
Bugh... bugh.....
Max meninju samsak dengan penuh emosi, keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya tak lagi dihiraukan. Tangannya terus bergerak maju bergantian tanpa henti, nyaris satu jam aktifitas itu dia lakukan untuk meredam rasa kecewa dan amarah yang menggumpal dalam dada. Kecewa pada Alina dan marah pada keadaan.
Dia pikir pertemuannya dengan Alina kembali setelah tiga tahun terpisah akan membawa rona bahagia dalam kisah hidupnya. Ternyata sebatas angan-angan. Dia kembali dihadapkan pada situasi pelik. Entah sampai kapan hubungannya dengan gadis yang sangat dia cintai itu diwarnai masalah.
" Kak, aku mau bicara! " ucap Adinda tiba -tiba muncul di pintu ruang gym.
" Katakan! " ucap Max tanpa menoleh.
" Ada hal serius yang harus aku ungkapkan kak, bisakah kakak berhenti sebentar! " Adinda memohon.
Max menghentikan gerakan tangannya, memandang Adinda dengan tatapan menyelidik. Pria itu mengambil handuk lalu menyeka wajah
" Soal apa! " tanyanya lagi.
Adinda terdiam sejenak kemudian menghela napas berat.
" Soal papi dan juga suamiku"
Max menangkap kesedihan diwajah adiknya itu.
" 10 menit, tunggu diruang kerja!" titahnya
Adinda mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Max. Pria itu tidak membuang waktu, dia segera mandi untuk membersihkan diri tak selang dia sudah bersiap dengan setelan santai lalu menemui Adinda.
" Jadi, papi mu dalang dibalik semua kekacauan ini, " ucap Max sambil meneliti laporan keuangan yang dibawa wanita itu.
Tidak heran mendengar cerita Adinda, dari awal memang Max tidak lagi percaya pada pamannya. Semenjak kematian sang istri, Om Hartawan seperti kehilangan arah. Tidak fokus lagi pada pekerjaan hingga perusahaan itu hampir bangkrut.
Dia bersedia menanam saham di perusahaan Hartawan demi masa depan Adinda dan anak-anak nya. Dia juga tidak rela salah satu aset peninggalan sang kakek hancur. Berharap dengan kehadiran Bryan sebagai CEO bisa memberikan perkembangan. Perusahaan memang cukup stabil dibawah kepemimpinan Bryan, hanya saja Hartawan menggunakan kekuasaannya untuk menekan.
" Seharusnya kamu jujur, kalau sudah begini apa yang bisa kita lakukan selain memperbaiki lagi arus keuangan, aku dengar Bryan sedang mengajukan proposal untuk pembangunan resort di bali, bagaimana kelanjutannya? "
Adinda menggeleng lemah.
" Maafkan aku kak, semua sudah terlanjur, aku memang tidak bisa menolak papi, aku akan menyerahkan perusahaan ini kembali pada kakak, "
Max mengerutkan kening.
"Bryan mengundurkan diri, dia tidak mau mengelola perusahaan papi lagi, aku juga tidak kompeten dibidang ini, " ucap Adinda lesu.
Max sekarang paham, dia yakin Adinda dan Bryan sedang ada masalah. Kendati dia tidak begitu suka dengan pria itu, tetap saja Bryan adalah adik iparnya.
" Kalian sedang ada masalah? " tanyanya lembut. Adinda diam. Namun bulir bening yang jatuh membasahi pipi sudah cukup sebagai jawaban.
Max berdiri dari duduk, dan mendekati Adinda, membawa wanita itu dalam pelukan membuat Adinda tak mampu lagi membendung kesedihan, dia menangis terisak didada Max.
Untuk beberapa saat Max membiarkan keadaan tersebut sampai dirasa tenang barulah Max menanyakan kembali masalah yang dihadapi adiknya itu.
" Suami ku belum bisa melupakan masa lalunya kak, tidak hanya mengundurkan diri, dia juga mau kembali ke Mega Buana dan menyelidiki orang yang sudah menjebak kami waktu itu, "
Rahang Max mengeras mendengar cerita Adinda, dia sangat yakin semua ini berkaitan dengan kepulangan Alina.
Max tidak habis pikir bagaimana Bryan tega berterus terang pada Adinda tanpa memikirkan kalau dia sudah menyakiti hati istrinya sendiri.
__ADS_1
Bertepatan dengan pintu diketuk dari luar, Bryan muncul mencari Adinda, karna putri mereka rewel ingin bersama mamanya.
Bryan terkejut melihat mata Adinda yang sembab dan menerka kalau istrinya itu pasti sudah mengatakan semua rencananya pada Max. Sorot mata Max menunjukkan kan kalau dia begitu marah. Max menahan diri karena ada keponakan-keponakan kecilnya disana.
Max menyempatkan diri untuk bercanda bersama si kembar ale dan alu. sebelum akhirnya Adinda pamit karena anak-anak nya sudah mengantuk dan minta dibacakan dongeng.
"Kita harus bicara! " ucap Max dingin saat Bryan hendak menyusul sang istri.
Bryan mengangguk.
" Aku sudah mendengar semua nya dari Dinda,"
" Aku minta maaf! "
Max membanting berkas ke lantai membuat lembaran didalamnya berhamburan.
" Aku tidak butuh maafmu, tidak masalah jika kau menyerahkan kembali perusahaan, tapi aku tidak terima kau menyakiti perasaan adikku,"
" Aku hanya mencoba jujur, "
" Bre ng sek! " Max menarik kerah baju Bryan.
" Kau pikir aku tidak tau isi otak mu, kau ingin membuktikan apa dan pada siapa sehingga harus mengungkit masa lalu heh! "
Bryan mencengkram lengan Max, hendak melepaskan diri tapi tangan Max begitu kuat, Bryan Nyaris kehabisan napas. Max masih memiliki setitik akal sehat dia melepaskan Bryan dan mendorongnya hingga terjerembab dilantai.
uhuk.. uhuk
Bryan terbatuk -batuk.
Cuih!
Max meludah.
" Kebenaran apa, faktanya kau sudah me ni duri Adinda, kau juga yang mengambil keputusan untuk bertanggung jawab bukan? "
" Atas desakan Hartawan dia mengancam keluarga ku,"
" Hartawan tidak salah karena sebagai ayah memang seharusnya dia melakukan hal tersebut, jika Hartawan tidak mengancammu, kau pikir kau bisa lepas tangan begitu saja, Adinda mengandung benih mu bre ng sek.! " Maki Max penuh emosi
Bryan tersudut.
Dan tanpa disadari, sebuah tinju sudah melayang ke ulu hatinya
Bugh.. bugh..
Bryan yang baru saja berdiri terjungkal kembali menimpa benda-benda pajangan dibelakangnya hingga berserakan dan menimbulkan kegaduhan.
" Max! Bryan! apa yang kalian lakukan!" pekik mommy yang datang bersama papi, menyusul Orion dan juga Gladys.
Orion dan papi menahan Max yang hendak menghajar Bryan lagi. Kalau dibiarkan Bryan akan babak belur dibuatnya.
" Sabar Max, kendalikan dirimu! " Orion menengahi.
Max menunjuk wajah Bryan "Langkahi dulu ma yat ku kalau kau bermaksud kembali dalam kehidupan Alina, aku tidak akan membiarkan itu terjadi! " ucap Max penuh intimidasi.
__ADS_1
Bryan berlalu dari sana. Percuma dia membela diri, karena tidak ada satu orang pun yang akan mengerti.
"Tunggu! " ucap Max lagi.
Bryan berhenti tapi tidak membalikkan badan.
" Bukan saja Alina, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Adinda, dia adikku, kau paham, kalau dulu Hartawan mengancam mu, sekarang aku akan melakukan lebih dari itu, kau akan hancur berkeping-keping, camkan itu! "
Bryan mengepalkan kedua tangannya, dia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
"Ada apa nak, kenapa kalian jadi seperti ini" tanya Mommy cemas.
" Orion, ambil alih perusahaan Hartawan, aku serahkan semua padamu, " ucap Max mengabaikan pertanyaan Widyawati.
"Hei, kau lupa aku tidak tertarik dengan dunia konstruksi, "
" Gladys bisa membantumu, hanya untuk beberapa waktu, sampai semua masalahku selesai, Adrian sudah terlalu sibuk, cuma kau yang santai-santai "sarkas Max pada saudaranya itu. Dia meneguk segelas air putih yang diberikan mommy.
Orion mencibir mendengar sindiran Max.
" Sebenarnya ada apa Max, kenapa kau menghajar Bryan seperti tadi, kau hampir memb u n uhnya, " tanya Hardi penasaran.
Max menceritakan semua dari awal. Dan memaklumi kenapa Max bisa semarah itu.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? " tanya Hardi lagi
" Aku belum tau pi, yang jelas aku akan meminta orang-orang ku untuk mengawasi Bryan, aku akan lihat sejauh mana dia bertindak, kalau dia macam -macam aku tidak akan melepasnya,"
" Kenapa kau tidak menikahi Alina saja, Bryan masih mendapat angin karna hubungan kalian begitu-begitu saja tanpa kepastian, " Timpal Orion memberi ide.
" Apa yang dikatakan Orion ada benarnya, bagaimana kalau kita jadwalkan pertemuan dengan keluarga Alina, " ujar Widyawati antusias.
Max terdiam, semua ide itu sudah dia lakukan, bahkan sebelum mengetahui kalau Bryan masih mengharapkan gadisnya. Sayang Alina masih bersikukuh dengan pendirian, tapi Max juga tidak mau berterus terang dengan keluarganya. Dia tidak ingin orang lain tau tentang keadaan Alina dan mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
" Gladys, besok bersiap lah kekantor, kita akan mengadakan rapat terbuka, sekaligus pengumuman Orion sebagai CEO, dampingi dia untuk mengurus beberapa project yang sudah berjalan, untuk project baru akan aku carikan penanggung jawab, aku akan menghubungi beberapa rekan ku"
Gladys tidak mungkin menolak karena permintaan Max lebih seperti sebuah perintah. Lagipula dia jenuh di rumah karna Moza sudah sekolah.
" Hei kita tidak membicarakan masalah perusahaan, kita ngomongin soal menikah, lagian kok malah aku yang harus jadi CEO, Gladys saja, aku harus mengurus usahaku sendiri, " ucap Orion menolak
" Tinggal pilih, jadi CEO atau bengkel kul tutup, kau tidak akan mendapatkan investor loyal sepertiku kalau pun ada aku akan menjegal nya " ucap Max lagi membuat Orion tak mampu berkutik
Max memegang kendali semua titik, apalagi yang bisa dia lakukan selain pasrah. Lagipula dia tidak serius menjadikan Gladys sebagai CEO, dia tidak mau istrinya disibukkan oleh pekerjaan lalu mengabaikan dirinya dan juga buah hati mereka.
" Kenapa tidak dikembalikan saja pada Hartawan, si bangkot itu kerjaannya hanya bolak balik jakarta singapura untuk berjudi! " ucap Hardi dengan nada kesal.
" Aku tidak mau Golden Jaya hancur pi, perjuangan kakek untuk membangun Jaya Grup tidak mudah, "
Hardi bersyukur memiliki putra seperti Max, cuma Max yang bisa diandalkan dalam memimpin Mulia Jaya Grup dan juga Golden Jaya. Max tidak pernah mengeluh. Dalam hati dia sedih karna tidak memberikan Max kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya sendiri.
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Max. Dari Tiara, wanita itu tidak menyerah meskipun Max sudah menolaknya berulang kali
" Max, tolong aku!Juan kembali dan ingin membawa Reika"
***
__ADS_1
salam sayang dari author, jangan lupa tinggalkan jejak dan vote kalian