
Setelah insiden mati lampu tempo hari, sikap Max tetap seperti biasa, tidak berubah sama sekali. Gelar si gunung es masih pantas disematkan padanya. Bahkan Max hanya akan berbicara soal pekerjaan dengan Alina. Diluar masalah itu jangan pernah berharap akan ada interaksi diantara mereka.
Seperti hari ini, Max meminta gadis itu untuk ikut bersamanya meeting dengan klien baru, karena project tersebut akan dirancang oleh Alina sendiri, otomatis dia lah yang harus melakukan presentasi. Ditengah kesibukannya mempersiapkan dokumen yang hendak dibawa, Alina terusik dengan kedatangan Mahira.
" Datang tak diundang, pulang tak diantar," desis Tasya dengan suara pelan.
" Jelangkung donk," timpal Gladys terkekeh.
Alina geleng-geleng kepala mendengar bisik-bisik rekannya itu. Sudah menjadi rahasia umum kehadiran Mahira tidak pernah diharapkan di perusahaan besar ini. Selain karna sikapnya yang angkuh, penampilannya yang berlebihan membuat orang orang terutama kaum hawa enek melihatnya.
Mahira melangkah masuk dengan postur tubuh yang diatur sedemikian rupa, jalannya dibuat-buat bak supermodel meskipun kenyataannya berbanding terbalik. Ukuran tinggi Mahira sama seperti kebanyakan wanita Indonesia pada umumnya dengan tubuh yang cukup berisi, herannya gadis itu malah suka memakai gaun ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh. Seperti yang dipakainya sekarang terusan strech diatas lutut warna merah dengan leher V-neck yang menampakkan belahan aset pribadinya.
Sebelum keruang Max, Mahira sempat melirik pada Alina, wajahnya datar tanpa ekspresi, mungkin dia tersinggung dengan sikap Alina waktu itu, tapi Alina masa bodoh meskipun Mahira adalah kerabat Pak Leo lebih tepatnya adik ipar. Dia tidak peduli.
Bukan tanpa alasan jika Alina begitu membenci Mahira. Gadis itu yang terlebih dahulu memancing api permusuhan. Masih jelas diingatan Alina, kejadian dua tahun silam. Saat itu Pak Leo sedang mengadakan sebuah party akhir tahun bersama para staf dan juga ekeskutif perusahaan di Bali. Seperti halnya Alina yang diundang Pak Leo, Mahira yang kuliah di luar negeri juga hadir dikarenakan sedang mengisi liburan di Indonesia.
Acara berlangsung meriah dilengkapi musik dan minuman khas party. Semua larut dalam suasana. Tanpa ada yang menyadari Mahira yang sedari awal selalu mencari perhatian dari Bryan tengah merencanakan sesuatu.
Disaat Alina sedang ke toilet, Mahira mendekati Bryan dan mengajaknya bersulang dengan minuman yang dia bawakan. Mahira berhasil memperdaya Bryan untuk mencicipi isi gelas tersebut, Tanpa curiga Bryan meminum minuman yang didalamnya sudah dibubuhi obat bius.
Begitu Bryan mulai tidak sadarkan diri, Mahira meminta beberapa orang suruhannya untuk membawa pria itu keluar area pesta. Beruntung Tasya sempat melihat. Dia bergegas memberitahukan kepada Alina. Karna tidak ingin terjadi sesuatu dengan Bryan, Alina meminta bantuan Pak Leo. Mereka buru buru menuju cottage yang disebutkan oleh receptionist tentu saja setelah dipaksa memberitahu.
Alina benar-benar tidak percaya Mahira sudah merencanakan dengan matang, gadis itu membawa Bryan ke cottage yang tersembunyi, cukup memakan waktu untuk mereka tiba disana meskipun masih dilokasi yang sama.
Sesampainya mereka lansung masuk dengan bantuan kunci cadangan, Alina shock begitu pintu terbuka, begitu juga dengan Pak Leo dan Ibu Diana , istrinya Pak Leo yang tak lain adalah kakak kandung Mahira.
Seketika Alina merasa jijik melihat posisi Mahira berada diatas Bryan yang masih terlelap. Tubuh gadis itu hanya dibalut pakaian dalam. Untung mereka datang tepat waktu, kalau tidak Alina tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.
Pak Leo murka, beliau menampar gadis itu beberapa kali, Ibu Diana hanya diam seribu bahasa. Malu melihat tingkah adiknya itu.
Atas nama keluarga, Pak Leo dan Ibu Diana minta maaf pada Bryan dan juga Alina. Untuk menjaga nama baik perusahaan mereka sepakat merahasiakan kejadian tersebut.
__ADS_1
Sejak saat itu Mahira mencoba bersikap ramah setiap kali ketemu Alina, tapi Alina tidak pernah menggubrisnya.
Alina menghela napas berulang kali, mengingat memori lama memang sangat menyakitkan , Bryan memang sudah tiada tapi tetap saja dia tidak bisa menghapus begitu saja dari ingatan.
" Alina, kamu sudah siap?" ucap Max yang entah sejak kapan sudah berdiri didekat mejanya.
" Eh,,oh sudah siap pak," jawab Alina sambil memegang map-nya.
" Lalu tunggu apa lagi, dari tadi saya nungguin kamu," ucap Max ketus, sorot matanya menyiratkan emosi.
" Saya pikir bapak ada tamu" kilah Alina beralasan, dia mengalihkan pandangan pada sosok yang berdiri didekat pintu dengan wajah manyun.
" Kalau saya bilang pergi meeting berarti saya tidak terima tamu, bagi saya tidak ada yang lebih penting selain pekerjaan, ingat itu baik-baik," ucap Max dengan nada tinggi, Alina tidak marah dengan sikap Max, justru dia senang karna secara tidak lansung pria itu juga menolak kehadiran Mahira.
" Baik pak," timpalnya pura-pura memahami. Alina memperhatikan raut wajah teman temannya, meskipun mereka diam, Alina yakin dalam hati mereka bersorak kegirangan, rasain kamu Mahira, emang enak dicuekin.
Max melangkah keluar ruangan tanpa memedulikan Mahira yang masih terpaku. Alina ikut mengambil langkah seribu diiringi kedipan mata dari Tasya.
Kata orang kalau suasana hati sedang baik, maka auranya akan terpancar begitu juga dengan yang Alina rasakan, sejak keberangkatan mereka dari kantor dia merasa sangat senang dan plong seolah tak ada beban, bahkan senyum pun tak lepas dari wajah cantiknya.
Presentasinya berjalan lancar dan klien merasa kagum dengan kinerja mereka, kerjasama pun terjalin dengan begitu mudah.
" Kamu semangat sekali hari ini," ucap Max ketika mereka dalam perjalanan kembali kekantor.
Benarkah? setiap hari saya selalu semangat, bapak aja yang baru nyadar," jawab Alina mengedikkan bahu.
" Oh ya?maaf saya kurang memperhatikan," ucap Max lagi.
Alina maklum, mana mungkin seorang Maxime perhatian pada orang lain. Diajak ngobrol seperti ini aja dia sudah cukup beruntung.
ciiiittttttt
__ADS_1
Alina merasakan tubuhnya terhuyung kedepan, sontak dia memejamkan mata.
" Maaf pak, ada yang tiba tiba menyebrang," ucap pak sopir menjelaskan apa yang terjadi.
Perlahan Alina membuka mata kembali saat merasakan sesuatu dikeningnya, tangan Max menghadang kepalanya agar tidak terbentur pada kursi didepan. Sungguh tidak masuk akal disaat riskan seperti tadi Max masih sempat memikirkan orang lain di sebelahnya.
Alina kembali menegakkan tubuh, sementara Max juga menarik tangannya. Tampak Max juga tersadar bahwa perbuatannya barusan pasti menimbulkan pertanyaan.
" Bapak dan Mbak Alina gak pa-pa kan? tanya pak sopir memastikan.
" Kita baik baik aja, yang nyebrang gimana?" Max balik bertanya.
" Udah kabur pak, "
" Ya sudah, sekarang jalan lagi," Titah Max yang diangguki cepat oleh sang sopir.
Kecanggungan tercipta diantara dua orang itu. Alina masih bingung dengan tindakan Max tadi. Bahkan dia belum pernah mengalami perlakuan seperti itu sebelumnya termasuk dengan Bryan. Kalau ada insiden tak terduga Bryan selalu menanyakan keadaan setelah kejadian berlalu, tapi Max?
Akh, Alina menggeleng berusaha mengenyahkan pikirannya yang membandingkan-bandingkan, Bryan adalah segalanya sementara Max hanya orang yang baru dia temui. Mana mungkin pria itu memiliki perhatian khusus padanya. Apa yang terjadi barusan hanyalah kebetulan atau bisa jadi Max memang selalu begitu sama semua orang yang ada disekitarnya.
" Maaf yang tadi itu reflek, saya punya trauma masa kecil. Waktu itu saya sedang jalan jalan sama orangtua saya lalu ada kejadian yang sama seperti tadi, sialnya saya malah terhempas kedepan ,kening saya membentur dashboard . Alhasil ada benjolan sebesar telur. Sakitnya sih gak seberapa, tapi benjolan itu hilangnya lama dan selama sepekan saya terpaksa pasrah diledek sama teman sekolah," jelas Max panjang lebar, ada senyum samar diwajahnya menceritakan kisah itu.
Alina ikut tersenyum, tapi dalam hati dia mengutuk diri sendiri "tuh kan Al, aku bilang juga apa reflek ya, R-E-F-L-E-K , lagian ngarep banget diperhatikan si gunung es,"
Deg
***
Happy Reading ya, semoga kalian suka..bantu vote dan komen ya
with love
__ADS_1
Dik@