
" Maafin aku sayang, baru sempat mengunjungi kamu sekarang" ucap Alina sambil membersihkan rumput rumput kecil diatas pusara. Sesekali tangannya mengusap nisan Bryan.
Waktu terus berganti , tapi sampai saat ini kepergian Bryan masih menjadi misteri. Bahkan usahanya untuk mencari bukti belum menunjukkan kemajuan sama sekali. Alina bingung harus bagaimana. Dia tidak punya siapapun untuk diajak bercerita, keluarganya tidak akan setuju kalau dia menelusuri kasus ini karena takut dia dalam bahaya sementara keluarga Bryan yang tinggal di luar kota sudah pasrah dan ikhlas, disisi lain sahabat sahabat dekat Bryan terutama Morgan juga tidak bisa diharapkan.
Sejak Alina bekerja di Mega Buana , Morgan sulit ditemui karena lebih banyak diluar mendampingi Pak Leo, waktu terakhir mereka ketemu Alina sempat menanyakan perkembangan kasus tersebut, tapi Morgan bilang dia juga gak tau karena polisi sendiri belum menemukan petunjuk sama sekali.
Tinggal Alina yang masih belum menyerah. Dia sadar apa yang dia lakukan tidak akan bisa mengembalikan kekasihnya, tapi setidaknya dia merasa tenang setelah mengetahui alasan dibalik penembakan itu. Barulah dia bisa melanjutkan hidup.
Alina menghela napas untuk kesekian kali
" kamu yang sabar ya sayang, cepat atau lambat semuanya akan terungkap"
Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan dia yakin ada masa dimana semua akan terungkap jelas.
Gadis itu kemudian menabur kelopak mawar merah yang dibawanya tak lupa dia juga menaruh sebuket bunga Lily putih. Setelah itu dia memanjatkan doa agar Bryan tenang dialam sana.
Sebenarnya Alina berat hati untuk pulang, tapi cuaca sedang tidak bersahabat, awan hitam bergelung dilangit menandakan sebentar lagi hujan akan turun. Dia tidak membawa mobil karena masih dibengkel. Setelah pamit dengan Mang Udin yang sedang santai di pondok, gadis itupun melangkah kearah gerbang pemakaman sembari menunggu taxi onlinenya datang.
Tak lama langit sudah mencurahkan isinya, beruntung Alina sudah berada didalam taxi, gadis itu menatap seksama pada air tempias dikaca jendela, lagi dan lagi pikirannya melanglang buana pada kenangan lama. Kali ini Alina berusaha untuk tidak menangis. Dia tidak ingin membuat orang lain khawatir
Tiba tiba taxi yang ditumpanginya berjalan terseok seok. Dengan sigap sopir mengarahkan mobilnya kepinggir jalan supaya tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.
" Mobilnya kenapa pak?" tanya Alina cemas, bagaimana tidak lokasi mereka sekarang masih jauh dari rumah.
" Sepertinya mogok mbak, " ucap sang sopir nelangsa, raut wajahnya kebingungan
Alina berpikir sejenak, tidak mungkin dia menunggu disini. Untuk memperbaiki mobil mogok butuh waktu yang cukup lama.
" Kalau gitu saya turun aja ya pak" putus Alina begitu melihat halte tak jauh dari posisi mereka sekarang, dia akan menyambung perjalanan dengan bus.
" Saya minta maaf mbak, jadi nurunin mbak disini," sesal pria paruh baya itu.
Alina tersenyum, " gak papa pak, namanya musibah, lagipula saya bisa menunggu kendaraan umum di halte depan"
Alina merogoh uang dari dalam tas yang tersampir dipundaknya dan memberikan pada sopir tersebut
" Gak usah mbak, saya kan gak jadi ngantar" tolak sopir itu dengan sopan
" Ini rezeki bapak, tolong diterima ya" desaknya lagi, melihat ketulusan Alina, sopir itupun menerima dan mengucapkan terima kasih
Alina berlari kecil menuju halte, hujan masih belum berhenti, walaupun gak terlalu deras tapi baju gadis itu lumayan basah dibuatnya. Kalau bersama Bryan pasti dia memilih bermain air hujan daripada kepalang tanggung seperti ini, tapi sekarang gak mungkin dia melakukan itu sendiri apalagi ditempat umum. Yang ada dia menjadi bahan tertawaan.
Alina duduk dikursi panjang yang ada disana, sambil menunggu gadis itu mengirim pesan dulu pada ibunya , mengatakan kalau dia akan pulang terlambat agar beliau tidak khawatir. Dikondisi cuaca seperti sekarang, kemungkinan dia akan lama mendapatkan tumpangan, jalanan macet dan banjir pasti membuat bus bus itu lama diperjalanan.
Sebenarnya bisa saja dia memesan taxi online lagi, tapi entah mengapa kali ini dia ingin mencoba suasana baru, lumayan untuk penghiburan diakhir pekan.
Alina mulai gelisah, tangannya mengusap usap lengannya sendiri untuk mengusir hawa dingin yang mendera. Sudah setengah jam berlalu, tapi belum satupun armada yang datang. Beberapa orang yang juga menunggu nampak tidak sabar, satu persatu dari mereka mencari alternatif, ada yang memutuskan naik bajaj atau ojek umum yang datang menawarkan jasa.
Alina mencoba bertahan, dia akan menunggu beberapa menit lagi, kalau masih belum ada barulah dia cari solusi lain
Alina heran begitu sebuah mobil sedan BMW X6 warna silver berhenti tepat didepan halte. Begitu juga orang orang yang masih ada disana, memandang penuh tanya, ngapain mobil mewah parkir disini, begitu pikir mereka.
Alina melongo tak percaya saat sang pemilik kendaraan membuka kaca jendela
" Masuklah" titah seorang pria tampan memerintah, Alina terlihat ragu karena orang orang pasti mengiranya perempuan tidak benar, belum apa apa aja mereka sudah mulai berbisik bisik satu sama lain.
Tanpa Alina sadari pria itu turun sambil membawa payung
__ADS_1
" Alina, ayo pulang " ucapnya dengan suara sedikit keras.
Alina mengangguk pelan dan pasrah saat pria itu menuntunnya agar mereka berjalan bersisian, gadis itu semakin sungkan ketika pria itu juga membukakan pintu untuknya. Mendadak jantungnya berdegup kencang.
" Makasih, "
Pria itu tidak menanggapi, dia lansung menutup pintu kembali dan melangkah ke arah kursi kemudi.
" Bapak kok tau saya dihalte tadi" tanya Alina, maksudnya basa basi untuk memecah keheningan yang tercipta, tapi sepertinya dia salah kalimat, semoga aja pria itu tidak mengira dia kegeeran.
" Saya tinggal didekat sini, dan gak sengaja liat kamu" jawab pria yang tak lain adalah Max.
Tuhkan, mana mungkin Max sengaja menjemputnya, apalagi mereka gak ada janji sebelumnya, bego bego batin Alina merutuki dirinya sendiri
Tak urung gadis itu menganggukan kepala, rada salting sih..
" Kamu sendiri dari mana? sampe basah begitu" Tanya Max balik, matanya melirik sekilas pada dress yang dipakai Alina.
" Saya dari ziarah, tadinya pulang pake taxi, tapi mogok, maaf jok bapak jadi basah " ucap Alina gak enak hati, tangannya menepuk nepuk jok mewah tersebut
Max tersenyum sekilas " nevermind" sahutnya singkat.
Meskipun sekilas tapi cukup membuat Alina terpesona dan tak berhenti memandang pada wajah tampan disampingnya, jantungnya bergemuruh kembali
Perasaan apa ini? menyadari keanehan yang terjadi dengan dirinya, cepat cepat Alina memalingkan muka. Dia mencoba untuk mengalihkan fokusnya.
" Turun dulu Al, sudah sampai" ucap Max
Gadis itu turun sambil menunduk, pikiranya masih menerawang tanpa arah, dia terkejut saat menyadari kalau mereka tidak berada dirumahnya, melainkan didepan lobi sebuah gedung mirip hotel, Max sedang menyerahkan kuncinya pada seorang Security
" Kita mampir dulu diapartemen saya sambil menunggu hujan reda, setelah itu baru saya antar kamu pulang" ucap Max menjelaskan maksudnya.
" Kenapa gak bilang dulu sih pak, kalau tau begitu mending saya nunggu dihalte saja" protes Alina gusar
" Kamu liat sendiri jalanan sangat macet, belum lagi banjir, ambil jalur alternatif pun gak memungkinkan karena...." Max menggantung kalimatnya, tapi Alina cukup mengerti mana mungkin Max bersedia mobil mewahnya menerjang banjir, hanya orang orang bodoh yang melakukan itu, kecuali dia terjebak dijalanan atau Alina adalah sosok istimewa baginya. Faktanya Alina bukan siapa siapa.
" Kamu mau menunggu disini atau ikut saya keatas" tegas Max
Alina menimang nimang
" Tenang aja, saya gak akan apa apain kamu, bukan selera saya juga" tukas Max seolah tau pikiran gadis itu
what
Darah Alina mendidih mendengarnya, angkuh banget jadi orang, kalau bukan karena dia atasannya di kantor sudah pasti dia geplak, ganteng sih ganteng tapi mulutnya pedes, dikasih gratis pun Alina ogah, mending dia jomblo seumur hidup daripada punya pasangan yang mulutnya nyelekit.
" Jangan Ge Er ya pak, anda juga bukan selera saya" balas Alina tak mau kalah.
" Ya udah trus masalahnya apa?" ucap Max sambil nyelonong meninggalkan gadis itu.
Alina gregetan melihat sikap santai Max
" Mending pulang sendiri daripada disini" dengus Alina kesal, dia mengambil hapenya dari dalam tas, mau order taxi langganannya.
Gadis itu menghembuskan napas kasar begitu melihat ponselnya mati total karena lowbatt, mana gak bawa chargeran lagi. apes banget dah
Duaaaarrrrr..Duarrrrrr
__ADS_1
Alina terjengkit kaget , reflek dia melindungi kepala begitu mendengar suara petir yang bersahut sahutan, saking takutnya dia lari kedalam menghampiri Max yang masih berdiri didepan lift
" Tunggu saya ikut pak," seru Alina bergegas
Max tak menghiraukan, dia hanya diam dan masuk dalam lift yang sudah terbuka
Hap, Alina menjulurkan kakinya diantara pintu lift yang hampir tertutup, sampai didalam dia bersandar pada dinding seraya mengatur napasnya yang ngos ngosan.
" Tega banget sama saya pak"
Max mengedikkan bahu acuh hingga Alina makin dongkol dibuatnya. Gadis itupun memposisikan dirinya kesudut.
Perlahan benda persegi itu bergerak keatas, baru beberapa tingkat, tiba tiba lampu lift berkedip kedip
"Please ,,please jangan sekarang,,, no..no" racau Alina spontan. Perasaanya mendadak gak enak, kalau sudah seperti ini tandanya ada masalah dengan lift, baru aja terlintas dibenaknya, benda besi itu berhenti bergerak
" Ya Tuhan, apalagi sekarang" desah Alina nelangsa,
Max menekan tombol speaker " ada orang diluar" ucapnya berulang kali namun tak ada jawaban, tapi pria itu terus mencoba hingga terdengar suara
" Saya Security pak, kami mohon maaf ada gangguan dengan aliran listrik di lift , tunggu beberapa saat kami akan memperbaiki nya"
" usahakan secepatnya, " titah Max gusar
" baik pak"
Tubuh Alina merosot kelantai, dia sudah capek dengan semua kejadian yang terus menimpanya belakangan ini, waktu itu insiden mati lampu, sekarang lift mati, besok entah apalagi yang terjadi.
" sepertinya setiap sama kamu saya ketiban sial terus" ujar Max ikut duduk disebelahnya
Alina memandang lesu pada pria itu, kali ini dia malas berdebat , mulutnya terasa kering, tubuhnya mendadak menggigil. Mungkin efek memakai baju lembab.
Tidak mendapat respon, Max memandang lekat pada Alina, gadis itu nampak memejamkan mata sambil mendekap tubuhnya sendiri.
" Kamu kenapa Al?" tanya Max cemas
Alina menggeleng " Saya gak tau pak, tiba tiba saya kedinginan"
Max meraba kening Alina, dingin sekali, wajahnya juga pucat. Max membuka jaket yang dipakainya dan memakaikan pada gadis itu.
"Apa sekarang lebih baik" tanyanya lagi, Alina menggeleng tetap saja dia menggigil. Padahal Max sendiri sudah gerah karena suhu ruangan sempit itu mulai panas, sepertinya Alina dilanda demam.
Tanpa berpikir panjang Max membawa Alina kedalam pelukannya dan mendekap erat,
" Bersabarlah, semuanya akan baik baik aja" ucap pria itu memberi semangat.
Alina cukup sadar untuk mengerti apa yang terjadi, tapi dia membiarkan saja karena dia tidak punya pilihan, dia tau Max hanya berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya pada Alina,
anehnya gadis itu merasa nyaman dan terlindungi , rasa yang selalu ada ketika Bryan bersamanya.
***
Happy Reading ya,, jangan lupa vote dan komen
with love
Dik@
__ADS_1