
Dihadapan pengacara, Alina menanda tangani berkas pencabutan tuntutan pada Bryan. Kelegaan tersirat dari wajah Adinda yang sedikit pucat. Dia memeluk Alina berulang kali sebagai ungkapan terima kasih.
" Sekali lagi maafkan aku sudah bersikap egois kemaren Al, terima kasih untuk semua kebaikan yang kamu lakukan untuk kami," ucap Adinda sambil menangis haru.
" Aku tidak melakukan ini dengan cuma-cuma Din, kuharap kamu menepati janji!" Alina mengingatkan wanita itu dengan kesepakatan yang sudah dibuat sebelum keputusan ini dia ambil.
Dengan alasan kemanusiaan, terlebih Adinda dalam keadaan berbadan dua membuat Alina tidak tega. Diapun memilih untuk mengabulkan permohonan wanita itu. Tentu saja bukan keputusan yang mudah. Perbuatan Bryan masih terngiang dibenaknya. Dia memang tidak sampai mengalami trauma berat. Tetap saja mimpi buruk itu terkadang menghantui.
Max sedang berdiri di balkon kamar sambil menatap dikejauhan, Alina tau apa yang suaminya pikirkan, masalah yang datang silih berganti membuat Max akhir-akhir ini susah tidur.
Alina menguatkan diri untuk bicara dari hati ke hati, berharap Max menyetujui langkah yang akan dia ambil. Sepertinya Alina lupa tidak semudah itu membujuk Max. Justru kini dia tengah menghadapi kemarahan yang terpancar dari sorot mata pria itu ketika dia mengatakan maksudnya.
Max berulang kali menghembuskan napas kasar. Sangat terlihat dia tengah mengatur emosi dari dalam. Alina merasa bersalah menempatkan Max pada situasi ini.
" Bukankah kamu yang memberiku pilihan Al, sekarang kamu mengingkari kalau jadinya seperti ini, aku tidak akan menahan diriku, aku akan habisi bajingan itu saat itu juga!" ujar Max penuh penekanan. Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas, mencengkram dengan kuat hingga buku-buku jemarinya memutih dan urat tangannya menonjol.
Alina memeluk Max dari belakang.
" Sayang, aku mohon jangan bersikap seperti ini, aku tidak menyangka situasinya malah menjadi rumit, hubungan kekeluargaan kita dipertaruhkan, aku juga tidak tega pada Adinda, aku mengerti kekhawatiran dan juga perasaannya. Kamu liat sendiri gimana kondisinya tadi kan?"
Max tidak langsung menjawab, membiarkan keadaan itu beberapa saat kemudian membalikkan tubuh, meraih kedua bahu Alina dan menatapnya dalam.
" Kalau semua orang menyelesaikan masalah dengan kata maaf, untuk apa hukum dibuat, kamu pikir semua orang yang dipenjara itu tidak memiliki keluarga, mereka punya Al bahkan mungkin keluarga mereka juga melakukan apa yang Adinda lakukan. Bukan berarti kita harus menerima permintaan itu begitu saja, ok kalau kamu memaafkan tapi hukum harus tetap jalan Al," Ujar Max panjang lebar mencoba membuat Alina mengerti.
Alina paham apa yang Max sampaikan, tapi dia merasa bersalah jika sesuatu terjadi pada hidup Adinda nantinya.
" Kita bisa membuat kesepakatan sebagai ganti hukuman sayang, ini demi kebaikan kita bersama,"
" Kenapa kamu begitu keras kepala, keputusan ku tetap sama Al, kalau kamu ingin mencabut tuntutan silahkan saja, jangan harap aku bisa menerimanya, tidak akan pernah!" Max berlalu kedalam , tidak mau berdebat lebih lama dengan istrinya itu.
__ADS_1
Alina tau Max pasti kecewa, tapi dia yakin kekecewaan itu tidak akan lama. Pagi sekali saat sarapan pagi Alina kembali menyampaikan maksudnya dihadapan semua keluarga dan Max tetap pada keputusannya semula. Dia lansung pergi tanpa menyentuh makanannya, Alina tidak menyusul karena percuma membujuk orang yang sedang dikuasai amarah, dia tetap pada pendirian, Alina sudah merenungkan ini semalaman.
Kali ini Widya Wati yang dihadapkan pada dilema, dia tidak ingin Max kecewa disisi lain dia juga memikirkan nasib Adinda. Semalam saja Adinda sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat karena tidak sadarkan diri, beruntung janinnya tidak apa-apa dan dia diperbolehkan pulang saat sudah sadar. Diagnosa dokter dia hanya kelelahan dan harus benar-benar menjalankan bedrest-nya dengan benar.
Setelah menghubungi pengacara mereka, Alina bersama Hardi dan Widyawati mendatangi mansion Hartawan, dia mengajukan beberapa persyaratan sebelumnya. Semula Hartawan tidak setuju tapi Adinda meyakinkan kalau dia tidak keberatan dengan syarat tersebut. Dia tidak membutuhkan apapun selain kehadiran sang suami bersamanya.
Tak lama Bryan sudah dibawa beberapa petugas kedalam ruangan. Kasus ditangani kepolisian resort tempat kejadian perkara. Pria itu sudah rapi, tidak lagi memakai baju tahanan. Dia menundukkan kepala tak berani menatap pada Alina dan kedua orang tua Max yang turut hadir.
Setelah dijelaskan tentang hal yang bersangkutan dengan pencabutan tuntutan, Bryan ikut membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas. Mereka pun saling berjabatan tangan, tapi Alina mengabaikan Bryan ketika pria itu ingin bersalaman,. menyisakan perih dihati. Sadar akan kesalahannya, Bryan memaklumi sikap Alina. Bisa dipastikan sejak malam itu Alina akan membencinya seumur hidup.
Alina bergegas pergi sebelum para wartawan mengerubungi. Beberapa bodyguard sudah disiapkan Hardi untuk menjaga Alina dari para pemburu berita.
Alina lega begitu dia sudah menjauh dari kantor kepolisian tersebut. Tujuannya sekarang adalah kerumahnya, dia sudah izin pada mommy oleh karena itu mereka berangkat dengan dua mobil tadi.
" Kenapa kamu gegabah Al, wajar kalau Max marah, " tanggapan Aditya setelah Alina menceritakan kejadian hari ini. Alina meletakkan Baby Shasa kembali ke dalam box tidurnya.
" Aku tau kak, cepat atau lambat Max akan menerimanya, banyak pertimbangan jika tuntutan dilanjutkan."
" Ngomong-ngomong aku senang akhirnya kakak pindah lagi ke Jakarta, kalau kakak buka kantor baru aku boleh bantu-bantu ya, bosan di rumah terus."lanjut Alina mengalihkan pembicaraan.
" Rencana besok kakak mau survei tempat, ada teman yang menawarkan rukonya. Memangnya Max mengizinkan kalau kamu kerja sama kakak?"
" Belum ngomong sih, ntar deh ditanyain tapi Max pasti ngizinin!"
Aditya menjitak pelan kepala adiknya itu " Dasar, yakin banget diizinin, suami kamu itu tajir mana mungkin biarin istrinya kerja,"
Alina tergelak, bergelut dengan masalah belakangan hari membuat Alina merindukan suasana rumah yang seperti ini, penuh kehangatan.
Melihat bagaimana keharmonisan yang kembali terjalin antara Aditya dan Sherly membuat Alina bahagia. Keduanya saling bahu membahu dalam mengurus buah hati mereka, seperti hari ini disaat Sherly sedang menyuapi Gio, Aditya dengan sabar momong putrinya, menggantikan popok bayi imut itu.
__ADS_1
Ada sedikit kesedihan yang menyelinap, apakah dia dan Max akan dianugerahi momongan, merasakan repotnya menjadi orangtua. Tak terbayang oleh Alina Max menjadi ayah, menggantikan popok seperti yang Aditya lakukan sekarang
" Semua akan indah pada waktunya" ucap Aditya mengusap pelan rambut Alina, tau apa yang ada dalam benak adiknya itu. Alina mengulas senyum tipis dan mengusap matanya yang basah, pantas saja Aditya bisa menebak.
Alina melirik pada arloji, sudah hampir sore dia harus sampai dirumah sebelum Max pulang. Tadi dia berharap urusannya cepat selesai sehingga bisa makan siang bersama dengan suaminya. Ternyata tidak sesuai harapan, dan hari ini dia hendak mengajak Max makan malam diluar. Direstoran favorit mereka. Hitung-hitung sebagai permohonan maaf.
Bergegas dia memacu sedan audi-nya, berharap tidak terjebak kemacetan. Dia singgah sebentar di sebuah toko roti untuk membeli cemilan, stok di apartemen. Alina akan mengajak Max menginap di apartemen sepulang dari resto nanti. Mereka memerlukan quality time berdua setelah dihadapkan pada masalah belakangan.
Sekarang Max dalam keadaan marah dan orang bilang permasalahan suami istri akan selesai diatas ranjang. Tidak ada salahnya dia mencoba, apalagi seminggu ini mereka belum melakukan ritual wajib karena Alina masih trauma. Tapi malam ini, Alina lah yang akan memulai.
Pipi Alina memerah memikirkan semua itu, untung tidak ada orang. Tanpa disadari seseorang memperhatikannya sedari datang ke toko itu.
" Alina! "
Wanita yang sedang sibuk memasukkan belanjaan kedalam keranjang itu sontak menoleh begitu seseorang memanggilnya.
" Kak Evan?"
" Akhirnya kita bertemu lagi, "
Alina mengangguk tersenyum.
" Aku turut prihatin dengan masalah yang menimpa kamu,"
" Iya kak, terima kasih." Ada sedikit kecanggungan yang tercipta diantara keduanya.
" Gimana kalau kita ngobrol sambil ngopi, aku dengar kopi di cafe lantai atas enak, mau mencoba?"
Alina hendak menolak, tapi sungkan bagaimanapun Evan bukanlah sosok asing, mereka pernah dekat, sangat dekat hingga dimana Evan menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
***
Hallo, jangan lupa tetap support cerita ini ya, like dan komennya sangat berarti buat author, makasih sayang-sayangku, i loph u allš„°