
Max memasukkan satu persatu benda pribadi miliknya kedalam sebuah kotak. Hari ini terakhir dia berada Mega Buana. Lebih cepat dari rencana awal karena Max tidak bisa membiarkan Mulia Jaya tanpa pengawasan. Papinya masih harus menemani Mommy yang sedikit manja kalau lagi sakit. Sementara Orion tidak banyak membantu. Banyak keputusan penting yang tidak dia mengerti sehingga dia terus menelpon Max setiap saat ketika diminta untuk menggantikan posisi CEO sementara.
Orion memang tidak pernah tertarik dengan bisnis, meskipun namanya masuk dalam jajaran direksi tapi itu hanyalah formalitas atas sebagian saham mommy yang memang dibuat atas namanya. Untuk menunjang karirnya dimasa depan, Orion membuka sebuah bengkel mobil. Disanalah dia menyalurkan hobbi otomotif yang memang sudah sedari dini tertanam dalam dirinya. Satu satunya sisi positif yang dimiliki pria itu disamping julukan badboy yang melekat kuat.
Max memastikan semua barangnya tidak ada yang tertinggal karena setelah dia pergi akan ada orang lain yang menggantikan posisinya. Semula Leo meminta Alina untuk menduduki posisi Max, tapi Alina menolak karena tidak ingin terlalu sibuk. Gadis itu memang tidak ambisius dengan karir bukan berarti dia tidak ingin maju. Hanya saja dia tidak ingin kehilangan waktu bersama orangtuanya, teman dan kekasih tentunya. Karna menurutnya waktu sangat berharga dan tidak bisa digantikan sekalipun dengan uang.
Alina sudah dua kali merasa kehilangan, jadi dia tidak ingin menyesal dikemudian hari hanya karena kesibukan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Tentu saja Max mendukung keputusan gadis itu. Dan jika mereka menikah nanti tidak sulit baginya untuk membuat Alina memfokuskan diri pada rumah tangga mereka dibanding karir, Max tidak ingin egois tapi sedari dulu sejak memikirkan pernikahan dia sudah membayangkan bagaimana manisnya berumah tangga dimana mereka menjalankan peran sesungguhnya. Max bukan tidak mendukung emansipasi, wanita boleh berkarir asal ingat akan perannya sebagai istri. Karena sejatinya rumah tangga akan harmonis bila suami ataupun istri sadar akan tanggung jawab mereka masing -masing.
"Ada yang bisa aku bantu sayang," tanya Alina begitu memasuki ruangan tersebut.
" Sudah selesai sayang, terima kasih," jawab Max tersenyum. Dia melangkah mendekati Alina yang terlihat gundah. Max memeluk pinggang Alina dan menarik nya untuk mendekat.
" Max, kita sedang dikantor, " Alina berusaha melepaskan diri tapi kalah tenaga.
" Biarkan saja, saya mau natap kamu lebih lama karena mulai besok kita sudah berbeda kantor,"
Dan itulah penyebab dari kegundahan Alina, baru aja jadian tapi udah berpisah, memang sih masih satu kota tapi dia yakin Max akan sibuk dengan pekerjaannya sama seperti Pak Leo, seorang CEO dituntut untuk siaga dalam semua kondisi. Rela meluangkan waktu tidur demi semua project yang sedang dihandle, belum lagi kalau ada urusan keluar kota ataupun luar negeri.
" Jangan memanyunkan bibir kamu sayang, saya jadi tidak tahan," Max mencubit pelan bibir Alina yang maju beberapa senti.
" Aku gak suka kita LDR-an" ungkap Alina posesif.
"Yang bilang kita LDr-an siapa, saya akan usahakan ketemu setiap hari sampai kamu merasa bosan,"
Alina mencibir.
"Bohong, awalnya aja bilang begitu pas praktek gak akan sama," pungkasnya dengan mata yang mulai berkaca -kaca.
Max mengusap mata indah Alina dengan ibu jarinya sebelum bulir- bulir disana tumpah membasahi wajah cantik gadis itu.
" Sayang jangan sedih ya, saya akan menepati janji kok, kalau perlu saya yang mengantar kamu pergi dan pulang kantor," bujuknya lagi meskipun dia sendiri tidak yakin.
" Gak gitu juga kali, emang kamu pikir aku egois biarin kamu bolak balik," sahut Alina sewot. Jarak antara Mulia Jaya dan Mega Buana berbeda arah, jadi mana mungkin dia tega merepotkan Max seperti itu.
" Lah terus gimana sayang, " Max bingung, beginilah definisi wanita susah dimengerti. Dan butuh kesabaran ekstra agar bisa menyelaminya.
__ADS_1
" Gak gimana-gimana, dengerin aja aku ngomong,"
" Okay,"
" Aku gak suka jauh dari kamu, nanti kalau aku rindu gimana,"
Kan bisa video call sayang, batin Max nelangsa tapi mencoba menahan diri untuk tidak protes, dan mendengarkan serentetan kalimat Alina yang mutar-mutar dan berakhir pada kata yang sama tidak suka LDR-an. Melihat perubahan sikap gadis itu, Max yakin dengan satu alasan kenapa Alina menjadi aneh seperti ini dan klasik tentunya.
" Kamu lagi dapet ya?"
Alina mengangguk "Baru hari pertama, kok kamu tahu?" ucap gadis itu polos.
Max menghela napas, pantes aja moodnya swing banget. Padahal kemaren Alina sangat mendukungnya. Terlebih gadis itu juga kasihan sama mommy yang masih harus disibukkan dengan urusan perusahaan di usianya yang sekarang.
Max merangkum wajah Alina, " saya sayang banget sama kamu Al, dimanapun saya berada kamu akan selalu ada di hati saya, kita tidak LDR, saya selalu ada didekat kamu, kalaupun saya sibuk bukan berarti saya gak kangen sama kamu, saya tidak mau berjanji yang muluk-muluk, sebisa mungkin kita akan meluangkan waktu berdua di setiap minggu, just you and me,"
Alina mengerjapkan matanya yang dari tadi tidak berhenti memandang Max. Dia terharu dengan ucapan pria itu dan lansung menghambur kedalam pelukan Max. Yang dipeluk balas mendekap dengan erat .
" Maafkan aku udah bikin kamu bingung,"
" Gak papa sayang, saya tau kalau kamu lagi moodyan,"
Belum hilang kekagetannya atas penjelasan Pak Leo soal siapa Max sebenarnya dan tujuan dia bekerja di perusahaan ini sekarang Morgan dihadapkan pada satu kenyataan baru. Sosok yang selama ini dia lihat begitu mencintai sahabatnya sekarang malah jatuh dalam pelukan pria yang juga mencintai gadis itu sejak lama.
Morgan tidak mempermasalahkan jika Max memang punya perasaan yang tulus pada Alina. Gadis itu berhak untuk melanjutkan hidup dan menemukan pendamping baru. Hanya saja situasi ini menempatkan dia pada masalah baru.
" Hei Gan, sejak kapan kamu disitu," sapa Max membuyarkan Morgan yang tengah berkutat dengan pikirannya sendiri.
Alina menjauhkan dirinya dari Max, gadis itu cukup terkejut oleh kehadiran Morgan, pasti pria itu sudah melihat apa yang terjadi antara dirinya dengan Max.
Belum ada yang tahu akan statusnya sekarang kecuali Tasya dan juga Gladys. Dia memang tidak ingin mengumbar kisah asmaranya biarlah orang lain menilai dengan sendirinya. Dan semoga saja Morgan tidak salah paham.
" Sudah cukup lama, aku minta maaf karena tidak mengetuk pintu lebih dulu, aku pikir kamu sendiri," ucap Morgan sungkan.
" No problem, " Jawab Max sambil melangkah kembali ke kursi dibelakang meja, tangannya bergerak mempersilahkan Morgan untuk duduk didepannya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya keluar dulu pak," pamit Alina,
gadis itu menganggukan kepala pada Morgan dengan gugup.
Dia sadar Morgan pasti bertanya- tanya tentang yang baru saja dia lihat. Alina tidak sanggup menjelaskan, bagaimanapun Morgan adalah sahabat Bryan. Biarlah Max yang menceritakan itupun kalau dia memang berniat untuk mencari tahu.
" Maaf, saya baru tahu kalau kau dan Alina..."
" ucap Morgan begitu Alina menghilang dibalik pintu. Pria itu menggantung kalimatnya. Tapi Max mengerti maksudnya
"Kami baru resmi, tepatnya setelah kejadian di party waktu itu, " Max menjelaskan
Morgan menganggukan kepala.
"Hebat, kamu sangat cepat menguasai hatinya," puji pria itu tulus
Max terkekeh " Pasti Pak Leo sudah menceritakan, dan perjuangan saya untuk mendapatkannya tidak secepat yang orang pikir, butuh dua tahun untuk bisa meraihnya, mungkin ini sudah takdir kami berdua" tukasnya bijak.
Morgan mengerti.
" Semoga kalian langgeng, Alina berhak untuk bahagia" pungkas pria itu memberi selamat.
Max mengucapkan terima kasih , mereka pun larut dalam obrolan membahas topik lain termasuk tentang keputusan Max yang berhenti dari Mega Buana.
Morgan masih tidak menyangka seorang yang punya segalanya seperti Max melakukan drama picisan demi mendapatkan cinta Alina, bukankah lebih mudah baginya dengan segala yang dia miliki untuk bisa menarik perhatian banyak gadis diluar sana.
Tapi sepertinya Max menyadari Alina itu sosok yang berbeda, dia tidak pernah tertarik dengan kekayaan, kalau Alina mau sedari dulu banyak pengusaha kaya yang melirik gadis itu tapi Alina tetap teguh berada disisi Bryan yang notabene masih pekerja.
Bryan, seketika dia tersenyum miris mengingat sahabatnya itu.
***
Wah kira kira masalah apa yang dimaksud Morgan?
Penasaran, yuk kasih dukungan dulu biar author semangat dan cepat update
__ADS_1
With love
Dik@