Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
28. You Are My Everything


__ADS_3

" Kalau memang bapak suka sama Gladys gak perlu repot minta restu saya," tegas Alina. Berusaha menampakkan ketegaran dibalik luka yang baru saja diciptakan pria disebelahnya.


Alina membuang muka dan menatap keluar jendela. Tadinya dia berharap banyak dari kedekatan ini. Max sudah melambungkan angannya setinggi awan, faktanya pria itu menyukai sahabatnya sendiri. Miris.


Satu bulir bening lolos dari mata indah gadis itu. Dia mencoba menetralisir perasaan, tangannya bergerak menyeka sudut matanya yang basah. Dia tidak boleh menangis. Cepat atau lambat dia akan kembali bangkit dari keterpurukan yang kembali mendera. Bukankah dia pernah mengalami hal yang lebih buruk? waktu pasti akan menyembuhkan lukanya.


Max menghentikan mobil di pinggir jalan. Jalanan yang sepi dari lalu lalang kendaraan tidak menyurutkan langkahnya untuk menyatakan perasaannya pada Alina. Keputusannya sudah bulat, malam ini Alina harus mengetahui isi hatinya.


Max mengenggam tangan Alina, gadis itu tersentak dan menoleh. Dia terperangah saat Max mengecup punggung tangannya. Sengatan listrik volume rendah kembali terasa.


"Saya hanya bercanda soal Gladys, " ungkap Max tersenyum


" Serius juga gak papa," sahut Alina hendak menarik tangannya kembali, tapi Max menahan dan menggenggam jemari lentik itu lebih erat.


" Saya hanya ingin tahu perasaan kamu dan sejujurnya saya senang kalau kamu cemburu tapi saya tidak suka kalau ada airmata yang jatuh karena kata-kata saya yang menyakiti kamu,"


Deg


Alina terkejut. Apa dia sekentara itu, bagaimana bisa dibawah pencahayaan temaram Max melihat kegundahannya. Jangan bilang Max punya bakat indigo dan bisa membaca pikiran orang lain.


"Gak usah ge-er, saya gak cemburu," Alina bersikeras tapi kepalanya menunduk dan tidak berani menatap mata pria yang kini menggeser tubuhnya. Alina tercekat karena Max berada sangat dekat dengan dirinya. Bahkan hembusan napas Max terdengar jelas.


Max mengangkat dagu Alina.


" Coba kamu dengar bagaimana bunyi detak jantung saya sekarang," Max meletakkan tangan Alina yang dia genggam ke arah dadanya. Gadis itu merasakan jelas debaran yang begitu kuat disana.


" Dia berdetak sangat cepat dan itu terjadi setiap kali berada didekat kamu,"


Alina memberanikan diri membalas tatapan Max, keduanya saling memandang lekat, mencoba menyelami rasa yang sama-sama mereka miliki.


" Saya mencintai kamu Alina, sejak pertama kali melihat kamu," ucap Max lirih.


Alina merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi mata Max menyiratkan ketulusan tanpa ada kebohongan didalamnya.


Sontak wajah Alina merona, ribuan confetti menggelitik rongga perutnya saat Max mengecup keningnya setelah mengatakan kalimat sakral itu.


Alina memejamkan mata meresapi sentuhan lembut Max. Apakah ini mimpi?


" Saya tahu kamu mungkin kaget, karena selama ini saya berusaha untuk menahan diri, saya tidak ingin kamu shock terlebih dengan apa yang kamu alami. Tapi semakin kesini rasa itu tidak bisa terbendung lagi. Saya siap apapun jawaban yang akan kamu berikan,"


Meskipun mendadak, Alina tidak bisa bohong hatinya sangat bahagia mengetahui bagaimana perasaan Max sesungguhnya. Tapi apakah memang ini yang dia inginkan?


" Saya tidak menuntut kamu menjawab sekarang, kamu bisa memikirkannya lagi. Saya tidak akan menjanjikan apapun. Saya akan berusaha membahagiakan kamu dengan cinta yang saya punya," ucap Max seolah tahu kebimbangan Alina.


Max kembali memperbaiki posisi duduknya, dia melepaskan genggaman dan kembali memegang setir, bersiap untuk melanjutkan perjalanan.


Secepat itu? memang apalagi yang bisa dia katakan. Max memang bisa merangkai kata menjadi puisi, sedikit banyak dia belajar dari beberapa buku sastra yang pernah dibacanya. Tapi realitanya tidak semudah itu. Lidahnya kelu, berhasil menyatakan cinta saja itu sudah lebih dari cukup.


Alina memegang sebelah tangan Max yang sudah berada diatas kemudi.


" Jika saya bisa menjawab sekarang kenapa harus menunggu," ucap Alina


Max tidak jadi menstarter mobilnya. Hatinya kembali tak karuan menanti jawaban gadis itu,


" Sejujurnya saya belum bisa melupakan Bryan, bagaimanapun dia sudah lebih dulu menempati hati saya, tapi saya juga tidak bisa menampik, kehadiran bapak mulai mengusik tempatnya," ujar Alina sendu.


Alina meraih tangan Max dan menautkan jemari mereka berdua,


" Yang pasti saya tidak bisa terus-terusan menghindar, rasa itu tumbuh tanpa bisa dicegah meskipun masih harus terbagi dengan mendiang tunangan saya, saya janji akan belajar untuk mencintai bapak seutuhnya,"

__ADS_1


Ada kelegaan didalam hati Max, dia mengecup kembali punggung tangan Alina penuh perasaan.


" Saya mengerti, saya tidak masalah jika harus berbagi dengan masa lalu kamu, saya yakin suatu saat sayalah pemilik hati kamu seutuhnya," pungkas pria itu yakin.


Alina mendekatkan tubuhnya, mencium pipi kiri Max dengan lembut.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup saya," bisik Alina lirih. Max melakukan hal yang sama


mencium kening dan kedua pipi Alina. Keduanya berpelukan. Larut dalam romansa yang tercipta ketika dua hati memberi ruang untuk rasa yang bernama Cinta.


***


Setelah menghabiskan sarapan pagi dirumah Alina, kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu sepakat untuk membolos. Bukan tanpa alasan Max ingin menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya, selain itu matanya masih sangat mengantuk. Bagaimana tidak setelah mengantarkan Alina ke rumah, dia hanya punya waktu tidur dua jam saja di apartemennya dan kembali terjaga begitu Alina menelpon dan mengajaknya sarapan bersama.


Max tentu saja tidak ingin membuat Alina kecewa di hari pertama mereka berstatus sebagai pasangan dan syukurnya Alina tidak menolak idenya tidak masuk kerja meskipun sebenarnya gadis itu sudah rapi dengan setelan kantor. Disinilah mereka sekarang, di apartemen Max.


Eits jangan berpikir aneh-aneh dulu.


Cuma di apartemen lah tempat yang tenang untuk berbagi cerita tanpa di ganggu orang lain, dia juga bisa istirahat. Max dan Alina sama - sama memegang prinsip no sex before marriage. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali khilaf.hehe


" Sekarang katakan, sejak kapan kamu mulai ada perasaan sama saya," tanya Max sambil membaringkan kepalanya dipangkuan Alina.


Alina sedikit gugup dengan perlakuan Max, sebelum akhirnya sadar kalau Max adalah kekasihnya saat ini.


Tangannya tanpa ragu membelai rambut hitam pekat pria itu.


" Gak tau pasti sih, yang jelas sejak kamu mulai memberi perhatian," jawab Alina menerawang. Gadis itu sudah mengubah panggilannya pada Max, lucu aja kalau dia masih memanggil Max dengan sebutan bapak kecuali di kantor.


Dan Max sangat senang dengan perubahan itu, menandakan Alina serius dengan perasaannya.


" Mmh, berarti kamu baperan dong," goda Max


Max mencubit pipi Alina gemas "Bercanda sayang,"


" Kamu sendiri, sejak kapan punya perasaan sama aku," Alina balik bertanya.


Max menghela napas, sudah saatnya dia mengaku pada Alina tentang siapa dia sebenarnya. Tadi malam mereka berjanji akan saling terbuka satu sama lain.


Max bangun dari tidur dan duduk disebelah gadis itu. Alina menatap heran pada raut Max yang tiba-tiba serius. Tangannya terulur merapikan rambut Max yang berantakan sambil menunggu pria itu bicara. Perhatian kecil Alina membuat Max senang, dan berharap mereka akan bersama selamanya.


" Al, seperti yang kamu bilang, tidak ingin ada kebohongan diantara kita, maka saya akan membuat sebuah pengakuan,"


Pengakuan. Alina tersenyum geli mendengarnya, Max terlalu berat memilih kata, seolah pria itu sudah melakukan kebohongan besar.


"Tentu saja, karena sebuah hubungan tidak akan berhasil kalau ada kebohongan didalamnya, dan aku tidak mau setiap saat curiga sama kamu,"


Max mengerti, dia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan kebenaran tentang dirinya, dia tidak tau bagaimana reaksi Alina, yang jelas hari ini awal dari semuanya.


" Kamu ingat dua tahun yang lalu Mega Buana membuka cabang di Kalimantan?"


Alina tidak mungkin lupa, itu kali pertama dia menginjakkan kaki di pulau Borneo tersebut.


" Apa kamu ada disana?"


Max mengangguk, " Saya disana atas undangan Pak Leo, sebagai salah satu kolega beliau,"


"Kolega?"


Max mengangguk lagi " Saat itu saya melihat kamu untuk pertama kali, dan anehnya saya lansung suka, i am fall in love in the first sight tapi sayang kamu sudah bersama Bryan," Jelas Max.

__ADS_1


Alina memperhatikan Max dengan seksama, ada rasa haru menyeruak dihatinya mendengar penuturan Max.


" Saya makin kecewa begitu Adrian memberi informasi kalau kalian akan menikah, saya pun memutuskan untuk melupakan kamu dan kembali fokus sama bisnis saya. Tapi wajah kamu selalu menghiasi mimpi saya hampir setiap malam, saya putus asa,"


Alina tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Max. Dua tahun bukan waktu yang singkat.


" Sampai saya dapat kabar tentang kejadian yang menimpa Bryan. Saya turut berduka tapi disisi lain harapan saya membuncah seketika."


Max memberi jeda sebentar, dia mengambil minuman mineral yang selalu ada diatas meja ruang tamunya. Tenggorokannya terasa haus karena terus berbicara. Alina tidak membuang kesempatan itu untuk mengecek notif diponselnya, lima kali panggilan tak terjawab dari Tasya dan sebuah pesan yang menanyakan keadaanya. Mau membalas dia takut ketahuan Max. Jangan ada ponsel diantara kita, begitu Max bilang tadi dan baru saja dia hendak menaruh kembali benda itu kedalam tas, Max sudah berdehem.


Alina tersipu malu aksinya kepergok, dia memasang puppy eyes andalannya. Membuat Max tidak jadi mengomel.


" Mau dilanjut gak nih,"


"Lanjut dong sayang, " sahut Alina manja.


" Cium dulu," Max menunjuk bibirnya.


" Ciuman ntar aja, lanjut dulu ceritanya" elak Alina.


" Janji ya"


" Iya sayang," mendengar kata sayang Max tidak sabar ingin mengemas Alina dalam pelukannya tapi sadar masih ada yang harus dia selesaikan.


" Saya terus mematai kamu saat ziarah di makam Bryan, tapi saya tidak berani mendekati, hanya melihat dari kejauhan," lanjut pria itu lagi.


Dan Alina baru ingat, sosok misterius yang dilihatnya di pemakaman.


" Jadi orang yang mengawasi aku dekat pohon dan pakai motor sport itu kamu?"


Max mengangguk, Alina spontan memukul lengan Max dengan keras hingga pria itu meringis.


" Kok bisa kamu senekat itu, Aku kira kamu orang jahat dan berpikir untuk melaporkan kamu ke polisi,"


"Buktinya kan kamu gak lapor," kilah Max mengusap lengannya sembari terkekeh.


Iya juga sih, setelah bekerja di Mega Buana, dia sibuk dan lupa akan keinginannya itu.


Max meneruskan ceritanya, bagaimana dia membuat sebuah drama dengan pura pura bekerja sebagai arsitek di Mega Buana. Dia juga yang memaksa Pak Leo untuk menyakinkan Alina agar bekerja di perusahaan itu.


Tak lupa Max memberitahu identitas dia sesungguhnya. Alina tentu saja terperangah saat mengetahui siapa Max, sosok yang duduk disebelahnya ini ternyata bukanlah orang sembarangan, dia adalah CEO Mulia Jaya yang tak lain perusahaan berskala internasional yang banyak merajai bisnis di Indonesia.


Gadis itu semakin shock saat Max memberi tau kalau Om Hardi dan juga Tante Widyawati yang mereka temui malam itu adalah orangtua kandungnya, dan Orion adalah kakaknya.


Alina bingung harus bersikap bagaimana sekarang, pengorbanan Max untuk dirinya begitu besar, dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Max , jika dia menolak pria itu tadi malam.


" Apa aku sangat berharga buat kamu?" tanya Alina lagi.


Max merangkum wajah gadis yang sudah menguasai hatinya itu sambil menyatukan kening mereka.


" Sangat sayang, you are my everything,"


***


Happy Reading,, Bantu Vote dan komen sayang-sayangku, biar author tetap semangat😊


With love


Dika

__ADS_1


__ADS_2