
" Pakai lah ini nanti malam! tuan akan menemuimu!"
Alina mengerutkan kening membaca tulisan yang dikirimkan bersamaan dengan paket sarapan pagi seperti biasa. Tadi Alina sudah mengatur rencana untuk kabur dengan cara berpura-pura ke kamar mandi, begitu penculik masuk dia akan berusaha sekuat tenaga memukul, seolah yakin tenaganya cukup kuat untuk itu. Namanya juga usaha ya kan. Sayang belum sempat rencana itu dia realisasikan, panggilan alam yang menuntut untuk dituntaskan membuat dia kembali kehilangan kesempatan. Terkadang mules suka begitu, disaat kepepet malah ikutan merepet.
Huft, Alina menghembuskan napas berat. Dia yakin didalam ruangan ini pasti ada kamera pengintai, kalau tidak mana mungkin penculik itu tau tentang keberadaannya. Penculik itu juga lihai karena kamera tersebut tidak terdeteksi , Alina sudah memeriksanya tapi tidak ada apapun yang dia temukan.
Atau jangan-jangan penculik tersebut memiliki indera ketujuh eh keenam, sehingga bisa menerawang. Rasanya opsi ini tidak masuk di akal. Hal lain yang paling logis adalah ruangan ini dilengkapi sensor panas seperti difilm-film hollywood . Hmm, pemikiran yang luar biasa Al, gumamnya menertawai diri sendiri.
Sudahlah, daripada otaknya semakin saklek, Alina meraih paper bag berwarna coklat dan mengeluarkan isinya dari sana. Siapa gerangan yang akan dia temui sehingga harus mengenakan sesuatu yang khusus, Alina terperangah sambil membentangkan dress berwarna ungu tua yang dilengkapi aksen lipatan pada bagian dada. Bisa dipastikan bahunya akan terekspos sempurna. Selera yang sangat bagus, Alina suka tapi Max tidak. Pria itu tidak pernah suka kalau dia berpenampilan seksi.
Yang jadi pertanyaan sekarang, untuk apa si penculik memintanya memakai dress yang lebih pantas dikenakan untuk acara spesial, terlebih lagi dia juga mendapatkan set make up dan juga perhiasan. Belum tuntas pemikiran Alina tentang motif si penculik sekarang dia harus mencari jawaban tentang maksud dibalik semua barang yang dia terima hari ini.
Alina merasa otaknya sudah lelah setelah terus berasumsi selama disini. Bosan juga mulai mendera bayangkan dia hanya duduk dan tidur seharian tanpa melakukan apapun. Jadi kalau malam ini menjadi penentu nasibnya ke depan, mungkin itulah yang terbaik.
Tanpa terasa senja telah berganti, saatnya Alina bersiap, dia mulai merias diri dengan semua peralatan yang sudah disediakan. Alina tidak punya pilihan ini peluang terakhirnya setelah semua planning-nya gagal total.
Dia akan mengikuti alur permainan. Tidak ada salahnya sedikit berdandan mungkin saja dia memang akan mendatangi sebuah acara di keramaian. Atau penculikan ini hanyalah keisengan orang terdekat, mengerjai dia dihari ulangtahunnya. Meski rasanya tidak mungkin. Max tidak akan tega membiarkan dia seorang diri dalam ketakutan.
Alina mematut penampilannya di cermin, tersenyum puas dengan hasil karya sendiri. Dress yang dia kenakan melekat sempurna ditubuh rampingnya, rambut yang ditata dengan aksen curly dia geraikan agar bagian punggung yang terbuka bisa ditutupi.
" Leher jenjang kamu dan punggung ini menggoda sayang, jangan pernah menggelung rambutmu keatas, " bisik Max waktu itu
Kalau Max yang matanya tidak jelalatan saja tergoda apalagi pria hidung belang, Alina mematuhi keinginan suaminya. Max tidak mungkin salah sekalipun jiwa fashion-nya meronta untuk menggelung rambut agar sesuai dengan pola dari dress yang dia pakai.
Sayup-sayup dikejauhan Alina mendengar deru mobil. Sontak jantungnya berdegup kencang. Penculik itu sudah datang. Kedua tangannya saling bertautan. Berharap semuanya akan baik baik saja
Sementara itu seorang pria tampan turun dari mobil yang diparkir dihalaman bangunan villa. Seorang wanita paruh baya dan juga beberapa orang berpakaian safari menghampiri ketika dia memasuki teras.
" Semuanya sudah siap?"
" Aman tuan, gadis itu juga sudah bersiap " ucapnya mengulurkan sebuah benda pipih, tapi pria itu menolak untuk melihat.
" Saya ingin surprise mbok, kalau memang semua sesuai dengan rencana, kalian boleh pergi tapi jangan terlalu jauh, sehingga saya tidak kesulitan untuk menghubungi kalian" titahnya pada orang-orang tersebut.
Mereka mengangguk dan meninggalkan tempat itu tanpa kegaduhan yang berarti. Pria itu memasuki ruangan villa yang sudah dihias sedemikian rupa. Lagi-lagi dia tersenyum puas dengan hasil kerja anak buahnya.
Tak ingin berlama-lama dia segera menulis pada sebuah kertas dan memasukkan kertas tersebut lewat celah dibawah pintu kamar.
__ADS_1
Alina yang sedari tadi sudah menunggu, lansung membaca tulisan tersebut. Tangannya bergerak perlahan memegang kenop pintu yang tak lagi dikunci, debaran didadanya semakin tak karuan
" Tenang Al, jangan gugup kamu bisa mengatasi ini" batinnya menyemangati.
Cklek
Pintu sudah terbuka, netra Alina tidak bisa melihat apapun karena lampu dimatikan. Kakinya sudah melangkah keluar kamar tapi tak berani bergerak lebih jauh.
Klik
Ruangan tersebut seketika terang dengan pencahayaan yang sengaja dibuat temaram. Lampu-lampu hias yang menjadi sinar utama tidak cukup untuk menerangi, namun lampu dengan tulisan Happy Birthday Alina membuat dia terpaku, bukan tulisan itu yang menarik perhatiannya melainkan sosok yang berdiri dengan memegang kue disebelahnya
" Kau.."
Pria itu tersenyum lalu menghampiri Alina dengan percaya diri.
***
Sial, beberapa hari dibandung ternyata pencariannya sia-sia. Karna penculik itu tidak membawa Alina ke kota tersebut melainkan ke daerah lain. Tepatnya ke kawasan puncak, Bogor.
" Tentu saja, aku yakin dia membawanya kesana. Tempat itu sangat berarti buat mereka,"
Max berdecih.
"Berarti buat dia, tapi tidak untuk istriku!" Max memberi penekanan, pria itu mengerti. Karena Max sudah diselimuti amarah sejak dia mengatakan kalau penculik itu adalah orang terdekat mereka.
Max sampai tidak terpikir bahwa orang itu berbuat nekad. Dan juga sangat licik bagaimana tidak selama tiga hari dia menunjukan sikap empati melalui pesan pada Orion dan juga minta maaf karena tidak bisa banyak membantu karena keadaannya.
" Kenapa tidak dari awal memberitahu ku!"
" Aku curiga sedari awal tapi tidak punya bukti apapun karna kalau dugaan ku salah hanya akan memperkeruh keadaan, setelah mendengar percakapannya ditelpon dengan seseorang dan juga melihat paket yang dia kirimkan, barulah aku paham, maafkan aku!"
Max maklum, bagaimanapun pria itu memiliki hubungan dengan si penculik. Yang dia pikirkan sekarang apakah mereka masih memiliki waktu untuk menyelamatkan Alina.
Tuhan, tolong jaga istriku, batinnya penuh harap. Dia tidak rela jika penculik tersebut menyentuh istrinya. Entah apa yang penculik itu rencanakan karena hari ini adalah ulang tahun Alina.
Max memacu kencang mobilnya membuat pria yang ada disamping harus berpegangan kuat, jalanan berliku dan curam tidak menjadi penghalang.
__ADS_1
" Tolong berhati-hatilah, aku belum menikah!" pinta pria itu memelas
Max mendengus, " Menikah belum, tapi kawin sudah tak terhitung!"
" Hei kau pikir aku cassanova, aku bukan pria seperti itu!"
"Yang benar saja!" ejek Max tanpa melepas arah pandangnya pada jalanan didepan. Dari spion dia melihat Devano dan Orion berusaha menjajali laju kendaraanya yang membabi buta.
" Pernah sekali, saat itu aku khilaf!"
Max tersenyum smirk.
" Didepan belok kiri, lima ratus meter kedalam!" Pria itu menunjukkan arah.
" Kau sudah pernah kesini?"
" Beberapa kali saat villa ini dibangun!"
" Max, bagaimana kalau aku salah?" Tanya pria itu takut. Bisa saja prediksinya tidak benar, instingnya tidak setajam itu.
"Aku akan melemparmu kejurang sebelah sana,"ujar Max geram.
Pria itu bergidik ngeri.
Bangunan villa tersebut mulai nampak, suasana disekitar sepi membuat Max tidak sabar, dia semakin memacu mobilnya.
Ciit ..
Rem yang diinjak kuat membuat pria itu terhuyung kedepan dan keningnya nyaris menyentuh dashboard.
Max tidak peduli dia segera turun dan memasuki bangunan kayu tersebut.
" Alinaaaaa!"
***
Jangan lupa vote dan komen ya🥰
__ADS_1