Dibalik Hujan & Kenangan

Dibalik Hujan & Kenangan
15. Permintaan Ibu


__ADS_3

"Kamu janji harus mengabari ibu setiap hari"


Alina mengangguk untuk kesekian kalinya "Iya ibu sayang, Alina bakal sering-sering video call, sampe ibu bosan lihat muka Alina, janji," gadis itu mengangkat kelingkingnya membuat Ranti mau tak mau tersenyum mendengar ucapan putrinya itu. Alina selalu bisa membuat kesedihannya tidak bertahan lama.


"Ibu titip Alina ya nak Max, maaf ibu jadi merepotkan kamu," ucap Ranti lagi pada pria yang berdiri disebelah Alina.


"Ibu tenang aja, saya akan menjaga Alina dengan baik,"


" Ibu percaya sama kamu nak,"


Alina mencium tangan ibunya, diikuti oleh Max. melihat situasi seperti ini, Ranti merasa seperti memiliki menantu. Dalam hati dia berdoa semoga suatu saat Alina memang berjodoh dengan Max.


Ranti menghela napas begitu panggilan pertama untuk pesawat dengan tujuan Jogja terdengar, dengan berat hati dia melepas pelukan Alina dan perlahan masuk ke gate keberangkatannya.


" Hati- hati Bu, " ucap Alina dengan perasaan yang sulit dilukiskan, ini bukan pertama kalinya mereka berpisah. Dulu ibunya sering bolak -balik ke Jogja dan Bali untuk mengunjungi para cucu, bedanya ketika itu setiap meninggalkan Alina, Bryan ada bersamanya, jadi ibu tidak terlalu khawatir seperti sekarang.


Alina menatap kepergian ibunya sambil terus melambaikan tangan dan baru berhenti begitu ibu sudah hilang dari pandangan.


"Kita pulang sekarang?" tanya Max lembut, Alina mengangguk dan mengikuti langkah pria itu.


Alina heran saat Max muncul dirumah begitu dia hendak mengantar ibu tadi pagi, entah bagaimana Max bertamu kerumahnya tepat sebelum mereka berangkat. Dia baru mengerti begitu ibu bilang Max akan menjaganya selama ibu tidak ada.


Sungguh, Alina tidak mengerti kenapa ibu berpikir sejauh itu, Ibu dan Max baru beberapa kali ketemu, tetapi keakraban mereka seperti sudah kenal lama. Bahkan ibu tidak keberatan saat Max mengatakan akan membawa Alina tinggal di apartemennya agar dia mudah mengawasi. Tentu saja Alina tidak menanggapi serius. Dia yakin Ibu dan Max hanya bercanda, mana mungkin Alina tinggal seatap dengan pria tanpa status.


" Saya ambil mobil dulu, kamu tunggu aja disini," ucap Max membuyarkan pikiran Alina tentang pria itu.


Alina hanya mengangguk lalu duduk disalah satu kursi yang ada di pelataran bandara tersebut. Alina mengedarkan pandangan, memperhatikan keadaan sekitar. Gadis itu terkejut, dia merasa melihat seseorang yang tak asing.


Sosok itu sedang berdiri di dekat counter informasi dengan posisi membelakanginya. Karena cukup jauh, Alina tidak bisa melihat dengan jelas, di tambah suasana ramai menyulitkan pandangannya. Alina berjalan menghampiri. Dia menyeruak diantara orang orang. Gadis itu mempercepat langkahnya begitu melihat sosok itu hendak beranjak pergi. Alina terus mengikut sosok yang semakin menjauh. Alina kehilangan jejak. Matanya bergerak liar mencari keberadaan sosok tersebut, sayangnya dia tidak berhasil.


Napas Alina berderu kencang, selain karena lelah mengejar, debar ini juga muncul karena keberadaan sosok itu.


Alina menggeleng, " Tidak, tidak mungkin, pasti aku salah," gumamnya seorang diri.


Namun disatu sisi dia merasa tidak mungkin salah, dia sangat mengenal postur sosok itu. Detik kemudian dia kembali menolak pemikirannya sendiri.


" Al, Alina,"


Gadis itu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Tampak Max berlari menghampiri.

__ADS_1


" Kamu mau kemana Al?" Tanya Max dengan raut cemas. Dia memandang wajah Alina yang sedikit pucat.


Gadis itu tidak menjawab.


" Al, kamu kenapa?" Max menangkup wajah Alina yang masih diam seribu bahasa, gadis itu mendongakkan wajah menatap Max dengan pandangan kosong, satu bulir bening lolos dari mata indahnya.


Max Kaget.


" Hei kamu kenapa Al," tanya Max lagi sambil mengusap airmata di pipi gadis itu. Alina tak bergeming airmata itu telah berganti menjadi isakan membuat Max semakin tidak mengerti.


Dia pun merengkuh gadis itu kedalam pelukannya, dia tidak peduli dengan tatapan orang orang, Max membiarkan Alina menumpahkan segala kegundahan dalam dekapannya.


Setelah Alina merasa tenang, barulah dia menuntun gadis itu melangkah menuju mobilnya.


Dalam perjalanan, Alina terus saja melamun. Max membiarkan Alina bergelut dengan perasaannya, dia tidak ingin menganggu gadis itu. Max yakin jika sudah baikan, Alina akan bercerita dengan sendirinya.


Saat ini tujuannya adalah menjemput barang barang Alina dan membawanya pindah ke apartemen. Meski pun ada asisten rumah tangga, dia tidak bisa membiarkan Alina tanpa penjagaan. Ibu Ranti sudah sangat mempercayai nya, dan dia tidak mau membuat wanita paruh baya itu kecewa. Lagi pula tanpa Ibu Ranti minta dengan senang hati dia akan menjaga Alina, kalau perlu sepanjang hidupnya.


" Apa barang-barangnya sudah siap semua mbak?" Tanya Max ketika mereka sampai dirumah.


" Sudah tuan, " jawab mbak Asti sopan


" Ada apa ini mbak? kok koper aku dikeluarin semua,"


"Itu non, ee anu," Mbak Asti gelagapan


"Selama ibu Ranti dijogja, kamu tinggal di apartemen saya,"


Deg


"Maksud bapak?"


Max menghembuskan napas, "Sebenarnya sebelum ini saya udah membicarakan dengan ibu kamu, dan kita sepakat untuk sementara kamu ngungsi dulu ke apartemen saya, soalnya saya khawatir saya tidak bisa menjaga kamu selama 24 jam di tempat yang terpisah,"


Alina tertawa mendengar ucapan Max "anda terlalu berlebihan pak, saya bukan anak kecil yang harus dijaga setiap waktu,"


"Gak ada yang bilang kamu anak kecil Al, yang pasti kamu harus ikut dengan saya," Max mulai mengangkat koper dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.


"Idih pemaksaan, nggak-nggak , kita itu pria dan wanita, dosa kalau tinggal berdua dalam satu atap tanpa ikatan," Alina berusaha mengeluarkan kembali koper tersebut, tapi koper itu sangat berat.

__ADS_1


" Jangan berprasangka buruk dulu Al, di apartemen saya ada 3 kamar, satu untuk saya, satu untuk kamu dan satu untuk mbak Asti , dan ada asisten rumah tangga saya juga. Jadi kita bukannya tinggal berdua tapi berempat, " jelas Max sambil mengangkat koper yang lainnya.


Alina terdiam. Tetap saja kan dia dan Max tinggal bersama. Dua orang tanpa status selain sebagai rekan kerja.


"Atau kamu mau kita nikah dulu, saya sih gak keberatan, " ucap Max seolah membaca pikiran Alina. Sontak Alina merona dibuatnya. Mbak Asti juga tersenyum simpul mendengar percakapan kedua orang itu.


"Saya nggak mau, saya mau tetap disini,"Alina bersikeras.


Max mengedikan bahu " Terserah kamu, kalau mau tinggal sendiri juga gak papa, Mbak Asti saya bawa, biar bibik ada temannya untuk berberes "


"Enak aja, Mbak Asti itu sudah lama bekerja dirumah ini, jangan ngaco ya pak,"


" Siapa yang ngaco, ibu kamu yang bilang kalau kamu gak mau pindah, saya boleh bawa Mbak Asti untuk bekerja dengan saya, tentu saja dengan gaji yang lebih besar, "


Alina memandang nelangsa pada Mbak Asti, berharap wanita itu membantunya, tapi Mbak Asti bungkam seribu bahasa, bahkan wanita itu menurut saja begitu Max memintanya masuk ke mobil lebih dahulu


Sepertinya ibu sukses membuat konspirasi supaya dia terdesak dan tak bisa memilih, gak mungkinkan dia tinggal sendiri dirumah yang cukup luas ini seorang diri.


Lagi- lagi , Alina pasrah dengan langkah gontai dia menghampiri Max yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Kali ini anda menang, lain kali saya tidak akan membiarkan anda mengatur hidup saya," Desis Alina geram


Max tersenyum " Dengan senang hati nona,"


Setibanya di apartemen mereka disambut oleh Bik Retno, dengan ramah wanita paruh baya itu mengantar Alina dan Mbak Asti kekamar masing masing.


Alina menghempaskan tubuhnya diatas kasur king size, dibanding dengan kamar yang dia tempati saat demam waktu itu, kamar ini sedikit lebih kecil tapi tetap nyaman. Ada kamar mandi dan juga ruang wardrobe. Yang paling menyenangkan kamar ini juga dilengkapi dengan balkon.


Alina beranjak dari tidur dia mulai membereskan barang barangnya, Setelah itu dia berganti pakaian dengan setelan rumah.


Alina menemui Mbak Asti untuk mengajaknya berbelanja beberapa kebutuhan pribadi, tapi wanita itu tidak ada di kamar. Alina pun melangkah kedapur, ternyata Mbak Asti ada disana, membantu Bik Retno menghidangkan makanan diatas meja makan.


" Makan dulu non, " sapa Bik Retno mempersilahkan


" Iya Bi, perutku udah lapar" Alina menarik salah satu kursi dan mulai menyendok makanan. Dia mengajak kedua wanita itu untuk makan siang bersama. Sambil makan mereka saling bertukar cerita, terutama Bik Retno dengan semangat dia menceritakan tentang keluarga hingga majikannya.


Ngomong ngomong soal majikan Bik Retno, Alina baru tersadar sedari tadi dia tidak melihat keberadaan Max.


***

__ADS_1


__ADS_2