
Bersikeras tak mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya Widyawati menelpon dr. Edhie untuk datang ke mansion. Sambil menunggu Alina mencoba memberikan pertolongan pertama, dengan sigap gadis itu membuka baju Max, membersihkan luka di bahu pria itu dari darah yang masih mengalir meskipun tidak banyak. Setelah bersih Alina menekan pusat luka membuat pria itu meringis tanpa suara.
" Tahan sedikit sayang, biar darah nya berhenti! " ucap Alina tidak tega. Max mengangguk. Sebelah tangannya menggenggam tangan Alina yang bebas.
Tak lama kemudian dr. Edhie tiba bersama seorang suster. Pria berkaca mata itu segera mengambil alih penanganan.
" Lukanya tidak terlalu dalam, tapi perlu dijahit untuk menghentikan pendarahan, sus berikan suntik bius, "
Setelah suntikan diberikan dan memastikan obatnya sudah bereaksi dr. edhie langsung menjahit luka tersebut. Widyawati yang merasa ngilu dengan jarum suntik mengawasi dari pintu kamar, sementara Alina tetap berada di dekat Max.
" Kamu gak ngeri sayang liat yang beginian, " tanya Max heran.
Alina menggeleng, sering berurusan dengan rumah sakit membuat dia terbiasa dengan aktifitas medis.
" Bagaimana kau bisa mendapatkan luka seperti ini, tidak biasanya seorang Max bisa ceroboh, " ucap Edhie setelah merampungkan karyanya. Suster memasangkan perban untuk menjaga luka tetap kering dan bersih.
" Kecelakaan, luka ini dari serpihan kaca mobil."
Dr. edhie tidak bertanya lagi, dia menyiapkan beberapa jenis obat, obat nyeri dan juga antibiotik lalu memberikannya pada Alina.
" Antibiotik nya harus diminum sampai habis tiga kali sehari, kalau obat pereda nyeri cukup dua kali sehari, " ucapnya menjelaskan.
" Baik dok, Terima kasih" ucap Alina.
" Aku turut prihatin dengan pemberitaan soal kalian, makanya cepat menikah biar gak ada fitnah, lagipula aku khawatir dengan mu Max..." ucap dr. Edhie menjeda kalimat.
" Apa kau mau bilang aku belok lagi! " dengkus Max tidak terima.
dr. Edhie tertawa, " Tenang bro, kalau itu aku sudah tidak meragukan, tapi aku cemas dengan pentungan mu bakal karatan kalau lama tidak digunakan, ingat bro, kau sudah kepala tiga, "
" Sial*an, Lama-lama di rumah sakit, otak mu rada korslet dhi! " umpat Max kesal. Sementara kedua gadis yang ada di sana merona mendengar ucapan pria berkacamata itu. Dibalik keseriusan seorang dokter edhie ternyata punya jiwa saklek juga.
" Kaki mu sudah terlihat lebih baik Al, sudah tidak memakai penyangga, teruskan terapinya ya!" ucap dr. Edhie mengalihkan topik.
Alina mengangguk semenjak Max membawanya ke fisioterapi, gadis itu tidak pernah sekalipun melewatkan jadwal kontrol. Dia merasa lebih bebas bergerak tanpa alat bantu, dan yang pasti jalannya sudah normal meskipun sedikit lamban.
dr. Edhie pamit karna harus kembali bertugas.Widyawati menawarkan diri untuk mengantarkan sekalian mau menanyakan keadaan Max. Tadi Widyawati turun sebentar ke lantai bawah untuk menghubungi sang suami.
" Bagaimana bisa kecelakaan? " tanya Alina begitu mereka tinggal berdua sambil membereskan peralatan P3 k yang sempat dia gunakan. Menaruh obat-obatan Max diatas nakas sebelah tempat tidur lalu memberikan segelas air putih pada pria itu.
" Ada mobil yang menabrak dari belakang sayang, aku dalam perjalanan pulang, untung ada orang yang berbaik hati mau mengantarkan ku kesini " jawab Max setelah meneguk isi gelas sampai tuntas.
Alina mengerutkan dahi.
__ADS_1
" Memang nya kamu dari mana dan hendak kemana, lalu semalam kenapa tidak pulang, dan kenapa tidak menjawab telpon ku! " berondong gadis itu penuh selidik.
Max tidak menjawab dan mengulurkan tangan pada Alina, memintanya untuk mendekat. Max menarik Alina hingga terduduk di pangkuannya.
" Apa yang kamu lakukan, mommy sebentar lagi kesini, kamu juga sedang terluka Max!" gadis itu berusaha bangkit, tapi Max terus menahan.
" Aku mencintaimu Al, jangan pernah tinggalkan aku, jangan lagi!" ucap Max membenamkan diri di ceruk leher gadis itu.
Alina merasa ada yang aneh dengan sikap Max. Pria itu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Alina tidak bisa memaksa Max untuk menjelaskannya sekarang.
Widyawati yang tadinya ingin masuk ke kamar mengurungkan niat begitu mendengar percakapan dua insan yang saling mencintai itu.
Setelah makan siang, di lobi perusahaan Mulia Jaya Corps mulai ramai didatangi wartawan dari berbagai media, baik itu situs berita online maupun televisi. Mereka sibuk mempersiapkan berbagai alat bantu yang diperlukan.
Satu persatu keluarga keturunan Arlingga Mulia memasuki ruangan dan menduduki tempat yang sudah disediakan.
Max duduk ditengah disamping kirinya ada mommy papi, Adinda. Disebelah kanannya ada Alina, Gladys dan Orion. Sementara Bryan memilih tidak datang.
Dibarisan belakang ada Adrian, Audrey, Aditya dan juga Sherly, serta para manager di perusahaan tersebut.
" Selamat siang, agar mempersingkat waktu, kita mulai saja acara jumpa pers siang ini, menyangkut pemberitaan yang beredar tentang Tuan Maxime Arlingga Yogatama dengan Alina Maharani adik dari Tuan Aditya Mahesa, seorang pengusaha EO di bali. " Ucap Utami yang ditunjuk menjadi MC.
" Baiklah rekan rekan media yang saya hormati, dengan tegas saya menyatakan bahwa pemberitaan tersebut adalah fitnah dan kebohongan yang dilakukan oleh seseorang untuk menjatuhkan kredibilitas saya dimata khalayak, gadis yang ada disebelah saya yang dituding tidak pantas dalam video tersebut tak lain adalah tunangan saya sendiri, bukan orang asing. " tegas Max dengan tatapan dingin.
" Tuan Max, kenapa selama ini Mulia Jaya Corps tidak pernah merilis biografi anggota keluarga kepada media seperti yang perusahaan lain lakukan? "
" Kami memisahkan urusan pribadi dan perusahaan, kami juga tidak ingin kehidupan pribadi kami diumbar demi kenyamanan, tapi meskipun begitu kalian tetap bisa mengakses informasi tentang perusahaan kami yang berkontribusi dalam perkembangan bisnis dinegara ini. " jawab Max.
" Tuan Max, ... "
"Tuan Max, .... "
Pertanyaan terus bergulir dan semua bisa dijawab dengan lugas oleh pria itu meskipun nyeri di bahunya mulai berasa karna efek bius yang sudah menghilang.
"Benarkah uang yang diberikan pada Alina dengan jumlah fantastis itu untuk membayar hutang-hutang Aditya calon ipar anda karna perusahaannya bangkrut!"
Alina merasa sekarang adalah kesempatan nya, gadis itu memandang pada Max.
"Bolehkan aku yang menjawab? " ucap Alina berbisik. Max menatap gadis itu sejenak kemudian mengangguk setuju.
" Untuk pertanyaan yang ini saya yang akan jawab, perkenalkan nama saya Alina Maharani. Sebagai seorang adik sudah sepantasnya saya membantu kesulitan yang dihadapi kakak saya. Perlu digaris bawahi, kakak saya tidak bangkrut dan utang tersebut terjadi bukan karena kesalahan nya, kakak saya ditipu oleh vendor yang bekerja sama dengan perusahaan Aditya dalam menangani sebuah event. Kakak saya sudah berusaha menjual beberapa aset untuk mengganti dana yang dibawa kabur oleh vendor tak bertanggung jawab tersebut. Cuma karena keterbatasan waktu, kami mengambil jalan tengah dengan meminta bantuan dari Max, "
" Apakah Tuan Aditya ada disini? "
__ADS_1
Alina mengangguk dan memberi kode pada pria itu untuk berdiri. Aditya maju beberapa langkah dan berdiri dibelakang Alina. Kilatan blitz dari kamera menghujani wajah mereka.
Beberapa pertanyaan ditujukan pada Aditya. Dan mampu dijawab dengan baik oleh kakaknya itu.
"Lalu apa rencana anda dan tuan Max berikutnya nona,"
Alina menatap pada Max kemudian tersenyum manis, dia mengenggam tangan pria itu.
"Kami sebenarnya sudah merencanakan pernikahan, "
Suasana menjadi riuh karena pernyataan tersebut. Bukan hanya wartawan, Max dan keluarga besar juga terkejut dengan jawaban Alina, hanya Widyawati yang santai sambil mengulum senyum.
Max menatap Alina dengan penuh tanda tanya, namun Alina tidak menjawab dia memasang flashdisk pada laptop yang sudah disiapkan, kemudian meyambungkannya pada layar proyektor.
Sebuah video menampilkan slide demi slide persiapan pernikahan. Hasil kerja Alina semalaman. Video tersebut berisikan foto-foto dia dengan Max, rancangan baju pernikahan yang dia gambar sendiri dan tak kalah penting kartu undangan yang menampilkan hari dan tanggal pernikahan itu akan digelar.
" Wah selamat untuk kalian berdua, jangan lupa mengundang kami, "
Alina mengangguk senang dan mengucapkan terima kasih untuk waktu yang diberikan.
" Lalu apakah anda akan mengusut pelaku pembuat video kemaren tuan? atau anda sudah tau siapa orangnya dan apa tujuanya?
Max tersenyum miring, "Untuk saat ini tidak perlu, cepat atau lambat kalian akan tahu. " ucap Max mengakhiri, dia memberi kode pada Utami untuk menutup acara. Dia tidak sabar untuk menanyakan pada Alina maksud dari video barusan. Tidak ingin menebak lebih jauh, bisa jadi ini hanya sebuah trik untuk membungkam video kemaren.
"Tunggu Tuan, satu pertanyaaan untuk Tuan Hardi mengapa Anda mengadakan pesta resepsi untuk Tuan Max tapi tidak untuk pernikahan Tuan Orion, apakah ada kaitannya dengan desas desus kalau Tuan Orion telah mele*ceh kan istrinya itu beberapa tahun yang lalu. "
Orion yang sedari tadi diam mengeratkan rahang mendengarnya sementara Gladys mendadak pucat.
" Hei pertanyaan kalian sudah diluar konteks, kenapa malah menyerang permasalahan lain, " ucap Orion menahan diri.
" Kalau tidak salah istri anda adalah orang dari kalangan biasa, begitu juga calon tuan Max, apa kalian tidak tertarik dengan wanita dari strata atas, atau kalian memang bosan dengan kaum jetset dan mencoba mainan baru yang lebih murah! "imbuhnya sambil terkekeh.
" Hei, apa kau bosan hidup, lancang sekali mulutmu, " Orion meringsek hendak menghampiri wartawan tersebut. Tapi dihalangi oleh Max dan juga Adrian, mereka memilih tidak melayani dan beranjak meninggalkan lobi.
" Atau anda sedang berusaha menutupi masa lalu anda Tuan Hardi".
Deg
***
Bantu komen dan votenya ya
Thanks
__ADS_1
Author