Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
56. Kebahagiaan semu


__ADS_3

Kedatangan Edhie dimalam hari setelah mengantar Alina pulang, membawa Max pada kenyataan pahit. Sekarang dia mengerti mengapa Alina ingin menjauh.


" Apa kemungkinan untuk Alina memiliki keturunan benar-benar kecil? program bayi tabung atau apa gitu? " tanya Max penuh harap.


" Untuk wanita yang memiliki satu saluran tuba palopi dengan kondisi rahim bagus, persentasenya masih fifty -fifty, tapi pada Alina situasinya berbeda Max. Dia mengalami trauma rahim. Jika ****** mampu menembus rahim, kemungkinan bertahannya akan sulit. Hanya mukjizat yang berlaku pada case seperti ini." Jelas Edhie dengan raut prihatin.


Max menghela napas, bukan karena dia tidak menerima keadaan Alina. Dia bahkan tidak peduli sekalipun seumur hidup tidak bisa menimang anak yang paling penting baginya mereka selalu bersama. Max terpikir bagaimana pendapat keluarganys terutama mommy jika mengetahui masalah tersebut.


" Yang terpenting sekarang kau harus segera membawa Alina ke fisioterapi untuk memastikan mengapa sudah lebih dari tujuh bulan Alina masih menggunakan penyangga kaki? dikhawatirkan ada infeksi atau masalah lain, lebih cepat lebih baik, "Edhie mengingat kan lagi sebelum akhirnya pamit.


Setelah Max mengantar Edhie, Mommy menemuinya dan menanyakan maksud kedatangan dokter keluarga tersebut.


" Gak ada mom, dia hanya mampir untuk mengobrol, " kilah Max mengelak. Belum saatnya dia memberitahukan keadaan Alina sebenarnya. Dia harus memastikan kalau gadis itu sudah membuka diri untuknya barulah dia akan pelan-pelan bicara dengan mommy.


" Ooh, mommy pikir ada yang sakit, kalian bicara serius sekali makanya mommy khawatir, "


Max menggeleng.


" Gimana Alina? dia sudah ingat sama kamu? seharian ini kamu susah banget dihubungi." protes Mommy.


" Alina gak amnesia kok mom, dia cuma gak siap ketemu kita waktu itu, disatu sisi dia juga bingung karena sudah lama pergi tanpa kabar,"


Untuk yang satu ini, Max sengaja memberitahu agar ke depan Alina tidak canggung lagi berbaur dengan keluarganya.


" Oalah, mommy pikir beneran, syukurlah kalau Alina baik-baik saja, kapan kamu ajak dia kesini, mommy gak sabar pengen liat kamu menikah, kalian sudah terlalu lama terpisah, "


Max tersenyum mendengar antusias mommy, berharap dalam hati kalau mommy tidak akan berubah sikap nantinya.


Setelah makan malam, Max berbincang dengan papi soal pertemuan tadi pagi. Meskipun kerinduannya pada Alina masih begitu besar tapi tidak membuat Max melupakan tanggung jawab begitu saja. Besok pagi mereka ada meeting internal membahas kemajuan perusahaan. Pertemuan rutin tersebut memang sudah direncanakan sebelumnya.


Pagi harinya Max sudah berada di kantor. Dia memang datang lebih awal untuk menandai tangani berkas-berkas yang kemaren tidak sempat dia pegang.


" Aku pikir kau tidak akan datang hari ini, " Utami mengambil berkas terakhir yang ditandatangani Max.


Max tersenyum tipis, " Aku memang berencana keluar, mbak keberatan? "


Utami tertawa, mana berani dia keberatan lagipula tidak adil bagi Max, setelah tiga tahun bekerja tanpa libur, sudah saatnya Max memikirkan diri sendiri.


" Aku mau seluruh tim sudah di ruangan lima belas menit lagi!" Max mengingatkan. Utami mengangguk seraya berlalu dengan membawa setumpuk map.


Disaat Max berkutat dengan pekerjaannya, Alina justru masih bermalas-malasan diatas kasur. Semalaman dia kurang tidur. Memikirkan kejadian kemaren sore saat pulang dari Ragunan.


Alina gak terbayang bagaimana situasi saat itu. Walaupun Max mengatakan semua orang masih tertidur saat pria itu menggendongnya dari bus dan pindah ke mobil yang memang sudah menunggu di sana. Belum hilang rasa malu Alina, dia semakin salah tingkah saat mereka berciuman dengan penuh perasaan, padahal dia kan sedang pura-pura lupa ingatan.


Dasar payah!


Alina merutuki kebodohannya. Detik kemudian dia tersenyum, karna jujur dia menikmati kebersamaan dengan Max. Pria itu tidak pernah berubah selalu berhasil membuat Alina nyaman setiap kali berada di dekatnya.

__ADS_1


" Ehem, sepertinya ada yang berbunga-bunga nih!" ledek Audrey nongol dari balik pintu.


Alina menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


" Katanya amnesia, eh baru sehari jalan bareng, udah mesra aja, " lanjut wanita itu sambil duduk ditepian tempat tidur, cekikikan melihat tingkah sang adik.


" Kakak jangan gitu dong! mau gimana lagi Max mempesona, aku jadi terhipnotis," ujar Alina malu.


"huh, bilang aja kamu kangen, pake acara terhipnotis segala, " Audrey menjitak kepala Alina pelan.


Gadis itu meringis.


" Tapi emang Max itu cool banget sih Al, wangi, ganteng, tinggi, atletis. Siapa sih yang gak terpesona, kakak kalau dikasih juga mau, " Ucap Audrey kagum dengan calon adik iparnya.


" Emangnya gorengan pake di kasih segala, ogah! "


" Kali aja kamu gak mau, " Kedua kakak beradik itu tertawa lepas sampe Audrey lupa memberitahu Alina kalau ada temannya yang datang.


Teman yang dimaksud adalah Tasya dan Gladys. Entah gimana ceritanya mereka berdua sampai di rumah Alina. Yang jelas pagi itu kehebohan tak terelakkan


***


Tak puas bercengkrama dirumah, tiga sahabat lama itu memutuskan hangout disalah satu mall terdekat. Mereka nongkrong di sebuah coffee shop yang terkenal. Sambil bernostalgia kemasa lalu


" Aku masih suprise sama kamu Dys, dari yang benci bisa jadi bucin banget, " ucap Alina mendengar kisah cinta Gladys yang berlabuh pada Orion.


Sontak gadis itu tertawa lepas. Mengundang perhatian beberapa pengunjung terutama laki-laki yang takjub dengan suara renyah Alina ditambah penampakan lesung pipi dengan senyum menawan.


Tasya dan Gladys ikut bahagia melihat keceriaan Alina, mereka pikir tidak bisa lagi berkumpul bersama seperti hari ini. Tasya sudah berulangkali menanyakan kabar Alina sama Kak Audrey, tapi wanita itu tidak membalas pesan yang dia kirim. Tanpa sengaja Gladys mendengar pembicaraan Mommy dan juga Max tadi malam. Tanpa menunggu waktu Gladys mengajak Tasya untuk menemui Alina, berbekal alamat yang dikasih Lisa.


" Trus gimana kamu sama Max kedepannya, saran aku nih ya dipercepat aja. Keburu disabet Tiara, " ucap Gladys.


"Tiara? "


Gladys mengangguk, " Itu loh mantan pacarnya Max, yang mau nikah gak jadi karna keburu ketauan selingkuh"


Alina baru ingat sekarang. Jadi sosok wanita berambut pirang yang ada dipesta waktu itu Tiara.


" Dia uda punya anak satu, seumuran sama Moza, kalau gak salah dia divorce sama suaminya dan berusaha mendekati Max lagi," jelas Gladys


Ada kecemburuan yang menyelinap dihati Alina namun berusaha dia tutupi. Dia harus tau diri, kondisinya saat ini sudah dipastikan kalah dengan Tiara. Wanita itu sempurna sementara dia, hanya gadis yang memiliki banyak kekurangan


" Aku gak tau harus gimana, biar aja takdir yang menentukan, "


" Takdir kamu itu ya sama Max, kalau gak mana mungkin kalian dipertemukan lagi, padahal yang berusaha kabur dari Max kan kamu Al, tapi ada jalannya buat kalian bersatu lagi" cerocos Tasya panjang lebar, dia tidak setuju kalau Alina tidak berjuang, kasihan sama Max yang selama ini terus saja menunggu kepulangan gadis itu.


" Makasih Sya udah dukung aku, sepertinya gadis cantik ini memang harus sering dinasehati, kalau gak dia bakalan kabur terus dari kenyataan, " Timpal Max

__ADS_1


yang entah sejak kapan sudah berada diantara mereka. Pria itu tak segan mengecup puncak kepala Alina didepan banyak orang membuat pipi gadis itu merona.


"Eh, eh oiya sama-sama Max eh pak, eh" Tasya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena selalu bingung memanggil Max dengan sebutan apa mengingat pria itu pernah menjadi atasan mereka


" Kok bisa disini? " tanya Alina canggung,


" Aku mau meeting sama Adinda dan juga Bryan, mereka sedang dalam perjalanan"


Alina mengangguk mengerti, Max menarik kursi yang ada dekat gadis itu.


" Lanjutin aja ngobrolnya, aku gak papa " ucap Max sambil mengaktifkan notebook nya. Ketiga gadis itu malah saling pandang memberi kode.


" Jangan kode-kodean, pesan lagi makannya, nanti aku yang bayar"


Pada akhirnya, Gladys dan Tasya pamit. Niat hati pengen nonton bareng harus ditunda dulu karena Alina ditungguin sang pujaan hati.


" Loh kok cemberut? " ucap Max begitu mereka sudah ada dimobil, Max menunda meeting karena Adinda terjebak macet. Tadinya setelah meeting Max akan menjemput Alina.


" Aku sama anak-anak udah janjian mau nonton, kamu nya malah datang, " keluh Alina kesal


" Yah kenapa gak bilang dari tadi, kan bisa sekalian nonton bareng, "


Alina memutar bola matanya malas, Ngajak Max berada diantara mereka yang ada malah bikin Gldays dan Tasya gerah. Kalau udah berada di dekat Alina pria itu tidak segan bersikap mesra.


Cup


Nah kan!


Baru saja dibilangin, udah nyosor aja, tapi Alina akui dia juga masih merindukan pria itu dan ingin selalu ada didekatnya.


"Kangen juga kan? " ujar Max disela sela ciuman mereka, akh Max kalau begini terus Alina bisa lupa diri.


" Mommy mengundang kamu makan malam dirumah? " ucap Max saat Alina bersandar didadanya. Max memutuskan membawa gadis itu ke apartemennya, eit jangan berpikiran yang aneh, Mereka hanya butuh ruang privacy untuk bicara dan saling bermanja tanpa ada yang mengganggu.


" Aku belum siap Max, rasanya malu jika harus kembali berhadapan dengan keluarga mu setelah insiden dipesta waktu itu, "


Max mengelus rambut Alina, menghirup aroma wangi dari sana.


" Mereka sangat mengerti sayang, kamu gak perlu malu. Yang penting kamu sudah kembali, "


Alina menghela napas perlahan, kemudian mengangguk tanda setuju. Entah bagaimana dia mengatasi semua keadaan ini, kebahagiaannya terasa semu.


***


Jangan lupa Vote dan Komen ya, author tunggu jejak readers tersayang


Thanks

__ADS_1


Dika


__ADS_2