah pria tampan itu, entah kenapa dia tidak merasa jijik untuk berbagi dengan Max, dia kembali melahap sisa es krim yang ada ditangannya hingga habis tentu saja diiringi debar hati yang mulai bertalu talu, Ya Tuhan kenapa aku jadi begini, batin Alina.


" Ngomong- ngomong , bapak dapat es krim ini dari mana,?"


" Kebetulan produsen es krim Venetia rekanan perusahaan saya, tadinya saya mau bawa banyak, tapi stok mereka juga kosong, cuma dapat satu" ucap Max sedikit berbohong, melupakan jasa Adrian yang sudah membantunya, tidak mungkin dia jujur kalau dia memerintah sahabat sekaligus asistennya untuk mencarikan.


Alina tidak mengerti,


" Maksud bapak, rekanan perusahaan Mega Group?"


Max menyadari ada yang salah dengan ucapannya,


" Maksud saya pemilik perusahaan es krim itu adalah teman sekolah saya"


" Ooh"


Max menarik napas lega, karena Alina tidak bertanya lebih jauh lagi, belum saatnya Alina ataupun orang lain tau siapa dia sebenarnya.


" Makasih pak untuk es krimnya, saya mau kembali bekerja" ucap gadis itu pamit , tak lupa Alina membereskan sampah kemasan dan juga kotak pendingin dari atas meja Max


"Al, sebaiknya kamu rahasiakan ini dari teman temanmu, saya gak enak cuma membawa satu es krim, nanti mereka berpikir yang bukan bukan,"


Alina mengangguk paham, dia juga tidak ingin yang lain tau , baginya perhatian Max selama ini masih misteri, dia tidak bisa menyimpulkan kalau pria itu menyukainya, terkadang Max peduli tapi lain waktu dia cuek. Dia menganggap apapun yang Max lakukan hanya sebatas pertemanan.


***


Hallo Guys jangan lupa vote dan masukkan dalam daftar favorit kalian ya,


Terima kasih untuk supportnya


With Love


Dik@

__ADS_1


__ADS_2