
Alina memejamkan mata begitu kedua lengan tegap itu merengkuh nya, menenggelamkan gadis itu dalam pelukan rindu. Sejenak Alina membiarkan begitu saja tanpa bermaksud membalas, tidak juga melepas. Dia menghirup aroma parfum yang sangat dia rindukan. Untuk sesaat Alina ingin menikmati.
Alina mengepalkan kedua tangannya, sekuat tenaga menahan agar tidak hanyut dalam perasaan yang menggebu. Hati dan pikiran tak sejalan seperti dua sisi mata uang. Sungguh dia sangat merindukan Max.
Setelah satu menit berlalu tanpa jeda, Alina mendorong dada bidang pria itu dengan pelan.
" Maaf apa yang anda lakukan tuan,?" ucapnya menundukkan kepala, tidak kuat memandang langsung kedalam mata pria itu, dia tidak ingin lemah.
Max mengerutkan kening atas penolakan tersebut dan apa barusan? Alina menyebutnya tuan?
"Alina, sayang ada apa? saya sangat merindukanmu, kemana saja kamu selama ini? kenapa pergi meninggalkanku, bukan kah kamu pernah berjanji tidak akan pergi sekalipun saya yang memintanya? berondong Max merangkum wajah gadis itu.
Alina menggeleng dan melepaskan tangan Max.
"S-saya tidak mengenal anda, anda siapa? apa yang anda maksud?
Max terkejut, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Audrey. Sandiwara apalagi ini pikirnya?
" Ayo kak, kita pulang, acaranya sudah selesai kan? " ajak Alina pada Audrey yang masih bengong.
Max menahan tangan Alina.
" Apa maksud kamu Al? kamu tidak mengingat saya ? protes Max tidak terima.
Alina menatap Max dengan segenap keberanian. Dia menggeleng.
"Saya tidak kenal anda tuan, mungkin anda salah orang," ujarnya dengan raut penyesalan.
Sontak Max mencengkram bahu Alina, " Tidak mungkin pasti kamu berbohong, kamu tidak mungkin lupa sama saya, saya kekasih kamu, kita saling mencintai, please Al jangan bikin saya gila, cukup tiga tahun ini saya kehilangan kewarasan karena kepergian kamu, tolong jangan sakiti saya lagi , tolong Al! "
Alina meringis, " Anda menyakiti saya tuan, lepaskan saya, sungguh saya tidak mengenal siapa anda, sudah saya katakan anda salah orang! " ucapnya bersikeras.
"Kamu bohong kan Al, tidak mungkin kamu melupakan saya, saya tau pasti kalau kamu mencintai saya, "
" Saya tidak bohong tuan, saya tidak mengenal anda, SAYA TIDAK MENGENAL ANDA, saya rasa itu cukup jelas, " Alina memberikan penegasan.
Max menggeleng berulang kali, dia tidak percaya gadis yang begitu dia cintai, gadis yang dia nantikan kepulangannya, ternyata melupakan dirinya. Tubuhnya terhuyung kebelakang, lalu terduduk dilantai.
" Max!" pekik Widyawati menghampiri putranya. Dia mendekati dan merengkuh pria itu kedalam pelukannya.
" Kuatkan dirimu nak, jangan lemah seperti ini, mami tidak bisa melihatmu begini, " Widyawati terisak.
Alina juga tidak sanggup melihat keadaan Max, dia merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi, semua ini harus dia lakukan. Demi kebaikan mereka berdua.
" Alina, apa kamu benar-benar lupa pada Max, apa kamu tidak ingat juga pada kami? " Hardi bersuara.
" Maaf tuan saya benar-benar tidak ingat dengan kalian, saya rasa kalian salah orang. "
" Tidak mungkin kami salah orang namamu Alina kan dan kau adalah adik Audrey, lalu bagaimana mungkin kami salah mengenali? " ucap Orion.
__ADS_1
Alina terpaku mendengar pertanyaan tersebut.
" Entahlah, saya, saya tidak tau, " jawabnya seraya memijit pelipis.
" Kak Audrey tolong jelaskan, apa yang terjadi? " Bryan mencoba mengambil alih keadaan. Adinda yang berada disebelahnya prihatin dengan keadaan Max, tapi tidak senang dengan ekpresi Bryan. Dia bisa melihat dengan jelas masih ada cinta di sana untuk Alina.
Sementara Tiara hanya bisa menjadi penonton. Tidak sepenuhnya mengerti tapi dia tau gadis yang ada di hadapan mereka kini adalah Alina sosok yang sangat dicintai Max. Pantas saja Max tergila-gila pada gadis itu. Kecantikannya alami, hanya dengan riasan tipis dia sudah bersinar apalagi kalau dandan seperti dirinya. Eh kenapa dia malah memuji Alina.
Audrey menghela napas, " Alina mengalami amnesia yang cukup parah, memory nya terhenti dimasa kecil hingga remaja, itu kenapa dia hanya mengenali kami, keluarga dan juga beberapa teman masa kecilnya. "
Sepertinya Audrey memang berbakat dalam menulis skenario dadakan, bagaimana lagi, Alina tidak memberi aba-aba sebelumnya. Pakai cerita amnesia segala, sudah seperti sinetron saja.
" Itu artinya dia juga melupakanku? " Bryan seolah tak terima.
" Hei, bukankah itu bagus, kau memang layak untuk dilupakan, "ucap Audrey pedas membuat Bryan terdiam seribu bahasa. Adinda terbakar cemburu tapi berusaha menutupi karena saat ini bukan ranahnya untuk angkat bicara.
" Ayo kita pulang kak, aku pusing disini! " Alina melangkahkan kakinya pergi. Makin lama berada di sana, dia takut tidak bisa menahan diri.
Langkah Alina terhenti, begitu seseorang memeluknya dari belakang.
" Saya mohon Al, jangan lupakan saya, cobalah untuk mengingat, paling tidak beri saya kesempatan untuk membantu kamu Al, "
Max pantang menyerah.
" Maafkan saya tuan, saya tidak bisa kepala saya rasa mau pecah, tolong jangan mendesak saya, "
" Kalau memang kita punya hubungan dimasa lalu, lupakan , tinggalkan saja dan tataplah masa depan, sungguh saya tidak bisa kembali, sekeras apapun saya mencoba saya tidak memiliki kenangan tentang anda, sama sekali tidak, " ucap Alina sebelum akhir nya benar-benar pergi meninggalkan ballroom dengan langkah kaki kiri yang diseret.
Max menatap punggung Alina yang perlahan menjauh, sekilas tak ada yang berubah dengan gadis itu, dia tetap sama seperti dulu, hanya kakinya yang menunjukkan bekas kalau gadis itu pernah tidak sadarkan diri. Max tidak tega dengan keadaan Alina.
" Maafkan aku, Inilah alasan kenapa aku dan juga keluarga tidak ingin kalian bertemu dengan Alina, Keadaan Alina tidak seperti dulu lagi, Kuharap kau mengerti dan cobalah terima kenyataan. " saran Audrey bijak
"Saya tidak akan menyerah, hanya amnesia, saya akan membawa Alina berobat dengan dokter terbaik, cepat atau lambat , memori Alina akan kembali, " Max bersikeras
" Jangan lakukan itu, jika kau ingin Alina tetap hidup, "Audrey memberi penekanan
" Apa maksudmu? "
" Memaksa Alina untuk mengingat, maka kau harus bersiap kehilangannya, kau tidak lihat bagaimana pusingnya dia tadi. Untung dia tidak pingsan, jadi jangan melakukan hal bodoh, kalau kau memang mencintai Alina, "
Audrey berlalu pergi, biar saja semua urusan catering diurus teguh, yang terpenting sekarang adalah menyusul Alina, dia tau pasti Alina tidak baik-baik saja. Audrey mencoba menelpon gadis itu. Alina tak terlihat dimanapun.
" Kakak pulang saja, aku ingin sendiri sebentar saja"
" Baiklah, jangan kemalaman, sepertinya mau hujan, " Alina menutup panggilan.
Untuk kesian kali Audrey menghela napas berat. Drama amnesia diluar dugaan, Entah apa yang ada dalam pikiran adiknya, tapi apapun itu, dia yakin Alina sudah memikirkan dengan matang.
***
__ADS_1
Ruang terbuka hijau ditengah kota yang tak jauh dari komplek perumahannya menjadi pilihan Alina untuk menenangkan diri dari kemelut yang baru saja dia ciptakan.
Tidak pernah sebelumnya terpikirkan untuk membuat kebohongan baru demi mengakhiri persembunyian. Semua yang dia katakan tadi spontan saja dia lakukan. Ketidaksiapan nya untuk bertemu Max dan juga keluarganya memaksa dia melakukan semua itu.
Pasti kakaknya bingung meskipun pada akhirnya ikut memainkan peran. kalau saja tadi Audrey tidak tanggap mungkin akan sia-sia saja aktingnya.
Alina sejujurnya tidak sanggup melihat penderitaan Max, dia ikut sakit, hatinya hancur melihat airmata yang keluar dari netra pria yang paling dia cintai. ingin rasanya dia berlari dan merengkuh tapi dia tidak bisa.
Alina meyakinkan diri sendiri apapun yang dia lakukan sekarang adalah demi kebahagian Max, hanya itu.
Alina mendekati seorang penjual gulali yang sedang berkemas, sebungkus permen kapas akan mengurai kegundahan nya.
Duduk di salah satu kursi taman, Alina mulai menikmati manisan sambil memperhatikan keadaan sekitar. Beberapa pasangan sejoli bersenda gurau dengan mesra. Tak peduli dengan langit yang bergemuruh, dunia seolah menjadi milik berdua.
Tak urung Alina menyunggingkan senyuman, andai saja dia disini bersama Max, mungkin dia akan sama dengan pasangan itu, bercanda dan tertawa bersama.
Flashback nya kembali ke masa lalu, dimana untuk pertama kalinya pria itu menikmati gulali.
" Namanya apa? "
" Rambut nenek, "
" Nama yang lucu, tapi rasanya manis"
" Tentu saja, kan terbuat dari gula, "
" Terus bedanya dengan yang ini apa ?" tanya lagi menunjukkan bungkusan berwarna putih. Max bertingkah seperti anak-anak yang penasaran dengan benda yang baru dilihat.
" Kalau ini permen kapas, teksturnya lembut dan asli gula, kalau rambut nenek lebih kasar karena ada campuran tepung, "
Max mengangguk mengerti, untuk pertama kalinya dia menikmati cemilan rakyat seperti ini. membuatnya antusias. Bersama Alina dia menemukan hal baru yang tidak pernah dia coba sebelumnya.
" Kalau yang ini namanya apa? " tanya Max sambil mengusap bibir Alina yang belepotan, Alina tersipu malu.
" Sepertinya manis juga, " tatap Max sendu
"Gak tau, gak pernah nyoba, " Alina tidak ada maksud apa-apa.
" Biar saya yang coba, karena cuma saya yang bisa merasakan," belum sempat Alina protes Max sudah mengecup bibir gadis itu, ciuman yang lembut tapi menggoda tak pelak membuat Alina terbuai, gadis itu membalas kecupan sang kekasih dengan penuh cinta, tanpa napas menderu tanpa napsu yang berlebihan.
Mengingat semua kenangan bersama Max membuat gadis itu semakin rindu, rintik hujan turun perlahan membasahi tubuhnya. Alina tidak ingin beranjak, biarlah hujan menyatu dengan rasanya.
***
Yuhu, masih sepi..
Happy Reading aja deh, othor tetap semangat kok.. hehe
Dik@
__ADS_1