
Max berusaha mendengarkan presentasi yang disampaikan oleh salah seorang rekanan mereka tentang pengadaan alat berat yang akan digunakan untuk project jalan tol. Namun Max tidak sepenuhnya memperhatikan, pikirannya tertuju pada sang istri yang sudah berangkat menuju kota kembang. Seperti yang direncanakan sebelumnya. Alina berangkat bersama Gladys dan Tasya yang sengaja mengambil cuti. Moza dititip pada eyangnya, ibu Gladys karna Mommy harus menjaga Adinda.
Max gelisah, ada firasat tak biasa yang dia rasakan. Bahkan dari semalam dia begitu over posesif pada Alina. Max sempat meminta Alina untuk membatalkan keberangkatan tentu saja Alina menolak karena sudah mengatakan pada yang punya hajatan kalau mereka akan datang, lagipula Gladys dan Tasya sangat antusias dengan perjalanan ini, Alina tidak tega mengecewakan mereka. Dengan berat hati, Max menerima keputusan Alina, dan sebagai ganti dia mengajukan beberapa persyaratan yang tak boleh dilanggar istrinya.
" Gak boleh senyum sama laki-laki"
"Okey"
" Make up harus tipis"
"Perasaan aku gak pernah menor deh sayang" protes Alina, tetap saja dia mengangguk mengiyakan supaya Max senang.
" Pake baju yang sopan, dress panjang tertutup, leher gak boleh keliatan, rambut gak boleh diikat, bla... bla.. "
Dan sederetan aturan lain yang membuat Alina pusing tujuh keliling. Max seperti ibu- ibu yang protektif pada anak perempuannya, padahal dia cuma pergi satu hari.
" Kalau gitu aku pake masker aja sekalian, nanti aku telp Mbak Sherly untuk meminjamkan salah satu khimarnya. "ucap Alina begitu Max selesai. Tak ada maksud apapun dalam perkataannya, hanya berusaha memenuhi keinginan Max. Pakaian yang tertutup dari atas kebawah, dan dia tidak memiliki baju yang seperti itu. Kebanyakan dress yang dia punya terbuka di beberapa bagian, cuma masih dalam batas sih menurutnya.
Max tertawa, bukan soal masker ataupun khimar tapi lebih kepada aturan berpakaian yang dia buat untuk Alina memang sedikit ketat .Tapi kalau suatu saat istrinya siap untuk menutup aurat dia tidak keberatan malah akan sangat mendukung karena dengan begitu dia tidak perlu khawatir miliknya dilihat orang lain.
" Belum beberapa jam pisah, udah galau aja Max, Alina cuma keluar kota boss, bukan ke bulan! " protes Utami begitu meeting selesai. Wanita itu menyerahkan notulen yang sudah dia ketik rapi.
"Kayak gak pernah mengalami aja mbak, dulu awal mbak nikah, Mas Bagus sering banget nanyain kamu kalau lagi lembur, takut banget istrinya kenapa-napa" Timpal Adrian yang tiba-tiba nongol.
" Eh tumben kesini, apa kabar si itu? " todong Utami mengabaikan ucapan Adrian karena malu. Max sekarang memang persis suaminya dulu, dia meledek Max hanya ingin mencairkan suasana hati boss nya itu.
Adrian mengerutkan kening,
" Si itu? itu siapa kalau ngomong yang jelas mbak! " ucap Adrian bingung
Utami tertawa, " Ituloh, kata si boss kamu lagi mengejar cinta sejati, siapa ih orangnya, kalian ini bikin aku penasaran saja. "
Adrian sedikit terkejut, dia memandang Max lama. Bagaimana Max bisa tahu kalau saat ini dia sedang mendekati seseorang, sementara dia belum mengatakan apapun.
" Kenapa kau menatapku seperti itu, " ujar Max tanpa rasa bersalah.
"Sejak kapan seorang Max suka meng-ghibah, " sindir Adrian.
Max berdecak, " Aku hanya menebak, Mbak Utami nya aja yang seriusan, " ucapnya berkilah.
Mbak Utami mendengkus, karena merasa dipermainkan padahal dia udah kepo akut sama calon Adrian.
Adrian terkekeh, " Okay aku percaya,"
__ADS_1
" Kalian ini gak sopan sama orang yang lebih tua, malah becandain, kirain serius kamu lagi ada gebetan Dry, ya udah aku makan siang dulu kalau ada apa-apa telp aja Max! " titah wanita itu berlalu.
" Aku bossnya mbak! " sarkas Max kesal
" Bodo! " seru Utami menghilang dibalik pintu.
Sementara itu Alina dan kedua sahabatnya sedang berada di rest area. Mereka baru saja sampai beberapa saat lalu setelah melewati kemacetan yang lumayan membosankan dibeberapa pintu tol.
Sambil menunggu pesanan datang, ketiganya tenggelam dalam ponsel masing-masing. Membalas pesan masuk yang sedari tadi pending.
Drrt,, drrt
Ponsel Alina berdering, panggilan video call dari Max sesaat setelah dia mengirim foto selfie dirinya untuk menunjukkan keberadaanya sekarang.
" Sayang, kangen!" ucap Max manja membuat Gladys dan Tasya takjub mendengar rengekan pria yang selalu memasang ekspresi dingin itu.
" Baru juga beberapa jam sayang, gimana kalau berhari-hari gak ketemu, " ucap Alina menertawakan tingkah gemas suaminya itu. Sejujurnya dia juga gak bisa berlama-lama jauh dari Max. Saat pria itu dikantor saja Alina hampir tiap jam menelponnya.
" Gak bisa, lain kali kalau kamu berangkat aku harus ikut! "
" Kan kemaren udah aku ajak sayang, kamu gak mau karna ada kerjaan, ".
" Biar Adrian yang handle, tau dia gak sibuk aku wakilkan aja pertemuan ini, aku nyusul ya sayang, kamu tunggu di sana! "
" Enak aja main nyusul, aku lagi ada kerjaan penting juga, lagipula meeting sore ini harus kamu, Om Hardi kan juga di luar kota, gimana sih! " protes pria itu membuat Max memasang tampang kesal, bisa-bisanya memarahi boss di depan istri, untung sahabat.
" Tuh dengerin Adrian sayang, kasian kalau dia meng-handle semua sendiri, bukannya dia juga ada tanggung jawab lain, " ucap Alina lagi
" Kalau gitu aku menyusulnya besok, sekalian kita honeymoon, ke New York batal, lembang pun okey lah, kita ke villa mommy " Max memberi ide.
" Big no sayang, besok pagi kami harus balik ke Jakarta, Gladys dan Tasya banyak urusan. "
" Kan Tasya bisa bawa mobil kamu sayang, biar aja mereka balik berdua! " Max bersikeras
" No way honey, kita sudah membicarakan ini semalam, nanti kalau semua urusan udah kelar baru kita honeymoon , ok? udah sayang aku kebelet mau ke toilet, bye, i love you, " Alina mengakhiri pembicaraan dan mematikan sambungan sebelum Max terus meneror nya.
Gladys dan dan Tasya terbahak mendengar percakapan suami istri baru itu, meskipun sudah tahu bagaimana bucin nya seorang Max, tapi tetap saja merasa lucu melihat pria itu begitu tunduk pada Alina.
" Aku kebelakang dulu ya, ada panggilan alam, " ucap Alina pamit ke Gladys sambil membawa tas selempang.
" Kamu gak papa sendiri? " tanya Gladys, gak mungkin meninggalkan makanan yang sudah terhidang begitu saja sementara Tasya sedang pergi mengisi paket data yang habis.
" Gak papa, " Alina pun melenggang pergi. Sampai di dalam toilet, suasana sangat sepi tidak ada seorangpun di sana, dengan segera dia menuntaskan hajatnya. Tak lama dia selesai. Begitu membuka pintu dia mendapati dua orang pria mengenakan masker dan berbadan besar berdiri didepan.
__ADS_1
Alina sedikit terkejut, ada urusan apa pria-pria itu didepan toilet wanita, didalam juga kosong, tidak mungkin mereka menunggu seseorang. Alina bergidik ngeri.
" Permisi " ucap Alina sopan hendak berlalu
Tanpa disadari kedua pria itu memberi kode satu sama lain, dengan cepat salah seorang diantara mereka mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku dan membekap wanita cantik itu.
Alina memberontak sekuat tenaga, sayang usaha nya sia-sia karena dalam sekejap semua menjadi gelap.
Gladys dan Tasya belum menyadari apa yang terjadi, keduanya masih asyik mengobrol sambil menikmati makanan, hingga selang beberapa menit barulah mereka tersadar, Alina sudah terlalu lama pergi.
Tasya mencoba menghubungi ponsel Alina, tapi tidak ada jawaban, khawatir terjadi sesuatu, mereka berdua bergegas ke toilet.
Keduanya shock mendapati Tas Alina tergeletak dilantai depan pintu masuk dengan isi yang berserakan, Gladys segera mengambil benda-benda itu dan berteriak memanggil nama sahabat sekaligus iparnya itu.
" Alina, Al" , satu persatu pintu toilet dia dorong, semuanya kosong.
Sementara Tasya meminta tolong bagian keamanan untuk menanyakan. Tak ada yang tahu dan juga melihat Alina kemana.
Mendengar kegaduhan yang terjadi,seorang anak kecil, penjual asongan menghampiri.
" Kakak cari temannya ya? " tanya bocah kecil itu.
" iya dek kamu lihat gak," Gladys menunjukkan foto Alina dari ponselnya.
" Aku tidak yakin kak, cuma aku lihat dua orang memapah perempuan dan membawanya dalam mobil hitam, "
" Apa perempuan itu pakai celana hitam dan atasan putih" Gladys memastikan
" Iya kak, sepertinya kakak itu tidak sadarkan diri, "
Gladys dan Tasya lemas mendengar penuturan bocah kecil itu.
" Kita harus gimana Dys, hiks" Tasya terisak, Gladys sendiri sudah meneteskan airmata sejak tadi. Dengan ragu dia menghubungi suaminya.
" Ya sayang, " sapa Orion
" Mas, ... hiks" Gladys takut gimana menjelaskan.
" Sayang, kamu kenapa nangis, semuanya baik -baik aja kan? pindah ke video call ya" ucap Orion cemas.
" Alina menghilang mas! "
***
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komen ya🥰