Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
31. Jangan tinggalkan saya


__ADS_3

" Kita mau kemana sayang?" tanya Alina antusias begitu Max mengajaknya jalan-jalan usai jam kantor. Meskipun sudah tidak ada yang dikerjakan lagi di Mega Buana, Max tetap menunggu Alina hingga sore. Dia sengaja mengajak gadis itu menghabiskan waktu bersama. Pekerjaannya di Mulia Jaya sudah menumpuk, dan dia tidak tahu pasti apakah dalam beberapa waktu kedepan bisa menemui Alina, itu sebabnya dia tidak ingin membuang kesempatan yang dia punya sekarang. Sebisa mungkin dia ingin memprioritaskan Alina diatas segala kepentingannya, tapi tanggung jawabnya pada perusahaan dan juga orangtuanya tidak bisa membuat dia abai begitu saja.


" Terserah kamu sayang, saya ngikut kemanapun kamu mau," Max mengedipkan sebelah matanya. Alina yang tengah menatap menghela napas, tidakkah Max sadar perbuatannya itu membuat siapapun meleleh tanpa daya.


" Jangan sering-sering begitu," ujar Alina bersungut. Max menautkan alis tanda tidak mengerti.


" Mengerling seperti tadi, kamu sadar gak sih kalau itu bikin banyak wanita terpesona sama kamu,"


Max tertawa kecil, dia pikir ada masalah apa, reflek dia mengusap rambut Alina lembut lalu beralih mencubit pipi gadis itu gemas.


" Au sakit tau," dengus Alina kesal seraya mengusap bekas cubitan yang sebenarnya tak seberapa.


" Abisnya kamu lucu,"


" Lucu apanya, aku serius sayang, kamu jangan kebanyakan ngerlingin mata, ntar banyak yang melting sama kamu,"


" Iya sayang, cemburuan amat sih, kan bagus kalau pacar kamu ini banyak diminati, itu artinya saya ganteng, bangga dong, banggalah," seloroh Max berusaha menggoda. Sekarang dia punya hobbi baru yaitu menjahili kekasih sendiri. Dia selalu suka jika Alina bersungut atau memanyunkan bibir. Tingkah kekanakan Alina seolah menjadi hiburan tersendiri untuknya. Definisi bahagia yang selalu dia nantikan.


Alina mencibir, " dipuji dikit langsung besar kepala,"


Max kembali terbahak karena protes gadisnya itu.


" Iya deh, janji gak mainin mata lagi, kecuali sama kamu," ucap Max dengan sebelah tangan yang kini mengelus di bekas cubitannya tadi membuat Alina tersenyum simpul karena permintaannya dikabulkan.


Dalam hati Alina heran dengan dirinya sendiri, berbeda saat bersama Bryan dimana dia selalu berusaha dewasa tapi dengan Max dia jadi terkesan manja.


" Sekarang kita mau kemana sayang, udah sore banget ini," ucap Max mengingatkan tujuan awal mereka.


Ngomong-ngomong soal sore Alina jadi terpikir akan satu tempat dan dia sudah lama tidak kesana.


***


Sudah hampir satu jam sejak matahari tenggelam di ufuk barat, Alina masih saja merasa betah berada disana. Sebuah tempat yang tak pernah Max datangi sebelumnya. Baru tahu dia kalau Jakarta punya spot pantai yang indah yang terletak diarea timur Ancol.


Dia cukup memuji upaya pemerintah dalam membuat tempat rekreasi alam ini ditengah menjamurnya pembangunan gedung pencakar langit.


Alina merentangkan kedua tangan menikmati sapuan angin yang mempermainkan rambutnya. Suasana jembatan yang sepi membuat Alina bebas mengekspresikan dirinya. Dan itu tak luput dari perhatian Max, dibawah pencahayaan yang temaram kecantikan gadis itu tetap terpancar. Max mendekati Alina yang masih betah dengan keasyikannya.


Tanpa ragu Max melingkarkan tangannya, memeluk gadis itu dari belakang. Alina terkesiap mendapat sentuhan tak terduga


untuk sesaat tubuhnya menegang dan rileks kembali saat Max menumpukkan dagunya dengan santai diatas bahu Alina.


" Udah kayak Jack dan Rose belum?" bisik Max melucu mengingatkan Alina pada salah satu adegan legend di film Titanic. Bedanya mereka saat ini tidak berada di kapal melainkan di sebuah jembatan kayu.


" Kamu pernah nonton Titanic sayang, bukannya kamu gak suka nonton ya," tanya Alina heran


"Bukan pernah lagi sayang, hampir semua adegan dan kalimatnya saya hapal saking seringnya direcoki film itu," jelas Max tanpa merubah posisi mereka.


Alina mengerutkan keningnya lagi " direcoki siapa?"


Sial, Max merutuki kebodohannya, tanpa sengaja dia sudah membuka cerita masa lalunya. Dulu saat pacaran sama Tiara yang sangat menggilai Leonardo Dicaprio membuat dia harus rela ketika gadis itu memaksanya untuk menonton semua film aktor kawakan tersebut. Tak terkecuali Titanic yang mungkin sudah puluhan kali dia tonton.


" Sayang kok diam, direcoki siapa,?" ulang Alina lagi penasaran.


Max tidak bisa mundur, "Tiara." ucapnya lirih


Alina tidak tahu nama siapa yang disebut Max tapi dia yakin ada something dengan nama itu.

__ADS_1


Perlahan Alina melepas pelukan Max dan berbalik menghadap pria itu dengan tatapan mengisyaratkan tanda tanya.


Max mengerti, kalau dia harus bercerita, selama ini dia tahu banyak soal Alina, sementara gadis itu tidak tau banyak tentang masa lalunya. Masa lalu yang membuat dia hancur dan tidak percaya lagi pada cinta hingga dipertemukan dengan Alina.


" Tiara itu mantan tunangan saya, hubungan kami sudah cukup lama hingga memutuskan untuk menikah waktu itu. Tapi sepertinya kami tidak ditakdirkan untuk berjodoh, beberapa hari sebelum hari bahagia yang sudah direncanakan dia mengkhianati saya, saya memergokinya tidur dengan pria lain," Ada rasa sakit yang Max rasakan saat mengingat kembali kenangan itu, rahangnya mengetat menandakan emosional yang membuncah.


Alina merasa bersalah membuat Max harus mengingat kisah pahitnya.


" Maafin aku sayang," ujarnya menyesal.


Max menggeleng "Gak ada yang perlu dimaafin sayang, sudah seharusnya kamu tau masa lalu saya agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita nantinya,"


Alina mengangguk setuju. Sebuah hubungan memang harus dibarengi dengan keterbukaan satu sama lain. Tidak menyembunyikan hal sekecil apapun termasuk masa lalu agar mereka tetap solid ketika badai datang menghadang.


Tak ingin larut dalam memori yang menyesakkan, Alina menggenggam tangan Max dan mengajak pria itu mengitari jembatan cinta ancol.


Drrt....drrt....drrt


Max menghentikan langkahnya dan mengambil ponsel yang ada disaku celana.


Adrian


Dia memberi isyarat agar Alina menunggu sebentar sementara dia menjawab panggilan. Alina mengerti dia tetap berjalan pelan sambil menikmati suasana malam. Lampu lampu dari kapal nelayan dikejauhan menambah eksotisnya pemandangan. Gadis itu memutuskan untuk mengabadikan moment tersebut. Dia merogoh tas untuk mengambil ponsel miliknya.


Sementara Max nampak gelisah mendengar penuturan sahabatnya disebrang sana. Dia menyugar wajahnya kasar meskipun apa yang disampaikan Adrian masih dalam tahap kecurigaan tetap saja ketakutan itu datang.


" Awasi terus sampai kau mendapatkan kabar yang pasti, kapan perlu minta orang-orang mu untuk membuntuti mereka duapuluh empat jam," Max memberi perintah.


Setelah itu dia menyudahi sambungan telpon dan kembali mendekati Alina yang sibuk memotret.


Angin berhembus semakin kencang, langit malam juga nampak pekat tak ada satupun bintang yang terlihat, sesekali gemuruh dilangit terdengar sepertinya bakal turun hujan.


" Dari Adrian, memberi tahu jadwal saya besok," jawabnya singkat


" Ooh,"


"Sini saya fotoin," ucap Max mengambil ponsel gadis itu, Alina tidak keberatan dan lansung memasang pose terbaiknya, lumayan buat nambah feed baru di medsosnya. Tak lupa mereka juga foto selfi berdua dengan berbagai macam gaya.


" Pasti besok kamu sibuk ya," ujar Alina setelah puas memandangi hasil jepretan diponselnya. Dia kembali menyimpan benda pipih tersebut kedalam tas.


" Ya sayang, maklum hampir seminggu papi gak ngantor, sudah dipastikan banyak pertemuan yang ditunda,"


"Mas Orion memangnya gak pernah ngantor?" Alina heran, biasanya anak pertama lah yang dominan mewarisi bakat bisnis orangtua dan juga pewaris perusahaan seperti yang dia lihat di drama korea, anak kedua cendrung memiliki kesenangan lain. Tapi nyatanya berbanding terbalik dengan yang dialami Max.


" Orion lebih suka otomotif, dari awal dia tidak pernah menunjukkan minatnya pada perusahaan,"


" Lalu kamu, apa kamu memang suka berbisnis?"


Max tidak langsung menjawab, tatapannya menerawang ke lautan lepas dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana.


" Suka atau tidak, saya tetap harus menjalani, lagipula berbisnis tidak buruk, banyak memberikan tantangan yang tidak terduga saat harus memberi keputusan penting,"


Alina menangkap kalau sebenarnya Max mempunyai keinginan lain selain bisnis, tapi tanggung jawab yang membuat dia harus mengemban amanah dari orangtuanya. Alina senang karena Max tipikal pria yang sangat menyayangi orangtua.


Alina mengamit lengan Max dan merebahkan kepalanya di bahu pria itu. Kini mereka larut dalam pikiran masing-masing. Meskipun cuaca makin tidak bersahabat, keduanya masih enggan untuk beranjak pergi.


" Al, boleh saya bertanya sesuatu?"

__ADS_1


Alina menganggukan kepala


" Tentu"


"Apa kamu mencintai saya?"


Alina tersenyum mendengar pertanyaan itu, dia menengadah memandang pria disampingnya " Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku ada disini bersama kamu,"


" Sebesar apa rasa itu?"


" Segenap hatiku,"


" Berarti Bryan, ...."


Alina bingung dengan sikap Max yang tiba tiba menyebut nama Bryan.


" Bryan itu selalu ada dihatiku Max, dia adalah kenangan yang gak bisa aku lupakan, aku harap kamu mengerti, "


Max tercekat.


"Kalau seandainya Bryan datang kehadapan kamu sekarang, siapa yang akan kamu pilih, saya atau...." Max tidak melanjutkan ucapannya.


Alina melepaskan tangannya dari lengan Max.


" Pertanyaan konyol apa itu?" balasnya tidak suka.


" Seandainya, itu hanya perumpamaan, kamu hanya perlu menjawab," Max bersikeras ingin tahu.


" Kamu sadar gak sih Max menempatkan aku diposisi sulit seperti itu meskipun hanya perumpamaan. Dari awal aku sudah menjelaskan sama kamu soal perasaanku, kenapa kamu jadi aneh begini, Bryan sudah tidak ada, dan aku tidak perlu memilih," Sergah Alina menahan marah. Max sudah merusak moodnya, bergegas dia melangkahkan kaki hendak pergi, tapi tangannya tertahan.


" Maafkan saya, saya hanya takut kamu pergi dari saya," ujar Max lirih.


Suara Max yang bergetar menyurutkan langkahnya. Gadis itu kembali mendekati pria itu dan terkejut saat mendapati Max berlinang air mata.


"Kamu menangis?" Alina mengusap mata Max yang basah. Baru kali ini Alina melihat kerapuhan dalam diri Max dan itu karena dia.


Alina memeluk pria itu dan Max balas mendekap erat.


" Jangan tinggalkan saya apapun yang terjadi, berjanjilah Al,"


Alina menggeleng lalu melepas pelukan


kedua tangannya beralih menangkup wajah Max.


" Aku tidak tahu kenapa kamu berpikir seperti itu, yang pasti aku gak akan pernah meninggalkan kamu sekalipun kamu yang memintanya" tegas gadis itu menyakinkan


Max berusaha tersenyum, mencoba untuk percaya. Semoga saja kamu menepatinya Al. Batinnya penuh harap.


Alina menjinjit kakinya, dan tanpa aba aba gadis itu mengecup bibir Max, bukan hanya itu Alina juga mencecap setiap sudutnya tanpa nafsu berlebihan seolah mengisyaratkan rasa terdalam yang dia miliki untuk pria itu.


" I am yours," bisik Alina seiring rintik hujan yang turun membasahi bumi.


***


Gak banyak yang baca, jadi malas buat lanjut😪


mungkin ini last update menjelang lebaran, abis itu lanjut lagi kalau udah rame.

__ADS_1


Love


Dik@


__ADS_2