
Alina mendekap map yang dia bawa dan berjalan gontai menuju ruangan Pak Leo, walaupun kesibukan melanda diawal pekan ini tapi pikiran gadis itu tak bisa dibohongi, dia masih saja terbayang dengan sikap Max tempo hari.
Meskipun masih sadar dan kuat untuk berjalan, Max tetap saja bersikeras menggendong Alina keluar dari lift yang sempat rusak dan membawa Alina ke unitnya.
" Sebaiknya kamu ganti baju aja, supaya demamnya gak makin parah, saya rasa ini cukup pas untuk kamu" ucap pria itu sambil memberikan sebuah sweater warna navy yang dia ambil dari ruang wardrobe.
Alina tidak membantah, begitu Max keluar kamar dia langsung menukar pakaiannya yang lembab dengan sweater yang sudah pasti kedodoran ditubuh rampingnya. Setelah itu Alina merebahkan diri diatas ranjang king size tersebut sambil memasang selimut, meskipun sudah berganti dengan pakaian yang kering dan tebal tetap saja dia merasa kedinginan.
Max kembali sambil membawa sebuah nampan.
" Makan sup dulu ya, biar kamu merasa hangat" ucapnya sambil meletakkan nampan diatas nakas yang ada disisi tempat tidur
Alina beranjak duduk dan menyandarkan tubuhnya, Max mengambil sebuah bantal dan menempatkan dibagian punggung gadis itu, beberapa kali dia memperbaiki posisi bantal itu sampai Alina dirasa nyaman, tentu saja gadis itu salah tingkah karenanya.
" Saya bisa sendiri pak" elak Alina begitu Max hendak menyuapi, tapi Max tidak menggubris, Alina hanya bisa pasrah, dia tidak punya tenaga untuk berdebat. Suapan demi suapan masuk ke mulutnya.
Mendadak gadis itu merasakan kerja jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, belum pernah dia merasa diistimewakan seperti ini oleh orang lain yang bukan siapa siapa baginya, perasaan aneh itu muncul lagi, dia tersanjung dengan perhatian Max.
" Rasanya enak, apa ini bapak yang buat?" tanya Alina untuk memecah keheningan yang tercipta, dia kikuk setiap kali bertemu tatap dengan pria tampan itu. Dalam jarak sedekat ini, Alina baru menyadari kenapa Max begitu digilai perempuan perempuan dikantornya.
" Bukan, ini buatan bibik yang membantu saya disini" jelas Max sambil meletakkan kembali mangkuk yang sudah kosong.
" Tadi saya gak liat siapa siapa ?" tanya Alina heran
" Dia sedang didapur " ucap Max lagi, tangannya kini sibuk membuka sebuah tablet obat lalu menyodorkan pada Alina.
" Minumlah, Itu obat pereda demam, kalau kamu sudah mulai enakan, baru saya antar pulang" titahnya lugas
Alina mengangguk, biasanya dia paling susah kalau disuruh minum obat, tapi perhatian Max membuat dia sungkan untuk menolak, dalam sekejap benda putih itu sudah berlalu ditenggorokannya.
" Tidurlah sebentar, kalau kamu butuh sesuatu , saya ada diluar" ucap Max , lagi lagi Alina mengangguk.
Max membereskan nampan dan bersiap mengangkatnya.
" Pak,,," panggil Alina ragu
Max menoleh
"Makasih " ucap Alina tulus, Max tidak menjawab dia hanya tersenyum sekilas dan berlalu dari sana.
Alina menghela napas sambil menepuk dadanya perlahan, kenapa perasaanya jadi begini, berulangkali dia menggelengkan kepala, dia tidak boleh terbawa perasaan, karena mungkin Max tidak ada maksud apa apa.
Dia jadi merasa bersalah karena pernah berpikiran buruk tentang Max, dibalik sikap dingin dan angkuh, ternyata Max sosok yang peduli.
__ADS_1
Alina menguap berulangkali, mungkin karena pengaruh obat, dia merasa mengantuk dan akhirnya terlelap. Menjelang senja Alina baru terbangun karena merasa sudah mendingan, Max pun mengantarnya pulang.
Dirumah , ibu menyambutnya dengan perasaan cemas karena Alina tidak bisa dihubungi, tapi setalah dijelaskan kejadiannya, barulah perempuan paruh baya itu merasa lega. Setelah berbasi basi dengan ibu sebentar, Max pamit pulang
" Ibu yakin dia pria yang baik" ucap ibu begitu Max berlalu
Alina tau maksud dibalik perkataan ibunya tapi dia tidak mau menanggapi lebih jauh karena tidak ingin memberikan harapan, saat ini belum ada yang bisa menggantikan keberadaan Bryan dihatinya, lagipula dia masih memiliki janji yang belum tuntas.
" Dia baik baik saja, kau tidak perlu khawatir" suara itu membuyarkan Alina dari lamunannya, tanpa sadar dia sudah berada didepan ruangan Pak Leo.
" Entahlah, aku tidak yakin yang pasti semuanya masih dalam kendali" ucap suara itu lagi. Alina menajamkan telinganya, sepertinya itu suara Morgan.
" Hei, itu urusanmu bro, dari awal aku sudah mengingatkan, dan kau tau pasti resikonya"
Tidak salah lagi, tapi Morgan bicara dengan siapa? karena sedari tadi Alina tidak mendengar suara orang lain disana
, gak tau kenapa dia merasa penasaran dan berniat untuk menguping. Sayangnya Alina tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
" Apa yang kamu lakukan disitu"
"Aargh"
Alina berjengkit kaget, saking terkejutnya dia hampir saja terjatuh beruntung refleknya bekerja dengan baik hingga dia bisa menyeimbangkan diri, Dia menoleh pada orang yang menyapanya.
Pak Leo tersenyum bijak,
" Oh iya saya sampai lupa, ayo silahkan masuk" ujarnya mempersilahkan.
Alina mengangguk dan memberi ruang pada Pak Leo untuk masuk terlebih dahulu, dan sesuai dugaannya tadi , ada Morgan dalam ruangan tersebut, pria itu sedang duduk di sofa sambil mengotak atik ponselnya, berarti sedari tadi pria itu sedang bicara di telepon, karena tidak ada orang lain disana, Morgan sendiri belum menyadari kehadiran Alina.
" Silahkan duduk Al, saya mau ketoilet sebentar" ujar Pak Leo. Barulah Morgan menengadah dan melihat Alina sedang menarik kursi yang ada didepan meja Boss nya .
" Hei Alin ngapain?" sapa Morgan menghampiri
" Aku mau menyerahkan laporan Gan, " jawab Alina ramah
" Max kemana?" tanya Morgan lagi, biasanya untuk urusan laporan selalu Max yang handle.
" Lagi meninjau proyek di Bogor"
Morgan mengangguk mengerti, tak lama Pak Leo sudah kembali dan mereka pun terlibat dalam perbincangan tentang isi laporan yang disampaikan Alina.
Pak Leo terlihat puas, semua pekerjaan yang mereka dapatkan sejak kehadiran Max adalah Mega Project, jadi wajar kalau Pak Leo terus terusan memberikan pujian untuk Max. Ada terselip rasa sedih dihati Alina saat Pak Leo mengagungkan Max, dia teringat akan Bryan, sebelumnya Bryan lah yang menjadi anak emas diperusahaan ini tapi sekarang posisi nya sudah tergantikan.
__ADS_1
" Bagaimana kamu sekarang, sudah mulai betahkan ?" Tanya Pak Leo mengalihkan pembicaraan.
" Sangat betah pak, berkat dukungan bapak" jawab Alina tersenyum
Pak Leo manggut manggut, dia menutup map yang ada ditangannya dan meletakkan kearah samping meja.
" Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya, Morgan atau Max, apapun yang kamu butuhkan, kami akan coba penuhi, bagaimanapun kamu sudah menjadi bagian perusahaan ini sejak lama Al" ucap Pak Leo dengan mimik serius.
" Terima kasih pak, diterima disini saja saya sudah sangat bersyukur" jawab Alina tulus.
" Kamu yakin, atau masih ada yang mengganjal di hati kamu saat ini?" tanya Pak Leo penuh selidik.
Alina bingung, kenapa Pak Leo tiba tiba berkata seperti itu, mungkinkah dia mencurigai tujuan Alina sebenarnya.
" Maksud bapak?" Alina balik bertanya
Pak Leo menghela napas dan memandang pada Morgan sekilas, lalu kembali menatap Alina seksama.
" Morgan bilang kamu masih ingin tahu siapa yang menembak Bryan"
Alina tidak langsung menjawab, dia ikut memandang Morgan, yang ditatap hanya tersenyum seolah memberikan dia ruang untuk menjelaskan.
Jemari Alina bergerak gelisah , dia memutar mutar bolpoin yang ada ditangannya. Menimang apa yang hendak dia katakan.
" Saya hanya ingin memberikan Bryan keadilan pak, apa menurut bapak saya salah?"
Pak Leo menggeleng, " Kamu tidak salah Al, hanya saja kamu tidak boleh stuck disana, hidup terus berjalan, kamu juga masih muda, saya rasa Bryan setuju dengan pendapat saya, sudah saatnya kamu membuka hati, "
Alina terdiam
" Kamu jangan salah paham, saya mengatakan hal ini karena saya sudah menganggap kamu seperti putri saya sendiri" lanjut Pak Leo. Memang kalau dilihat dari paras , Pak Leo seumuran dengan almarhum papanya.
" Cepat atau lambat saya akan membuka hati pak, tapi tidak untuk sekarang, misteri kematian Bryan harus diungkap, hanya itu yang akan membuat hati saya tenang. maaf kalau saya mengecewakan bapak" jawab Alina tegas
Pak Leo tidak bisa berkata kata lagi, pendirian Alina tidak bisa dirubah, sebenarnya dia ataupun Morgan tau kalau Alina menerima tawaran mereka untuk bekerja di perusahaan ini dengan maksud lain, tetapi selagi tidak mengganggu kinerja nya, Pak leo tidak masalah. Dia membebaskan Alina untuk mencari tahu apa yang diinginkannya, karena faktanya memang tidak seperti yang Alina pikirkan. Tapi lebih dari itu. Jika suatu saat Alina tau kebenarannya, semoga saja gadis itu kuat, Batin Pak Leo Prihatin.
***
Hai readers, maaf ya baru up sekarang,,sekali up langsung dikasih teka teki,hehehe, semoga kalian suka..
bantu vote dan comment juga ya
With Love
__ADS_1
Dik@