
Alina menatap penuh selera pada mangkuk miliknya, ramen dengan kuah kental nan gurih ditambah topping irisan daging sapi, telur setengah matang, daun bawang dan tak lupa rumput laut nori, benar- benar sajian yang menggugah rasa lapar. Belum lagi seporsi gyoza dengan isian daging cincang, tempura udang dan segelas ocha juga tak kalah menggiurkan.
Tanpa sadar gadis itu meneguk ludah sendiri. Dia ingin melahap semuanya, lupakan soal perkataannya tidak akan makan malam. Faktanya semua yang terhidang didepan mata sungguh menggoda imannya.
Tapi Alina masih harus bersabar, karena Max sedang keluar untuk menjawab panggilan telpon. Walaupun Max sudah memintanya untuk makan lebih dahulu, tapi tidak sopan bila dia mendahului orang yang sudah mentraktirnya.
Sambil menunggu Alina memainkan ponselnya sekedar untuk melihat notifikasi di media sosial. Tiba- tiba dia terusik dengan suara tangis tertahan. Sontak dia menoleh kearah suara itu berasal.
Alina terpaku melihat seorang perempuan muda, menangis tersedu-sedu sambil mengelus perutnya di salah satu meja, sang pria yang berada didekatnya berusaha menenangkan, wajahnya terlihat kebingungan. ditambah tatapan heran para pengunjung resto membuat pria itu makin jengah.
Alina merasa kasihan, dia beranjak dari duduk dan menghampiri pasangan tersebut.
" Maaf mas, mbaknya kenapa ya?" tanya Alina ramah.
" Istri saya sedang ngidam ramen dari resto ini, tapi kata mereka, semua ramen sudah habis," jawab pria itu nelangsa.
" Iya mbak, kebetulan hari ini resto sangat ramai, dan porsi yang kami hidangkan untuk mbak tadi adalah yang terakhir," timpal gadis berbaju hitam yang ikut berdiri dekat meja mereka, dari name tag yang tersemat Alina tahu dia adalah manager resto.
" Apa tidak bisa diusahakan satu porsi aja mbak? kasihan istrinya mas ini," pinta Alina ikut berharap.
Manager resto menggeleng "Mohon maaf, kami kehabisan bahan mbak, koki nya juga sudah pulang," ungkapnya sambil menangkupkan kedua tangan didepan dada tanda penyesalan, dan Alina mengerti situasinya.
"Sayang, besok kita kesini lagi ya, hari ini kita coba ramen ditempat lain dulu," bujuk si suami dengan lembut.
Tapi istri nya menggeleng "Kamu gak ngerasain sih, bayi kita minta ramen disini mas, coba tadi kita berangkat lebih cepat, pasti gak bakal kayak gini,hiks" ucapnya berderai air mata.
Alina memahami keinginan seorang ibu hamil, masih segar diingatannya waktu Mbak Audrey hamil Zizi. Ngidamnya parah mulai dari nyolong mangga tetangga sampai cari lontong sayur tengah malam. Bayangkan gimana repotnya Mas Angga waktu itu. Belum lagi moodnya yang tidak stabil. Kalau yang menghadapi tidak sabaran pasti bakal kebawa emosi.
Si suami menghela napas perlahan, "Aku kan kerja sayang, kamu tau sendiri gimana repotnya aku belakangan ini," keluhnya memohon pengertian.
Tapi si istri ngotot tidak mau pulang, beruntung si suami sabar banget. Alina semakin tidak tega membiarkan si suami yang makin kebingungan.
" Kalau mas gak keberatan, ambil saja ramen pesanan saya," gadis itu menawarkan.
"Beneran mbak, terus mbaknya gimana?" wajah si suami berubah cerah, istrinya juga langsung terdiam dan menatap sungkan pada Alina.
" Gak usah dipikirkan, masih ada satu porsi lagi kok, atau masnya juga mau ramen?"
" Gak, gak usah mbak, satu mangkuk aja udah cukup, berapa saya harus bayar? " ucap si suami sambil membuka dompet.
" Gak usah dibayar mas, saya ikhlas," ucap Alina tulus.
Si suami mengucapkan terima kasih berulang kali, Alina meminta seorang waitress untuk membawakan ramen dari mejanya dan mengantarkan pada pasutri tersebut.
Meskipun tidak jadi makan ramen setidaknya Alina bahagia sudah membuat orang lain senang. Semua itu tak luput dari perhatian Max
"Kamu memang bidadari Al, bukan hanya cantik, tapi kamu juga memiliki hati yang tulus, betapa beruntungnya saya kalau diberi kesempatan untuk memiliki hati kamu" gumam Max berharap
Max kembali ke meja, dan duduk disamping Alina, membuat Alina heran dengan tingkah pria itu.
__ADS_1
" Kok bapak duduk disebelah saya?"
Max mengabaikan pertanyaan Alina dan menarik mangkok ramen kearahnya.
" Ramennya cuma satukan dan saya tidak mungkin makan sendiri, jadi kita semangkok berdua,"
Alina mengerti maksud Max. Jadi sedari tadi pria itu memperhatikannya.
"Kenapa dibuat repot pak, saya makan ini aja cukup kok," Alina menunjuk gyoza dan tempura.
" Saya tau dari tadi kamu ngiler melihat ramen ini, atau kamu keberatan makan bekas saya? kita bisa bagi dua dengan mangkok yang baru,"
Alina menggeleng
" Rasanya akan berbeda pak,
baiklah bapak yang menang, kita semangkuk berdua, tapi saya yang menyuapi," ujar Alina mengalah, akan menyulitkan jika ada dua pasang sumpit dalam satu mangkuk.
" Dengan senang hati," cengir Max antusias.
Tanpa banyak bicara lagi, Alina mulai menyuapi Max dan dirinya sendiri secara bergantian. Mereka makan dalam diam, Max terus memandang mata indah Alina, sementara gadis itu mengalihkan perhatian pada apapun disekitarnya sambil menetralisir jantungnya yang tak karuan.
Keputusannya makan ramen semangkuk berdua ternyata salah.
Sedekat ini dengan Max membuatnya lupa dengan segala. Mungkin orang lain akan menganggap dia mudah melupakan masa lalu, tapi tak ada yang tahu betapa takutnya dia saat ini. Takut tak mampu menolak perasaan yang mulai bersemi untuk Max dan takut kehilangan kenangan indah bersama Bryan.
" Apa yang harus aku lakukan," batin Alina gelisah.
****
Setelah keluar dari resto, Max tidak langsung mengantar Alina pulang, dia lebih dahulu mengajak gadis itu berkeliling kota.
"Al, kita mampir disitu yuk, saya penasaran ada apa aja disana," tunjuk Max pada sebuah tempat yang dipenuhi lampu hias.
" Itukan pasar malam, mau nyari apa disana pak?"
" Gak nyari apa-apa, pengen tahu aja," ucap Max semangat.
" Emang bapak belum pernah kepasar malam?"
Max menggelengkan kepala dengan santai.
Alina terperangah, sebenarnya Max ini siapa sih. Kemaren gak pernah makan pergedel, sekarang gak pernah ke pasar malam. Bukan Alina mau sombong meskipun tumbuh dari keluarga yang lumayan berkecukupan, tapi dia pernah menjajal semua hal yang berbau tradisional. Begitu juga dengan Bryan, bahkan semasa pacaran dulu mereka sering singgah ke pasar malam untuk sekedar bermain game yang ada disana, pukul kodok, lempar kaleng, naik kincir , comedy putar, lihat pertunjukan motor gila.
" Please Al, mau ya?" desak Max setengah memaksa.
Lagi lagi gadis itu mengalah, dan disinilah dia sekarang, mengikuti langkah Max menuntaskan rasa penasarannya. Mencoba semua wahana dan juga aneka permainan.
Tak lupa mereka menjajal jajanan khas dengan harga seribuan, Max terlihat sangat menikmati.
__ADS_1
Melihat tawa Max yang lepas, seketika gelar monster dan pria gunung es yang sempat tersemat pada pria itu menguap begitu saja. Siapa sangka Max bisa se childish ini.
" Makasih Al, kamu udah mau menemani saya, serius ini hari terindah sepanjang umur saya," ungkap Max begitu mereka dalam perjalanan pulang.
" Benarkah, kemana saja bapak selama ini, sampai tidak tau apa itu pasar malam,"
Max terkekeh.
Suatu saat kamu akan tau Al, tapi tidak sekarang.
" Ngomong- ngomong kamu kok jago banget main game disana," ucapnya sambil melirik hadiah-hadiah yang Alina menangkan, saking banyaknya yang mereka dapatkan, jok belakang sampai penuh oleh boneka dengan berbagai ukuran
"Saya sering kesana bersama seseorang, dia yang sudah mengajarkan saya," sahut Alina pelan.
Max tercekat, sepertinya dia salah. Apa yang dia lakukan ternyata mengantar gadis itu kembali pada memori masa lalunya. Dia tahu siapa orang yang dimaksud.
Bodoh, apa yang sudah kau lakukan Max
" Lalu, hadiahnya mau diapakan, jangan bilang kamu masih main boneka, " Max mengalihkan pembicaraan.
Alina tersenyum,
" Rencananya saya mau kasih ke anak tetangga pak, di sekitar rumah banyak anak kecil,"
" Ide yang bagus, kalau kamu butuh bantuan untuk membagikan saya siap membantu,"
Alina memutar bola mata, "gak usah lebay pak,"
Beberapa kali Alina tampak menguap, wajar saja sekarang sudah lewat tengah malam. Tak berapa lama gadis itu pun terlelap, mungkin dia lelah. Max kembali didera perasaan bersalah.
Segera dia menepikan mobilnya, dengan perlahan dia menurunkan kursi Alina,
"Kamu pasti capek banget, makasih udah membuat saya bahagia Al, meskipun saya tahu kebahagiaan ini semu, tapi saya gak akan melupakan hari ini," ujar Max lirih.
Bukan hal yang sulit baginya untuk mengatakan cinta, tapi Alina terlalu rapuh, perasaan gadis itu pada tunangannya terlalu besar dan dia tidak ingin memaksa Alina untuk memilih. Biarkan saja semuanya mengalir sembari dia mengukir jejak kenangan baru di memori gadis itu.
Lagipula dia masih berhutang janji, dia harus membantu gadis itu dulu untuk mengungkap kasus Bryan.
Max Kembali menjalankan mobilnya membelah kesunyian malam di jalanan ibu kota.
" Hati, tetaplah menanti, meski lelah menghampiri, biarkan cinta bersemi meski asamu tak kunjung bertepi, biarkan malam jadi saksi ketika jiwamu merindu tanpa henti"
^^^Maxime Arlingga Yogatama^^^
***
Happy reading guys, jangan lupa vote dan komen, follow juga akun author dan yang paling penting tap love biar masuk dalam cerita favoritmu dan tidak ketinggalan updatean..
Love u all
__ADS_1
Dik@