Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
63. Makan siang bersama


__ADS_3

Max mengecup kening Alina sangat dalam, beralih pada kedua pipi gadis itu.


" I miss u so much " Bisiknya lirih dekat telinga Alina. Kalau saja tidak dalam suasana berduka, Max sudah melarikan Alina dari sini.


" Miss u too " balas Alina sendu.


Max segera masuk kedalam mobil sebelum dia kehilangan akal sehat. Berada dekat dengan Alina selalu membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh. Seolah memiliki magnet, Alina berhasil membuat Max tergila-gila. Pria itu menyukai semua yang ada dalam diri Alina, Kecantikan alami dan kepribadian yang baik. Sungguh perpaduan yang sempurna.


Max melambaikan tangan pada gadis yang masih terpaku menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca.


Max memberi kode ciuman dengan tangannya membuat Alina tersenyum meskipun samar, kemudian pria itu melajukan kendaraan perlahan menyusul keluarganya yang sudah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Alina dalam kesunyian.


Gadis itu menutup pintu gerbang lalu duduk diantara salah satu kursi yang masih berjejer dihalaman. Alina menarik napas berat, baru sehari tak bersama ibu, hatinya merasa hampa. Tanpa sadar kembali bulir-bulir bening lolos dari kedua matanya, berganti dengan isakan pilu dan semua itu tak luput dari pemandangan Aditya dari balik jendela kamar, hatinya mencelos melihat adiknya, dia hendak menghampiri, namun dicegah oleh Sherly.


" Berikan dia waktu untuk sendiri mas, biarlah dia melepaskan seluruh beban yang menghimpit hatinya, aku yakin, besok dia akan bangkit seperti sedia kala, "


Aditya mengangguk mengerti.


Pagi harinya Alina dikejutkan dengan notifikasi mobile banking dari ponselnya dan terperangah saat melihat transaksi masuk ke dalam rekening miliknya. Sejumlah uang dengan angka satu diikuti sembilan digit nol dibelakangnya.


Alina ragu dengan apa yang dia lihat, gadis itu pun keluar dari aplikasi dan mengulang dari awal. Hasilnya tetap sama. Apa mungkin ada orang yang salah transfer atau memang sistem yang sedang error, dua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi mengingat pemberitaan beberapa waktu lalu tentang kelalaian nasabah bahkan petugas bank.


Tak lama Max menelpon, barulah Alina terpikir akan kemungkinan ketiga. Semalam sempat gadis itu mau meminjam uang pada Max untuk mengatasi masalah Aditya, tapi bibirnya mendadak kelu. Dia sudah terlalu banyak menyusahkan pria yang dicintainya itu. Lantas mengurung kan niatnya.


" Selamat pagi sayang, " sapa Max dengan suara yang masih berat. Sepertinya dia baru saja bangun tidur,.


" Pagi sayang, kamu baru bangun? " tanya Alina heran. Sekarang sudah jam tujuh pagi, dan Max masih berada diatas kasur.


" Iya sayang, aku akan ke kantor satu jam lagi, sampe ketemu nanti siang di rumah ya, " ucapnya antusias. Tak sabar ingin bertemu Alina kembali, andai saja pekerjaan nya bisa ditinggalkan sebentar, dia pastikan tidak akan masuk kantor. Utami sudah menjadwalkan meeting yang sempat tertunda karna dia terjebak di Swiss kemaren. Max tidak bisa menolak, dikarenakan client mendesak melakukan pertemuan guna membahas beberapa mega project yang sudah deal.


Alina mengangguk meskipun tau Max tidak bisa melihatnya. Semalam orang tua Max mengundang mereka untuk makan siang bersama di mansion.


" Max, barusan ada yang transfer ke rekeningku, tapi gak tau dari siapa, sepertinya aku harus ke bank untuk memastikan, takut ada kesalahan," ujar Alina memberitahu.


" Selesaikan urusan dengan Pak Brandon pagi ini ya, sisanya untuk keperluan kamu, nanti siang sopir akan menjemput kalian, I love u, bye, "Max menutup panggilan tanpa memberi kesempatan untuk Alina bicara lagi.


Akh Max, lagi dan lagi kamu selalu menjadi penyelamat dalam kehidupan kami, batin gadis itu haru.

__ADS_1


Tunggu! Bagaimana Max tahu soal Pak Brandon, bahkan dia tidak cerita apapun soal Aditya.


" Kak, bisa hubungi pak Brandon, tanyakan uangnya mau ditransfer atau cash, " ucap Alina saat mereka sarapan bersama.


Aditya mengerut kan kening,


" Kamu udah dapat uangnya Al? " tanya pria itu heran


Gadis itu menganggukkan kepala sambil menyuap nasi goreng buatan Audrey. Pagi ini dia merasa lemas, semalam dia hanya makan sedikit padahal Max sudah semangat menyuapi.


" Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? " tanya Aditya lagi.


" Jangan bilang dari Max, " tebak Audrey tiba-tiba nimbrung dimeja makan setelah selesai menyuapi anak-anaknya.


" Iya kak, dari Max.. "


Aditya menghembuskan napas, tentu saja, siapa lagi yang bisa memberikan nominal besar tanpa ragu kecuali calon adik iparnya itu.


" Seharusnya kamu tidak bilang masalah ini ke Max Al, bagaimanapun Max calon menantu di rumah ini, kakak malu Al, kemaren saja mereka sudah banyak membantu kita, "


"Aku tidak meminta bantuan Max kak? "


" Aku juga tidak mengerti kenapa Max tau kita ada urusan dengan Pak Brandon, aku kira kakak yang cerita, "


Aditya menggeleng, mana mungkin dia serta merta bicara soal masalahnya dalam keadaan seperti ini.


"Sekarang kita tidak punya pilihan kak, Pak Brandon butuh uang tersebut segera, kita akan pikirkan langkah selanjutnya nanti yang penting urusan ini selesai dulu, "


Aditya tidak lagi membantah.


" Begini saja Al, kakak ada bawa sertifikat rumah dan juga surat kendaraan, serahkan pada Max sebagai jaminan, kita menerima uang ini sebagai bentuk pinjaman, gimana mas? " Sherly memberi saran, dia sangat paham kalau suaminya sungkan pada Max.


" Mas setuju, nanti sekalian aja berkasnya dibawa saat kita kesana, "


Alina tidak yakin Max mau menerima kesepakatan ini, tapi dia akan mencoba, agar sang kakak senang.


Selepas sarapan, mereka sekeluarga berkunjung lagi ke makam ibu, dibanding kemaren, hari ini mereka nampak lebih tegar meskipun aura kesedihan masih kentara.

__ADS_1


***


Alina tidak mengira kalau Bryan dan Adinda akan ikut dalam makan siang. Sejujurnya gadis itu masih canggung untuk bertemu langsung. Terlebih oleh kejadian kemaren, dimana Bryan menunjukkan sikap yang menurut Alina tidak pantas dilakukan boleh seseorang yang sudah berstatus suami. Sekalipun tujuannya hanya meminta maaf. Karna yang sudah terjadi tidak akan bisa diperbaiki lagi.


Selama dimeja makan, Bryan mencoba mencuri pandang pada Alina, sementara di sampingnya Adinda terus memperhatikan suaminya itu. Terselip rasa cemburu karena hingga detik ini dia tidak pernah ada dalam hati Bryan.


Max menyadari gelagat yang aneh dari Bryan, dia mendapat informasi kalau Bryan lah yang membawa ibu Ranti ke rumah sakit waktu itu. Yang menjadi tanda tanya bagi Max adalah apa tujuan Bryan berada di rumah Alina.


" Sayang, makan yang banyak ya, kamu terlihat lebih kurus, aku gak mau kamu sakit, " ucap Max mengusap pipi Alina lembut.


Alina kikuk dengan perhatian Max, karena sekarang semua mata jadi terfokus padanya.


" Iya nak, Max benar, atau kamu mau mommy buatin sesuatu? " tanya Widyawati.


" Gak tante, ini sudah lebih dari cukup, makasih tan, " ucap Alina malu.


" Kok masih manggil tante sih sayang, panggil mommy aja sama kayak anak-anak mommy yang lain, " protes Widyawati dengan panggilan Alina padanya.


" Iya tan, eh mommy, "


Setelah makan siang, silaturahmi itu masih berlanjut diruang tengah mansion. Max harus kembali ke kantor dan dia mengajak Alina bersamanya. Tentu saja setelah minta izin pada keluarganya.


" Aku sudah memesan kan cemilan, sebentar lagi akan diantar kesini, kalau mau minum ambil di mini bar ya sayang, aku gak lama, paling setengah jam sudah selesai, gak papa kan? " ucap Max lembut. Alina mengangguk, pria itu mengecup kening Alina, tanpa memperdulikan Utami yang sedang menyusun beberapa berkas di atas meja kerja Max.


Utami takjub, dengan Alina, Max menjadi sosok yang berbeda. Bicara nya panjang dan intonasinya sangat lembut. Biasanya pria itu selalu memasang tampang dingin dan juga acuh.


Max masih harus melakukan satu pertemuan lagi, dia sudah dilanda rasa malas karena dia ingin menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya itu. Demi profesionalitas dia harus mengesampingkan urusan pribadinya.


Ternyata meeting nya memakan waktu lebih lama, satu jam kemudian Max baru kembali lagi ke ruangan. Dia merasa bersalah karena membuat Alina menunggu. Gadis itu tertidur dengan kepala bersandar di kursi kerja Max.


Max menundukkan tubuhnya, menngecup bibir gadis itu sekilas, Alina tidak terganggu sama sekali. Max tersenyum, Alina sepertinya sangat ngantuk. Max menangkap butiran bening yang belum kering disudut mata gadis itu. Bahkan dalam tidurpun, Alina menangis. Max mengerti kalau Alina sangat kehilangan.


Max mengusap airmata itu, lalu menggendong Alina dan membawanya kedalam kamar pribadi yang ada dalam ruang kerja nya ini. Perlahan dia membaringkan Alina ditempat tidur, kemudian dia membuka jas dan juga dasinya, menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu ikut berbaring di samping gadis itu, merengkuh Alina dalam pelukannya. Tak lama Max ikut terbang kedalam alam mimpi.


***


Jangan lupa komen dan like ya

__ADS_1


Thanks


Dik@


__ADS_2