Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
46. Kepulangan Adinda


__ADS_3

Max memijit pelipisnya perlahan, kepalanya mendadak pusing dengan segala keruwetan yang datang sekaligus. Pria itu tidak mengerti dengan takdir yang sedang dia jalani mendadak semuanya saling terhubung.


Masalah Bryan sudah menguras habis energinya, ditambah lagi dengan urusan Orion yang membuatnya tak bisa untuk tidak ikut campur, Alina yang tidak mau berhenti bekerja, sekarang ditambah lagi dengan kepulangan Adinda yang tiba-tiba.


" Dinda mau melahirkan di Indonesia aja kak, kalau disingapura sepi, gak ada yang nemanin, " ucap wanita itu ceria.


" Memangnya suami kamu kemana?" tanya Max menyelidik bercampur geram, bisa-bisanya pria brengsek itu membiarkan adiknya yang tengah hamil tua pulang sendiri. Meskipun dengan jet pribadi, kondisi Adinda yang sudah mendekati hari kelahiran sangat membahayakan jika dia melakukan perjalanan. Sekalipun hanya penerbangan singkat.


Max semakin bingung, entah apa yang benar - benar dia khawatirkan keselamatan Adinda atau kehadiran Bryan nantinya.


" Masih ada kerjaan kak, paling dua hari lagi dia udah sampai disini,"


" Suami kamu itu gak peduli banget ya, kalau kamu dan bayi kamu kenapa-napa gimana? gak bertanggung jawab sekali jadi laki-laki," ketus Max sinis.


" Gak gitu juga kali kak, memang dia ada kerjaan yang gak bisa dihandle, sedari awal dia udah melarang, akunya aja yang ngeyel. Lagipula aku kan didampingi dokter dan perawat kak," Jelas Adinda membela. Namanya istri ya begitu sesalah apapun suami tetap aja dibelain.


Adinda nampak berpikir, bagaimana seorang Max mendadak cerewet seperti sekarang. Bukan hanya dia, Widyawati juga heran melihat sikap putranya itu. Dan kalau dia tidak salah tangkap, Max sedikit tidak suka dengan kepulangan Adinda.


" Udah ngobrolnya dilanjutkan ntar aja, keburu dingin makanannya," timpal Widyawati menengahi sebelum Max melanjutkan Omelan.


" Tapi mom," Max masih ingin protes tapi Widyawati keburu membulatkan mata dan memberi kode agar Max diam. Wanita paruh baya itu takut kalau Adinda tersinggung karena Max terus saja mencecarnya.


Max tidak membantah dan memilih melanjutkan makan malam dengan segenap kegundahan yang melanda. Bryan akan pulang dan besar kemungkinan mereka akan tinggal dimansion ini.


Bukannya Adinda tidak punya tempat tinggal, Om Hartawan memiliki rumah mewah yang tak jauh dari sini, selama ini rumah tersebut hanya diurus oleh pekerja. Masalahnya mommy dan juga tante Diana pasti tidak akan membiarkan Adinda tinggal diluar mansion.


Maklum sekian tahun berpisah dengan putri kesayangan membuat kedua wanita paruh baya itu over protektif. Beruntung Tante Diana tinggal di bali kalau nggak pasti mansion ini semakin hiruk pikuk.


Max kehilangan selera makan memikirkan semuanya, dia beranjak dari duduk dan pamit ke kamar.


" Kenyang mom," alasannya begitu mommy memandangnya penuh tanda tanya.


" Kok kenyang, abis makan dimana? papi kok gak tau perasaan tadi kamu langsung pulang?"Hardi yang sedari tadi menjadi pendengar mencoba menggoda putra bungsunya itu. Max tidak menanggapi dia terus saja melangkah kelantai atas.


" Lagi ada masalah kali sama Alina," Widyawati berasumsi, Hardi hanya mengedikkan bahu tanda dia juga tidak tahu.


" Kak Max cinta banget sama mbak Alina ya mom,"


Widyawati mengangguk antusias, " Bukan cinta lagi, tapi apa itu namanya, istilah zaman sekarang?"


" Bucin mom,"


" Nah itu dia, saking bucinnya gak bisa jauh dari Alina, kalau ada masalah dikit aja lansung uring-uringan, pokoknya Max dulu beda dengan Max yang sekarang, cinta memang bisa mengubah seseorang,"


Adinda mengerti, dalam hatinya dia sedikit sedih, begitu besar rasa yang Max miliki untuk Alina, dia pikir dulu dialah gadis yang Max impikan tapi ternyata dia terlalu percaya diri. Max murni menganggapnya adik saja tanpa maksud lain.


Tapi dia bersyukur penolakan Max justru mengantarnya pada pertemuan dengan Bryan, meskipun hubungan mereka diawali dengan insiden, lambat laun dia merasa jatuh cinta pada suaminya itu karena Bryan menghujaninya dengan kasih sayang yang melimpah seperti Max dulu.


" Selamat malam om, tan " suara renyah seorang menyapa mereka ketika sedang santai diruang tamu.

__ADS_1


" Alina, sayang," sapa Hardi dan Widyawati bersamaan, gadis cantik itu tersenyum sumringah dan menyalami kedua paruh baya itu dengan sopan.


" Mbak Alina, apa kabar?" sapa Adinda yang baru kembali dari dapur dengan segelas susu ditangannya.


" Adinda! kapan kamu kembali dari singapura,? seru Alina surprise, tak lupa dia cipika cipiki dengan wanita hamil itu.


" Sore tadi mbak, aku memutuskan melahirkan disini," Adinda memberi tahu.


Alina turut senang, mereka pun terlihat obrolan ringan.Tak lupa Alina menghidangkan buah tangan yang dia bawa, red velvet cake kesukaan Max.


" Max lagi dikamarnya sayang, kamu samperin gih, dari sore dia belum makan, sepertinya moodnya sedang tidak baik, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Widyawati penasaran.


Alina menggeleng, karena memang dia dan Max baik-baik saja, meskipun dia menolak resign dari Mega Buana, mereka tetap berkomunikasi seperti biasa.


Tapi seharian ini dia tidak dapat kabar dari kekasihnya itu. Dia mencoba mencari tahu dari Adrian, pria itu bilang Max sedang tidak fit, dia menolak makan dan fokus pada kerjaan saja. Mendengar hal itu Alina khawatir makanya dia berinisiatif membuatkan cake favorit Max sepulang kantor. Beruntung tadi dia sempat menanyakan keberadaan Max hingga tidak bolak-balik karena mengira pria itu ada diapartemen.


Alina mengetuk pintu kamar Max, tapi tidak ada jawaban, dia mencoba memutar handle pintu, ternyata tidak dikunci. Dengan perlahan gadis itu memasuki ruangan yang sangat luas untuk dikatakan sebagai kamar, kemudian Alina meletakkan piring yang berisi potongan cake diatas nakas.


" Sayang, kamu dimana?" panggil Alina lirih namun tidak ada jawaban, tidak mendapati Max dimanapun gadis itu pun melangkahkan kaki ke balkon, satu-satunyw tempat yang belum dia periksa.


Alina menarik napas lega, karena yang dicari sedang termenung, ditepian balkon.


Tunggu!


Alina mengenduskan hidungnya, dia mencium aroma yang tak biasa. Matanya menangkap sebuah gelas kecil dan botol minuman tergeletak diatas pagar pembatas dan kalau dia tidak salah lihat, ada kepulan asap yang berpendar dekat pria itu.


" Apa rasanya sangat enak?" tegur Alina.


Max tergagap mendengar suara yang sangat dia kenal, dia terkejut mendapati Alina menatap tajam.


" Sayang, kamu!" Max tidak melanjutkan , bergegas dia mematikan puntung rokok yang masih tinggal separuh.


" Kok dimatikan, lanjutkan aja, aku akan menemani kamu disini, kalau perlu aku akan ikut minum, sepertinya minuman ini enak," Alina menuangkan isi botol dengan tulisan red wine memenuhi gelas yang tadinya sudah kosong.


" Saya,,eh ,, saya,"


"Aku coba ya," Alina mengangkat gelas dan mengabaikan kegugupan Max. Ujung gelas sudah menyentuh bibirnya namun secepat kilat Max menepis tangannya hingga gelas itu terlepas dan pecah.


" Kenapa?bukankah kamu sangat menikmati minuman itu, kenapa aku gak boleh," protes Alina.


" Minuman itu tidak baik untuk kesehatan kamu,"


" Bagaimana dengan kesehatan mu? apa tidak berpengaruh,"


" Bukan begitu, saya sudah terbiasa, jadi tidak ada efek apa-apa," kilah Max beralasan.


" Bagaimana kalau kita periksa ke dokter, kita lihat apakah organ dalam kamu baik-baik saja meskipun menenggak minuman haram itu seumur hidup, kalau hasilnya baik maka aku tidak akan melarang lagi,"


Max terdiam.

__ADS_1


" Kalau kamu menyayangi aku, seharusnya kamu juga menyayangi diri sendiri, aku tidak ingin kamu sakit Max, aku tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi jika kamu mengonsumsi cairan laknat itu terus-menerus,"


ujar Alina dengan suara bergetar, manik indahnya juga mengembun, pertanda hujan airmata akan segera turun


Max tidak tega, dia menyesal sudah mengkhianati janjinya, jujur sejak mereka bersama Max tidak pernah lagi menyentuh minuman dan juga rokok, hidupnya lebih sehat, aktifitas olahraga yang tadinya jarang dia lakukan kini menjadi rutinitasnya diakhir pekan.


Baru kali ini dia kembali bablas, mengingat kekacauan pikirannya, dia lansung mengambil stok yang masih tersisa di minibar yang ada dikamarnya, dia belum sempat membuang benda -benda itu mengingat dia lebih banyak menghabiskan waktu diapartemen.


Max merangkum wajah gadis didepannya, di usapnya bulir bening yang kini mengalir bebas.


" Maafkan saya, saya hanya suntuk, belakangan banyak masalah yang menghampiri dan saya butuh menenangkan diri,"


Alina mengerutkan kening lalu tertawa sarkas.


" Lalu apa artinya aku bagi kamu, kalau kamu tidak mau berbagi kesusahan yang kamu hadapi, anggap aja aku tidak sanggup membantu setidaknya aku bisa menjadi menjadi pendengar yang baik, bukankan itu hakikatnya sebuah hubungan,"


Max mendeguk ludah, andai saja kamu mengerti masalah sebenarny Al, batin pria itu nelangsa.


" Maafkan saya, saya hanya tidak ingin menganggu kamu, kamu sudah disibukkan oleh pekerjaan, belum lagi masalah Gladys,"


Alina tertohok dengan ucapan Max , sadar beberapa waktu terakhir dia kurang memperhatikan bagaimana keadaan kekasihnya, komunikasi mereka memang intens, tapi hanya menanyakan kabar keseharian masing-masing.


" Jadi ini alasan kamu memintaku resign," Alina mencoba menerka


Sepertinya Alina salah paham. Tapi Max tidak menampik


" Salah satunya ya, karena setelah menikah nanti, saya ingin kamu fokus mengurus saya dan anak-anak kita kelak," Max mencoba mengambil kesempatan.


Alina mencebik, " Melamar aja belum udah ngomongin nikah dan anak,"


Max tertawa, " Secepatnya saya akan melamar kamu,"


Alina mencari kesungguhan dimata pria itu


" I am seriously dear, kapan perlu besok saya akan membawa keluarga saya kerumah kamu," lanjut Max meyakinkan.


" Jangan gegabah, aku akan pikirkan lagi permintaan kamu, tapi beri aku waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaan, ada satu project yang sedang aku pegang, "


Max cukup senang dengan keputusan gadis itu, Max mengecup kening Alina dengan lembut lalu beralih pada mata, dan baru saja dia hendak mengecup bibir merah cherry yang sudah menjadi candunya, gadis itu mendorong dadanya.


" Gosok gigi dulu, mulut kamu bau alkohol dan rokok, aku tidak suka,"


Max tersenyum dan bergegas menuruti permintaan kekasihnya. Alina menggelengkan kepala melihat tingkah Max. Sambil menunggu Alina mengambil sapu dan sekop untuk membersihkan serpihan kaca.


Rasa marah yang tadinya sempat membuncah kini menguap entah kemana berganti dengan bunga-bunga yang menggelitik hatinya.


Max mau melamarnya?akh semoga ini bukan mimpi.


***

__ADS_1


__ADS_2