
Wajah sumringah yang ditampilkan Alina semenjak keluar dari kamar sampai di resto mendadak sirna. Gadis itu tergugu manakala mendapati pemandangan yang membuat hatinya mencelos seketika. Isakan tertahan terdengar begitu kentara membuat dia tidak punya keberanian untuk menghampiri mereka, gadis itu memutuskan mengamati saja dari tempatnya berdiri.
Max memeluk Adinda yang mendekapnya erat, wanita hamil itu menangis tersedu-sedu di dada bidang pria itu.
" Maafkan aku kak, aku yang membuat keluarga ini terpecah belah, aku tidak tahu diri, " Adinda sesenggukan.
Max menggeleng, sebelah tangannya membelai surai panjang Adinda dengan lembut.
" Kamu gak salah, kakak yang harusnya minta maaf, andai saja kakak tidak egois mungkin semua penderitaan ini tidak akan kamu alami, "
Semua orang yang ada disana ikut meneteskan air mata, entah situasi apa yang sedang mereka hadapi, tapi Alina merasa ini ada hubungannya dengan keanehan yang dia rasakan kemaren. Om Hardi yang sebelumnya dingin pada Adinda, kali ini melunak dia tidak segan ikut mengusap rambut wanita yang masih berada dalam dekapan putranya itu.
Setelah Adinda tenang, Max merenggangkan tubuhnya, berganti dengan tangan yang kini merangkum wajah wanita itu, membantu Adinda menyeka buliran bening disana.
" Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Saatnya kita membuka lembaran baru dek, kami gak mau kehilangan jejak kamu lagi," tegas Max.
Mendengar pernyataan sang kakak, menumbuhkan harapan dihati Adinda.
" Itu berarti aku sudah dimaafkan dan diterima kembali? ujarnya memastikan.
" Tentu saja sayang, dari dulu kamu adalah bagian dari kami, bagaimana mungkin kami mengabaikan kamu," bukan Max tapi Widyawati yang menjawab.
Raut Adinda semakin berbinar, tidak menyangka kepulangannya justru membawa aura positif pada hubungan yang sempat retak.
"Ngomong -ngomong udah berapa bulan?" Max mengusap perut buncit wanita itu.
" Sudah mau delapan bulan kak,"
" Syukurlah, semoga kamu dan baby sehat sampai lahiran,"
Adinda mengangguk senang.
" Jadi kapan kamu akan mengenalkan suami kamu sama keluarga besar nak," tanya Tante Diana lagi.
" Secepatnya tan, kemarin dia masih ada kerjaan, lagipula Dinda gak mau merusak suasana," Adinda merundukkan wajah bersalahnya.
" Kamu berpikir terlalu jauh Din, kami justru senang kalau bisa mengenal suami kamu, itu artinya kamu masih menganggap kami," Hardi menasehati.
Adinda tersenyum nelangsa, kalau dia tau akan diterima sehangat ini, mungkin dia akan memaksa Bryan ikut bersamanya.
Suasana haru biru terus berlangsung, membuat Alina bingung antara melanjutkan ke resto atau kembali kekamar. Dia tidak ingin mengganggu reuni keluarga tersebut. Setelah berpikir beberapa saat, gadis itu pun membalikkan tubuhnya hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat melihat Orion berdiri beberapa kaki dibelakangnya.
__ADS_1
Orion menatap Alina dengan pandangan menyelidiki, membuat gadis itu salah tingkah.
" Mau kemana Al?"
" Eh, mm, aku meninggalkan sesuatu dikamar mas, aku akan mengambilnya sekarang," jawab Alina kikuk.
Orion tersenyum tipis, Dia bukannya tidak tahu kalau gadis itu hanya sedang mencari alasan. Dia sudah cukup lama memperhatikan Alina, dia mengerti gadis itu sungkan untuk bergabung dengan keluarganya terlebih menyaksikan pemandangan yang juga membuatnya terbawa perasaan. Dia tidak suka airmata, makanya dia memutuskan menjadi penonton seperti yang Alina lakukan.
" Mau barengan?" Tawar Orion mengabaikan penjelasan gadis itu.
"Maksudnya?" Alina berpura-pura tidak mengerti.
" Gak usah tidak enak hati, mereka memang lebay, kalau nangis suka jamaah," ucap Orion lagi membuat Alina tidak bisa mengelak, gadis itupun berjalan mengekori Orion.
Tadinya Orion merasa ketar-ketir, mengingat apa yang terjadi semalam antara dia dan Gladys. Dia pikir Gladys akan menceritakan kejadian itu pada sahabatnya tapi tak ada yang berubah dari sikap Alina padanya. Orion menyimpulkan tidak ada masalah. Pasti Gladys sudah memaafkan perlakuannya.
***
"Nah itu yang ditunggu udah datang," tunjuk Diana pada dua sosok yang melangkah beriringan, Max yang posisinya membelakangi menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Alina, meskipun terselip kecemburuan yang terbersit begitu saja, bagaimana bisa Orion bersama Alina, setahunya posisi kamar mereka tidak searah.
Max lansung beranjak dari duduk begitu gadisnya sudah memasuki resto utama yang pagi ini dibooking secara private oleh keluarganya, untuk tamu yang lain ditempatkan diresto lainnya.
Tanpa malu Max lansung merengkuh gadis itu, memeluknya erat seperti orang yang sudah lama tak bersua. Alina sedikit sesak oleh perlakuan Max yang dirasa berlebihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Max memang selalu berbuat semaunya.
" Kamu apa-apan sih sayang, banyak orang disini tau,"bisik Alina protes. Max hanya menanggapi dengan senyuman menarik salah satu kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk.
" Tasya dan Gladys mana sayang, kok mereka gak ikut?" tanya Widyawati.
" Mereka masih tidur tan, Alina gak tega bangunin,"
" Ooh pantes , Aira dan Vian juga gak ikut sarapan, kalau gitu nanti minta waitress untuk mengantar makanan mereka kekamar,"
" Iya tan,"
Selesai sarapan pagi, Max mengajak Alina berjalan dipinggir pantai, langit cerah pagi tadi berubah muram, sepertinya bakal turun hujan. Namun tidak menyurutkan langkah keduanya untuk terus bergandengan. Menikmati deburan ombak yang menyentuh kaki telanjang mereka.
Sejujurnya Alina ngantuk berat, tapi dia mencoba bertahan, karena tidak ingin Max kecewa.
" Kenapa tiba-tiba ada disini, bukankah seharusnya kamu ada di Jerman," Alina menanyakan hal yang sedari tadi menggelayut dipikirannya.
" Projectnya ditunda beberapa bulan kedepan,"
__ADS_1
Alina mengerti, " Kalau gitu kenapa gak tahun baruan disini aja,"
" Maunya begitu sayang, tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," kilah pria itu dengan tenang. Dia sudah mempersiapkan banyak alasan. Belum saatnya Alina tau soal Bryan, karena masih ada yang menjanggal pikirannya, dia ingin mengetahui motif Bryan meninggalkan Alina dan menikahi wanita lain karena yang dia tahu Bryan itu tipikal pria setia.
" Udah tau banyak kerjaan malah ngeyel kesini, aku kan nanti sore udah balik," sungut Alina tidak suka karena Max menggampangkan semua urusan hanya untuk menemuinya.
" Kok kamu marah, gak suka ya aku kesini," Max bingung.
" Bukan begitu, yang kamu lakukan itu mubazir tau gak, coba kamu bayangkan berapa avtur yang terbuang percuma hanya untuk memenuhi keinginan sesaat kamu, kita itu harus mendukung program pemerintah untuk hemat energi, kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli," cerocos Alina panjang lebar seperti orang yang sedang berkampanye.
Max bahkan tidak bisa mencerna apa yang Alina katakan, apa hubungannya coba antara hemat energi dengan rindu yang dia rasakan.
Kalau seseorang sudah didera rindu, jangankan ke bali , ke bulan aja bakal dijabanin, kalau perlu bulannya juga dibawa pulang. Halah kok malah gak nyambung.
Lagian Alina sih, perkara avtur aja bawa-bawa pemerintah, susah kalau pacaran dengan gadis yang mana pikirannya dipenuhi oleh rumus dimensi balok dan dimensi penampang kolom, lah kok makin ngawur ini.
Kembali pada pasangan yang tengah dimabuk asmara, saking mabuknya semua disangkutpautkan dengan rasa.
" Kamu keberatan kalau aku kesini?" ungkap Max dengan ekspresi serius sambil mensedekapkan kedua tangannya didepan dada, menatap Alina dengan tajam.
" Bukan begitu Max, aku hanya gak mau kamu menelantarkan pekerjaan hanya demi aku, "
" Gak ada yang terlantar, sekarang libur nasional bukan?dan aku berhak berada dimanapun, termasuk menemui kekasihku sendiri, tapi sepertinya kamu gak menginginkan kehadiranku," sengit Max membuat Alina tercekat
" Bukan gitu sayang" aduh kenapa jadi ribet gini sih, batin Alina nelangsa.
Benar kata Bang Haji , " begadang jangan begadang, kalau tiada aturan, begadang boleh saja, kalau ada perlunya."
Efek kurang tidur membuat sinkronisasi antara otak dan perkataanya tidak sejalan, ditambah lagi rasa kenyang karena baru saja sarapan pagi. Lengkap sudah, dia kehilangan konsentrasi dan membicarakan hal yang tidak perlu untuk diperdebatkan.
Max pergi meninggalkannya dengan perasaan kesal, sementara Alina terdiam ditempat tanpa melakukan apapun.
Sadar akan kesalahannya, Alina berpikir cepat untuk membujuk Max . Tapi otaknya benar -benar tidak bisa kompromi, yang muncul malah bayangan bantal dan kasur yang terasa empuk. Dengan gontai dia berjalan menuju cottage.
Saat ini yang dia perlukan adalah tidur beberapa saat. Setelah bangun nanti barulah dia akan menemui Max dan memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi.
***
Jangan lupa tinggalkan kan jejak dan berikan vote untuk mendukung author biar makin semangat untuk menyelesaikan cerita ini.
Makasih.
__ADS_1
With Love
Dik@