
" Kalau boleh saya jujur, kamu cinta kedua saya setelah mommy menjadi yang pertama," ucap Max menatap Alina dengan pandangan sendu takkala gadis itu menanyakan perihal kisah masa lalunya.
Alina menggeleng sambil mencebik tak percaya," mana mungkin seorang Max baru menemukan cinta keduanya diumur hampir kepala tiga?" masih duapuluh delapan sih sebenarnya.
Max tahu apa yang dia sampaikan mungkin terdengar konyol dan mengada -ada, tapi begitulah kenyataan sesungguhnya. Dianugerahi wajah yang kata orang good looking tidak serta merta membuat dia jumawa, Dia selalu berhati-hati soal perasaan. Baginya cinta bukan untuk dipermainkan.
Dia akui pernah berhubungan dengan beberapa gadis dengan status pacaran, tapi jujur itu untuk kepentingan formalitas saja, karena ingin menghindari tudingan sebagai pria penyuka sesama jenis.
Termasuk pada Tiara, hubungan mereka berawal dari keinginan sebelah pihak, Tiara meminta satu kesempatan dan Max menyetujui, tapi Max berusaha menjalani dengan sepenuh hati berharap cinta tumbuh karena terbiasa, bahkan mereka hampir saja menikah kala itu. Mungkin memang Tuhan tidak mengizinkan, didetik akhir Max mendapati Tiara selingkuh, dia tidak marah, hanya saja sedikit kecewa karena Tiara tidak jujur kalau dia lelah dengan hubungan mereka.
Max tidak akan menahannya jika memang dia ingin pergi dengan pria yang lebih bisa menerimanya. Setelah kejadian itu Max menepi, menjalani hari dengan kehampaan hati. Berharap suatu saat dipertemukan dengan orang yang benar-benar diciptakan untuknya.
Alina tersenyum haru saat Max mengatakan semua isi hatinya. Sungguh tidak menyangka masih ada pria baik seperti Max yang mengagungkan kata cinta diatas segalanya.
Ditengah kekagumannya, gadis itu mendadak tertegun saat Max tetiba mengalungkan sebuah liontin indah dilehernya, reflek Alina menyibakkan rambut untuk memudahkan pria itu. Max mengecup bandul kalung yang bertabur berlian.
" Kamu cantik sayang,"
" Ini buat aku sayang?"
Max mengangguk "Kalung cantik untuk bidadari cantik,"
Pipi Alina merona karena pujian tersebut , dia tidak bisa berkata-kata lagi, tangannya terulur memeluk leher pria itu lalu mengecup pipinya dengan lembut.
" Makasih sudah membuatku berarti dihidupmu," bisiknya mesra.
Max tersenyum.
" Saya yang harusnya berterima kasih sayang, kamu sudah memberikan saya tempat dihati kamu, saya mencintaimu," balas Max mengelus pipi Alina. Tak terhitung sudah berapa kali Max mengungkapkan perasaanya. Sejak pertama kali mereka resmi menjadi kekasih, Max selalu mengumbar kata cinta setiap kali mereka bicara.
" Aku juga sayang,"
Tanpa Alina ketahui, didalam hatinya Max menyimpan kegundahan. Seharusnya yang dia lakukan saat ini adalah melamar Alina untuk menjadi istrinya, tapi dia harus menyelesaikan masalah dengan Bryan terlebih dahulu. Dia juga harus mengungkap kebenaran itu dihadapan Alina. Meski separuh hatinya kembali diliputi kebimbangan, takut Alina akan berubah pikiran.
Hubungan mereka masih seumur jagung, sementara Bryan sudah bertahun mengisi hati gadis itu. Alina mungkin sudah menyakinkan dirinya kalau dia menerima Max dengan kesungguhan, tetap saja semua terjadi karena Alina tidak tahu fakta yang sebenarnya.
Suasana romantis diantara mereka harus terganggu oleh deringan ponsel milik Alina, gadis itu melepaskan diri dari pelukan Max dan segera merogoh benda pipih dari saku tas yang tergeletak di atas meja.
"Tasya,"
Alina mengerutkan kening, tumben Tasya menelponya di jam kerja seperti ini, Gadis itu menduga ada masalah dengan pekerjaan dikantor. Bergegas Alina mengangkat panggilan tersebut.
Baru saja hendak menyapa, Alina disambut oleh tangisan Tasya.
" Sya kamu kenapa?" Alina ikut panik, hingga menarik perhatian Max. Sambil berbisik pria itu mengodenya menanyakan apa yang terjadi. Alina pun mengaktifkan loudspeaker agar Max bisa ikut mendengar.
" Gladys Al, hiks"
" Ada apa dengan Gladys?" Alina mulai dilanda kecemasan. Max lansung merangkul bahu gadis itu mencoba menenangkan.
" Gladys pingsan, dan sekarang aku ada dirumah sakit," jelas Tasya sesenggukan.
__ADS_1
" Dirumah sakit mana?aku dan Max akan segera kesana,"
Setelah Tasya menyebutkan sebuah tempat, Alina lansung mengakhiri sambungan. Tanpa diminta Max sudah bersiap dan mereka lansung berangkat.
" Apa yang terjadi Sya, bagaimana ceritanya Gladys seperti ini?" cecar Alina sambil memperhatikan wajah pucat sahabatnya yang kini terbaring diatas brankar. Dihidung gadis itu terselip selang oksigen karena beberapa kali Gladys kesulitan bernapas.
Gladys sudah sempat siuman, tapi badannya masih lemah, setelah minum obat yang diberikan perawat gadis itu tertidur lagi.
" Aku menemukan Gladys pingsan diruangan, gak tau sudah berapa lama, padahal sebelum pergi aku lihat dia baik-baik saja, hanya sedikit pucat, dia bilang kurang tidur semalam membantu ibunya menyiapkan orderan gado-gado,"
" Memangnya kalian gak makan siang bareng?"
Tasya menggeleng " Dia bilang ngantuk, dan ingin tidur sebentar,"
Alina mendesah gelisah, jujur dia sedikit khawatir, karena belakangan ada yang berbeda dengan sikap Gladys, lebih tepatnya sejak kepulangan mereka dari Bali. Beberapa kali dia memergoki Gladys termenung dengan wajah murung, seperti ada yang mengganggu pikiran gadis itu. Namun setiap ditanya Gladys mengatakan kalau dia baik-baik saja, hanya kecapean kilahnya beralasan.
Alina tau bagaimana kehidupan Gladys, setiap pulang kantor dia selalu membantu ibunya menyiapkan jualan, tak jarang gadis itu tidur lewat tengah malam. Sungguh sebuah keadaan yang tidak bagus untuk kesehatan, tapi mengingat beban tanggung jawab yang diemban cukup berat membuat gadis itu tidak sempat memikirkan hal lain termasuk dirinya sendiri.
" Maaf, dokter ingin ketemu dengan keluarga pasien," ucap seorang perawat memasuki ruangan rawat VIP itu. Atas permintaan Max , Gladys yang semula dirawat diruang biasa dipindahkan ke VIP agar gadis itu merasa nyaman dan bisa mempercepat proses pemulihan.
" Kami sahabatnya sus, keluarganya masih dalam perjalanan kesini, " jelas Alina, tadi dia memang sempat menelpon kakak Gladys.
" Tapi dokternya mau keluar mbak, mungkin ada yang bisa mewakili sementara," ucap perawat itu lagi.
" Kamu aja Al, biar aku yang jaga Gladys,"
Alina mengangguk, dia bersama Max menemui sang dokter diruangannya untuk mengetahui kondisi medis sahabatnya itu.
" Maksud dokter, Gladys mengalami gangguan psikis?" Alina memastikan.
" Saya belum berani menyimpulkan, masih terlalu dini, diperlukan beberapa tes untuk itu, dan karena anda mewakili keluarga, saya sarankan untuk mengajak pasien bicara dari hati kehati, "
Alina tercekat, separah itukah? tanpa sadar dia meremas tangan Max yang sedang menggenggamnya.
"Apa kami perlu membawa Gladys ke psikolog dok?" kali ini Max yang bertanya.
Pria paruh baya berkaca mata itu menggeleng.
" Belum diperlukan, cukup talking heart by heart tapi jangan dipaksa, lakukan secara perlahan dan tidak kentara kalau kalian sedang mengintimidasinya,"
Alina mengerti maksud dokter tersebut, setelah mengucapkan terima kasih Alina dan Max pamit.
Dalam perjalanan menuju bangsal, Alina diam seribu bahasa, pikirannya terus tertuju pada Gladys, ada apa dengan gadis itu? kenapa dia tertekan? selama ini yang menjadi beban pikiran Gladys cuma Namira, adiknya. Tapi kondisi Namira pasca operasi sudah menunjukkan hasil yang baik. Lalu apa?.
Max menyadari kegelisahan Alina.
" Kamu jangan khawatir, Gladys pasti baik -baik saja,"
" Iya sayang, hanya saja aku kepikiran apa yang membuat Gladys seperti itu,"
Max menghentikan langkah dan mengajak Alina duduk disalah satu kursi yang ada di lorong. Sepertinya dia perlu memberitahukan perihal Gladys. Dia yakin Gladys belum menceritakan apapun. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur kehidupan pribadi seseorang, tapi melihat situasi sepertinya Alina perlu tahu semuanya.
__ADS_1
" Sayang kenapa kita duduk disini?"
Max mengenggam tangan Alina.
" Saya harap kamu tenang, dan tidak menghakimi Gladys setelah ini,"
Melihat wajah Max yang serius membuat Alina menjadi deg-degan.
" Maksud kamu?"
" Kamu ingat Zaky yang dipesta Leo?"
Alina menganggukan kepala, bagaimana mungkin dia lupa sosok menjijikan yang sudah menghina mereka.
" Zaky pernah membeli Gladys,"
"What!" pekik Alina histeris, karena teriakannya semua orang yang melintas dilorong tersebut memandangnya heran. Sontak gadis itu membekap mulutnya sendiri.
"Maksud kamu Gladys...?" Alina tidak melanjutkan dia menatap Max dengan pandangan penuh arti dan Max mengiyakan apa yang ada dalam benak Alina.
Gadis itu menggeleng berulang kali "gak, gak mungkin, kamu pasti salah paham Max," ucapnya tak percaya.
" Saya gak salah paham, karena saya ikut terlibat didalamnya,"
Alina terperangah , " kamu terlibat membeli Gladys juga ?" ketusnya tidak terima, gadis itu mensedekapkan tangan depan dada menunggu penjelasan.
Max tersenyum melihat Alina yang mendadak cemberut.
"Bukan begitu sayang, jadi gini..." Max menceritakan kronologi kejadian bagaimana dia melihat Gladys keluar dari apartemen Zaky yang kebetulan satu gedung dengan apartemen miliknya. Karena merasa Gladys dalam bahaya, Max yang melihat kejadian membantunya, hingga dia menebus gadis itu dari Zaky.
Alina jadi merasa bersalah karena sudah berprasangka pada Max. Tapi disatu sisi dia bangga berkat Max, sahabatnya selamat dari kejahatan pria casanova seperti Zaky.
"Kenapa kamu baru cerita sekarang sayang," ujar Alina
" Seperti yang saya bilang, saya tidak mau mengungkap aib orang lain, kecuali dia sendiri yang menceritakannya,"
" Lalu apa bedanya dengan yang kamu lakukan saat ini"
Max menghembuskan napas kasar lalu menatap Alina dengan seksama.
" Saya khawatir apa yang terjadi dengan Gladys sekarang masih berhubungan dengan masalah serupa,"
" Maksud kamu Gladys terperangkap dalam lubang yang sama?"
Max mengangguk
" Ya Tuhan," desis Gadis itu nelangsa.
***
Jangan bosan untuk memberi dukungan dan vote pada cerita ini, terimakasih untuk reader yang memilih cerita ini sebagai salah satu favorit kalian, loph u all.😍
__ADS_1
Btw, dikarenakan nyambi2 dengan kerjaan🤭, jadi author baru bisa up satu episode perhari, tapi next time semoga ada kesempatan buat double up🙏