Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
32. Fakta tapi mustahil


__ADS_3

"Jangan tinggalkan saya apapun yang terjadi, berjanjilah Al,"


Kalimat itu terus saja terngiang di benak Alina. dia merasa bingung, kenapa Max mendadak aneh, apa yang sebenarnya dipikirkan pria itu sehingga dia merasa sangat takut kehilangan Alina. Meski tersanjung oleh sikap Max yang sangat mencintainya sedalam itu, tetap saja Alina merasa penasaran.


Alina curiga semua ada hubungannya dengan telpon dari Adrian tapi dia tak punya kesempatan untuk bertanya lebih jauh, begitu hujan mulai deras mereka lansung beranjak pulang. Sejak hari itu komunikasinya dengan Max juga sedikit renggang. Bukan karena ada masalah melainkan kesibukan Max yang membuat pria itu tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengannya. Max hanya menghubunginya sebelum ngantor dan saat hendak tidur malam. Durasinya juga tidak lama, hanya untuk bertanya kabar dan aktifitas mereka masing-masing.


Alina tidak mempermasalahkan hal tersebut karena sedari awal dia sadar dengan tanggung jawab yang diemban kekasihnya. Terlebih sekarang mendekati akhir tahun pasti Max dihadapkan pada berbagai macam laporan dan juga meeting yang membahas perkembangan perusahaan selama satu tahun terakhir.


Ngomong ngomong soal akhir tahun Alina teringat dia belum memesan tiket penerbangan ke Bali untuk dia dan para sahabatnya, padahal waktunya semakin dekat. Dia sendiri tidak kalah sibuknya sejak Max meninggalkan Mega Buana, atas permintaan Pak Leo semua tanggung jawab yang diemban pria itu resmi berpindah padanya sampai orang yang akan mengisi posisi tersebut masuk kantor pada awal bulan depan.


Setelah makan malam bersama ibu dan mbak Asti, gadis itu langsung masuk kamar untuk mengambil ponsel, dan membuka salah satu aplikasi agen perjalanan ternama. Matanya mulai memindai rute dan jadwal penerbangan yang tertera.


Berhubung waktu liburan mereka singkat, Alina memutuskan untuk mengambil penerbangan pagi. Jemarinya mulai mengetik identitas diatas kolom yang disediakan. Tak berapa lama konfirmasi untuk bookingan sudah dia dapatkan. Tak lupa gadis itu membuat screenshot untuk dikirimkan kepada dua sahabatnya.


Tentu saja Tasya dan Gladys sangat antusias menanggapi. Mereka lansung melakukan video call grup untuk memastikan keseriusan Alina.


" Aku pikir gak jadi Al, maklum sekarang kan udah ada yayang," ucap Tasya mengerling diikuti anggukan Gladys.


Alina memutar bola mata mendengar candaan Tasya "Gak segitunya kali, kan aku udah janjian lebih dulu sama kalian guys,"


" Emangnya Pak Max gak ngajakin tahun baru bareng kamu Al? secara inikan yang pertama kali buat kalian berdua," tanya Gladys heran.


Alina menggeleng " Bukan gak ngajak, memang Max lagi gak bisa karena sibuk, minggu depan dia bakal terbang ke Jerman, ada meeting project disana," ucap gadis itu menjelaskan.


" LDR-an dong," ujar Gladys memasang wajah prihatin.


" Mau gimana lagi, resiko punya kekasih boss besar ya gitu," Tasya yang menjawab.


Alina hanya tersenyum menimpali perkataan kedua sahabatnya. Memang tidak bisa dipungkiri ada rasa sedih yang menyelinap dalam hatinya harus berpisah dengan Max sementara waktu, tapi dia tidak ingin membuat Max merasa serba salah.


" Gak lama kok sayang, paling juga seminggu, setelah itu saya pastikan kita akan liburan berdua saja," ucap Max ditelpon kemarin malam ketika memberitahukan soal keberangkatannya, Alina hanya bisa maklum, dia bisa merasakan bagaimana Max menyesal karena harus seperti ini, dan Max juga sudah berusaha agar perjalanannya bisa diwakilkan tapi pihak investor ingin bertemu langsung dengan dirinya.


Alina menyudahi video call dengan sahabatnya begitu mendengar seruan ibu dari luar kamar,


" Ada Max tuh diruang tamu, " ucap ibu ketika Alina membuka pintu. Alina mengernyit heran karena Max tidak memberitahu kalau akan datang kesini.


" Udah gak usah bengong, cepat samperin kayaknya doi kangen banget sama kamu," lanjut ibu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum simpul. Tak urung gadis itu tersipu dan bergegas kedepan.


" Kok gak ngabarin mau kesini," sapa Alina pada pria yang sedang menyandarkan punggungnya disofa sambil terpejam, gurat kelelahan tercetak jelas disana membuat Alina merasa iba.


Max membuka mata. Pria itu lansung memeluk Alina yang sudah duduk disebelahnya, tanpa ragu Max membenamkan wajah dilekukan leher gadisnya.


" Sayang, jangan kayak gini, gak enak dilihat ibu" elak gadis itu berusaha melepaskan diri tapi Max bersikeras dan terus mendekapnya.

__ADS_1


" Saya kangen kamu sayang, biarkan seperti ini sebentar saja," pintanya memohon.


Alina hanya bisa menghela napas, tak tega melihat Max memelas, dia sendiri juga merasakan rindu yang sama. Akhirnya Alina memilih membiarkan situasi ini beberapa saat sampai Max mulai merenggangkan tubuhnya.


" Kamu baru pulang kantor?"


Max mengangguk sambil menyesap minuman yang tadi sempat disajikan Bu Ranti.


" Kenapa gak lansung pulang, kamu pasti capek banget," Alina mengusap rambut kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Max kembali memejamkan mata menikmati sentuhan jemari Alina yang membuatnya rileks dan candu.


" Udah gak bisa nahan rindu sayang, emangnya kamu gak kangen sama saya," selidik Max dengan mata menyipit.


Alina tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan Max.


" Kangenlah, masa enggak,"


Max tertawa senang, dia menautkan jari mereka berdua dan mengecup punggung tangan gadis itu penuh perasaan.


" Oh ya, tadi aku udah pesan tiket buat ke bali sama anak-anak," lanjut Alina memberi tahu, dia sudah menceritakan rencana liburan bersama Tasya dan Gladys pada Max sebelumnya dan pria itu tidak keberatan.


Max memukul jidatnya sendiri " Saya lupa kasih tau, kalau semua keperluan perjalanan kalian sudah dihandle Adrian,"


" Maksud kamu?" Tanya Alina tidak mengerti.


Alina terperangah, Jet pribadi?Mulia Jaya Resort? mimpi apa dia semalam bisa mendapat kejutan seperti ini, tapi mengingat siapa Max, dia tak perlu berlama lama heran. Gak kebayang reaksi Tasya dan Gladys saat mengetahui liburan mereka nanti akan menjadi liburan terekslusif.


" Kamu gak bercanda kan sayang?" Tanya Alina kembali memastikan. Raut wajahnya masih menatap tak percaya.


Max terkekeh


"Saya serius, nanti saya kirimkan nomor Mbak Wira, manager resort. Apapun yang kalian butuhkan nantinya bisa langsung disampaikan ke dia,"


" Terus tiketnya gimana dong?" Alina membuka kembali aplikasi diponselnya.


" Direfund aja, kalau gak bisa ntar uang tiketnya saya ganti deh," ucap Max seolah tahu yang dikhawatirkan gadis itu.


Alina mencubit pinggang Max yang reflek berkelit begitu tangan gadis itu mendarat disamping tubuhnya " Emangnya aku matre apa pake diganti segala, lagian ini refundable kok, paling kena potongan," ucap Alina sambil menunjukkan tiket yang tadi belum sempat dia print.


" Ya udah tunggu apalagi, cancel aja sekarang,"


Alina mengangguk dan mulai menekan tombol refund yang tersedia lalu memenuhi beberapa permintaan yang muncul sebagai syarat pembatalan. Tak lama reservasi tersebut sudah berhasil dibatalkan. Dia juga lega begitu mendapat notif pesan di m-bankingnya, uang nya sudah kembali meskipun tidak full.


" Sudah ," serunya girang dan menghadap pada Max yang sedari tadi diam memperhatikan gerak gerik Alina.

__ADS_1


Max tidak sadar kalau Alina membalas tatapannya, sepertinya pikiran pria itu sedang melanglang buana. Max baru merespon begitu Alina melambaikan tangan didepan wajahnya. Pria itu seketika tergagap.


" Apa yang kamu pikirkan sayang?"


Max menggeleng, dia memberi isyarat pada Alina untuk mendekat, tanpa ragu Alina menggeser duduknya. Max menariknya hingga Alina kini berada dalam pelukan pria itu. Alina tidak lagi menolak. Pelukan Max selalu bisa membuatnya nyaman, aroma parfum yang menenangkan selalu sukses menghipnotis penciumannya.


Alina tidak sadar ada kegelisahan yang bertengger dalam pikiran Max saat ini.


" Bryan masih hidup, dia sekarang tinggal di Singapura bersama seorang wanita hamil, kadang ibu dan adiknya juga datang mengunjungi?" Jelas Adrian.


Godam palu terasa menghantam Max saat itu juga, dia baru saja hendak mengecap bahagia bersama Alina, sekarang malah dihadapkan pada satu fakta konyol yang boleh dibilang mustahil.


" Jangan bercanda Dri, bagaimana mungkin orang mati bisa hidup lagi," desis Max tidak percaya.


" Itulah kenyataannya Max"


" Atau mungkin Bryan mempunyai kembaran," Max mencoba berasumsi


Adrian menggeleng " Anak buah kita sudah memastikan, Bryan tidak punya saudara lain,"


Sungguh tidak masuk diakal, apa yang sebenarnya terjadi disini, bagaimana mungkin Bryan memanipulasi kematiannya sendiri. Sebenarnya Max tidak peduli dengan Bryan, apapun rencana pria itu tidak ada urusan dengan dirinya, tapi dia mencemaskan Alina.


Dia harus memastikan apakah perbuatan Bryan ini akan berimbas pada keselamatan Alina dan yang tak kalah penting dia harus menyiapkan hati jika satu saat Alina pergi dan lebih memilih Bryan daripada dirinya. Max sadar betul Bryan masih memiliki tempat khusus di hati gadis itu.


Rencana keberangkatannya ke Jerman hanya kebohongan, sebenarnya dia hendak ke Singapura, untuk memastikan semua dengan mata kepala sendiri. Dia juga mengajak Adam ikut serta.


Dan Adam setuju, karena dia merasa ada konspirasi yang sengaja diciptakan buktinya Gerry, polisi yang dipercaya keluarga Bryan menghilang tanpa jejak begitu Adam mengintimidasinya untuk mengatakan kebenaran.


Max harus mengetahui semua fakta terlebih dahulu, barulah dia akan memberi tahukan pada Alina, bagaimana pun Alina berhak tahu. Apapun keputusan gadis itu nanti dia hanya bisa pasrah. Bukan dia tidak ingin berjuang mempertahankan hubungan mereka, tapi bila Alina lebih memilih kembali pada Bryan, dia ikhlas karena kebahagiaan Alina adalah prioritas dalam hidupnya.


" Aku mencintaimu Al, sangat mencintaimu," gumam Max berulang kali. Alina yang masih berada dalam pelukan Max tersenyum bahagia, wanita mana yang tidak menginginkan posisinya saat ini, dicintai begitu tulus oleh sosok yang sempurna.


" Aku juga sayang,"


***


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, Mohon Maaf lahir batin ya readers tersayang, 🙏


Jangan lupa bantu vote dan komen ya,,


with love


Dik@

__ADS_1


__ADS_2