
Alina menarik napas lega, akhirnya dia bisa masuk tanpa harus ditanyai oleh penjaga lagi. Beruntung dia bertemu Adinda, jadi dia tidak perlu menunggu lebih lama. Meskipun masih pagi cuaca terik terasa menyengat. Kulit wajah Alina sedikit merona dibuatnya.
" Alina! maaf kan mommy tadi tidak membaca pesan, mommy sedang di ruang gym. " ucap Widyawati sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang tersampir dipundak. Tidak heran kalau wanita paruh baya itu masih cantik dan memiliki body aduhai. Olahraga merupakan salah satu rahasia awet mudanya.
" Gak papa mom,"
" Mommy mandi dulu ya, gak enak bicara kalo bau acem gini, mommy akan minta Tyas membuatkan kamu minum," seloroh wanita itu hendak pergi ke dapur.
" Eh, gak usah mom, aku bisa ambil sendiri, mommy lansung mandi aja, " cegah Alina sungkan.
" Okay sayang, gak lama kok, tunggu ya!"
Wanita itupun segera beranjak menuju kamar yang berada di lantai bawah.
" Bu Tyas, Gladys kemana? apa dia ada dikamar? " tanya Alina saat pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
" Oh non Gladys sedang mengantar Moza ke sekolah, " ucap Tyas menundukkan kepala menjawab pertanyaan calon menantu di rumah besar itu.
Alina mengangguk-angguk, kalau papi dan Orion pasti sudah berada ke kantor. Setelah menghabiskan minumnya, Alina balik lagi keruang tamu. Dia mengambil ponsel dari tas. Mencoba menghubungi Max kembali. Meskipun sekarang panggilannya tersambung tapi Max tetap tidak menjawab membuat Alina kecewa. Sebenarnya kamu sedang dimana Max, batin gadis itu gelisah.
Tak lama Widyawati keluar kamar dengan penampilan yang lebih fresh.
" Okay kamu mau bicara soal apa sayang? " tanya wanita itu lembut. Alina gugup, bingung harus mulai dari mana. Matanya bergerak gelisah mengitari ruang tamu yang luas itu.
Widyawati mengerti gerak-gerik Alina, gadis itu tidak nyaman jika harus bicara di sini. Oleh karena nya dia mengajak Alina ke ruang kerja suaminya.
" Mom, aaku... aku, "
" Hei ada apa sayang? kenapa kamu jadi gugup sih! " ucap Widyawati mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Berusaha memberikan ketenangan.
" Aku minta maaf karena selama ini sudah menggantung Max tanpa kepastian. Kejadian ini menyadarkan ku untuk segera mengambil keputusan mom, aku... " ucap Alina lansung pada inti.
" Aku mau menjadi istri Max, kami akan segera menikah mom!"
__ADS_1
Widyawati mengembangkan senyum bahagia.
" Wow, itu kabar yang menggembirakan sayang, terlepas kalau gosip itu merugikan tapi setidaknya memberikan hikmah dimana kamu akhirnya menerima pinangan putra mommy, " ucap Widyawati antusias.
Alina membenarkan dalam hati kalau gosip yang viral telah memberikan hikmah untuknya. Tapi masih ada hal penting yang harus dia sampaikan.
" Aku memohon restu mommy dan juga papi, " Lanjut gadis itu menundukkan kepala.
" Tentu saja sayang, kami sudah menantikan ini sedari lama. "
" Sebelum aku menikah dengan Max, aku ingin mommy mengetahui satu hal, aku gak ingin mommy merasa tertipu nantinya, "
Sejenak Widyawati mengerutkan kening heran, kata-kata Alina terdengar membingungkan. Ekspresinya berubah serius, dia menatap Alina dengan seksama. Menunggu gadis itu memberikan penjelasan lebih lanjut.
" Sebuah pernikahan bukan saja hubungan antara suami dan istri, tapi juga dengan keluarga. Pernikahan bukan saja mensahkan suami istri dalam sebuah ikatan tapi ada tujuan yang tersirat meskipun tidak tersurat, salah satunya kehadiran anak, " sambung Alina.
Widyawati tidak ingin menyela. Memberikan Alina kesempatan menyelesaikan bicaranya.
" Kecelakaan beberapa tahun lalu menyisakan trauma dalam diriku mom, salah satu saluran tuba palopi ku diangkat karena rusak, aku divonis sulit mendapatkan keturunan, "
" Max sudah tahu keadaanku dan dia tidak peduli tentang itu. Alasan kenapa aku masih belum memberikan jawaban, aku gak mau egois mom, mommy adalah ibu nya Max, mommy berhak atas diri Max. Semua ibu di dunia ini pasti mengharapkan kebahagiaan untuk anak mereka. Sama seperti orang tua yang lain, pasti mommy dan papi juga punya keinginan suatu saat bisa menimang cucu, anak dari Max. Jika aku menikah dengan Max, aku tidak tahu apakah aku bisa mewujudkan keinginan kalian, " ucap gadis itu nelangsa.
Alina menggenggam kedua tangan wanita itu.
" Sekarang semua keputusan ada ditangan mommy, aku akan hargai apapun itu. Jika mommy memintaku mundur, akan aku lakukan, "
Mampukah dia berpisah dengan Max jika mommy memintanya? Alina tidak tau pasti. Yang jelas dia ingin semua terang benderang tanpa ada lagi yang disembunyikan.
Alina kini lega sudah mengungkapkan beban di hatinya. Terlepas nanti Mommy akan menolak, dia siap menanggung segala konsekuensi atas putusan yang dia ambil.
Dia tidak ingin membangun rumah tangga diatas pondasi kebohongan. Max akan selalu menutupi kondisinya dari semua orang. Pria itu tidak ingin orang lain memandang rendah pada Alina. Tapi hati kecil Alina tidak bisa menerima.
Widyawati menghembuskan napas berat.
__ADS_1
Dia tidak terkejut dengan apa yang disampaikan gadis didepannya. Dia dan suaminya sudah tau, tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan Max dan dr. Edhie waktu itu. Jujur saat itu dia shock. Dan menjadi buah pikiran sampai berhari -hari hingga sang suami mengatakan sesuatu yang membuatnya tercekat.
"Mommy ingin menimang cucu atau melihat Max bahagia? "
Kalau boleh egois, Widyawati menginginkan keduanya. Tapi ada kala kita dihadapkan pada pilihan.
"Sebelum Max bertemu Alina, sudah berapa kali kita menjodohkannya, apa ada yang berhasil? tidak sekalipun. Max menunggu cinta sejatinya. Dan Alina lah yang berhasil meluluhkan hati Max. Bersama Alina, Max menemukan warna hidupnya. Apa mommy tega menghapus warna itu dan membuatnya kembali suram, papi tidak akan melakukan itu. Bagi papi kebahagiaan Max lebih penting, cukup sudah kita memaksa Max melakukan hal yang tidak dia sukai. Jangan lagi mengambil satu-satunya impian Max yang tersisa mom" sambung Hardi kala itu.
Widyawati seketika tersadar. Berbeda dengan kakaknya Orion yang lebih terbuka dan juga pembangkang, Max kecil adalah pribadi tertutup. Sikap dinginnya sudah terlihat sejak kanak-kanak. Dituntut oleh keadaan yang mengharuskan dia melanjutkan estafet bisnis keluarga. Max tidak menolak. Tanpa protes dia menuruti keinginan mereka. Orang Tua mana yang tidak senang memiliki anak yang begitu patuh meskipun akhirnya mereka sadar sudah merenggut impian kecil sang putra.
Max tidak pernah mengeluhkan apapun, Satu-satunya protes yang keluar dari mulutnya adalah ketika dia ingin menyamar bekerja di perusahaan Leo demi mendapatkan Alina. Waktu itu Max bersikeras dan mengancam akan meninggalkan semuanya. Widyawati dan Hardi takut Max benar-benar membuktikan ucapannya. Mereka pun memberi izin kala itu.
Widyawati tidak ingin kehilangan Max, dia juga tulus menyayangi Alina.
" Kamu hanya sulit mendapat keturunan nak, bukan berarti tidak bisa kan? " ucap Widyawati memberi jawaban pada Alina yang masih menunggu harap cemas.
" Aku tau mom, tapi persentase yang kumiliki sangat kecil mom, " lirih gadis itu sedih.
"Tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan sudah berkehendak nak, mommy percaya itu. Dokter hanya memprediksi berdasarkan ilmu yang mereka pelajari, hasil akhirnya Tuhan lah yang punya kuasa, sekalipun nanti kalian hanya ditakdirkan berdua. Tuhan tau itu yang terbaik, "
Mendengarkan kata-kata mommy membuat Alina tak mampu menahan bulir bening yang sedari tadi menggenang, bahunya bergetar menandakan tangisnya pecah. Widyawati juga sama. Mereka berdua berpelukan menguatkan satu sama lain.
" Kalian berdua berhak untuk bahagia, jadilah istri yang baik untuk Max, jangan pernah pergi meninggalkan dia dalam keadaan apapun, mommy percaya sama kamu Al, "
Alina mengangguk
" Aku akan berusaha mom, "
"Mom... Mom... argh! " teriakan seseorang membuat keduanya terkejut, sontak mereka bergegas keluar. Dan terkejut mendapati pria yang baru saja dibicarakan pulang dalam keadaan berdarah.
" Max!!! " seru keduanya bersamaan
***
__ADS_1
Jangan pula vote dan komennya ❤