Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
74. Obsesi Bryan


__ADS_3

Dentuman musik elektrik menghentakkan telinga mengguncang ruangan tersebut. Para pasangan turun ke lantai dansa berjoget mengikuti irama yang disk jokey putar. Kemeriahan sangat terasa mulai dari yang memang asyik bergoyang sampe yang hanya modus untuk grep*e-grep*e antar pasangan. Ada yang sadar dan ada yang sudah teler. Tak ada yang peduli apapun yang dilakukan di sana. Karena bagi mereka yang penting happy seperti lagu Jamal Mirdad, bedanya mereka bukan joget dipinggir jalan melainkan di tempat para pencinta dugem menghabiskan malam. Sebuah night club disalah satu kawasan elit di kota metropolitan ini selalu penuh sekalipun bukan weekend.


Disaat semuanya larut dalam kegilaan, dua orang pria tampan justru bersitegang didepan bar mengabaikan sorak sorai yang memekakkan.


" Sudahlah Bry, sampai kapan kau akan meratapi nasib seperti ini, " ucap Morgan dengan raut tidak habis pikir. Bosan rasanya mengulangi kalimat yang sama. Tapi kalau bukan dia yang membuat Bryan sadar, siapa lagi. Cuma dia yang tau pasti kehidupan pribadi pria itu.


Bryan terkekeh " Sampai aku bisa melupakannya, seumur hidup atau bahkan sampai aku mati! "


Morgan mendengus jengkel.


Dia menyesap kretek nya dalam, seorang wanita penghibur menghampiri mencoba merayu keduanya, tapi Bryan mengabaikan. Morgan juga tak berminat sekalipun gadis itu terlihat seksi dengan terusan mini yang dia kenakan. Morgan bukanlah pria penebar benih sembarangan. Namun yang namanya pria tetap saja memiliki hasrat, Morgan menerima ciuman gratis yang ditawarkan. Mengabaikan Bryan untuk sejenak demi menikmati sentuhan memabukkan.


" Call me if you want! " ucap gadis itu menyelipkan sebuah kartu disaku jaket lalu meremas aset pribadi Morgan, membuat pria itu sedikit kelabakan.


" Tuntaskan dulu, aku tak keberatan menunggu! " ucap Bryan paham.


Morgan menggeleng lalu menyesap minumannya.


"Hanya selingan pelepas dahaga, " kekeh pria itu, keduanya kembali melanjutkan perbincangan.


" Apa kau tidak kasihan pada Adinda, dia selalu berusaha menjadi istri yang baik sementara kau masih terpenjara masa lalu, benar-benar brengsek! " cela Morgan tersenyum miring.


Bryan tidak tersinggung, sudah terbiasa dengan makian, memang kenyataannya seperti itu. Terserah apa kata orang, perasaanya pada Alina semakin kuat, dia tidak bisa melupakan wanita yang hampir menjadi istrinya.


" Berani-beraninya pria itu menandai milikku, " decak Bryan mengingat sesuatu yang tertangkap netra-nya di leher Alina, kalau bukan dipaksa Adinda untuk datang ke mansion Hardi saat makan malam tadi, dia tidak akan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Hatinya berdenyut nyeri saat Alina tidak berusaha menutupi bahkan terkesan biasa dengan jejak berwarna keunguan tersebut.


Bryan sakit hati, Max telah mengambil miliknya.


Morgan tertawa " Kau pikir Alina tidak akan memikirkan hal yang sama saat tau kau meninggalkannya karena tidur bersama Adinda. lagipula Max adalah suaminya. Halal bagi mereka membuat jejak dimanapun, kurasa kau harus menemui psikiater, kau sakit jiwa! "


Bryan tertawa sumbang.


" Aku memang gila, tergila gila pada mantan kekasihku, Alina itu sempurna. Akui saja dulu kau pernah menyukainya kan"


Morgan menggelengkan kepala, keputusannya untuk mendengarkan Bryan adalah kesalahan. Seharusnya dia tidak datang.


" Aku rasa dia terpaksa bersama Max, dia hanya ingin membalaskan dendam padaku, aku yakin sebenarnya didalam hati dia masih mencintaiku, kau lihat saja nanti! " sambung Bryan sesumbar. Efek alkohol mulai menguasai pria itu.


Morgan pun tersulut emosi mendengarnya.

__ADS_1


" Trus apa yang kau inginkan sekarang, menceraikan istrimu lalu menikahi Alina begitu? "


Bryan terdiam


" Sudahlah, jangan membuat masalah bry, lanjutkan saja hidupmu bersama Adinda dan juga anak-anak kalian. Alina sudah bahagia bersama orang yang tepat yaitu Max. Kau harus belajar menerima kenyataan. "


Prang!


Bryan membanting botol ke lantai kemudian mencengkram krah baju Morgan.


" Alina itu milikku brengsek, cuma milikku, aku pastikan dia akan kembali padaku. Persetan dengan bac*otmu, pergilah kau ke neraka! " kecam Bryan kesal, tidak senang karna Morgan mematahkan angannya.


Morgan mengetatkan rahang. Dia menepis tangan Bryan dengan sekali hentak membuat pria itu terhuyung kebelakang. Dia menunjuk muka Bryan hendak mengatakan sesuatu, tapi urung dia lakukan. Morgan memilih pergi dengan segala amarah yang bersarang. Percuma bicara dengan orang yang setengah sadar.


Tak banyak yang memperhatikan keadaan tersebut karena semua sibuk dengan urusan masing-masing. hanya seorang bartender dan juga seorang wanita yang mengawasi sejak awal.


Wanita yang tak lain adalah Tiara tersenyum licik.


" Its show time"


Tadinya Tiara datang untuk bersenang-senang, dia lelah memikirkan nasib dirinya dan Juan, perusahaan Juan sebentar lagi akan dieksekusi. Sementara semua rencananya menguap sia-sia. Tak ada pion yang bisa membantunya untuk masuk dalam kehidupan Max yang sekarang.


Begitu melihat Bryan, dia merasa masih memiliki kesempatan, terlebih mendengar percakapan pria itu dengan temannya. Tiara pikir bisa memanfaatkan Bryan untuk tujuannya.


" Mau aku temani? " ucapnya pada pria tampan itu. Bryan mengangkat alis. Tak asing dengan sosok yang tiba-tiba muncul. Dia lupa namanya, yang dia tau wanita berambut pirang itu mantan kekasih Max sewaktu di Paris.


" Aku Tiara, kita sering ketemu di mansion keluarga Arlingga, " ucap wanita itu mengangkat gelas minuman miliknya, ingin bersulang.


" Tak perlu, aku harus pulang! " Bryan memberi kode pada bartender.


" Masih terlalu sore, ayolah beberapa sloki lagi, aku tidak biasa minum sendirian, aku yang traktir deh! "


Bryan menggeleng, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet untuk diberikan pada bartender yang sudah datang dengan struk pembayaran


Dengan sedikit sempoyongan dia turun dari kursi.


" Perlu bantuan bang? " tanya sang bartender.


Bryan mengibaskan tangan tanda penolakan, Tiara mengikuti dari belakang.

__ADS_1


" Aku bisa membantumu mendapatkan Alina kembali!" ucap wanita itu tak ingin membuang waktu. Sukses membuat langkah Bryan terhenti, lalu menoleh dengan pandangan penuh tanda tanya.


" Jangan khawatir aku tidak mengharapkan imbalan, ini adalah kesepakatan saling menguntungkan tapi membutuhkan kerjasama! " lanjut Tiara meyakinkan.


Sangat menyebalkan, Bryan menatap tidak suka pada wanita yang masih kukuh sekalipun di acuhkan.


"Siapapun kau, aku tidak tertarik dengan penawaran mu, tapi jangan pernah berpikir untuk melukai Alina, atau kau akan menyesal!"


Ada kemarahan didalam mata Bryan membuat Tiara bergidik ngeri.


Tiara mengangkat kedua tangan, pertanda tidak akan melakukan apapun yang akan membuat Alina terluka.


" Ayolah jangan terlalu serius. Kita bicarakan ini dengan santai, "


" Aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini, sudah aku bilang aku tidak tertarik, apa kau masih mengerti bahasa manusia?


Wanita itu mendeguk ludah.


Shi*t, umpat Tiara dalam hati. Sepertinya dia gegabah sekali, seharusnya dia mencari kelemahan Bryan dulu agar bisa menekan, kalau sudah seperti ini semua rencananya akan gagal total. Bukan tidak mungkin Bryan akan mengatakan kebusukannya pada keluarga Arlingga.


Tidak, tidak! Bryan tidak boleh melakukannya. Tiara berpikir cepat.


" Kalau kau tidak melakukan apapun, bagaimana kau bisa menjadikan Alina milikmu, kita hanya perlu membuat sedikit kesalahpahaman diantara mereka berdua, sehingga salah satu ataupun keduanya kecewa satu sama lain, trus mereka berpisah, sesederhana itu! "Tiara berharap Bryan mengerti maksudnya kali ini.


Bryan meringis. Kepalanya semakin berdenyut oleh kebebalan Tiara.


" Berhenti berkhayal menjadi ratu nona, aku tau tujuanmu apa, Max dan juga hartanya bukan? "


" Whatever, yang pasti kesempatan itu tidak datang dua kali, Alina milikmu dan Max milikku, yes or no. " Tiara mengulurkan tangan dengan percaya diri.


Bryan mendecih kemudian berlalu tanpa menanggapi membuat Tiara berang diabaikan.


"Cih, Sombong sekali dia"


" Benar kata Juan, seharusnya dari awal aku meminta Max untuk membantu perusahaan kami, bukan membuat drama-drama. " sesal Tiara pada dirinya sendiri, dia kembali lagi kedalam dengan gontai.


Bryan melajukan kendaraan meninggalkan pelataran parkir gedung tersebut. Sebelum keluar dia sempat melihat Tiara melangkah dengan lesu. Dia tersenyum licik.


" Aku tidak butuh bantuan mu Tiara, Alina pasti akan menjadi milikku lagi, "

__ADS_1


***


Bantu vote dan komen yang banyak ya, biar author semangat update. 😁


__ADS_2