Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
42. Malam Naas


__ADS_3

#Bijaklah dalam membaca part ini ya#


***


"Temani saya disini,"


Orion membanting gelas kosong yang sedang dia pegang, membuat orang-orang yang berada didekat meja bar bergerak menjauh karena tak ingin kena getah jika nantinya pria itu mengamuk. Sang bartender pun hanya bisa menghela napas, tidak berani menegur. Orion adalah pelanggan tetap mereka, pengaruhnya sangat besar diclub ini, lagipula pria itu selalu bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuatnya, tak segan dia mengeluarkan banyak tips sebagai ganti rugi. Sang bartender hanya perlu meminta cleaning servis segera membereskan pecahan kaca agar tidak melukai pengunjung lainnya.


Tak terhitung berapa sloki yang sudah mampir ditenggorokannya, namun kalimat itu terus saja berdengung dikepala. Bayangan kejadian malam itu tidak kunjung pergi dari otaknya.


Entah kenapa dia menjadi begitu kejam. Seburuk-buruknya seorang Orion tidak pernah dia ingin memperkosa seorang gadis. Baginya pergumulan panas harus diawali dengan rasa suka bukan dengan paksaan. Setidaknya ada dua pihak yang diuntungkan.


Mengingat semua itu mendadak dia dihantui perasaan bersalah, satu perasaan yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Bahkan Max yang notabene mempunyai pengaruh kuat dalam keluarga saja tidak bisa mengintimidasinya. Tapi gadis itu berhasil mempengaruhi pikirannya beberapa waktu terakhir. Membuat dia terus didera penyesalan yang tak berkesudahan.


Kembali pada malam naas tersebut.


Toleransi tubuhnya terhadap alkohol sudah tidak diragukan lagi, meskipun dia terlihat teler tetap saja ada setitik kesadaran yang tersisa pun ketika gadis itu memapahnya kekamar. Orion masih teringat bagaimana aroma wangi dari rambut legam miliknya, siapa namanya? Gla, Gladys.


Dibanding Alina, Gladys masih kalah cantik. Tapi gadis itu manis dipandang, dengan kulit langsat bersih khas wanita indonesia. Tubuhnya cukup ideal tidak terlalu tinggi, mungil dan menggemaskan.


Naluri kelelakian Orion tiba tiba merasa tertantang untuk mendapatkanya. Dia tidak memerlukan alasan karena mendadak sesuatu dibagian tubuhnya menuntut pelepasan. Pengaruh anti-depresan dari minuman keras yang dikonsumsinya memberi dia rasa rileks dan tanpa canggung meminta gadis yang sudah menolongnya itu untuk menemani.


" Maaf saya tidak bisa tuan, saya harus segera kembali ke pantai, " gadis itu menolaknya membuat nyali Orion semakin mencuat. Dan sebelum Gladys berbalik badan dengan sigap Orion meraih pintu dan menguncinya.


Gadis itu terkesiap, tapi tetap berusaha tenang.


" Apa yang anda lakukan, jangan macam-macam atau saya akan teriak," ujarnya masih dengan nada sopan.


Bukannya takut justru Orion terbahak-bahak dengan tubuh sempoyongan dia mendekati Gladys, reflek gadis itu juga memundurkan tubuh hingga tersudut didekat ranjang.


" Kau sangat pintar mencari posisi nyaman sayang, aku memang lebih suka melakukannya ditempat tidur,"


Gadis itu semakin gelisah. Matanya bergerak liar memikirkan apa yang akan dilakukan sebelum akhirnya berteriak menjadi pilihan.


" Tolong, tolong!!"


Orion bukannya panik , dia malah terkekeh. Gadis itu tak kehilangan harapan dan terus berteriak sambil berusaha kabur, tapi kemanapun Gladys mengarahkan langkah Orion berhasil menjegalnya.

__ADS_1


Berulang kali Gladys menyuarakan permohonan namun tak ada tanda akan datangnya bantuan.


" Percuma kau berteriak sayang, kamar ini kedap suara, jadi simpan saja tenagamu untuk kesenangan yang akan datang," ucap Orion dengan senyum smirk.


Airmata Gladys bercucuran , dengan tatapan sendu dia memelas untuk dilepaskan. sayangnya akal sehat Orion sudah diselimuti nafsu. Pria itu tidak menggubris dan dengan satu sentakan dia mendorong Gladys hingga terlentang diatas ranjang.


Orion mendekatkan wajahnya, Gladys terus memberontak tapi kalah tenaga karena Orion mencengkeramnya dengan kuat. Akhirnya gadis itu pasrah ketika bibir Orion mencium bibirnya dengan gerakan lembut.


Gladys terdiam, pikirnya Orion akan memperlakukannya dengan kasar, faktanya pria itu sangat pandai memainkan peran. Pelan tapi pasti Gladys pun hanyut terbuai kelembutan yang Orion berikan. Orion tersenyum Gladys mulai tenang. Siasatnya berhasil, nyaris tanpa perlawanan lagi, Orion berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Menstimulasi saraf-saraf sensitif gadis itu hingga tanpa sadar ikut mendesah nikmat begitu tangan Orion bergerilya disepanjang tubuh polosnya.


Orion mengerang puas bersamaan dengan gadis itu yang juga menerima serangan dahsyat yang melemahkan tulang -tulangnya. Malam itu begitu melelahkan bahkan tak cukup satu kali, mereka melakukan lagi hingga subuh menjelang.


Dirayu oleh hasrat Gladys tersadar sudah menyerahkan harta berharganya pada orang yang baru saja dikenal, dia menangis melihat bercak darah diatas seprai, dalam diam merutuki pengkhianatan tubuhnya sendiri. Dia masih tak percaya bagaimana dia yang semula berontak diam saja ketika gerakan konstan itu mengantarnya pada rasa yang tak pernah dia bayangkan. Rasa yang membuat persendiannya melemas.


" Maafkan saya, " hanya itu yang Orion ucapkan saat gadis itu beranjak hendak kembali kekamarnya setelah memasang kembali pakaiannya.


Gadis itu tidak menggubris dan terus melangkah dengan tertatih karena rasa nyeri yang masih bersarang di inti tubuhnya.


" Anggap malam ini tidak pernah terjadi, bukankah kau juga menikmatinya," Orion tanpa sadar memperlihatkan keegoisannya.


" Tentu saja, terima kasih untuk semuanya, " sarkas Gladys tanpa memandang Orion. Tidak ada gunanya berdebat toh memang kenyataan dia juga terlena, lalu masih pantaskah dia disebut korban? karena perbuatan itu tidak hanya satu kali, karena kali kedua dan ketiga dia juga berperan aktif. Meskipun tidak pengalaman tapi mengandalkan naluri dan sedikit bantuan Orion, mereka berhasil membuat malam itu menjadi begitu panas.


Gadis itu menepati janjinya, sampai saat kepulangan mereka tak ada yang berubah. Gladys tetap bersikap biasa.


Orion menghembuskan napas, meletakan sloki terakhir dengan lembaran ratusan ribu dibawah gelas kristal tersebut.


" Masih sore bro, " sapa salah seorang temannya ketika Orion melangkah keluar club, pria itu hanya melambaikan tangan dan berlalu menuju parkiran.


Dia harus menemui gadis itu, tidak tahu untuk apa yang jelas dia merasa perlu memastikan tak ada jejak yang dia tinggalkan. Mengingat malam itu membuat dia tidak bisa mengontrol diri dengan benar, benihnya tumpah dirahim gadis itu. Terlalu dini untuk membicarakan hal itu mengingat kejadiannya masih hitungan hari. Tapi dia tidak mau kecolongan, dia pernah membaca artikel kalau wanita bisa hamil meskipun belum sebulan berhubungan.


Dia bukannya tidak mau bertanggung jawab hanya saja dia tidak siap dengan komitmen pernikahan, dia tidak mau hidupnya terkekang dibawah bayang-bayang istri, lagipula hanya Alina yang dia inginkan. Walau dia tahu pasti kalau Max tidak akan membiarkannya, tapi dia percaya sebelum janur kuning melengkung dia masih punya kesempatan.


Terdengar jahat memang, tapi dia tidak bisa melupakan perasaannya pada Alina, gadis yang berhasil mencuri hatinya ,gadis yang membuat dia tidak berselera untuk melakukan one night stand setelah pertemuan pertama. Pengecualian terhadap apa yang terjadi diantara dia dan Gladys. Dia yakin apa yang dia lakukan pada Gladys sekedar pelarian, kekecewaan pada kenyataan akan hubungan Max dan Alina.


" Kasihan banget Gladys, lalu gimana keadaannya sekarang nak?" suara Widyawati yang sedang berbicara dengan Max diruang tamu membuat Orion mengurungkan langkahnya memasuki mansion, diam-diam dia menguping pembicaraan itu mendengar nama Gladys disebut.


" Sudah lumayan stabil mom, tinggal menunggu pemulihan, Alina akan berusaha bicara dengan gadis itu, semoga Gladys mau bercerita"

__ADS_1


"Apa sebelumnya Gladys tidak pernah terbuka dengan kondisinya,"


Max menggeleng


" Yang aku tau Gladys hanya terbuka dengan sahabat-sahabatnya tentang keluarganya, mungkin ada masalah lain," Max tidak mungkin cerita sesungguhnya tentang Gladys.


Widyawati mengangguk mengerti,


" Kalau Alina membutuhkan psikolog untuk membantu Gladys, sarankan saja psikolog rekanan kita, untuk biaya biar kita yang menanggung," timpal Hardi yang sedari tadi diam mendengarkan.


Apa , psikolog?


Jangan-jangan Gladys depresi karena peristiwa naas itu. Baru saja dia berpikir hendak berdamai dengan Gladys kini dia dihadapkan pada keadaaan yang sulit.


Bagaimana kalau Gladys menceritakan semua perbuatannya pada psikolog dan mereka di paksa menikah. Tidak -tidak , Orion menggelengkan kepala. Menikah baginya cukup satu kali dan itu akan terjadi jika dia mendapatkan gadis yang dicintainya, kalau tidak bisa lebih baik dia melajang seumur hidup dan kembali menjalani kehidupan bebasnya.


" Mommy mau menjenguk Gladys bolehkan Max?"


" Ya udah, perlu aku antar mom?" Tawar Max


" Gak usah nak, biar mommy pergi bareng sopir aja, besok kan jadwal kamu dan papi padat,"


Max mengangguk , ada beberapa rapat penting yang dijadwalkan Mbak Utami untuk dirinya dan papi. Wanita itu akan mengamuk kalau dia membatalkan pertemuan.


Karena sudah larut Max memutuskan menginap di mansion, dia pamit kekamar pada orangtuanya begitu ada telpon dari Alina, pasti gadis itu khawatir karena sedari sampai dirumah dia tidak lansung mengabari.


Sementara itu Orion memutuskan masuk lewat pintu dapur, dia tidak ingin orangtuanya memergoki kondisinya, dia terlalu lelah untuk menerima omelan sekarang ditambah lagi dengan perasaan yang sedang tak karuan. Haruskah dia menemani mommy untuk menjenguk? disatu sisi dia ragu kalau memang Gladys depresi karena dirinya pasti gadis itu histeris melihat kehadirannya.


" Orion ngapain kamu mengendap-endap begitu,"


***


Oh ya buat readers tersayang jangan lupa follow akun author , dan juga Instagram @Dikatsabitha


Terus berikan like dan vote dan comments ya,


Makasih😍

__ADS_1


__ADS_2