Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
13. Buktikan


__ADS_3

Max tak habis pikir mendengar pengakuan Adrian, gara gara ide konyol untuk mendekatkan dirinya dan Alina nyaris saja membuat gadis itu menjadi korban kejahatan, untung Tuhan masih melindungi, kalau saja Orion ataupun dia sendiri tidak melewati jalan tersebut entah hal buruk apa yang akan menimpa gadis malang itu. Masih terbayang diingatan Max, bagaimana ketakutan yang dirasakan Alina.


" Aku tidak pernah memintamu untuk membantuku, seharusnya kau tau batasan"


desis Max dengan sorot tajam. Rahangnya mengeras. Baru kali ini dia semarah itu pada Adrian. Dia tidak peduli kalau Adrian mengerjainya, tapi kalau sudah menyangkut orang yang dicintainya apalagi soal keselamatan, dia tidak pernah main main.


" Maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud mencelakai Alina, ini semua diluar perkiraan ku Max"


Pranggg!!!


Max melempar gelas yang ada diatas meja ke lantai, emosi yang sedari tadi tertahan akhirnya membuncah, andai dia bisa memukul Adrian, dia pastikan tidak akan memberinya ampun. Tapi masih ada setitik akal sehat Max, Bagaimanapun Adrian adalah sahabatnya. Orang yang selama ini selalu ada didekatnya.


Adrian tau Max sedang melampiaskan kemarahan, dia membiarkan saja begitu satu persatu benda benda lain yang ada diatas meja kembali berterbangan kelantai.


Max berjalan kearah mini bar, dia mengambil sebuah botol minuman, membuka penutupnya dan menenggak langsung tanpa jeda.


" Max, aku tau aku salah tapi jangan menyiksa dirimu, pukul saja aku, jika itu bisa membuatmu lebih baik " Adrian menghampiri dan berusaha merebut botol minuman tersebut.


Max menepis kasar,


" Aku mempercayaimu, tapi kau membuatku kecewa, enyahlah dari hadapanku" tuding Max didepan wajah Adrian


Adrian menggeleng " Aku akan pergi kalau kau berjanji tidak menyentuh minuman itu, belakangan kau terlalu banyak minum " ucap Adrian tulus.


" Bukan urusanmu..,PERGI"


Adrian akhirnya mundur, tidak ada gunanya dia terus merengek pada Max, dia memutuskan untuk kembali lagi besok. Disaat emosi Max sudah mereda. Adrian sangat memahami Max, dia yakin pria itu akan memaafkanya


Sepeninggal Adrian, Max menyugar rambutnya frustasi, dia membuang minuman yang tinggal separuh kedalam tong sampah. Kepalanya mulai terasa pusing. Dengan tertatih tatih dia melangkah ke kamarnya.


***


Sudah dua hari Alina tidak masuk kantor, dia mengambil cuti untuk menenangkan diri. Insiden tempo hari membuatnya sedikit trauma, berulang kali ibu memintanya untuk mendatangi psikolog, tapi Alina menolak dengan alasan dia hanya butuh istirahat saja.


Hari ini kondisinya sudah cukup membaik, dia sudah melakukan aktifitas diluar kamar seperti makan ataupun menonton TV. Bahkan sekarang dia lagi membantu ibu yang sedang membereskan taman depan rumah. Alina kebagian menyiram bunga bunga yang ada dalam pot.


" Ibu jadi ragu meninggalkanmu sendiri nak, mungkin lebih baik Audrey melahirkan di Jakarta saja, biar ibu bisa menjaga kalian berdua " ucap ibu disela sela kerjanya menggemburkan tanah.


Alina tiga bersaudara, dia anak paling bungsu, sedangkan Audrey adalah kakak pertama Alina, sudah menikah dan tinggal di Jogja bersama suaminya yang berprofesi sebagai dosen disalah satu universitas ternama disana. Saat ini Audrey sedang menantikan kelahiran anak kedua mereka, seperti biasa setiap lahiran ibunya selalu menemani paling tidak sampai Audrey pulih pasca persalinan.


Setelah Audrey, Alina memiliki kakak laki laki yang bernama Aditya yang berprofesi sebagai pengusaha Wedding Organizer di Bali, Aditya sudah menikah dan memiliki satu anak.


Tinggal Alina yang belum berkeluarga, seharusnya saat ini dia sudah bahagia sama seperti saudaranya yang lain, tapi takdir belum berpihak padanya.


" Ibu seperti gak tau Mas Angga aja, mana mau dia jauh dari istrinya. lagipula siapa yang mengurus keperluan sekolah Zizi kalau Mbak Audrey disini, Mas Angga sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya" ucap Alina. Mengingat Zizi , Alina jadi merindukan keponakan cantiknya itu.


" Tapi ibu tidak tenang kalau meninggalkan kamu sendiri, ditambah kejadian kemaren membuat ibu semakin was was,"


" Alina gak papa bu, besok juga udah kerja lagi, lagian ada mbak Asti yang nemanin, komplek kita juga rame, jadi ibu gak usah khawatir,"


Ranti menghela napas, kalau Alina sudah bersikukuh, mau tak mau diapun menerima pendapat putri bungsunya itu.

__ADS_1


Ranti menyudahi kegiatannya dan menyimpan perlengkapan berkebunnya digarasi. Setelah mencuci tangan dia menghampiri Alina yang sudah duduk santai di kursi teras sambil menyeruput teh dan menikmati pergedel jagung hangat yang sudah disiapkan Asti, asisten rumah tangga mereka.


Sejak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, Ranti hanya hidup berdua dengan Alina, meskipun bukan dari keluarga yang terlalu kaya, tapi peninggalan suaminya lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan hidup mereka, apalagi Alina sekarang kembali bekerja dan semua kebutuhan rumah ditanggung gadis itu.


" Udah , gak usah melas gitu bu, percaya deh, Alina baik baik aja, lagian ibu juga gak lama kan, " tandas Alina menenangkan sang ibu yang masih saja gelisah meskipun Alina sudah berkali kali meyakinkannya.


Ranti mengangguk pasrah


Perbincangan mereka terputus begitu sebuah mobil mewah berhenti didepan pagar, Alina mengerutkan kening,


Dia terpaku begitu melihat sosok yang turun dari mobil tersebut, Ranti bergegas membuka pintu pagar rumah dan mempersilahkan pria tampan itu. Kaca mata hitam yang melekat sempurna dihidungnya membuat pesona pria itu semakin bertambah.


" Masuk nak Max," sapa Ranti ramah


" Makasih bu," Max mencium punggung tangan Ranti dengan takzim.


" Ini ada sedikit oleh oleh, " Max memberikan keranjang yang berisi buah segar.


" Wah repot repot sekali nak, ayo masuk" Ajak Ranti lagi.


Max mengikuti langkah Ranti, sementara Alina nampak kebingungan, kedatangan Max yang tiba tiba diluar perkiraannya.


" Al, kok malah bengong, ajak nak Max duduk didalam, ibu mau membuatkan minum dulu" tegur Ranti.


"I-iy-ya bu" jawab Alina terbata lalu mempersilahkan Max masuk dan duduk diruang tamu. Cukup lama mereka berdua terdiam sampai Ranti kembali dengan membawa nampan dan menghidangkan minuman untuk tamu putrinya itu. Tak lupa sepiring pergedel yang masih hangat


Alina berharap ibunya menemani mereka, tapi Ranti malah pergi kebelakang dengan berbagai alasan yang dibuat buat , Alina mau menyela ucapan ibunya tapi Ranti sudah lebih dulu mengedipkan mata, meminta Alina untuk tetap diam.


" Sudah lebih baik pak, besok saya sudah bisa bekerja lagi"


"Baguslah, kalau kamu masih trauma, saya bisa mengantar kamu ke psikolog kenalan saya, "


Alina menggeleng "Tidak perlu pak, saya sudah cukup rileks,"


Max mengangguk lagi.


Kecanggungan yang tercipta diantara mereka sebenarnya sejak insiden yang menimpa Alina waktu itu. Sepanjang perjalanan ketika Max mengantarnya pulang, Alina terus saja memeluk pria itu, tak sedetikpun dia mau melepaskan, mau tak mau Max pun menyetir dengan sebelah tangannya.


Sampai dirumah barulah Alina tersadar akan sikapnya. Dia merasa sangat malu sudah membuat Max merasa tidak nyaman.


" Makanan apa ini, ?" tanya Max menunjuk pada piring di atas meja.


Alina tersentak mendengar pertanyaan Max


" Itu pergedel jagung, silahkan dimakan pak" Alina mendekatkan piring tersebut pada Max


Max mengambil sepotong , sebelum memasukkan ke mulut dia mengamati makanan itu dengan seksama


" Apa bapak belum pernah memakan pergedel jagung ?"


" Belum, tapi saya pernah makan bakwan, "

__ADS_1


" Hampir sama, tapi yang ini lebih dominan rasa jagungnya, sama seperti pergedel kentang, jangan bilang bapak belum pernah makan pergedel kentang juga, " tebak Alina


Max terkekeh, " Mungkin pernah , tapi saya tidak tau namanya" ucap Max sambil mencomot potongan kedua, terlihat dia sangat menikmati.


Jawaban Max membuat Alina mengernyitkan dahi kesekian kalinya, banyak keanehan yang dia rasakan pada Max,Mobil mewah, apartemen mewah, dan sekarang Max menunjukkan sisi lainnya yang tidak begitu tahu dengan nama makanan tradisional negeri sendiri.


Tapi Alina bukan pribadi yang suka ikut campur urusan orang lain, dia mencoba berpikir positif, lagipula tidak sopan jika dia bertanya lebih jauh tentang Max, apalagi mengenai harta yang dimilikinya.


Alina terus menatap Max masih asyik mengunyah,


" Boleh saya minta air mineral," ucap Max membalas tatapannya. Alina salah tingkah dan bergegas mengambilkan apa yang Max minta


" Bapak sangat menyukai pergedel jagung atau sedang lapar?" ucap Alina sarkas sambil menyodorkan segelas air putih.


Max tertawa sekilas sebelum meneguk minumnya perlahan


" Rasanya sangat enak, apa ini masakanmu?"


Alina menggeleng


" Sudah saya duga," gumam Max pelan


" Apa?"


" Mana mungkin gadis sepertimu bisa membuat makanan enak,"


Alina menyedekapkan tangannya didepan " Apa bapak sedang mengatakan saya tidak bisa masak?"


Max mengedikan bahu "saya tidak berkata seperti itu"


Tetap saja Alina merasa diremehkan.


" Bahkan saya bisa membuat makanan yang lebih enak dari ini" ucap Alina percaya diri,


" Oh ya, gimana kalau kamu buktikan" Tantang Max tak mau kalah


" Okay, besok saya akan buatkan bapak bekal makan siang"


Max tersenyum puas, sejujurnya dia hanya sedang memancing emosi Alina, dan usahanya untuk membuat Alina terhibur cukup berhasil.


Ranti yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua insan tersebut tersenyum penuh arti. Max pria yang baik, dia berharap semoga Max adalah jawaban dari doa doanya untuk Alina. Sebagai ibu, dia bisa merasakan kesedihan Alina pasca ditinggal Bryan, kalaupun gadis itu kembali ceria hanya untuk membuat semua terlihat baik baik saja. Alina sangat pintar menyembunyikan perasaannya.


Dan kedatangan Max seolah memberi harapan pada Ranti, entah kenapa dia merasa yakin kalau Max adalah jodoh pengganti yang diberikan Tuhan untuk putrinya.


***


Mohon dibantu Vote dan commentnya teman


Terima kasih


Dik@

__ADS_1


__ADS_2