
" Janji sampai disana gak boleh genit-genit," ucap Max sambil terus mendekap Alina tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Beberapa pasang mata tersipu malu melihat adegan romantis yang disuguhkan secara live. Siapa lagi kalau bukan Adrian, Gladys, Tasya serta beberapa crew jet pribadi milik Mulia Jaya. Namun mereka pura -pura mengabaikan keuwuan pasangan tampan dan cantik itu.
" Iya sayang, kamu udah mengingatkan aku berulang kali, kok jadi bawel banget sih pacar aku," balas Alina mencubit gemas kedua pipi Max.
" Biarin, kamu itu cuma milik Maxime Arlingga Yogatama, jadi gak boleh macam-macam apalagi kepikiran godain cowok lain,"
Alina memutar mata malas " Aku godain cowok? yang ada aku yang digodain sayang," protesnya tak terima.
Max menyengir " Oh iya, salah ya,"
Alina tak habis pikir, baru aja berangkat ke bali posesifnya Max udah overdosis apalagi kalau dia keliling dunia. Meskipun disatu sisi dia senang karna Max begitu mengkhawatirkannya.
" Oh ya ada satu lagi ," Alina pikir udah selesai gak taunya masih ada lanjutan. Max menatap Alina dengan canggung, membuat gadis itu mengerutkan kening menunggu permintaan Max berikutnya.
" Jangan pake lingerie kalau dipantai, pake baju yang sopan kapan perlu berenang dengan pakaian lengkap,"
Gadis itu mengatupkan bibir menahan senyum. Namun yang lain justru terbahak mendengar ucapan Max barusan. Max bingung perasaan tidak ada yang lucu dengan perkataanya, dia tidak ingin Alina mengekspose tubuh dengan pakaian seperti itu.
" Bikini sayang bukan lingerie, kalau lingerie untuk dipakai dikamar, buat godain suami, iya kali aku pake daleman jaring-jaring gitu dipantai," Alina membenarkan. Pipi gadis itu turut merona dibuatnya.
" Sepertinya kau harus banyak belajar soal fashion wanita man," timpal Adrian.
" Berisik!" sergah Max salah tingkah, bukannya diam Adrian malah terus terpingkal.
" Iya bikini maksudnya," Max menggaruk ujung hidungnya.
" Lingerie ntar buat malam pertama kita aja," lanjutnya mengerlingkan mata.
Alina membulatkan mata lalu mencubit pinggang Max bertubi-tubi hingga pria itu meringis minta ampun. Bukannya melepas Alina makin menjadi dan mengejar Max yang terus mengelak sambil tertawa bahagia. Memang kalau lagi kasmaran, dunia serasa milik berdua yang lain mengontrak.
" Ehem, maaf tuan-nona, kita harus berangkat sekarang, sudah ada pemberitahuan dari menara," ucap kapten pilot mengingatkan.
Max dan Alina menghentikan aksi gelutnya dan mengangguk bersamaan, begitu sang pilot udah naik ke cabin mereka kembali berpelukan.
" Ya elah pelukan lagi, kapan kelarnya ini," cecar
Tasya mencebik.
Alina terkekeh mendengar keluhan sahabatnya.
" Aku akan merindukanmu sayang"
" Aku juga sayang, kamu hati- hati ya begitu sampai Jerman kabari aku, " balas Alina sambil mengecup kedua pipi Max dengan lembut.
Alina beranjak hendak melangkah mengikuti langkah teman-temannya yang sudah lebih dulu menapaki anak tangga, tapi tangan Max menahan, gadis itu menoleh dan secepat kilat dia merasakan benda kenyal menempel dibibir pink-nya.
__ADS_1
Alina tergagap dan hendak melepaskan diri, tapi cengkraman Max sangat kuat, dia pasrah dan membiarkan Max mendapatkan keinginannya.
" Gila, pagi-pagi udah ternoda mataku" sergah Tasya namun enggan mengalihkan pandangan dari sepasang kekasih yang tengah memadu romansa. Dia meneguk ludah berkali kali, ngiler.
Dasar Tasya.
Sementara Gladys tersenyum simpul, dia ikut melting melihat perlakuan mesra Max pada Alina, semoga saja suatu saat dia mendapatkan kekasih seperti pria itu.
" Sayang, malu!" ungkap Alina sambil membenamkan wajah didada bidang Max.
" Ngapain malu sayang, mereka ngerti kok," ujar Max mengangkat dagu Alina dan membersihkan bibir gadis itu dari lipstik yang berlepotan karena ulahnya.
" Udah akh aku berangkat ya, bye sayang." ucap Alina lagi seraya berlalu. Kalau di turutkan keinginan Max yang ada dia gak jadi berangkat.
Max melambaikan tangan begitu benda besi itu mulai lepas landas, matanya terus menatap ke langit sampai pesawat benar-benar sudah menjauh.
" Kita kekantor dulu ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani," titahnya pada Adrian yang masih berdiri dan menatapnya sambil menggelengkan kepala.
" Hei apa kau salah minum obat sampai cengengesan gak jelas gitu," Lanjut Max heran seraya memasang kacamata hitam yang makin menambah pesona ketampanannya berkali lipat. Beruntung suasana bandara masih sepi karena masih pagi. Jadi Adrian tidak perlu repot mengawal Max dari kejaran fans dadakan.
" Aku pikir kau tidak pernah sebucin ini pada gadis manapun sebelumnya,"
" Kampret" Max hendak menoyor kepala sahabatnya itu, tapi Adrian selalu saja bisa berkelit. Sudah hapal dengan tabiat Max kalau lagi salah tingkah.
Dalam hati Max tak menampik, dia bukan hanya bucin, bahkan dia sudah terjerat dalam palung cinta terdalam. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ketakutannya menjadi kenyataan. Mungkin dia akan menjadi gila. Berharap keberangkatannya ke Singapura nanti akan memberi kepastian kalau Alina tetap miliknya meskipun Bryan kembali lagi.
Begitu juga dengan Gladys, dia merasa bermimpi, penerbangan pertamanya justru dimulai secara ekslusif.
Bukan hanya suasana cabin yang nyaman, tapi mereka juga dimanjakan dengan berbagai hidangan yang menggiurkan. Berbeda dengan penerbangan komersial ekonomis yang kadang hanya disuguhi air mineral saja.
" Kamu beruntung banget ya Al bisa dicintai seorang Max, udah tampan mempesona, tajir lagi. Andai aja aku bisa seperti kamu," Tasya menopang dagunya dengan sebelah tangan.
" Jangan ketinggian Sya menghayalnya, ingat kita cuma remahan rengginang. Sekali jatuh berasa sakitnya." sarkas Gladys bercanda.
" Kalian apaan sih, biasa aja kali. Aku gak pernah memandang Max dari statusnya, kalian kan tau sendiri gimana awalnya. Perasaan aku tulus sama dia, sekalipun posisinya tidak seperti sekarang, bagiku yang penting dia juga mencintai aku apa adanya."
" Tuh dengerin, jangan mikir tajir aja Sya,"
Tasya manggut manggut tak jelas.
" Eh ngomong-ngomong hubungan kamu sama Andri gimana?" Alina mengalihkan pembicaraan.
Tasya menggeleng " Gak ada perkembangan, kayaknya Andri udah bosan, yang aku dengar dia lagi dekat sama anak marketing,"
" Kamu sih kelamaan, betah amat jadi jones," ucap Gladys dengan mulut penuh cemilan.
__ADS_1
" Yee, kayak kamu ada gebetan aja, sesama jomblo gak boleh meledek," balas Tasya tak mau kalah
" Udah tenang guys, kali aja di bali kalian berdua ketemu jodoh masing-masing, makanya pasang pesona dari sekarang biar nanti lansung ada yang nyantol," Alina menaik turunkan alis memberi ide
"Huss, gak ingat pesan Max ,bisa ngamuk tu orang kalau tau bininya main gila,"
" Sembarangan, siapa juga yang main gila, aku cuma nyaranin buat kalian berdua. Aku mah santai ingin menikmati suasana," kilah Alina sambil mengibaskan rambutnya.
" Iya deh yang udah laku," cibir Tasya.
Begitulah kalau para ladies sudah berkumpul, ada aja bahan yang bisa dijadikan obrolan. Mereka terus bercengkrama bertukar cerita dan canda. Tanpa terasa mereka sudah landing di bandara Ngurah Rai Bali.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pilot dan pramugari yang bertugas, ketiga sahabat itu lansung melangkah turun. Alina mengaktifkan kembali ponselnya. Lalu menghubungi sebuah nomor yang diberikan Max.
" Ya hallo mbak, saya udah didepan pintu kedatangan," jawab suara disebrang sana.
Alina celingukan, tak lama dia melambaikan tangan dan segera mematikan sambungan . mendapati seseorang dengan kertas bertuliskan namanya. Sosok pria paruh baya itu tergopoh menghampiri.
" Non Alina?" tanyanya memastikan.
" Iya pak, saya Alina dan ini teman teman saya Tasya dan Gladys"jawab gadis itu memperkenalkan. Mereka saling berjabat tangan.
" Mana kopernya non, biar saya bawa," pungkas pria yang tak lain adalah Pak Min, yang bertugas mengawal perjalanan mereka selama di Bali.
Alina menunjukkan barang -barang yang mereka bawa, dengan cekatan Pak Min menaikkan keatas troly dan mendorong kearah mobilnya diparkiran.
" Alphard cuy, mewah liburan kita guys," decak Tasya tak percaya. Pak Min tersenyum mendengar celetukan gadis itu.
" Mau kemana dulu non, ke resort atau langsung jalan - jalan?" tanya Pak Min dari belakang kemudi.
" Gimana kalau jalan dulu pak, abis itu baru ke resort," ucap Alina melirik arloji ditangan kiri. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum makan siang. Berhubung mereka cuma tiga hari disana. Alina tidak ingin membuang waktu.
Pak Min mengangguk dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan keriuhan salah satu bandara tersibuk di Indonesia itu diiringi lagu snowmannya SIA. Tak pelak ketiga gadis itu bersenandung mengikuti lirik yang sudah pasti hapal diluar kepala.
I want you to know that i'm never leaving
Cause I'll Mrs snow till death We'll freezing
Yeah you are my home, my home for all seasons
So come on let's go
***
Happy Reading ya ,, jangan lupa bantu vote dan komen
__ADS_1
Dik@