
Sudah enam bulan berlalu semenjak kecelakaan yang menimpa Alina terjadi, luka parah yang dialami gadis itu terutama dibagian kepala yang terbentur membuat Alina tidak sadarkan diri hingga sekarang, kalau istilah medis Alina dalam fase koma.
Para dokter yang menangani Alina menyatakan hanya mukjizat yang mereka butuhkan, tapi Max tidak pernah menyerah, dia tetap optimis mendatangkan tim dokter terbaik untuk membantu kepulihan gadis itu mengingat kondisi Alina tidak memungkinkan untuk terbang keluar negri. Sayangnya semua upaya yang dilakukan belum menunjukkan hasil sama sekali, Alina tetap setia memejamkan mata.
" Tolong jangan hukum saya seperti ini Tuhan, saya tidak sanggup, berikan saja kehidupan saya pada Alina, biarkan saya yang menggantikan posisinya," ratap Max dalam doa.
Siapapun yang melihat keadaan gadis itu tidak akan tega dan meneteskan airmata, tubuh ramping Alina kini semakin kurus, wajah yang dulunya segar berseri berganti dengan rona pucat pasi belum lagi ragam benda medis penunjang kehidupan yang menempel di sekujur tubuhnya.
Bahkan Ranti sang ibu yang senantiasa mengharapkan kesembuhan bagi anaknya sekarang sudah mengikhlaskan jika Tuhan ingin mengambil putrinya, bukan karena dia tidak menyayangi, ibu mana yang sanggup melihat putrinya terbaring tanpa kepastian antara hidup dan mati.
Dia juga semakin tidak tega melihat keadaan Max, cinta Max begitu besar untuk Alina, pria itu selalu setia berada disisi putrinya, semua tenaga, pikiran, materi dia curahkan untuk kesembuhan Alina. Terkadang Max lupa untuk menjaga kesehatannya sendiri.
Ranti kerap kali mendapati Max menangis seorang diri, melepas sesak yang menghimpit setiap berbicara dengan dokter tentang perkembangan gadis itu. Dia tahu Max mulai kehilangan harapan, tapi pria itu sangat pintar menyembunyikan rasa putus asanya.
Ranti tidak mau Max mengorbankan masa depannya demi Alina, perjalanan pria itu masih panjang, Max berhak meraih kebahagiannya sendiri.
Mereka sama-sama tahu, Alina hanya memiliki persentase kecil untuk sembuh, kalaupun dia sembuh bisa dipastikan Alina akan cacat seumur hidup, Ranti tidak ingin menambah penderitaan Max dengan membiarkannya terus berada didekat Alina.
" Apa ibu yakin dengan keputusan ini," tanya Audrey berulang kali saat dia mengutarakan maksudnya untuk membawa Alina pergi, jauh dari kehidupan mereka yang sekarang.
" Ibu tidak punya pilihan nak, jika Alina mendengar apa yang ibu katakan sekarang, ibu yakin dia setuju,"
" Lalu rumah bagaimana, terus Ibu mau bawa Alina kemana, ibu tau sendiri bagaimana Max, dia tidak akan tinggal diam," cecar Audrey
"Gak usah mengkhawatirkan rumah, ibu juga akan pergi ketempat yang gak akan terpikirkan oleh Max, "
" Tapi, "
" Max akan berangkat ke Jerman minggu depan, saat itulah ibu akan menjalankan semua rencana ini, ibu butuh bantuan kamu dan Aditya,"
Audrey tidak lagi membantah, di satu sisi dia tidak setuju karena Max dan Alina saling mencintai tapi disisi lain ibu juga benar, sampai kapan Max harus menunggu, dan jika kemungkinan terburuk terjadi apa Max siap menerima Alina apa adanya.
__ADS_1
Pada akhirnya Audrey memenuhi permintaan ibu untuk menyiapkan segala sesuatu termasuk dokumen keberangkatan. Ranti memutuskan membawa Alina ke Malaka, disana dia akan tinggal bersama Syarifah, adik sepupu Ayah Alina. Syarifah hanya tinggal sendiri karena suaminya sudah meninggal, dan anak-anaknya tinggal diluar negeri. Setelah Ranti menghubunginya beberapa waktu lalu dia menyambut baik niat Ranti, lagipula kediamannya dekat dengan salah satu rumah sakit terkenal, jadi mereka siap kapan saja jika Alina butuh pertolongan medis meskipun Ranti sendiri memutuskan merawat Alina dirumah saja.
" Bu, saya titip Alina, kalau bukan karena pekerjaan saya tidak akan berangkat," ucap Max dengan pandangan sendu pada Alina, Ranti menghela napas, inilah yang sangat dia cemaskan, Max begitu takut tiap kali meninggalkan Alina, dan itu tidak baik untuk pikirannya, Max akan kehilangan fokus dan akan berpengaruh sama pekerjaaan, sementara keluarganya terutama Mulia Jaya sangat membutuhkan keberadaan pria itu.
" Max, ibu pasti jagain Alina, Alina juga pasti baik-baik saja, yang penting sekarang kamu fokus saja sama pekerjaan ya," nasehat Ranti bijak.
Max mengangguk lalu kembali menatap gadis yang terbaring diatas brankar.
" Sayang, saya berangkat ya, kamu jangan kangen, gak lama kok cuma seminggu, jaga diri kamu, dan jangan tutup mata terus dong, janji ya setelah saya pulang kamu harus bangun," lirih Max dengan mata berkaca-kaca, Ranti yang mendengarkan hal itu berusaha keras menahan kesedihannya.
" Semoga kamu akan mengerti keputusan ibu nantinya Max, maafkan ibu," batin wanita itu pilu.
Max mencium kening Alina sangat dalam lebih lama dari yang biasa dia lakukan seperti sebuah firasat akan kehilangan orang yang sangat dicintai.
Setelah memastikan Max sudah pergi, Ranti segera menghubungi Audrey dan Aditya yang memang sejak Alina sakit sering bolak balik Jakarta.
Mereka disibukkan dengan dengan berbagai keperluan, termasuk izin rumah sakit, dokter yang menangani Alina juga tidak menahan karena ini sudah menjadi keputusan pihak keluarga. Walaupun dia sempat menanyakan persetujuan Max, dengan lihai Ranti memberikan alasan yang kuat hingga dokter itu percaya begitu saja. Ranti memanipulasi keberangkatannya dalam pernyataan dia mengatakan akan membawa putri nya ke Jogjakarta, faktanya dia membawa keluar negeri, lagipula penerbangan ke Malaka tidak memakan waktu lama jadi tidak ada bedanya, sang dokter percaya begitu saja tanpa menanyakan lebih jauh dan segera menanda tangani surat persetujuan.
Ranti memang harus merogoh semua aset terakhir yang dia miliki, termasuk menggadaikan rumah peninggalan suaminya, kepindahan ini menguras banyak dana terlebih biaya alat alat medis, menyewa perawat sendiri belum lagi harus mencarter setengah isi pesawat. Tapi dia ikhlas, ini semua demi kebaikan Alina dan juga Max.
" Maafkan ibu, sudah membuat kalian kerepotan, "
" Jangan bicara seperti itu bu, Alina juga adik kami, semua yang terbaik untuk dia pasti kami dukung," balas Aditya.
Audrey mengangguk, meskipun dalam hati dia menyimpan sejuta kepedihan, rumah tangganya diguncang badai prahara, tapi dia menyembunyikan semua itu karena gak ingin membuat ibu dan Aditya kepikiran.
" Maafkan aku bu gak bisa ikut mengantar, anak-anak gak ada yang jaga,"
" Udah gak papa, dari sini ibu udah bisa handle sendiri, titip peluk cium untuk cucu-cucu ibu, " Ranti bergantian memeluk kedua anaknya itu.
Ketika pesawat lepas landas, Ranti tak bisa lagi menahan airmata yang sedari tadi ingin keluar, perasaan bersalah menyergapnya, tapi dia tahu ini adalah pilihan terbaik membiarkan Max terus saja mengharapkan putrinya sama saja dengan mendorong pria itu pada harapan palsu yang entah butuh berapa lama terwujud, mungkin setelah ini Max akan kecewa, tapi dia yakin Max pasti bisa bangkit lagi.
__ADS_1
Max memasuki pelataran rumah sakit dengan tergesa gesa, dia mempercepat kepulangannya, beberapa hari ini dia didera gelisah, pikirannya terus saja tertuju pada Alina, dia tidak bisa tersambung dengan video call dikarenakan hape bu Ranti rusak, meskipun bu Ranti sudah memastikan keadaan Alina baik-baik saja, Max tetap tidak bisa menepis kegundahan, dengan segala upaya dia menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.
Dan kegundahan itu semakin nyata saat mendapati Alina tidak berada diruangannya,
" Sus, suster, apa kalian memindahkan Alina, " teriaknya pada suster yang lalu lalang.
" Maaf pak, ruangan ini sudah kosong dari kemaren, pasiennya sudah dibawa pulang oleh keluarganya,"
" Apa maksud anda, saya adalah keluarganya, saya tunangannya, bagaimana mungkin saya tidak diberitahukan! " sergah Max lantang hingga suara menggema di sepanjang koridor
Suster itu gugup melihat kemarahan Max, Adrian berusaha menenangkan sahabatnya itu.
" Tenanglah Max, kita temui dokter untuk cari tahu,"
Max tidak menolak, mereka bergegas menuju ruangan dokter yang menangani Alina.
" Saya tidak pernah setuju jika Alina dibawa pergi, apalagi kalau dibawa keluar kota , bagaimana mungkin kalian mengizinkan tanpa memberitahu saya terlebih dahulu hah!" Max tidak bisa lagi menahan emosi,
" Tapi ibunya meyakinkan saya kalau semua sudah sepengetahuan anda pak, dia bilang anda menyerahkan semua keputusan kepadanya karena anda akan berada di Jerman dalam waktu yang lama," Dokter itu membela diri.
Max menyugar rambutnya frustasi, apa sebenarnya yang bu Ranti rencanakan, tanpa membuang waktu Max lansung meminta orang-orangnya di jogja untuk mencari keberadaan Alina dirumah Audrey, sambil menunggu berita dia lansung pergi menuju rumah Alina untuk mencari petunjuk lain .
Dan disana dia hanya menemui Mbak Asti, wanita paruh baya itu memberikan sebuah amplop, surat dari Bu Ranti,.
Max lansung membuka isi surat tersebut, matanya menatap nanar pada tulisan diatas kertas dan seketika tubuhnya melemah, dia luruh dilantai.
Aaaaargh!!!
" Max, kau kenapa?" Adrian ikut berjongkok dan mengambil kertas yang tergeletak dilantai, lalu membaca dengan seksama, dia mengerti kenapa Max menjadi seperti itu, bersamaan dengan telpon masuk di ponselnya.
"Mereka tidak ada di Jogja," desis Adrian memberi tahu.
__ADS_1
***
Maaf ya , karena author lagi demam, jadi up-nya lama.