
Alina menggerakkan kepala begitu indera penciumannya membaui aroma khas milik seseorang. Dia meringis pelan saat matanya sulit dibuka.
"Alina, sadarlah aku disini sayang," ucap suara yang tak asing ditelinganya. Suara yang beberapa bulan ini dia rindukan.
Gadis itu terus berusaha mengerjapkan matanya, samar-samar dia melihat bayangan seseorang yang tersenyum padanya.
" Bry, itu kamu?" tanya Alina tidak yakin.
" Iya, ini aku sayang, "
Alina sontak menyempurnakan penglihatannya dan detik itu juga dia terisak mengenali seseorang yang sudah duduk ditepi tempat tidur.
" Hei kok malah nangis," Bryan menarik tangan Alina perlahan hingga gadis itu bangun dari posisi berbaring dan langsung merengkuhnya dalam pelukan.
" Kamu kemana aja Bry, aku takut hiks,"
Bryan mengusap rambut Alina sambil mengecupi puncak kepala gadis itu.
" Aku gak kemana- mana sayang, aku disini selalu ada di dekatmu,"
Alina melepaskan diri dan beralih menatap Bryan seksama. Mencoba memastikan kalau yang dia alami sekarang nyata adanya. Namun senyuman Bryan melunturkan segenap keraguannya.
Hanya saja peenampilan pria itu berbeda dari biasa, wajahnya yang selalu bersih sudah ditumbuhi brewok, sepertinya sudah lama Bryan tidak bercukur. Walaupun begitu tidak mengurangi ketampanan alami yang dimilikinya.
"Maafkan kami Bry, sudah menganggap kamu meninggal, Aku hampir gila karenanya tapi aku senang semua itu tidak benar, kamu masih hidup Bry, kamu ada disini, " ucap Alina berbinar bahagia.
Bryan mengangguk dan mengusap sisa airmata yang ada di wajah gadis itu.
" Aku disini sayang selalu disini,"
Alina menarik napas lega, berarti selama ini dia cuma bermimpi.
Gadis itu kemudian beranjak dari duduk sambil menarik tangan Bryan agar mengikutinya.
" Kamu mau ngapain sayang?"
Alina berdecak, pasti tunangannya itu lupa kalau hari ini mereka akan menikah. Gadis itu melirik ke jam dinding, masih jam 04.00 dini hari, beruntung dia tidak terlelap karena mimpi buruk itu.
" Kamu lupa ya, kita harus bersiap-siap kalau tidak mau terlambat ke pernikahan, kamu juga harus mencukur wajahmu yang brewok itu. Sangat aneh perasaan semalam masih belum terlalu panjang, mungkin karena hormon kali ya, atau aku yang tidak terlalu memperhatikan," cerocos Alina panjang lebar.
Bryan menyentil ujung hidung Alina dengan gemas. Alina selalu saja cerewet kalau sudah dilanda kepanikan seperti sekarang.
" Aku akan bersiap nanti, aku datang kesini cuma ingin memberi tahu kamu sesuatu,"
Alina mengerutkan kening,
Saking bahagianya melihat Bryan, dia sampai lupa kenapa Bryan ada disini subuh buta dan bagaimana cara dia masuk kedalam kamar. Jangan bilang dia memanjat jendela lagi. Tapi bukan itu yang perlu dia pikirkan. Ekspresi serius Bryan membuatnya deg-degan.
"Kamu tahu, aku mencintaimu Al, bagiku kamu adalah segalanya," Bryan memberi jeda sejenak .
" Tapi sekarang situasinya berbeda, kamu tetap harus melanjutkan hidup meskipun tanpa aku, aku sudah mengambil jalanku, sekarang giliranmu," lanjutnya sambil menggenggam tangan Alina.
Gadis itu tidak mengerti arah ucapan Bryan.
"Maksud kamu apa sih sayang, jalanmu adalah jalanku, bukankah itu yang selalu kamu ucapkan,"
" Nanti kamu juga akan mengerti dengan sendirinya, yang pasti jangan jadikan kenangan kita membuat kamu berhenti ditengah jalan, teruslah melangkah karena jalanmu masih panjang, jika suatu saat kita bertemu lagi, maafkan aku Al, jangan pernah membenciku,"
Alina tercekat, lidah nya mendadak kelu, Dia hanya bisa terdiam. Bryan mengecup kening Alina "Aku mencintaimu," bisiknya lembut lalu melepaskan genggaman tangan mereka dan melangkah kearah pintu meninggalkan Alina dalam kebingungan.
Alina tersadar saat Bryan sudah tidak ada dihadapannya.
"Bry, Bryan...jangan tinggalkan aku Bry..kamu bilang akan selalu ada untukku," teriak Alina panik dia berlari kearah pintu.
Wush
__ADS_1
Angin kencang serta merta menerpa tubuhnya.
" Aku dimana!!" seru Alina takut, sekuat tenaga dia berpegangan pada pintu, entah apa yang terjadi, Alina merasa berada di dunia yang berbeda, badai ini berusaha membawanya, perlahan tangan Alina melemah. Dia sudah tidak kuat, mungkin ini akhir hidupnya.
"Tolong aku Bry, kamu dimana, " Isak Alina putus asa. Dia terus meminta tolong namun tak ada seorangpun yang datang. Alina mulai menyerah dia memasrahkan diri. Mungkin inilah jalannya agar bertemu lagi dengan Bryan.
dia memejamkan mata.
"Tunggu aku Bry,"
Saat pegangannya terlepas, sebuah tangan kokoh menarik dan membawanya dalam pelukan hangat yang menentramkan jiwanya yang meronta gelisah, memberinya rasa aman, melindungi dari rasa takut.
"Tenanglah Alina, aku bersamamu, semuanya akan baik baik aja,"
Suara itu,
Alina mengangkat kepala dan melihat sosok yang sedang memeluknya.
Maxime Arlingga Yogatama tersenyum dan menatapnya penuh kasih.
***
Alina menyandarkan kepala, memandang pada sisa semburat merah dilangit senja.
Tasya mengatakan kalau dia pingsan sedari sore setelah bertengkar dengan Mahira, dan selama tak sadarkan diri dia terus saja mengigau minta tolong dan langsung tersadar begitu Pak Max memeluknya.
Pikiran Alina terus saja berkelana, tak percaya dengan apa yang terjadi. Seperti bermimpi di dalam mimpi. Dan dia merasa sakit saat menyadari Bryannya sudah menjadi fatamorgana .
"Aku sudah mengambil jalanku, sekarang giliranmu,"
Alina mengigit jemarinya sendiri, berusaha mencerna maksud perkataan pria itu. Dia merasa ada sesuatu yang ingin Bryan sampaikan tapi dia tidak mengerti apa.
"Jangan jadikan kenangan kita membuat kamu berhenti ditengah jalan, teruslah melangkah karena jalanmu masih panjang, jika suatu saat kita bertemu lagi, maafkan aku Al, jangan pernah membenciku,"
Maaf, Benci..mana mungkin dia bisa membenci orang yang selalu membuatnya merasa menjadi wanita paling bahagia.
Alina memijat samping pelipisnya.
"Kamu pusing Al, mungkin sebaiknya kita kerumah sakit dulu," ucap Max khawatir.
Alina menggeleng, " Saya baik-baik aja pak, hanya kecapean,"
"Jangan meremehkan penyakit Al, muka kamu sangat pucat, kita kerumah sakit sekarang ya." pinta Max sambil membelokkan mobilnya.
"Pak, please saya hanya perlu istirahat, besok kalau saya belum membaik, saya akan periksa ke dokter," tolak Alina dengan nada memohon. Saat ini dia hanya ingin cepat sampai dirumah.
Max menghela napas, " Okay, kalau gitu saya beli minuman dulu, wajah kamu sangat pucat," Sejak sadar tadi Alina hanya minum sedikit. Dia khawatir gadis itu dehidrasi.
Alina tidak bisa menolak karna Max sudah memarkirkan mobilnya disalah satu swalayan.
" Kamu tunggu disini aja, saya gak lama kok," ucap Max sebelum turun.
Alina mengangguk. Lagipula tubuhnya juga masih lemas dan tidak memungkinkan untuk ikut.
Alina memperhatikan Max yang berjalan menuju swalayan, meskipun mimpi tadi menyisakan kegundahan, dia tetap bersyukur saat tersadar dia berada dalam rengkuhan Max.
Mungkinkah ini pertanda kalau sudah saatnya dia membuka hati untuk pria itu. Alina tersenyum dengan pikirannya sendiri. Seolah Max sudah menyatakan perasaanya. Padahal sejauh ini hubungan mereka masih sebatas teman, meskipun beberapa kali dia terlibat skinship dengan Max, bukan berarti pria itu mencintainya.
Max keluar dengan dua minuman hangat ditangannya.Tiba tiba seorang anak kecil menabrak Max hingga minuman tersebut tumpah dan mengenai kemeja yang di pakainya.
Alina buru-buru turun dan menghampiri pria itu.
" Pak, anda gak papa?" Alina ikut menepuk nepuk kemeja Max.
" Maafkan anak saya mas, dia gak sengaja," ucap ibu dari anak yang menabrak tadi. Anak kecil itu nampak ketakutan dan merasa bersalah.
__ADS_1
" Gak papa Bu,"
" Dio, minta maaf sama om" titah sang ibu lagi
Anak yang dipanggil Dio itu perlahan menghampiri Max.
" Om, Dio minta maaf, Dio gak sengaja," ucapnya menahan tangis.
Max tersenyum dan mengusap rambut bocah laki laki dengan lembut.
" Gak papa Dio, lain kali hati hati ya,"
Bocah itu mengangguk sumringah dan kembali pada ibunya.
" Apa bapak bawa baju ganti dimobil?" tanya Alina setelah ibu itu pergi. Max pasti merasa tidak nyaman karena tumpahan kopi akan membuatnya lengket.
Max mengangguk.
" Kalau gitu saya mau beli tissue basah dulu untuk membersihkan," ucap Alina hendak beranjak pergi. Tapi tangannya ditahan Max.
.
" Biar saya aja Al, kamu masih kurang sehat, kembalilah ke mobil,"
" Saya udah sehat pak, sekalian mau beli coklat panas dan kopi lagi, kan yang tadi udah tumpah,"
Max mengalah, sementara menunggu Alina siap berbelanja dia mulai membuka kemejanya dan menaruh dalam sebuah kantong plastik
Tak lama Alina kembali, dia terpaku begitu melihat Max yang bertelanjang dada, astaga, matanya sudah diracuni oleh roti sobek Max yang terbentuk sempurna dan indah. Alina sampai tak berkedip dan mendeguk ludahnya berkali-kali.
" Al, mana tissue basahnya," pinta Max mengulurkan tangan.
Alina masih bergeming.
" Al, apa kamu akan terus berdiri disitu, saya bisa masuk angin kalau begini terus,"
Alina tersentak.
" Eh, oh maaf pak " ucap gadis itu sambil masuk ke mobil, menyerahkan tissue dan meletakkan minuman di samping tempat duduknya.
Astaga Al, kenapa kamu jadi mesum gini sih. astaghfirullah, ucapnya beristighfar.
Tunggu!! kalau tidak salah dia tadi melihat sesuatu.
Sepertinya diatas dada kiri Max ada sebuah tatto, tapi bukan berupa gambar melainkan sebuah tulisan, Alina penasaran tapi malu jika menanyakan lansung. Sebuah ide muncul dibenaknya, dia mengambil kopi dan menyerahkannya pada Max, otomatis dia menoleh.
Pintar sekali modus mu Al, kekeh gadis itu dalam hati.
Beruntung Max tidak curiga dan menerima gelas dari Alina dengan sebelah tangannya yang bebas. Gadis itu bergegas membaca sebelum Max memergokinya.
Alina tercekat, detak jantungnya tiba tiba berpacu cepat.
Tanpa sadar Alina mengulurkan tangan menyentuh tepat diatas tatto itu, jemarinya bergetar meraba disana membuat Max ikut tertegun dan memejamkan mata, merutuki dirinya sendiri karena ceroboh.
"Alina Maharani"
Sebuah nama yang dilukis indah tepat didekat posisi jantungnya.
***
Happy Reading, Jangan lupa vote dan komen ,,
With love
Dik@
__ADS_1