Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
36. Dia Milikku


__ADS_3

Mendengar penuturan Morgan tentang bagaimana status Alina sekarang menyisakan kegundahan di hati Bryan, sadar dengan kesalahan yang telah dia lakukan rasanya tidak pantas kalau menganggap Alina sudah mengkhianati cintanya. Hampir delapan bulan telah berlalu, wajar saja jika kini Alina bangkit dan mencari kebahagiaan yang baru.


Tapi sekeras apapun Bryan mencoba ikhlas, faktanya dia tidak bisa menerima begitu saja. Marah, cemburu dan benci semua rasa itu campur aduk menjadi satu. Dan dalam hitungan detik semua barang yang ada didalam ruang kerjanya menjadi pelampiasan.


Morgan membiarkan Bryan meluapkan emosinya, karena dia tau persis bagaimana perasaan pria itu pada Alina. Dia sendiri sudah mengingatkan sebelumnya agar Bryan tidak bermain api, dan memintanya untuk memikirkan kembali konsekuensi yang akan dia terima. Saat itu Bryan tetap kukuh dengan pendiriannya.


Bryan pikir Alina tetap akan jadi miliknya karena gadis itu begitu mencintainya. Sayangnya Tak ada yang tahu takdir kehidupan seseorang, ketika Tuhan berkehendak maka tak satupun yang mampu menghalangi.


" Menangislah jika bisa membuatmu lega bro, pastikan setelah itu tak ada lagi kegundahan yang tersisa, kau harus belajar merelakan," nasehat Morgan sambil menepuk bahu Bryan yang terduduk lesu dengan wajah basah oleh airmata. Dia sudah lebih tenang dari sebelumnya.


" Seandainya dulu aku tidak mengikuti saran Sarah, mungkin aku masih bisa memperbaiki keadaan," gusar Bryan mengusap mukanya.


Morgan mengangguk setuju "Kau tau Alina itu pemaaf, mungkin dia akan marah dan membencimu, tapi lambat laun aku yakin dia akan mengerti,"


Bryan menertawakan kebodohannya, sekarang semua penyesalan ini tak ada gunanya lagi.


" Maaf, anda tidak bisa masuk tuan, atau saya akan menghubungi pihak berwajib, anda sudah sewenang-wenang diarea kami," suara-suara diluar membuat Bryan heran, dia beranjak untuk memeriksa.


Brakk!!


Pintu ruangan kerjanya terdorong kasar. Nampak tiga orang pria memaksa masuk tanpa menghiraukan peringatan yang diberikan dua security perusahaan nya.


Bryan mengerutkan kening tidak mengerti, sementara Morgan terpaku ditempat.


" Max," gumam Morgan lirih.


" Maaf kami sudah berusaha mencegah mereka pak, tapi mereka tidak menggubris, saya akan menghubungi kepolisian sekarang," ucap salah satu security pada Bryan dengan aksen english kaku, karena kebanyakan mereka adalah orang indonesia yang bekerja di singapura.


Menyadari ekspresi yang ditunjukkan Morgan, Bryan merasa ini ada kaitan dengan masalahnya.


" Tidak perlu, kalian boleh pergi. Mereka adalah tamu saya," ucapnya lagi.


Kedua security itu pun mengangguk dan meninggalkan ruangan.


Max menatap tajam pada sosok yang berdiri dibelakang meja, dia melangkah mendekat dengan pandangan yang tak lepas dan belum sempat Bryan membaca situasi. Max lansung melayangkan pukulan


Bugh..bugh..bugh!!!


Bryan yang tidak siap dengan serangan itu tersungkur kelantai.


" Max, apa yang kau lakukan!" ucap Morgan berusaha mencegah, tapi tangan Adrian dan Adam bergerak cepat menahan pria itu.


" Biarkan saja, Max hanya memberi sedikit salam perkenalan, temanmu itu tidak akan mati," ujar Adam terkekeh.


Bryan menyusut darah yang keluar dari sudut bibirnya, dia mengatur napas dan kembali bangkit, kali ini dengan perlawanan dia membalas serangan Max, tapi Max lebih piawai dalam urusan bela diri. Tak satupun serangan Bryan mengenai sasaran, dan begitu Bryan kehilangan fokus kembali kaki Max bersarang di ulu hati dan dekat ************ pria itu.


" Aaarrrgh!!" Bryan kembali tergeletak dilantai sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit.


Morgan tidak tega melihat kondisi sahabatnya yang mengenaskan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Max berjongkok mendekati Bryan, dia menarik kerah baju pria itu, memaksanya duduk disalah satu kursi.


" Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang kau torehkan pada seorang gadis yang begitu tulus padamu," ucap Max geram.


"Kkkau siapa heh," ujar Bryan terbata. Sakit ditubuhnya membuat dia meringis perih.


Max menampilkan senyum evil.

__ADS_1


" Oh sorry, saya lupa memperkenalkan diri, saya Maxime Arlingga Yogatama, calon suami dari gadis yang kau tinggalkan sehari sebelum pernikahannya,"


Deg!


Bryan tercekat, jadi dialah pria yang dimaksud Morgan tadi, pria yang mampu membuat Alina luluh dan jatuh kedalam pelukannya.


" Katakan kenapa kau tega melakukannya," tanya Max lagi dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.


"Bukan urusan mu," dengus Bryan balas menatap Max dengan sorot kemarahan. Tak peduli berapa sakit yang dia tanggung, mendengar Max adalah kekasih Alina, segenap aliran darahnya mengalir cepat.


" Well, punya nyali juga ternyata, kau tau perbuatanmu ini bisa membuat hidupmu hancur, memanipulasi kematian merupakan kejahatan serius, bukan begitu Komandan Adam?" ucap Max sarkas.


" Tentu saja Max, kupastikan pasal berlapis akan membuatnya membusuk dipenjara," sahut Adam menakuti.


Bryan dan Morgan terkesiap, ternyata Max membawa serta polisi, apa mungkin Gerry sudah menceritakan semuanya. Pantas saja beberapa hari ini pria itu tidak bisa dihubungi.


" Silahkan saja, aku tidak peduli lagi," tantang Bryan. Dia tahu bahwa yang dikatakan Max hanyalah sebuah gertakan, kalau memang pria itu hendak memenjarakan, pasti sudah dia lakukan sedari awal.


" Jangan kau pikir saya menggertakmu tuan Bryan yang terhormat, saya hanya mengulur waktu, istrimu sedang hamil bukan? dan saya masih punya hati agar kau bisa menyaksikan kelahiran anakmu,"


Bryan terkejut, bagaimana Max bisa membaca pikirannya, dan bagaimana pria itu mengetahui kehidupan pribadinya.


" Apa yang kau inginkan, jangan melibatkan istriku, aku tidak akan tinggal diam kalau kau mengganggu keluargaku,"


Cuih, Max meludah kelantai mendengar ucapan Bryan.


" Kalau kau berpikir kau adalah family man, kau tidak pantas untuk itu."


" Terserah, tapi jangan sekali-kali mengganggu keluargaku, atau kau akan menyesal" Bryan mengancam balik.


" Jangan coba mengancam saya, kau tidak tau berhadapan dengan siapa, saya bukan orang sepertimu yang memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mendapatkan ambisi. Dan saya yakin apa yang kau dapatkan sekarang adalah bagian dari ambisimu bukan?"


" Semua tidak seperti yang kau pikir, ini hanya kesalahan,"


" Oh ya? berarti kau mengakui kalau meninggalkan Alina adalah kesalahan dan kau menyesal begitu?"


Bryan terdiam, Max melepaskan tangannya


" Kau benar, aku menyesal sudah menyakiti Alina, kalau kau ingin aku meminta maaf padanya, akan aku lakukan?"


Max menyunggingkan senyum sinis.


" Tidak perlu karena dia tidak butuh lagi, Jauhi dia dan jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapannya, "


" Kau takut Alina akan kembali padaku?" ejek Bryan merasa mendapat angin.


" Brengsek," umpat Max kembali meringsekan Bryan hingga pria itu kesulitan bernapas.


" Dia tidak akan kembali padamu, karena dia adalah milikku, hanya milikku,"


Bryan tertawa sarkas


" Kalau kau seyakin itu, apalagi yang kau takutkan, kecuali kau masih ragu kalau Alina mencintaimu,"


Max menggertakan geraham, otot rahangnya mengeras.


"Saya tidak pernah takut, karena saya tau bagaimana perasaan Alina pada saya, kau boleh merasa menang karena sekarang kau hidup dalam kenangan indah gadis itu, tapi tak akan lama lagi kenangan itu akan menjadi butiran debu tak bersisa,"

__ADS_1


Bryan terdiam, kalimat terakhir Max membuatnya tertohok. Dibenci Alina adalah ketakutan terbesarnya, karena itulah dia melakukan kejahatan ini.


Max menghempaskan Bryan ke lantai, lalu memperbaiki tuxedonya. Dia merasa cukup sudah membuat perhitungan dengan pria itu.


" Kita pergi" ajaknya pada Adam dan Adrian. Sebelum keluar Max memandang Morgan dengan tatapan penuh arti. Morgan mendeguk ludah melihat sorot kemarahan disana. Dia berpikir dia adalah sasaran berikutnya.


Tapi Morgan salah, Max hanya diam dan berlalu meninggalkan ruangan itu dengan aura dingin yang melingkupi.


Morgan menarik napas lega. Bergegas dia menghampiri Bryan dan membantunya berdiri.


" Aku akan panggilkan dokter,"


" Tidak perlu," cegat Bryan


" Kau terlihat menyedihkan,"


" Aku memang pantas mendapatkannya,"


Kesunyian menerpa mereka berdua, Morgan memikirkan apa yang akan dilakukan Max padanya nanti, mengingat selama ini dia bersikap seolah tak tahu.


" Kurasa dia bukan orang sembarangan, dia mendapat kan semua informasi tentangku"


Morgan mengangguk.


" Dia CEO sekaligus pewaris Mulia Jaya Grup, "


What?


Bryan terperanjat. Rautnya menjadi pucat. Takdir apa yang sedang dia jalani. Berharap lepas dari satu masalah. Dia justru terperangkap dalam situasi rumit lainnya.


" Ada apa? kenapa kau terlihat sangat terkejut,"


tanya Morgan heran


Bryan menghembuskan napas yang terasa menghimpit dada.


" Istriku, Adinda adalah sepupu Max,"


Morgan tak kalah shock mendengarnya " ****, bagaimana bisa?"


" Papinya Adinda adalah adik kandung Hardi Arlingga, pemilik Mulia Jaya Grup,"


" Gila, gila , gila, " umpat Morgan lagi.


Bryan mencoba mengingat percakapan dengan Adinda ditelpon semalam, kalau dia tidak salah


istrinya mengatakan dia bertemu dengan gadis yang anggun dan lembut seperti bidadari, calon istri Maxime. Itu artinya Alina ada di Bali bersama keluarga besar Adinda.


" Ya Tuhan, kenapa jadi begini? desis Bryan nelangsa.


***


Happy Reading ya , jangan lupa vote dan komen, biar author makin semangat. Yang baca banyak, yang respon dikit banget , sedih banget 😥


With Love


Dik@

__ADS_1


__ADS_2