
Sejak kejadian semalam, Alina tidak bisa tidur dengan nyenyak, hatinya dilanda kegundahan yang teramat sangat. Bagaimana dia bisa sebodoh itu dan menyerah pada pesona Max, apa yang ada dalam pikirannya, dia begitu menikmati sentuhan Max, bahkan ciuman itu terasa masih membekas, tanpa sadar Alina memegang bibirnya sendiri.
Alina menggeleng berulangkali, dia tidak boleh larut dalam lamunan ini, gadis itu segera menyingkap selimut dan berjalan menuju ruang wardrobe, dia mulai mengemasi barang barang miliknya kedalam koper. Alina memutuskan untuk kembali kerumah, dia tidak bisa terus terusan berada disini. Dekat dengan Max hanya akan memberi peluang pada perasaannya, dia akui pria itu mulai berhasil mempengaruhinya. Tapi hati kecilnya tidak ingin mengkhianati Bryan.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, gadis itu langsung mandi, tak berapa lama dia sudah selesai bersiap dan langsung menemui Mbak Asti.
" Mbak kita pulang sekarang ya," ucap Alina datar begitu menjumpai asisten rumah tangganya itu tengah membantu Bik Retno menyiapkan sarapan pagi.
Mbak Asti nampak heran, " Sekarang non?"
Alina mengangguk lalu kembali lagi ke kamarnya tanpa banyak bicara, sontak sikap Alina meninggalkan tanda tanya bagi kedua wanita paruh baya itu .
" Sepertinya ada yang tidak beres," ucap Bik Retno menerka.
Mbak Asti juga berpikiran sama, kemarin mereka masih melihat bagaimana kedua majikan mereka itu berangkat dari apartemen dengan ekspresi bahagia, mereka bahkan berharap Max dan Alina bisa berjodoh, tapi melihat sikap Alina pagi ini, rasanya harapan itupun memudar.
" Ya sudah sana kamu siap siap, kasihan non Alina menunggu," ucap Bik Retno kembali melanjutkan sisa pekerjaannya.
Alina menyeret dua koper besarnya sampai ke ruang tamu bersamaan dengan Max yang baru keluar kamar. Alina terpaku melihat penampilan Max, dari rambutnya yang masih basah, bisa dipastikan pria itu baru saja selesai mandi.
" Kamu mau kemana Al?" tanya Max heran sambil melirik koper disamping gadis itu.
" Saya mau pulang pak,"
Max tau alasan dibalik sikap Alina yang tiba tiba ini. Sama seperti halnya Alina, Max juga merasa bersalah sudah membuat gadis itu tidak nyaman. Tapi apa yang dia lakukan tadi malam bukan saja semata karena kecemburuannya tapi juga bentuk perasaan yang selama ini terpendam. Max terlalu pengecut, dia belum berani mengungkapkannya, takut Alina shock dan malah menjauh.
" Saya minta maaf , apa yang terjadi diantara kita sungguh diluar kendali saya, tapi saya tidak bermaksud melecehkan kamu, "ucap Max dengan raut menyesal.
" Sudahlah pak, tidak usah dibahas," ucap gadis itu jengah.
" Kita harus membahasnya Al, saya tau kenapa kamu mendadak ingin pulang, saya tidak akan melarang kalau memang kamu sudah memutuskan, tapi saya ingin meluruskan biar kedepan hubungan kita tetap baik dan tidak ada kecanggungan tentunya,"
Alina menghela napas, seandainya saja semudah itu, nyatanya dia sendiri tidak yakin akan bisa bersikap sama seolah tak ada yang terjadi diantara mereka lalu melupakan begitu saja.
" Bapak gak usah khawatir, semua terjadi secara spontan, jadi bukan kesalahan bapak saja, seharusnya saya menolak tapi entah kenapa saya malah pasrah, mungkin efek kerinduan saya sama seseorang, saya juga minta maaf sama bapak," ucap Alina
Alina sadar ucapannya barusan mungkin saja menyinggung Max, menganggap pria itu sebagai pelampiasan tapi itu akan lebih baik sehingga Max tidak perlu menebak tentang perasaan Alina sesungguhnya.
Max tersenyum kecut, ternyata itu alasan Alina membalas ciumannya, gadis itu sedang rindu pada kekasihnya padahal Max sudah terlanjur besar kepala karena menganggap Alina mulai memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
" Tentu saja, memang sulit melupakan seseorang yang sangat kita cintai, apalagi orang tersebut tak mungkin lagi kita raih, semoga kamu bisa menemukan kembali kebahagiaan kamu Al," ucap Max sendu
" Makasih doanya pak, terima kasih juga karena sudah menampung kami beberapa hari ini, "
" Tidak bisakah kamu tinggal sampai ibu kamu kembali Al? saya sudah berjanji sama Ibu Ranti" Max berusaha menahan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Alina menggeleng, " Nanti saya sendiri yang akan kasih pengertian ke ibu, lebih baik saya tinggal dirumah,"
Kalau Alina sudah bersikeras, Max tidak punya alasan lagi untuk terus menahan, bahkan gadis itu juga menolak disaat dia hendak mengantar.
Dari lobi apartemen, Max terus memandangi taxi online yang Alina tumpangi hingga hilang dari pandangan.
Max mendesah kecewa, andai saja dia bisa berpikir lebih jernih dan tidak mencium gadis itu sembarangan, mungkin Alina tidak akan pergi seperti ini
Max menelpon Adrian " Apa orang orang mu sudah bergerak?"
" Baiklah, terus awasi selama 24 jam, jangan sampai lengah" ucap Max lagi begitu mendengar jawab diseberang sana
Alina boleh pulang, tapi bukan berarti dia melepas gadis itu begitu saja, dia meminta Adrian merekrut bodyguard untuk melindungi dan mengawasi Alina.
***
" Hei bro, apa kabar, "
Max mengangkat kepala dan tersenyum melihat sosok yang menyapanya, dia berdiri dari duduk dan merangkul pria itu.
" Senang bisa bertemu kembali inspektur Adam, " ucapnya hangat.
" Ya sudah lama sekali, sejak kau tinggal di Paris, bahkan kau tidak mengabariku kalau kau akan kembali, kalau bukan Adrian yang menelponku aku berpikir kau masih disana,"
Max tertawa kecil, dua pria itu kemudian larut dalam perbincangan seru, bernostalgia tentang masa lalu sambil menunggu pesanan mereka datang.
" Sialan, kau pikir aku tidak bisa sendiri," umpat Max sinis
Adam tergelak, tentu saja dia hanya bercanda mana mungkin seorang Maxime Arlingga Yogatama memerlukan bantuan hanya untuk mendapatkan seorang wanita, tak ada yang mampu menolak ketampanan pria itu, bahkan sekarang saja Max sudah berhasil membuat seluruh pengunjung di cafe ini memperhatikan nya, tapi Max terlalu sulit ditaklukan.
" Aku percaya padamu Max, terus apalagi yang kau tunggu, disini begitu banyak gadis cantik man, sekali-kali bersikaplah seperti playboy, singkirkan muka datarmu itu, " Lanjut Adam sambil mengerling kearah gadis - gadis yang terus memperhatikan mereka .
" Mereka bukan tipeku," jawab Max asal, karena sejatinya dia bukanlah tipikal pria pria penebar pesona seperti kebanyakan pria tampan lainnya.
" Akh payah kau Max, kalau aku jadi kau sudah kusikat mereka, aku yakin mereka akan sukarela memberikan dirinya tanpa diminta, kau bayangkan Max betapa menggiurkannya mereka," ucap Adam dengan ekspresi menelan ludah
" Dasar Polisi Mesum,"
" Terima kasih pujiannya, sekarang katakan apa sebenarnya yang kau ingin bicarakan, kurasa bukan kebiasaanmu berbasa-basi seperti ini," tanya Adam penasaran dan kembali fokus pada topik.
Beberapa hari yang lalu Adrian sempat menelponnya dan mengatakan kalau Max ingin bertemu dan membicarakan sesuatu, kalau sudah seperti itu Adam yakin ada hal serius yang ingin sahabatnya itu sampaikan.
" Apa kau masih bertugas di sektor raya?"
" Tidak aku pindah dinas dipusat sekarang, memangnya kenapa, apa kau sedang bermasalah?"
__ADS_1
" Bukan, aku hanya ingin tau tentang perkembangan kasus penembakan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, apakah kalian butuh waktu lama untuk mengungkap pelakunya?"
Adam mengernyitkan kening " Biasanya kalau ada bukti dan saksi, dalam hitungan hari akan segera terungkap, tapi ada beberapa kasus yang memang rumit dan kami membutuhkan waktu lebih lama, " jelas Adam
Max mengangguk mengerti, diapun mulai menceritakan maksud sesungguhnya.
" Bryan Delano Pratama" Adam berusaha mengingat sambil terus memperhatikan potret yang ditunjukkan Max.
Max menunggu seksama, berharap Adam bisa membantunya. Karena dia sendiri tidak punya banyak waktu untuk bolak balik kekantor polisi. Selain karena pekerjaan, dia juga tidak mau memancing perhatian, Mulia Jaya memiliki banyak kenalan petinggi di kepolisian, dan mereka juga mengenali Max.
Adam mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai menelpon seseorang, tapi berulang kali mencoba, nomornya tetap belum tersambung. Tak mau membuat Max lama menunggu, diapun mencoba menghubungi rekan penyidik yang lain dan mulai menanyakan tentang Bryan, tapi keningnya berkerut mendengar jawaban rekannya itu.
" Apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Max begitu Adam memutuskan sambungan.
" Ada yang aneh,"
" Maksudmu apa?"
" Tidak ada kasus penembakan yang dilaporkan atas nama ini, apa kau yakin melaporkannya?"
Max terkejut, bagaimana mungkin dia salah, karena Alina sendiri yang memberikan detail waktu dan tempat kejadian.
" Apa mungkin mereka melapor ke sektor lain?"
Adam menggeleng "setiap kasus akan diusut oleh sektor dimana tempat kejadian perkara tidak bisa disektor lain, kecuali kasusnya sulit diungkap atau berhubungan dengan negara baru dilempar ke pusat"
Sangat aneh, bagaimana mungkin kasus Bryan tidak dilaporkan sementara Alina yakin Leo dan Morgan sudah menghandle langsung.
" Apa ada kemungkinan lain?" tanya Max lagi
berusaha mencari titik terang.
Adam nampak berpikir beberapa saat,
" Bisa jadi mereka tidak melapor dan menyewa detektif swasta untuk menyelidiki," ujarnya berasumsi.
Cukup masuk diakal, tapi Max tidak yakin, feeling-nya mengatakan ada sebuah rahasia yang sedang disembunyikan, mungkinkan ini ada kaitannya dengan karir Bryan seperti yang dipikirkan Alina, apapun itu Max bertekad untuk menyelidiki lebih jauh.
***
Mohon bantuan vote dan komennya buat para readers yang menyempatkan diri membaca cerita ini.
Disini aku membuat alur maju mundur, jadi diharapkan membaca ceritanya dari awal biar gak membingungkan..
with love
__ADS_1
Dik@