
Seperti biasa diawal bulan, Mega Buana selalu mengadakan meeting dengan para staf guna membahas perkembangan perusahaan dan presentasi pun dimulai dari tim yang dinaungi Max.
Max menyampaikan laporan tentang project yang sudah berjalan dan project yang masih dalam tahap negosiasi dengan lugas. Semua mata tertuju pada pria itu. Berbeda dengan para lelaki yang memandang serius, para wanita justru terpaku pada ketampanannya, pagi ini Max terlihat semakin mempesona dengan kemeja biru muda yang menempel pas ditubuh atletisnya. Entah apa yang ada didalam pikiran para wanita itu sehingga mereka tak berkedip barang sebentar. Seolah jika mereka lengah maka Max akan menghilang.
Alina sendiri bersikap acuh dan fokus pada notebook dihadapannya, hanya sesekali dia mengalihkan pandangan tapi tidak pada Max, dia tidak ingin menatap pria itu, Jujur dia masih malu. Beberapa hari ini dia berusaha menghindar dari Max, dia meminta Tasya untuk menghandle laporan yang biasa menjadi tugasnya dengan alasan dia harus menyelesaikan banyak rancangan. Dan sepertinya Max maklum. Tidak ada sanggahan dari pria itu membuat Alina berada diatas angin.
Setelah pertemuan usai dan para direksi keluar, Alina juga buru-buru meninggalkan ruangan tanpa bicara sehingga menimbulkan pertanyaan di benak Morgan. Dia semakin heran melihat Tasya yang sibuk dengan job desk yang biasa dipegang Alina.
" Alina kenapa Sya, kok kamu yang handle kerjaan dia?"
"Untuk sementara memang aku yang pegang Gan, kamu kan tau sendiri dia lagi banyak project, dia tidak sempat mengurus laporan,"
Morgan terdiam mendengar jawaban Tasya, dia cukup lama mengenal Alina, sesibuk apapun gadis itu, tidak pernah dia pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.
" Sebaiknya kamu cari tahu Sya, mungkin Alina ada masalah, tidak biasanya dia muram seperti itu," saran Morgan pada Tasya, dia tidak mungkin menanyakan langsung, selain karena jarang berkomunikasi, dia tidak ingin dicecar Alina soal kasus Bryan.
" Kamu kebiasaan banget Gan, kenapa gak nanya langsung sih, dia kan teman kamu juga," sungut Tasya
Morgan menggaruk tengkuknya sambil cengengesan " Gak enak aja, perempuan biasanya kan lebih suka curhat sesamanya, kalau sama aku ntar orang pikir ada apa gitu loh,"
" Dasar, laki-laki emang pintar cari alasan" sungut Tasya lagi seraya bersiap pergi.
Max yang mendengar percakapan dua orang tersebut cukup terusik karenanya. Alina kerap menghindar sejak kejadian malam itu. Alasan sedang banyak rancangan hanyalah pengalihan gadis itu, agar tidak selalu berinteraksi dengannya. Padahal mereka sudah saling memaafkan, tetap saja Alina menjauh. Max bingung. Disatu sisi dia menghargai keputusan Alina, disisi lain dia merasa hampa. Haruskah dia bersikap egois agar Alina tetap berada didekatnya?.
***
" Al, kamu kenapa sih belakangan jadi murung begini?" tanya Tasya prihatin sambil menatap gadis didepannya dengan seksama.
Saat ini mereka sedang berada di kamar gadis itu. Sepulang kerja Tasya langsung ikut ke rumah Alina dan memutuskan menginap, beruntung Alina tidak curiga atau mungkin pura pura tidak tahu kalau Tasya sedang berusaha memancingnya untuk bercerita. Dikantor mereka semua sedang banyak pekerjaan, jadi tidak punya waktu senggang untuk mengobrol
apalagi membahas masalah seperti ini butuh ruang sendiri.
Alina menerawang, dia bingung bagaimana harus menjelaskan, dia memang butuh teman untuk berbagi rasa, dan mungkinkah Tasya bisa dipercaya? bagaimana pun Tasya adalah sahabat Bryan dan Morgan.
" Kamu bisa bercerita apapun padaku Al, siapa tau aku bisa bantu,trust me " lanjut Tasya meyakinkan sambil menggenggam erat kedua tangan Alina.
Alina menghembuskan napas dan menatap jauh ke dalam mata sahabatnya itu, tampak ketulusan disana.
" Menurut kamu apa yang harus aku lakukan setelah Bryan tiada," ungkap Alina memulai.
Tasya tersenyum, ternyata Alina sedang dilema tepat seperti dugaannya.
" Life must go on dear, kamu tetap harus melanjutkan hidup, kamu berhak bahagia Al," jawab Tasya bijak.
Alina tercenung, menurutnya itu jawaban yang klasik, tapi gadis itu tidak bisa menyalahkan karena Tasya ataupun orang lain tidak tau apa yang berkecamuk dihatinya saat ini.
" Lalu bagaimana dengan janji yang sudah terucap, haruskah aku melupakannya Sya, bukankah itu tidak adil untuk Bryan," ucap Alina lagi.
__ADS_1
"Kalau yang kamu maksud janji sehidup semati, aku pikir itu bukanlah janji melainkan harapan, hidup dan mati itu ditangan Tuhan, dan tidak ada satupun manusia yang tau kapan dia akan meninggal, kalau kamu ditakdirkan panjang umur, apakah kamu akan sendiri selamanya?jangan menyiksa diri kamu sendiri,"
Alina mencoba mencerna perkataan Tasya,
"Sendiri bukan pilihan Al, jika kamu dihadapkan pada satu perasaan baru, itu artinya kamu diberikan kesempatan lagi untuk berbahagia, kenapa kamu tidak berusaha mencoba,"
" Maksud kamu?"
" Jika ini ada hubungannya dengan seseorang, maka saranku ikuti kata hati kamu,kamu harus belajar membuka diri, "
Alina sedikit tergagap oleh pernyataan Tasya, Bagaimana Tasya bisa menebak perasaanya.
" Kamu salah paham Sya, aku tidak ada maksud untuk mencari pengganti Bryan," Alina mencoba berkilah.
Setidaknya untuk sekarang, sampai aku menemukan kebenaran tentang kematian Bryan, lanjutnya dalam hati.
Tapi Tasya terlanjur curiga. Gadis itu menelusuri ekspresi Alina sambil tersenyum simpul membuat Alina jengah dan beranjak dari duduk lalu melangkah kearah balkon kamar.
Alina berdiri ditepi sambil menumpukan tangan di pagar pembatas, dia menengadah menikmati langit malam yang cerah, berusaha menenangkan hati yang berdebar begitu Tasya mengucapkan kalimat menyukai seseorang.
Secepat itukah aku berpaling, gumam Alina nelangsa
" Pak Maxime itu memang mampu meluluhkan hati semua wanita, dan aku yakin dia juga meluluhkan kamu kan Al, bedanya kamu dengan yang lain kamu justru mendapat tempat dihatinya,"
Deg
" Apaan sih Sya, kok jadi bawa - bawa Pak Max" pipi Alina mendadak meron.
Tasya menoyor pelan bahu Alina " Kamu bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan aku Al,"
" Serius Sya, aku sama Pak Max gak ada hubungan apapun selain sebagai rekan kerja,"
Alina bersikeras.
Tasya mencibir tak percaya.
" Kalian memang belum ada hubungan, tapi aku yakin jauh didalam lubuk hati kalian berdua menyimpan satu rasa yang terpendam,"
" Sok tau kamu,"
" Apa sih yang gak aku tau sayang, kalau kamu gak ngaku juga gak papa, jangan menyesal kalau Mahira nantinya mendahului kamu"
Alina termangu, bagaimana dia lupa kalau Mahira sedang mengincar Max, dia benar benar tidak rela.
Tasya tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan Alina begitu nama Mahira disebut, ada ekspresi kecemburuan disana.
Sedari awal dia sudah tau kalau Pak Max menyukai Alina, Alina yang semula bersikap biasa lama kelamaan membalas perasaan Max, tanpa sengaja Tasya menangkap basah kedua orang itu saat makan es krim. Saat itu Tasya hendak memberikan berkas yang dititipkan Morgan.
__ADS_1
Dia sengaja pura pura tidak tahu agar Alina nyaman. Dia ikut bahagia dan berharap keduanya menjalin hubungan. Tapi harapan Tasya tidak semudah itu diwujudkan, baik Pak Max maupun Alina tetap bersikap profesional dan menyembunyikan perasaan mereka masing-masing hingga Alina mencium ada yang tidak beres saat Alina menyerahkan pekerjaannya dan menghindar dari Max.
" Apa menurutmu aku salah Sya?"
***
Sementara di tempat berbeda, Max juga terlihat uring-uringan, karena ada berkas Mulia Jaya yang harus dia tanda tangani, sepulang kantor dia langsung berangkat ke mansion keluarganya.
" Sampai kapan kau akan bersembunyi Max, jangan sampai aku mendahuluimu," ucap Orion saat mereka duduk bersama diruang kerja Hardi. Hanya ada mereka berdua disana.
Max menghela napas berat, dia tau Orion sedang berusaha memancingnya.
"Kalau kau ingin bermain main, jangan dekati Alina, dia bukan seperti gadis yang kau pikirkan,"
Orion menampilkan senyum smirk.
" Aku belum pernah seserius ini Max, "
" Heh, kau pikir aku percaya," balas Max sinis
"Terserah saja jika kau beranggapan seperti itu tapi jangan menyesal kalau Alina jatuh kepelukanku,"
Brakk
Max mengetatkan rahangnya, tangannya yang baru saja menggebrak meja terkepal hingga buku buku jarinya memutih . Dia menatap tajam pada Orion, tapi yang ditatap malah bersikap tenang.
" Cukup, kalau kau mencoba untuk mempermainkannya, maka aku akan melupakan fakta hubungan diantara kita,"
Orion bukannya takut, dia malah tertawa kecil.
" Tidak masalah, aku pun begitu. Kita lihat siapa yang akan Alina pilih , aku atau kau," tantangnya
Max menyipitkan mata, percuma saling berdebat seperti ini, dia tau sekali sifat Orion, rasa percaya dirinya sangat tinggi.
"Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan, tapi jangan pernah menyalahkanku kalau gadis itu tidak menanggapimu,"
Orion terkekeh,
" Kupastikan kau akan menyesal Max,"
Max tidak menggubris, dia menaruh kembali berkas berkas yang sudah selesai dia tanda tangani ke atas meja papinya dan berlalu meninggalkan Orion yang masih betah.
" Maxime Arlingga Yogatama, kita lihat seberapa hebat kau menaklukan hati seorang perempuan dengan keangkuhanmu itu, gadis itu akan menjadi milikku,"
***
Masih sepi, padahal udah rajin up,,huhu
__ADS_1
Mohon bantuan vote dan commentnya teman..🤗